Tiga tahun lalu. Sejak sebelum kita menikah.
Kalimat itu yang paling keras menghantam dari semua yang baru dikatakan Arman — bukan karena informasi tentang Dewa yang tertukar tidak mengejutkan. Itu mengejutkan dengan cara yang membuat tulang punggungku terasa seperti tidak ada. Tapi yang lebih dalam dari kejutan itu adalah:
Arman tahu sebelum menikah denganku.
Dan tidak memberitahuku.
Tiga tahun kami hidup bersama, tiga tahun aku berusaha menjadi ibu tiri yang baik untuk Dewa, tiga tahun Arman melihat semua usaha itu — dan selama itu semua, ia menyimpan sesuatu yang fundamental tentang siapa Dewa sebenarnya.
"Kamu tahu sebelum kita menikah." Aku mengulang kalimat itu bukan sebagai pertanyaan tapi sebagai sesuatu yang perlu diucapkan agar terasa nyata. "Dan kamu memilih tidak memberitahuku."
"Aku tidak tahu cara memberitahumu." Arman berkata itu dengan cara yang menunjukkan ini bukan alasan yang dikarang — ini alasan yang sudah ribuan kali ia ucapkan kepada dirinya sendiri. "Dan aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu tidak mau menikah denganku kalau tahu." Cara berkata yang jujur sampai menyakitkan. "Takut kamu tidak mau ada untuk Dewa kalau tahu Dewa bukan anak kandungku — bahwa situasinya lebih kompleks dari yang kamu tahu."
---
Aku berdiri. Tidak pergi — tidak ada tempat yang ingin aku tuju — lebih karena duduk di tempat yang sama tiba-tiba terasa seperti terlalu banyak yang ada di satu titik.
"Arman," kataku dari tempat aku berdiri, "kamu tahu siapa ibu kandung Dewa yang sebenarnya?"
Diam yang lebih panjang dari yang nyaman.
"Baskara sedang mencari." Arman berbicara dengan cara yang hati-hati. "Dari rekam medis lama. Ada satu nama pasien yang melahirkan di hari dan jam yang sama dengan Rena. Tapi rekam medis dua belas tahun lalu tidak selengkap sekarang."
"Nama pasiennya ada?"
"Ada tapi tidak lengkap." Arman menghela napas. "Baskara masih mencocokkan."
Sesuatu bergerak di dalam dadaku. Bukan perasaan yang bisa aku beri nama dengan tepat — lebih seperti sesuatu yang sedang mencari tempatnya tapi belum menemukan.
"Aku lahirkan anak dua belas tahun lalu," kataku. Suaraku sendiri terdengar asing ketika kata-kata itu keluar. "Di Rumah Sakit Permata."
Arman yang sedang menatap lantai mengangkat kepalanya.
Cara menatapku yang berbeda dari cara ia menatapku sejak aku duduk di sini.
"Sinta—"
"Aku kehilangan bayi itu." Kalimat yang belum pernah aku ucapkan kepada Arman karena sudah terjadi sebelum kami bertemu dan karena ada hal-hal dari masa lalu yang tidak selalu perlu diceritakan. "Kata dokter waktu itu bayiku lahir prematur dan tidak selamat. Baru beberapa jam setelah dilahirkan."
Arman tidak bergerak.
"Kamu tidak pernah cerita ini."
"Kamu tidak pernah tanya." Aku menatapnya langsung. "Dan aku pikir tidak perlu — itu masa lalu yang sudah selesai."
"Sinta." Arman berdiri perlahan. "Dua belas tahun lalu. RS Permata."
"Iya."
"Bulan berapa?"
Aku menyebut bulan itu.
Cara wajah Arman yang berubah — perlahan, seperti seseorang yang sedang menyatukan dua hal yang tidak ia sangka akan bersatu — membuat ada sesuatu di dalam dadaku yang tidak bisa aku beri nama tapi yang terasa seperti bagian dari sesuatu yang sangat besar.
"Rena melahirkan Dewa di bulan yang sama," kata Arman pelan. "Di minggu yang sama."
Keheningan di antara kami.
Dan dalam keheningan itu, sesuatu yang dua belas tahun tidak punya nama mulai — sangat pelan, sangat hati-hati — menemukan bentuknya.
---
Duduk di pinggir kasur jam tiga pagi dengan cara yang tidak lagi berusaha tidur adalah cara aku menghadapi hal-hal yang terlalu besar untuk tidur di tengahnya.
Di kamar yang gelap — Arman yang akhirnya tertidur setelah jam dua, cara yang aku biarkan karena ada hal yang perlu diproses masing-masing — aku duduk dan membiarkan pikiran bekerja tanpa mencoba mengarahkannya ke kesimpulan tertentu.
Dewa.
Yang selama tiga tahun ada di kamar sebelah dengan cara yang kadang terasa seperti sangat dekat dan kadang seperti sangat jauh — mungkin sedang bekerja sesuatu yang lebih dalam dari yang pernah aku sadari. Mungkin ada yang sudah bekerja bahkan sebelum ada informasi yang bisa memberi nama pada apa yang bekerja itu.
Ibu. Anak. Kata-kata yang selama ini aku gunakan dengan cara yang tidak sepenuhnya bebas — selalu ada catatan kaki, selalu ada *tiri* yang datang setelah *ibu*. Dan sekarang kemungkinan besar tidak ada lagi catatan kaki itu.
Bukan lebih mudah. Tidak ada yang menjanjikan ini akan lebih mudah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara berdiri di tepi sesuatu dengan cara berdiri di dalam sesuatu.
Dan perbedaan itu, meski belum bisa aku beri nama yang tepat, sudah terasa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar