Mama Linda datang setiap dua minggu sekali.
Bukan diundang — datang. Dengan cara yang sudah Arman terima sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah: ibu yang sudah terbiasa dengan akses bebas ke rumah anaknya tidak akan mudah menerima batasan baru hanya karena ada menantu baru.
Aku yang sudah tiga tahun menjalani ini sudah cukup bisa mengelola kunjungan Mama Linda dengan cara yang tidak menghasilkan konflik terbuka. Tidak berarti mudah. Tapi sudah ada caranya yang terbentuk dari trial and error tiga tahun.
Cara yang paling efektif: berikan apa yang ia butuhkan (rasa bahwa rumah ini masih dalam territory yang ia kenal dan kendalikan) tanpa memberikan yang tidak perlu diberikan (komentar yang aku biarkan lewat, perubahan yang aku tidak lakukan hanya karena ia inginkan, dan posisiku sebagai istri Arman yang aku pertahankan dengan cara yang tidak defensif tapi jelas).
---
Kunjungan hari itu berbeda dari biasanya.
Mama Linda yang biasanya langsung ke dapur atau ke kamar Dewa datang dengan cara yang terasa seperti ada agenda. Duduk di ruang tamu, meminta teh, dan menunggu Arman — yang belum pulang dari proyek — dengan cara yang menunjukkan bahwa ia sengaja memilih waktu ketika aku dan ia ada berdua.
"Dewa bagaimana sekolahnya?" tanya Mama Linda ketika aku membawa teh.
"Baik. Nilai-nilainya bagus." Aku duduk di kursi di seberangnya — tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat.
"Temannya banyak?"
"Cukup banyak."
"Kamu tahu nama teman-temannya?"
Pertanyaan yang nadanya bukan sekadar tanya — ada sesuatu di baliknya yang menguji.
"Beberapa." Aku menjawab langsung tanpa defensif. "Arif, Bayu, dan Kirana yang paling sering disebut. Yang lain aku kenal muka tapi belum semua nama."
Mama Linda mengangguk dengan cara yang tidak menandai kepuasan atau ketidakpuasan.
---
"Sinta," kata Mama Linda setelah beberapa detik diam, "kamu tahu bagaimana caranya mendekati anak yang sudah punya ibu sebelumnya?"
Pertanyaan yang terasa seperti pertanyaan tapi yang sebenarnya adalah pernyataan.
"Aku tidak mencoba mendekati Dewa dengan cara mendekati," kataku dengan cara yang sudah aku siapkan untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini. "Aku ada untuk Dewa dengan cara yang menurutku paling jujur: ada tanpa mencoba jadi ibunya, ada tanpa menggantikan sesuatu yang tidak bisa digantikan."
"Tapi Dewa perlu ibu."
"Dewa perlu orang dewasa yang bisa dipercaya di sekitarnya." Aku menjaga nada. "Itu yang berusaha aku jadi."
Mama Linda menatapku dengan cara yang sudah aku kenal — cara yang sedang menilai apakah jawabanku meyakinkan atau tidak.
"Rena sangat sayang Dewa," kata Mama Linda akhirnya. "Sangat sayang. Kamu tidak bisa menggantikan itu."
"Aku tahu." Aku menjawab tanpa menambahkan apa-apa. Karena menambahkan apapun hanya akan membuka pintu untuk komentar berikutnya.
---
Arman pulang ketika Mama Linda masih ada. Cara ia melihat situasi — aku dan ibunya di ruang tamu dalam keheningan yang sudah lewat nyaman — membuat ia langsung duduk dan mengambil alih percakapan dengan cara yang sudah aku apresiasi selama tiga tahun ini: ia tidak berpihak secara eksplisit, tapi ia hadir.
Mama Linda yang lebih nyaman ketika Arman ada mulai bicara tentang hal-hal lain — tentang kakak Arman yang punya rencana pindah kota, tentang tetangga lama yang katanya sakit, tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan aku.
Aku masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam dengan cara yang sudah aku pelajari sebagai cara paling efisien untuk memberi ruang tanpa terlihat mundur.
Tapi sebelum aku keluar dari ruang tamu, ada satu kalimat dari Mama Linda yang aku tangkap — diucapkan pelan kepada Arman, bukan kepada aku, dengan cara yang mungkin tidak bermaksud terdengar olehku:
"Dewa sudah perlu tahu yang sebenarnya, Man. Semakin lama semakin sulit."
Yang sebenarnya.
Aku berhenti sebentar di pintu dapur. Tidak berbalik.
Lalu melanjutkan masuk ke dapur dengan cara yang sama seperti ketika aku belum mendengar kalimat itu.
Tapi kalimat itu sudah ada. Dan tidak bisa tidak ada lagi.
---
Kalimat *Dewa sudah perlu tahu yang sebenarnya* berputar di kepalaku sampai malam.
Bukan karena aku tidak tahu maknanya — terlalu jelas. Tapi karena cara kalimat itu diucapkan oleh Mama Linda — dengan nada yang sudah lelah, yang sudah lama menyimpan sesuatu yang tidak lagi bisa disimpan dengan tenang — menunjukkan bahwa ini bukan ungkapan spontan. Ini sesuatu yang sudah dikumpulkan lama dan yang akhirnya keluar.
Dan cara Arman menjawab dengan cara yang aku tidak bisa dengar — suara yang terlalu pelan, di ujung ruang yang terlalu jauh — tapi yang caranya menunduk dan memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lain sudah bercerita tanpa kata.
Ada sesuatu. Yang sudah cukup lama. Yang sudah cukup berat untuk membuat Mama Linda yang tidak pernah bicara tentang hal yang bukan urusan orang di depannya mengucapkan kalimat itu kepada anaknya ketika menganggap tidak ada yang mendengar.
Aku mencuci piring dan memutuskan bahwa malam ini adalah malam untuk bertanya langsung. Tiga tahun pernikahan sudah memberiku kapital yang cukup untuk cara percakapan seperti itu.
Yang aku belum tahu adalah betapa besar yang akan keluar ketika pintu itu dibuka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar