Aku membuka flashdisk itu malam itu juga, di kamarku yang sudah kukunci dua kunci sekaligus — kunci gagang dan rantai pengaman yang biasanya tidak pernah aku pakai tapi malam ini terasa perlu.
Laptop lamaku masih ada di lemari — model yang sudah tiga generasi tertinggal dengan baterai yang tidak bisa tahan lebih dari dua jam tanpa charger, tapi masih bisa membaca file. Aku colokkan charger-nya ke stopkontak, hubungkan flashdisk, dan menunggu layar menyala dengan sabar meski tangan tidak bisa sepenuhnya diam.
File-file di dalamnya tersusun dalam folder-folder dengan nama yang tampak biasa bagi orang yang menemukan ini secara tidak sengaja: *LAPORAN INTERNAL*, *ARSIP Q3*, *ARSIP Q4*, *PERBANDINGAN*. Tapi bagi seseorang yang tahu apa yang sedang dicari, nama-nama folder itu adalah peta.
Aku mulai dari folder *PERBANDINGAN* karena itu yang paling tidak biasa — Bapak biasanya tidak membuat folder dengan nama seperti itu dalam arsip kerjanya yang aku kenal.
Di dalamnya: dua set laporan keuangan untuk kuartal yang sama. Satu berlabel *VERSI RESMI* dengan tanggal yang sudah aku asumsikan adalah versi yang diserahkan ke pemegang saham dan auditor. Satu lagi berlabel *DATA MENTAH* tanpa penjelasan tambahan.
Perbedaan pertama yang aku temukan ada di kolom pengeluaran operasional kuartal ketiga. Angkanya berbeda — bukan berbeda karena pembulatan atau perbedaan cara pencatatan, tapi berbeda dengan cara yang spesifik dan konsisten. Versi resmi menunjukkan pengeluaran yang lebih rendah dalam kategori tertentu yang diberi label *Jasa Konsultasi Strategis*, sementara data mentah menunjukkan angka yang jauh lebih besar untuk kategori yang sama.
Selisihnya: hampir delapan ratus juta rupiah hanya untuk satu kuartal itu.
Dan itu baru kuartal ketiga.
Di kuartal keempat, pola yang sama terulang dengan angka yang lebih besar. Serta ada satu kategori baru yang muncul di versi resmi tapi tidak ada di data mentah: *Biaya Pengembangan Jaringan Distribusi* yang jumlahnya mencapai satu koma dua miliar.
Aku membuka folder *ARSIP Q4* untuk memeriksa detail yang lebih dalam.
Di sana: transaksi-transaksi individual dengan tanggal, jumlah, dan kode rekening tujuan. Bukan nama vendor atau mitra yang bisa langsung diverifikasi — hanya kode-kode rekening yang perlu ditelusuri ke bank untuk tahu ke mana sebenarnya uang itu mengalir.
Total selisih yang aku hitung dari semua file yang ada: hampir tiga miliar rupiah dalam delapan bulan. Uang yang ada di pengeluaran perusahaan sesungguhnya tapi tidak tercatat dengan benar dalam laporan yang disampaikan kepada pihak yang seharusnya mengawasi.
Ini bukan kesalahan pencatatan. Kesalahan pencatatan tidak sistematis dan tidak konsisten mengarah pada satu pola. Ini penggelapan yang direncanakan — dengan lapisan kamuflase yang cukup untuk lolos dari audit biasa tapi tidak cukup untuk menipu seseorang yang tahu persis seperti apa laporan yang seharusnya.
Bapak menemukan ini.
Ia membandingkan versi yang ia tanda tangani untuk disampaikan ke luar dengan data mentah yang seharusnya sudah ia setujui dari awal — dan menemukan bahwa keduanya tidak sama. Seseorang mengubah laporan sebelum ia tanda tangani, atau mengubahnya setelah, dan mengharapkan tidak ada yang memperhatikan.
Mereka tidak memperhitungkan bahwa Bapak adalah orang yang hafal angka-angkanya sendiri.
Aku membuat salinan semua file ke email pribadiku — tiga akun berbeda, termasuk satu yang hanya Pak Hendro yang tahu alamatnya dan yang aku pakai khusus untuk hal-hal yang tidak ingin bisa diakses oleh siapapun selain aku dan satu orang yang aku percaya.
Lalu aku matikan laptop. Memasukkan flashdisk ke dalam lining bagian dalam tas sekolah lamaku yang tergantung di pojok lemari, di balik buku-buku kuliah dari SMA yang tidak ada yang akan sentuh bahkan untuk keperluan mendebu pun.
Duduk di lantai kamarku dalam ketenangan yang terasa sangat berbeda dari ketenangan biasa — ketenangan orang yang baru saja mengkonfirmasi sesuatu yang ia tidak sungguh-sungguh ingin benar adanya.
Bapak mengetahui ia sedang diselidiki. Atau bukan diselidiki — lebih tepatnya, ia yang sedang menyelidiki orang-orang di sekelilingnya, orang-orang yang ia percaya, dan menemukan bahwa kepercayaannya itu digunakan sebagai celah.
Dan dua minggu setelah ia menemukan skala penuh dari apa yang terjadi, ia tidak sadarkan diri di ruang kerjanya dan tidak pernah bangun lagi.
Aku mengambil ponsel. Mengetik pesan ke Pak Hendro yang tidak mencantumkan detail tapi cukup untuk membuatnya mengerti bahwa ini serius:
*Pak Hendro, saya perlu bicara besok pagi. Ada data yang perlu dianalisis oleh seseorang yang saya percaya. Ini menyangkut kematian Bapak saya.*
Balasan datang dalam empat menit, yang untuk jam sebelas malam adalah balasan yang sangat cepat dari seorang pengacara senior:
*Besok jam delapan, kantor saya. Jangan lewat orang lain dulu.*
Aku meletakkan ponsel. Berbaring di lantai kamarku — bukan di tempat tidur, tapi di lantai yang dingin — dan menatap langit-langit yang sama persis seperti yang aku lihat bertahun-tahun lalu ketika berbaring di sini karena ada hal-hal yang tidak bisa aku pikirkan dalam posisi duduk.
Bapak pernah bilang: ketika situasinya terasa terlalu besar, jangan coba pikirkan semuanya sekaligus. Pilih satu langkah pertama yang paling jelas dan paling aman. Lakukan itu. Lalu putuskan langkah kedua dari posisi yang baru.
Langkah pertama sudah jelas: besok, Pak Hendro.
Langkah kedua akan terlihat setelah itu.
---
Hari kedua yang diminta Mas Benny berakhir tanpa kabar dari sisinya.
Aku menunggu sampai makan siang. Mas Benny tidak keluar dari kamarnya kecuali satu kali ke kamar mandi jam sepuluh pagi, dan ketika kami berpapasan di koridor ia hanya menatapku sekilas dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sebelum menunduk kembali ke lantai.
Jam dua siang, aku mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi, lebih keras kali ini.
"Ben?"
Keheningan yang terasa berbeda dari keheningan orang yang sedang tidur atau sedang tidak mau diganggu.
Aku mencoba gagang pintu. Terkunci dari dalam.
Sesuatu di perutku berdenyut dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Aku berlari ke dapur — berlari dengan cara yang dikontrol, tidak berlomba dengan waktu yang tidak ada batas jelasnya, tapi cepat karena insting mengatakan cepat perlu.
Laci paling bawah di dapur. Kunci cadangan yang Bapak simpan di sana sejak dua puluh tahun lalu dalam toples kecil di balik tumpukan plastik pembungkus. Bapak yang memberitahuku posisinya ketika aku berumur dua belas tahun dengan cara yang seolah-olah kebetulan tapi aku tahu tidak kebetulan — Bapak tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan.
Kunci itu masih di sana. Masih di toples yang sama.
Pintu kamar Mas Benny terbuka.
Ia ada di sana — terduduk di lantai, bersandar ke tembok di bawah jendela yang tirainya setengah terbuka, memperlihatkan langit sore yang abu-abu. Ponsel di tangannya. Wajah pucat dengan cara yang berbeda dari pucat karena sakit fisik — lebih seperti seseorang yang baru selesai membaca sesuatu yang menguras warna dari kulitnya.
Hidup. Bernapas. Tapi matanya ketika ia menatapku mengatakan sesuatu sudah patah di dalam yang membuatnya lebih sulit untuk langsung bicara.
"Ben." Aku berlutut di depannya. "Apa yang terjadi?"
Ia menyerahkan ponselnya ke aku.
Layar memperlihatkan percakapan WhatsApp — nama pengirimnya kosong, nomor tidak dikenal, ikon hanya tanda tanya. Pesan yang dikirim pagi tadi dalam dua gelombang.
Pertama, jam delapan lima belas pagi: *Kalau kamu cerita ke Dara, kamu akan menyesal. Kita sudah bicarakan ini. Jangan goblok.*
Kedua, jam sembilan empat puluh tujuh pagi: *Foto-foto itu masih ada di tangan kami. Ingat itu.*
Aku membaca dua kali. Lalu meletakkan ponsel di lantai di antara kami.
"Foto apa?" tanyaku.
Mas Benny menutup matanya. Napasnya berat dengan cara yang sudah lama.
"Ada hal yang aku lakukan tiga tahun lalu." Suaranya hampir tidak terdengar dari balik sesuatu yang ia sudah lama simpan jauh di dalam. "Hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Dan mereka punya buktinya sejak lama."
Aku menunggu. Tidak mendorong. Tidak mengisi keheningan.
"Tiga tahun lalu, ketika kamu baru pergi ke Jakarta dan Bapak masih penuh fokus ke ekspansi bisnis yang baru — aku punya masalah yang tidak aku ceritakan ke siapapun." Ia membuka matanya. Menatap ke arah jendela, bukan ke aku. "Utang. Dari judi. Jumlahnya besar cukup untuk aku tidak tidur tiga bulan berturut-turut."
"Kamu tidak cerita ke Bapak."
"Bagaimana mungkin?" Nada suaranya ada sesuatu yang bukan jawaban tapi lebih seperti pertanyaan yang sudah ia ulang-ulang kepada dirinya sendiri bertahun-tahun. "Bapak yang membangun perusahaan ini dari nol. Bapak yang selalu jadi contoh di mana-mana tentang integritas. Dan aku mau bilang aku kalah judi?"
"Mas Adi tahu?"
"Mas Adi yang menawarkan solusinya." Kata-kata itu keluar dengan cara orang yang sudah lama mempersiapkan untuk mengatakannya tapi masih belum benar-benar siap dengan rasanya sendiri. "Ia akan lunasi utangku. Lunas penuh, tidak perlu aku kembalikan. Dengan satu syarat."
"Jangan tanya apapun yang terjadi di perusahaan."
Mas Benny menoleh ke arahku. Ada sesuatu di matanya — pengakuan bahwa aku sudah sampai pada kesimpulan yang tepat sebelum ia selesai mengatakan.
"Dan dukung semua keputusannya di rapat keluarga." Suaranya lebih pelan. "Apapun keputusannya. Tanpa pertanyaan."
Aku mengangguk pelan. Tidak menghakimi. Bukan karena tidak ada yang perlu dihakimi — tapi karena menghakimi tidak akan mengubah apapun dari yang perlu diubah sekarang.
"Dan sejak itu kamu diam."
"Sejak itu aku diam." Ia menutup matanya lagi. "Setahun lalu aku mulai melihat angka-angka yang aneh. Aku tanya ke Mas Adi, dia bilang ini restructuring internal yang tidak perlu aku khawatirkan. Aku tidak punya pengetahuan keuangan yang cukup untuk membantah dengan fakta. Tapi intuisiku bilang ada yang tidak beres."
"Dan kamu tetap diam."
"Dan aku tetap diam." Ia tidak membela dirinya. "Karena aku terikat dan karena aku takut."
"Ben — aku yakin kematian Bapak bukan kecelakaan."
Kalimat itu turun ke ruangan dengan berat yang berbeda dari kata-kata biasa.
Mas Benny membuka matanya. Menatapku dengan cara yang memperlihatkan bahwa ia sudah memikirkan kemungkinan ini — sudah lama memikirkannya dengan cara yang membuat tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak dalam beberapa bulan terakhir — tapi belum pernah sepenuhnya mengizinkan pikirannya membentuknya menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
"Apakah Mas Adi pernah menyinggung tentang Bapak yang mulai menemukan hal-hal yang tidak beres?" tanyaku.
Mas Benny diam. Diam yang berarti sesuatu.
"Ben."
"Bulan Mei." Suaranya keluar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan dan baru sekarang ada cukup tekanan untuk keluar. "Mas Adi datang ke rumahku. Bilang Bapak mulai 'terlalu banyak tanya' tentang laporan. Dan dia bilang ini perlu 'dikelola dengan hati-hati' supaya tidak jadi masalah besar."
*Dikelola dengan hati-hati.*
"Aku tidak tanya lebih jauh dari itu." Nada suaranya ada sesuatu yang paling mendekati penyesalan yang aku pernah dengar dari Mas Benny. "Aku memilih tidak tanya."
"Mas Adi pernah menyebut nama Ibu dalam konteks semua ini?"
Mas Benny menatapku. Kali ini lebih lama. Lebih serius.
"Kenapa tanya tentang Ibu?"
"Karena cara Ibu tidak menangis di pemakaman kemarin membuat aku memikirkan sesuatu yang belum bisa aku simpulkan." Aku menatapnya. "Dan karena ada hal yang aku dengar."
Mas Benny menghela napas panjang.
"Dua bulan sebelum Bapak meninggal," katanya akhirnya, "aku tidak sengaja lewat teras belakang malam-malam dan mendengar suara orang bicara. Mas Adi dan Ibu. Pelan tapi tidak cukup pelan untuk tidak terdengar dari jarak yang aku ada."
"Apa yang kamu dengar?"
"Tidak semua. Cuma sepenggal." Ia menatap tangannya di pangkuannya. "Tapi aku dengar Ibu bilang: 'Kalau ini harus dilakukan, lakukan dengan bersih.'"
Kalimat itu menghantamku di tempat yang tidak bisa aku lindungi.
*Kalau ini harus dilakukan, lakukan dengan bersih.*
Ibu.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar