Seminggu setelah nomor kontak, kami sudah chatting setiap hari.

Pola yang terbentuk sendiri tanpa direncanakan: pagi hari Kiara kadang kirim foto pemandangan dari jendela kelas — pohon di halaman sekolah yang baru berbunga, atau tulisan di papan tulis yang menggelikan karena kesalahan ejaan muridnya. Siang hari kami sering saling chat di jeda makan siang. Malam hari percakapan bisa panjang, bisa pendek, tergantung energi masing-masing setelah seharian kerja.

Ardi sudah curiga. Tanda-tandanya jelas: aku yang biasanya tidak pegang ponsel di jam kerja kecuali untuk urusan proyek, sekarang kadang terlihat tersenyum ke layar ponsel di sela-sela cek laporan.

"Siapa?" tanya Ardi suatu sore sambil menyerahkan dokumen tender yang perlu aku tanda tangani.

"Tidak ada."

"Kamu senyum ke ponsel. Bukan senyum email klien. Itu senyum yang berbeda."

"Tanda tangan dulu."

Ardi tidak mau kalah. Tapi juga tahu batas. Ia menyimpan pertanyaannya — untuk sementara.

Kamis itu, untuk pertama kalinya sejak kami bertukar nomor, aku mengajak Kiara makan bersama di luar warung Bu Sum. Bukan di restoran mahal — ada tempat makan ayam goreng di dekat alun-alun yang kata beberapa pekerja proyekku enak sekali dan aku belum sempat coba.

Kiara setuju dengan syarat: "Saya tidak mau yang terlalu jauh dari sekolah karena ada rapat orang tua jam tiga."

"Waktunya cukup kalau berangkat jam dua belas."

"Oke."

Kami bertemu di depan sekolah. Kiara keluar dengan tas yang sama, seragam yang berbeda — kemeja kuning pale dengan rok hitam, rambutnya dikucir lagi dengan satu helai yang lepas di sisi yang sama. Aku sudah mulai menduga itu bukan karena kurang rapi, tapi memang begitu caranya. Helai rambut lepas itu seperti bagian dari ekspresinya.

"Mobilnya mana?" tanya Kiara saat ia melihat aku berdiri di depan motor tua yang sudah menemani aku di berbagai proyek lapangan.

"Ini."

"Kamu bawa motor ke mana-mana?"

"Di lapangan lebih mudah pakai motor. Bisa masuk ke mana-mana."

Kiara melihat motor itu — Vario 2018 yang sudah agak kusam tapi mesinnya masih bagus karena aku rajin servis — lalu naik ke boncengan tanpa ekspresi yang berlebihan. "Oke."

Di tempat makan ayam goreng, kami pesan dan duduk di meja sudut yang tidak terlalu ramai. Kiara langsung melihat menu dengan serius — bukan tipe yang bertanya "kamu pesan apa" dan ikut-ikutan, tapi punya preferensi sendiri yang jelas.

"Paha bawah. Tidak mau sayap, dagingnya sedikit."

Aku mengangguk ke pelayan.

"Kamu paha atas?"

"Dada. Lebih mudah dimakan kalau sambil lihat dokumen."

Kiara menatapku. "Kamu makan sambil lihat dokumen?"

"Kadang. Kalau sedang deadline."

"Itu kebiasaan buruk."

"Aku tahu."

"Tapi kamu tidak akan berhenti."

"Mungkin tidak. Tapi hari ini tidak ada dokumen."

Kiara tampak sedikit terkejut dengan jawaban itu — seperti baru menyadari aku memang sepenuhnya hadir hari ini, tidak setengah-setengah. Ia mengangguk kecil. Bentuk apresiasi yang Kiara-esque: tidak berbunga-bunga, tapi ada.

Makanan datang. Sambil makan, Kiara bertanya sesuatu yang belum pernah ia tanya selama seminggu chat:

"Kamu kerja di konstruksi, tapi kamu yang ngawasi. Berarti kamu bukan kuli bangunan?"

Pertanyaan yang tampaknya sederhana tapi punya lapisan. Di lapangan, aku memang lebih sering terlihat seperti pekerja dari pada pengawas — baju yang sama, tangan yang sama kotornya, dan aku memang sering ikut angkat material atau pegang alat kalau perlu. Tapi secara formal posisiku adalah pengawas lapangan untuk PT Wibowo Konstruksi.

Dan secara tidak formal — aku pemilik PT Wibowo Konstruksi.

Tapi itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan hari ini.

"Pengawas lapangan," jawabku. Yang benar dan tidak salah.

"Pengawas lapangan berarti sudah pengalaman lama?"

"Cukup lama."

"Berapa tahun?"

"Sejak kuliah sudah mulai. Jadi sekitar sepuluh tahun lebih."

"Wah." Kiara menggigit ayamnya. "Berarti kamu sudah tahu banyak soal bangunan."

"Cukup banyak."

"Kakek saya kalau masih hidup pasti suka ngobrol sama kamu."

Aku tersenyum. "Aku pasti suka ngobrol sama kakekmu juga. Orang lapangan yang berpengalaman itu selalu punya pengetahuan yang tidak ada di buku manapun."

Kiara menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku definisikan. "Kamu bicara tentang kuli bangunan seperti itu dengan hormat."

"Karena memang harus dihormati. Mereka yang membangun gedung-gedung itu. Bukan arsitek yang menggambar. Bukan pengawas yang nyuruh-nyuruh. Yang paling berjasa adalah yang pegang alat dan naik scaffolding setiap hari."

Hening beberapa detik.

"Saya tidak pernah dengar orang bicara seperti itu," kata Kiara akhirnya. Pelan.

"Mungkin karena tidak banyak orang yang pernah jadi kuli bangunan sungguhan sebelum jadi yang lain."

Kiara menatapku lebih lama dari biasanya. Ada pertanyaan di balik matanya yang tidak ia ucapkan. Aku membiarkan pertanyaan itu tidak dijawab dulu — karena belum waktunya, dan karena bagian ini belum perlu dijawab untuk percakapan hari ini.

Rapat orang tua di sekolah dimulai jam tiga. Kami makan sampai jam dua lebih. Di perjalanan balik ke sekolah Kiara, ia tidak banyak bicara — berbeda dari saat makan tadi — tapi diamnya bukan awkward. Lebih ke diam orang yang sedang memikirkan sesuatu.

Di depan gerbang sekolah, ia turun dari motor.

"Galang."

"Iya?"

Ia sedikit ragu — sesuatu yang baru aku lihat dari Kiara yang biasanya berbicara dengan sangat langsung. "Kamu orangnya beda."

"Beda dari siapa?"

"Dari yang biasa saya temui." Ia mengatur tas kanvasnya. "Saya tidak tahu apakah itu bagus atau belum."

"Itu jujur."

"Saya memang jujur." Ia membalik badan. "Nanti malam mungkin saya chat kalau tidak terlalu capek setelah rapat."

"Aku akan tunggu."

Kiara masuk ke gerbang sekolah tanpa menoleh lagi. Tapi sebelum pintu menutup, aku melihat ia merapikan helai rambut yang lepas itu — satu-satunya tanda bahwa ia sedikit lebih sadar diri dari biasanya.

Aku menstarter motor. Tersenyum ke jalan.

Di kantorku — kantor yang ada di lantai dua belas gedung berbeda dari proyek Waru — ada rapat direksi yang mestinya aku hadiri jam tiga tadi. Aku sudah meminta Ardi untuk mewakili.

Ardi pasti sudah mengirim tujuh pesan marah yang belum aku baca.

Aku memeriksa ponsel. Delapan pesan. Lebih dari dugaan.