Tiga hari kemudian, aku sengaja makan siang jam sebelas tiga puluh.
Ardi yang mengantar laporan ke proyek langsung menaruh curiga waktu melihat aku sudah membersihkan tangan dan mengganti kaos lapangan dengan polo yang lebih bersih sebelum jam makan siang normal.
"Mau ke mana, Bos? Ada meeting?"
"Makan siang."
"Jam segini? Biasanya kamu makan jam dua belas."
"Lagi lapar."
Ardi menatapku dengan ekspresi yang sudah aku kenal — ekspresi orang yang sudah berteman dua belas tahun dan tidak percaya dengan alasan yang aku berikan tapi memilih tidak mengejar lebih jauh dulu. Ia akan mengejar nanti. Selalu begitu.
Di warung Bu Sum, Kiara sudah ada di bangku yang sama — posisi yang sama, tas kanvas yang sama, dan kali ini ia sedang membaca sesuatu di ponselnya sambil menunggu pesanannya datang.
Aku memilih bangku yang tidak terlalu dekat tapi tidak terlalu jauh. Memesan seperti biasa.
Kiara mendongak waktu Bu Sum meletakkan pesananku. "Oh, Mas Galang."
"Kiara. Hari ini lebih awal."
"Saya biasanya jam segini." Ia menaruh ponsel. "Kamu yang lebih awal dari biasanya."
"Ada yang perlu dibereskan lebih cepat hari ini."
Kiara mengangguk. Tidak bertanya lebih. Aku mengira kami akan makan dalam diam yang terpisah seperti orang asing yang kebetulan ada di tempat yang sama. Tapi tiga menit kemudian Kiara berkata tanpa mendongak dari makanannya:
"Murid saya hari ini nangis karena ulat."
"Ulat?"
"Ada ulat masuk ke kelas. Kecil sekali, tidak berbahaya. Tapi tiga anak langsung teriak dan naik ke kursi. Satu anak — namanya Budi — malah pungut ulatnya dengan tangan dan taruh di meja temannya yang sudah ketakutan. Jadinya kelas ribut sepuluh menit."
"Kamu marahin si Budi?"
"Tidak. Saya ajak Budi ke depan dan minta dia jelaskan ke teman-temannya kenapa ulat itu tidak berbahaya. Akhirnya dia jadi 'ahli ulat dadakan' dan semua orang dengerin. Ulatnya kami keluarkan bareng ke taman."
Aku tertawa. "Taktik yang bagus."
"Anak-anak lebih mudah nerima penjelasan dari teman mereka dari pada dari guru." Kiara menyendok sayurnya. "Kamu pasti sudah tahu itu dari pengalaman kerja juga. Orang lebih dengar dari yang setara dengan mereka."
Benar sekali. Di lapangan itu yang selalu aku terapkan — kalau mau pekerja terima instruksi baru, sampaikan dulu lewat mandor yang sudah mereka percaya, bukan langsung dari atas.
"Kamu sering makan di sini sendirian?" tanyaku.
"Setiap hari. Tidak ada teman yang kantornya dekat sini." Ia tidak terdengar sedih soal itu — lebih ke pernyataan netral. "Tapi Bu Sum orangnya ramai, jadi tidak benar-benar sendirian."
"Saya juga biasanya sendirian di sini."
"Kelihatannya begitu. Kamu tipe yang tidak perlu teman untuk makan siang."
"Terkadang justru lebih produktif."
"Setuju." Kiara mengangguk. "Tapi sesekali ada teman yang menarik juga tidak rugi."
Kalimat itu disampaikan sambil ia tetap melihat ke makanannya, dengan nada yang sepenuhnya flat, sehingga aku tidak yakin apakah itu isyarat atau hanya pernyataan umum. Kiara, aku sudah mulai menangkap, adalah tipe orang yang kalimat-kalimatnya sering punya lapisan yang baru kelihatan beberapa detik setelah diucapkan.
Kami makan dengan percakapan yang mengalir seperti hari pertama — mudah, tidak dipaksakan, tentang hal-hal kecil yang ternyata memiliki lebih banyak yang bisa dibahas dari yang kelihatan. Aku cerita tentang pengecoran kemarin yang harus dihentikan di tengah jalan karena pompa beton tiba-tiba bermasalah dan kami harus improvisasi dengan cara manual yang jauh lebih lambat. Kiara cerita tentang orang tua murid yang meminta anaknya naik kelas meski belum memenuhi standar karena "tidak mau anaknya malu".
Di akhir makan, saat Kiara sudah mengambil tasnya dan siap pergi, aku berkata:
"Boleh minta nomornya?"
Kiara berhenti. Menatapku. Bukan ekspresi kaget, lebih ke ekspresi orang yang sedang menimbang sesuatu dengan cermat.
"Untuk apa?"
Pertanyaan yang langsung. Tanpa basa-basi. Aku sudah menduga ini.
"Untuk lanjut ngobrol di waktu yang bukan jam makan siang. Dan karena aku belum selesai cerita soal pompa beton kemarin."
Kiara menaikkan satu alis. "Kamu mau cerita soal pompa beton lewat WA?"
"Bisa tentang hal lain juga."
"Seperti apa?"
"Seperti apa yang ingin kita ceritakan."
Kiara diam beberapa detik. Bu Sum yang jelas-jelas menguping dari balik meja kasir tidak berusaha pura-pura tidak mendengar — ia bahkan sedikit bersandar ke depan.
"Oke," kata Kiara akhirnya. Ia mengeluarkan ponselnya. "Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Satu — jangan lebay. Saya tidak suka chat yang isinya 'selamat pagi cantik' atau stiker berbunga-bunga."
"Oke."
"Dua — kalau saya tidak balas lebih dari dua jam, artinya saya sedang ngajar atau rapat. Jangan dikira saya abaikan."
"Masuk akal."
"Tiga—" ia berpikir sebentar, "—jangan pernah kirim voice note lebih dari satu menit. Saya tidak suka dengerin orang ngomong panjang yang bisa ditulis dalam dua kalimat."
Aku menahan tawa. "Ada lagi?"
"Sepertinya cukup untuk sekarang." Ia menyerahkan ponselnya — sudah buka kontak baru yang tinggal aku isi. "Nanti mungkin ada tambahan."
Aku mengetikkan nomor. Menyimpan. Mengembalikan ponsel.
"Saya kirim WA sekarang supaya kamu bisa simpan nomor saya juga," katanya sambil berjalan ke pintu.
Detik berikutnya, ponselku bergetar. Pesan dari nomor baru:
*Ini Kiara. Ingat syarat-syaratnya.*
Aku menatap layar. Tersenyum.
Bu Sum di kasir berdeham dengan cara yang jelas sekali bukan karena ada yang tersangkut di tenggorokan.
"Bu Sum," aku berkata tanpa mengangkat muka dari ponsel, "saya tambah es teh satu lagi."
"Siap, Mas Galang. Kelihatannya hari ini cocok minum yang manis-manis ya."
Aku tidak menjawab. Tapi es teh itu terasa lebih manis dari biasanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar