*Dewa sudah perlu tahu yang sebenarnya.*
Kalimat itu berputar di kepalaku sepanjang waktu memasak, sepanjang makan malam yang berlangsung dengan cara yang terlihat normal dari luar — Dewa makan, Arman bicara tentang proyek, Mama Linda sesekali berkomentar tentang makanan — tapi yang dari dalam seperti ada lapisan yang beda.
Sesuatu yang Dewa perlu tahu. Sesuatu yang Mama Linda pikir sudah terlalu lama disembunyikan.
Aku tidak bisa langsung tanya Arman — tidak di depan Mama Linda dan Dewa. Ada hal-hal yang caranya salah kalau dilakukan di waktu dan tempat yang salah. Ini salah satunya.
Tapi aku juga tidak bisa membiarkan malam berlalu tanpa ada kejelasan tentang apa yang aku dengar.
---
Mama Linda pulang setelah makan malam. Dewa masuk kamar untuk belajar. Dan aku dan Arman di ruang tamu dengan keheningan yang sudah berbeda dari keheningan malam-malam sebelumnya.
"Ada yang mau kamu ceritakan?" tanyaku.
Cara Arman yang meletakkan HPnya ke meja.
"Tentang apa?"
"Tentang apa yang tadi dikatakan Mama ke kamu sebelum aku masuk dapur."
Arman menatapku. Cara menatap yang sedang mengukur — sudah tahu aku dengar, sedang memutuskan harus menjawab apa.
"Kamu dengar?"
"Sebagian." Aku menjaga nada suaraku datar. "Cukup untuk tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari Dewa. Dan mungkin dari aku."
Arman tidak langsung menjawab.
Cara diam yang paling berbicara.
"Arman." Aku mengucapkan namanya dengan cara yang sudah cukup kami kenal untuk tahu bahwa itu bukan panggilan biasa — itu sinyal bahwa aku butuh kejujuran, bukan pengelolaan. "Apa yang Dewa perlu tahu?"
---
Arman berdiri. Berjalan ke jendela dengan cara yang sudah aku kenali sebagai cara ia menghadapi sesuatu yang berat — butuh bergerak ketika tidak bisa langsung berbicara.
"Ada hal tentang Dewa," katanya akhirnya tanpa berbalik, "yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun selain Mama."
"Dan dokter Baskara?" tanyaku. Nama yang muncul secara intuitif — dokter keluarga yang sudah kenal Arman lama, yang kadang aku temui di acara-acara keluarga tapi yang caranya kepada Arman selalu terasa seperti lebih dari dokter ke pasien.
Arman berbalik cepat.
"Kenapa kamu sebut Baskara?"
"Karena cara kalian berinteraksi selalu seperti ada sesuatu yang dijaga." Aku menatapnya. "Aku tidak bicara tentang sesuatu yang tidak pantas. Aku bicara tentang cara dua orang yang sama-sama menyimpan sesuatu."
Arman menatapku cukup lama.
"Duduk," katanya akhirnya.
Dan cara ia berkata itu — bukan perintah, lebih seperti permintaan dari seseorang yang sudah memutuskan bahwa malam ini ada yang perlu diselesaikan — membuat aku duduk.
Dan menunggu.
---
"Dua belas tahun lalu," Arman memulai setelah duduk di seberangku, "Rena melahirkan Dewa di Rumah Sakit Permata. Kelahiran normal, tidak ada komplikasi."
"Iya." Aku sudah tahu ini.
"Di hari yang sama, di RS yang sama, ada satu perempuan lain yang juga melahirkan anak laki-laki."
Sesuatu bergerak di dadaku.
"Hari yang sama. RS yang sama." Arman menatap tangannya. "Ruang bersalin yang sama."
"Arman—"
"Baskara yang menemukan ini. Setahun setelah Rena meninggal. Ia sedang mengurus dokumen medis lama Rena dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana — atau yang seharusnya ada tapi yang tidak ada."
Aku menunggu.
"Golongan darah, Sinta." Arman akhirnya menatapku langsung. "Rena golongan darah A. Aku golongan darah O. Dewa golongan darah AB."
Aku duduk dengan angka-angka itu.
Dua orang tua dengan golongan darah A dan O tidak bisa menghasilkan anak dengan golongan darah AB.
Itu bukan kemungkinan yang kecil. Itu kemungkinan nol.
"Arman," kataku pelan, "apakah Dewa—"
"Bukan anak kandungku secara biologis." Suara yang keluar dengan cara yang menunjukkan kalimat itu sudah ribuan kali ada di kepalanya tapi baru pertama kali diucapkan kepada aku. "Dan kemungkinan besar bukan anak kandung Rena juga."
Keheningan yang panjang.
"Ada bayi yang tertukar," kataku akhirnya. Kalimat yang tidak perlu dikonfirmasi karena sudah jelas dari semua yang baru dikatakan.
"Ada bayi yang tertukar."
"Dan kamu tahu ini sejak kapan?"
"Sejak tiga tahun lalu." Cara ia berkata itu — bukan dengan cara yang meminta maaf, lebih dengan cara yang sudah menerima konsekuensi dari pengakuan ini. "Sejak sebelum kita menikah."
---
Ada sesuatu yang terjadi di antara Arman mengucapkan kalimat tentang golongan darah dan aku memproses kalimat itu yang tidak bisa aku deskripsikan dengan cara yang akurat.
Bukan seperti syok — syok terasa lebih tiba-tiba. Ini lebih seperti sesuatu yang sudah ada dalam bentuk yang samar mulai menemukan bentuknya yang lebih jelas. Seperti foto yang sedang dicuci di kamar gelap yang perlahan memperlihatkan gambar yang sudah ada di sana tapi yang belum terlihat.
Dua orang tua dengan golongan darah A dan O tidak menghasilkan anak dengan AB.
Angka yang aku pelajari dari biologi SMA dan yang waktu itu terasa seperti fakta yang abstrak — sekarang jadi kenyataan yang sangat konkret di atas meja makan ini.
"Bagaimana kamu tahu ini?" tanyaku akhirnya.
"Baskara yang menemukan." Arman tidak menghindar. "Dari rekam medis lama Rena."
"Dan kamu sejak kapan?"
"Tiga tahun lalu."
"Sebelum kita menikah."
"Sebelum kita menikah."
Cara repetisi kalimat itu yang membantu otakku meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan salah dengar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar