Mara tiba di kos itu tengah malam.
Bukan pilihan.
Kos lamanya kebanjiran tiga jam lalu. Air masuk dari celah jendela, dari bawah pintu, dari mana-mana sekaligus. Mara sempat menyelamatkan laptop dan satu ransel sebelum air mencapai lututnya. Selebihnya tenggelam.
Kasur. Buku catatan. Foto-foto yang ditempel di dinding.
Semua tenggelam.
Satu-satunya tempat yang punya kamar kosong dengan harga terjangkau dan bisa ditempati malam itu adalah Gang Kemuning nomor tujuh. Mara menemukan nomornya di pamflet lusuh yang ditempel di tiang listrik dekat stasiun, tepi-tepinya sudah robek dan basah.
Sudah pasti tidak ada pilihan lain.
Gang Kemuning ada di belakang pasar yang sudah tutup. Jalannya sempit, cuma cukup untuk satu motor. Lampunya redup di beberapa titik dan padam di beberapa titik lainnya. Bangunan di kiri kanan sudah tua, catnya mengelupas seperti kulit yang melepuh karena terlalu lama terkena panas.
Nomor tujuh ada di ujung gang.
Bangunan dua lantai dengan pagar besi berkarat. Bunyinya memekakkan telinga saat Mara dorong.
Ibu Nining membuka pintu sebelum Mara sempat mengetuk.
Perempuan tua itu berdiri di ambang pintu dengan baju daster bermotif bunga-bunga kecil dan tatapan yang tidak terkejut sama sekali. Seperti sudah tahu ada yang akan datang. Seperti sudah menunggu.
"Ada satu kamar," katanya langsung. Tanpa basa-basi. Tanpa menanyakan nama. "Kamar paling ujung. Lantai dua."
Mara melirik jam HP.
00.43.
Besok ada sidang skripsi. Tidak ada waktu untuk mencari tempat lain. Tidak ada energi.
"Berapa?"
Ibu Nining menyebutkan angka.
Mara berhenti.
Terlalu murah. Jauh terlalu murah untuk kota ini, untuk kamar sendiri, untuk lokasi yang masih terjangkau dari kampus. Normalnya kamar seperti ini paling murah dua setengah juta—ini hampir separuhnya.
Seharusnya Mara bertanya kenapa.
Tapi dia terlalu lelah. Terlalu basah. Terlalu tidak punya pilihan.
"Oke."
Ibu Nining memutar badan tanpa menunggu konfirmasi lebih lanjut. Mara mengikutinya masuk.
Tangga di dalam kos itu berderit keras di setiap anak tangganya. Bukan berderit tipis yang bisa diabaikan—berderit seperti kayu yang sudah lama menahan beban dan sudah lelah melakukannya. Di lorong lantai dua, lampu berkedip sekali setiap beberapa detik. Ritme yang tidak teratur. Seperti jantung yang gagal mempertahankan detaknya.
Ada empat kamar di lorong itu.
Tiga di sisi kiri.
Satu di ujung kanan—sendiri, terpisah dari yang lain.
Pintu kamar ujung itu terlihat lebih tua dari pintu-pintu lain.
Ada goresan panjang di permukaannya.
Tiga goresan. Sejajar. Di ketinggian yang pas dengan bahu orang dewasa.
Seperti bekas kuku yang menarik-narik.
"Penghuni lama sudah berapa lama pergi?" tanya Mara.
"Dua bulan." Ibu Nining menyerahkan kunci tanpa menatap Mara. "Tidur. Besok kita bicara soal aturan."
Perempuan itu sudah berbalik sebelum Mara sempat bertanya lebih. Suaranya menghilang di tangga.
Mara berdiri sendirian di depan pintu kamarnya.
Membuka kunci.
Mendorong pintu.
Ruangan kecil. Kasur single dengan sprei biru yang sudah pudar. Lemari kayu yang salah satu pintunya tidak menutup rapat. Meja belajar di sisi jendela. Jendela yang menghadap ke dinding bangunan sebelah—jarak antara kedua bangunan tidak lebih dari dua meter.
Standar.
Tidak ada yang istimewa.
Mara meletakkan ranselnya di lantai. Menyalakan lampu—lampu tunggal di tengah langit-langit, cahayanya kekuningan dan terlalu redup untuk ruangan sekecil ini. Dia melihat sekeliling sekali lagi.
Kasur. Lemari. Meja. Jendela.
Normal.
Dia berjalan ke meja untuk meletakkan laptop—dan berhenti.
Di atas meja ada gelas.
Gelas kaca dengan kopi hitam di dalamnya.
Masih berasap.
Mara tidak bergerak selama beberapa detik.
Lalu mengulurkan tangan. Menyentuh dinding luar gelas itu dengan punggung jarinya.
Hangat.
Bukan hangat sisa panas yang lama disimpan. Hangat seperti kopi yang baru saja dituang. Yang mengepulnya belum terlalu tinggi—mungkin sepuluh menit lagi baru akan berhenti.
Mara menoleh ke pintu. Ke lorong.
Kosong.
Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki.
Dia berjalan ke lemari untuk menyimpan baju yang masih kering. Membuka pintu lemari.
Dan di dalam lemari—tergantung satu kemeja.
Putih. Ukuran dewasa perempuan. Lusuh di beberapa bagian tapi bukan lusuh karena lama tidak dipakai—lusuh karena sering dipakai.
Mara menyentuh kainnya.
Masih wangi.
Bukan wangi parfum yang memudar karena disimpan berbulan-bulan. Wangi yang segar, seperti baru dicuci kemarin.
Mara menutup lemari.
Berdiri di tengah kamar.
Ada dua kemungkinan. Pertama: Ibu Nining berbohong soal kamar ini sudah kosong dua bulan. Kedua: ada yang masih menggunakan kamar ini secara diam-diam.
Kedua kemungkinan itu sama tidak menyenangkannya.
Mara memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh malam ini. Sidang skripsi besok. Otak harus jernih.
Dia berbaring di kasur tanpa melepas sepatu.
Lampu tetap menyala.
Matanya menatap langit-langit. Cat di langit-langit sudah menguning dan ada retakan di salah satu sudutnya yang membentuk pola seperti pohon yang telanjang.
Satu menit.
Dua menit.
Mara memejamkan mata.
Dan ketika membuka lagi—matanya, tanpa sengaja, menyapu ke sudut kiri kamar.
Sudut yang paling jauh dari lampu. Sudut yang paling gelap.
Ada bekas di lantai kayu.
Mara bangkit. Menajamkan penglihatan.
Tapak kaki.
Kecil.
Sangat kecil—seperti tapak kaki anak yang mungkin berusia tujuh atau delapan tahun.
Menghadap ke kasur.
Tepat menghadap ke tempat Mara sekarang berbaring.
Seolah seseorang—sesuatu—pernah berdiri di sudut itu dan menatap ke arah kasur. Diam. Menunggu.
Mara tidak berteriak.
Tidak melompat.
Hanya berbaring dengan seluruh otot tubuhnya menegang sekaligus dan matanya yang tidak lagi bisa menatap langit-langit dengan tenang.
Kopi yang masih hangat.
Kemeja yang masih wangi.
Tapak kaki yang menghadap ke kasur.
Dan kamar yang katanya sudah kosong dua bulan.
Mara tidak tidur sampai subuh.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar