Aku menemukan foto itu secara tidak sengaja.

Sedang membereskan lemari di kamar Dewa — sesuatu yang aku lakukan sebulan sekali dengan izin Dewa dan dengan cara yang sudah kami sepakati: aku tidak menyentuh area meja belajarnya, tidak membuka laci kecuali yang laci baju, dan memberitahunya sebelumnya supaya tidak ada yang terasa seperti penyerbuan.

Foto itu jatuh dari antara lipatan baju ketika aku mengangkat tumpukan yang sudah perlu dilipat ulang.

Foto ukuran 4R, sudah sedikit kusut di sudutnya. Foto Dewa ketika masih bayi — mungkin baru beberapa bulan. Digendong oleh seorang perempuan yang aku kenal dari foto-foto lain di rumah ini: Rena, istri pertama Arman. Ibu kandung Dewa.

Yang menarik perhatianku bukan foto itu.

Yang menarik perhatianku adalah cara foto itu — yang sudah kusut dan sudah tertekuk di beberapa sisi — menunjukkan bahwa foto ini sudah sering dipegang. Sering diambil, dilihat, disimpan kembali. Bukan foto yang hanya tersimpan — foto yang aktif dipakai sebagai sesuatu yang perlu dipegang dari waktu ke waktu.

Dewa menyimpan foto ibunya di antara lipatan bajunya. Dan dari cara kondisi foto itu, menyimpannya bukan hanya sebagai kenang-kenangan yang ada tapi yang tidak sering dilihat.

---

Aku meletakkan foto itu kembali di antara lipatan baju, tepat di tempat yang sama.

Bukan karena tidak ingin tahu lebih. Tapi karena ada sesuatu yang tidak tepat dalam mengintervensi sesuatu yang jelas personal dan yang bukan punya tempat di antara urusan kami sebagai ibu tiri dan anak tiri — setidaknya belum.

Sore itu ketika Dewa pulang sekolah dan aku di dapur menyiapkan makan malam, aku perhatikan caranya masuk ke kamar sebelum berubah baju dan keluar lagi — cara yang sudah jadi rutinnya, masuk dulu ke kamar sebentar sebelum melakukan hal lain.

Sekarang aku tahu satu hal tambahan tentang apa yang dilakukan Dewa di kamar dalam waktu singkat itu.

Dan hal tambahan itu memberiku sesuatu yang tidak pernah aku punya sebelumnya tentang Dewa: jendela kecil ke dalam apa yang ada di dalamnya.

---

"Dewa," kataku ketika ia sudah makan dan sedang menyelesaikan makanannya, "kamu pernah cerita ke Ayah tentang ibumu?"

Cara garpu yang berhenti sebentar di udara.

"Kenapa tanya itu?"

"Bukan apa-apa." Aku menjaga nada suaraku tetap ringan. "Hanya kadang berpikir apakah kamu punya tempat untuk cerita tentang hal yang mungkin sulit ceritanya."

"Aku cerita ke Ayah."

"Bagus." Aku mengangguk. "Kalau mau cerita ke aku juga boleh. Tidak harus tentang ibumu. Tentang apapun."

Dewa menatapku sebentar. Cara menatap yang sedang menilai — apakah tawaran ini sungguhan atau hanya cara orang dewasa yang terdengar baik.

"Oke," katanya akhirnya. Singkat, tapi ada.

Aku tidak menekan lebih. Menerima "oke" itu sebagai yang cukup untuk sekarang.

---

Malam itu, ketika Arman sudah pulang dan Dewa sudah di kamarnya, aku menceritakan soal foto itu kepada Arman.

Cara Arman yang mendengarkan tampak biasa. Tapi ada sesuatu yang aku perhatikan — cara napasnya yang sedikit berubah ketika aku menyebut foto bayi Dewa dengan Rena.

"Normal," kata Arman. "Dewa memang masih sering ingat ibunya."

"Aku tahu." Aku menatap suamiku. "Tapi bukan itu yang membuatku cerita. Lebih karena... ada sesuatu tentang cara Dewa menyimpan foto itu yang membuatku berpikir bahwa ia menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kenang-kenangan."

"Sesuatu seperti apa?"

"Tidak tahu." Jujur. "Mungkin pertanyaan yang belum ia tahu cara mengajukannya. Mungkin perasaan yang belum ia temukan kata-katanya."

Arman diam cukup lama.

"Anak yang kehilangan ibu di usia delapan tahun punya banyak hal yang belum selesai diproses," katanya akhirnya. "Itu wajar."

"Iya." Aku mengangguk. "Wajar."

Tapi ada sesuatu dalam cara Arman berkata "itu wajar" — terlalu cepat untuk menyimpulkan, terlalu ringan untuk topik yang berat — yang membuat aku menyimpan ini juga di tempat yang sama dengan pertanyaan dari teras belakang kemarin malam.

Kumpulan hal-hal kecil yang masing-masing bisa diabaikan tapi yang bersama-sama terasa seperti sedang menunjukkan ke arah tertentu.

---

Foto itu sekarang ada di dompetku.

Bukan karena aku yang memindahkannya — Dewa yang meletakkannya kembali ke lipatan bajunya. Tapi aku mengambil foto dari HP Arman, foto yang sama dari album digital yang pernah dicetak, dan menyimpannya.

Bukan untuk alasan yang bisa aku jelaskan dengan tepat. Lebih seperti cara seseorang menyimpan sesuatu yang terasa penting sebelum tahu persis kenapa penting.

Cara Rena yang menggendong bayi itu — dengan cara yang menunjukkan ini bukan pertama kalinya menggendong, cara yang sudah terbiasa, cara yang sudah mengenal — adalah cara yang dua belas tahun kemudian baru aku tahu ada lapisan di baliknya yang tidak pernah siapapun sadari.

Di rumah, dengan Dewa yang ada di kamarnya dan Arman yang sedang keluar untuk keperluan sebentar, aku duduk di meja dapur dengan foto itu di tangan.

Bayi yang kecil itu. Yang caranya diam di pelukan perempuan yang menggendongnya menunjukkan bahwa ia nyaman di sana.

Cara nyaman yang mungkin sudah ada sejak lahir. Tapi yang tidak dengan orang yang seharusnya ada.

Aku menyimpan foto itu kembali ke dompet. Dan memulai menyiapkan makan malam dengan cara yang biasa, dengan pikiran yang ada di dua tempat sekaligus.