Mas Aditya Wijaya adalah kakak yang sempurna di permukaan — dan permukaan adalah hal yang sangat penting bagi orang yang sudah membangun hidupnya di atasnya.

Selama tiga tahun aku di Jakarta, ia yang mengelola PT Wijaya Mandiri sebagai Direktur Operasional. Bapak masih pegang kendali final, tapi Mas Aditya adalah wajah publik perusahaan — yang muncul di profil majalah bisnis regional dengan foto setengah badan dan senyum yang sudah dipelajari bertahun-tahun untuk terlihat tepercaya, yang berjabat tangan di foto-foto gala dinner, yang memberikan kutipan cerdas dalam wawancara tentang masa depan industri.

Istrinya, Mbak Sinta, adalah pelengkap yang sempurna untuk citra itu. Perempuan cantik dengan gelar MBA dari universitas di Singapura dan cara berpakaian yang selalu tepat untuk setiap kesempatan. Mereka berdua adalah pasangan yang terlihat ideal: muda, mapan, ambisius dengan cara yang terlihat elegan bukan agresif.

Tapi ada hal-hal yang tidak pernah terlihat di foto.

Aku ingat telepon Bapak setahun lalu — kami tidak sering telepon panjang, jadwal kami sama-sama tidak beraturan dan percakapan kami lebih sering pendek dan ke inti. Tapi malam itu ia bicara lebih lama dari biasanya, dengan nada yang sedikit berbeda. Ia menyebut sesuatu tentang "angka yang tidak masuk" di laporan kuartal ketiga. Aku pikir itu keluhan rutin tentang akurasi laporan yang selalu jadi perdebatan di rapat direksi mana pun. Aku memberikan respons yang terlalu santai.

Sekarang aku tahu itu bukan keluhan rutin.

Aku ingat cara Mbak Sinta memandang ke arahku di pemakaman kemarin. Bukan tatapan berduka. Bukan tatapan simpati atau ekspresi sosial yang disiapkan untuk acara seperti itu. Lebih seperti penilaian — mata yang sedang mengkalibrasi ancaman dan memutuskan pada skala berapa.

Malam itu, setelah semua orang sudah di kamar masing-masing dan rumah sudah dalam keheningan yang terasa berbeda dari keheningan biasa, aku mengetuk pintu kamar Mas Benny.

Dua ketukan. Jeda. Dua ketukan lagi — kode kecil yang kami pakai waktu kecil ketika ingin pastikan yang mengetuk adalah kami berdua dan bukan Mas Aditya.

Mas Benny membuka pintu dengan ekspresi orang yang tidak mengharapkan ini tapi juga tidak sepenuhnya terkejut.

"Boleh masuk?" tanyaku.

Ia ragu sebentar. Matanya memeriksa koridor di belakangku. Lalu ia menyingkir.

Kamar Mas Benny penuh dengan barang-barang lamanya yang tidak pernah sepenuhnya pindah ke rumahnya sendiri meski sudah bertahun-tahun ia tidak tinggal di sini — poster band dari era SMA yang sudah pudar warnanya, trofi basket yang berdebu, foto-foto dari masa-masa yang terlihat lebih ringan dari sekarang.

Aku duduk di kursi belajar yang masih ada di sudut.

"Ben, kamu tahu tentang kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya?" Langsung ke inti. Tidak ada waktu untuk pendekatan berliku.

Mas Benny menutup pintu. Berbalik. Ekspresinya adalah gabungan dari beberapa hal yang ia tidak bisa sembunyikan sepenuhnya meski sedang mencoba.

"Kenapa tanya itu?"

"Karena aku tidak mungkin tanya ke Mas Adi." Aku menatapnya. "Dan kamu adalah satu-satunya yang mungkin tahu sesuatu yang tidak semua orang tahu."

Mas Benny berjalan ke jendela. Berdiri membelakanginya, memandang ke kamar dengan cara orang yang sedang memilih kata.

"Aku tidak tahu apa-apa, Dar." Tapi cara ia mengatakannya tidak terdengar seperti orang yang sungguh-sungguh tidak tahu. Lebih seperti orang yang sudah lama berlatih mengucapkan kalimat itu.

"Benny."

Ia terdiam.

"Bapak meninggalkan pesan untukku." Aku tidak menyebut detail. "Pesan yang memintaku untuk tidak percaya begitu saja pada semua yang terlihat terjadi. Kalau kamu tahu sesuatu — apapun — aku butuh tahu sekarang. Bukan besok. Sekarang."

Hening yang panjang.

Di luar jendela, hujan yang tadi sempat berhenti mulai lagi — lebih pelan kali ini, suaranya seperti bisikan.

Mas Benny berbalik. Dan di matanya — mata yang sama dengan mata Bapak dalam hal warna dan bentuk tapi selalu kalah dalam hal kedalaman yang Bapak simpan di dalamnya — ada sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya: ketakutan yang sudah ada lama dan baru sekarang diizinkan terlihat.

"Aku tidak bisa bicara sekarang," katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Belum."

"Kapan?"

"Dua hari." Matanya langsung ke mataku. "Berikan aku dua hari, Dara. Dan jangan percaya apapun yang kamu dengar sebelum itu. Dari siapapun."

Ia membuka pintu kamarnya — tanda percakapan selesai sebelum aku siap.

Aku keluar. Dan di koridor yang tidak cukup terang, aku hampir berjalan ke seseorang yang berdiri di sana.

Mbak Sinta.

Entah dari mana datangnya — dari arah kamarnya sendiri yang ada di ujung koridor lain, tapi sekarang ada di sini, dengan ponsel di tangan dan ekspresi seseorang yang kebetulan lewat.

"Ngobrol sama Mas Benny?" tanyanya.

"Mengucapkan selamat malam." Aku tersenyum dengan cara yang sudah aku pelajari untuk terlihat seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Kamar mandi di ujung kanan ya, Mbak?"

"Iya."

Aku berjalan ke arah kamar mandi yang tidak aku butuhkan. Di belakangku, aku merasakan lebih dari mendengar cara Mbak Sinta berdiri sebentar sebelum melanjutkan langkahnya.

Dalam dua hari, aku perlu bergerak lebih cepat dari yang Mas Benny pikirkan perlu.

---

Hari kedua setelah pemakaman, aku pergi ke kantor PT Wijaya Mandiri dengan alasan yang tidak bisa dengan mudah ditolak: mengambil barang pribadi Bapak dari ruang kerjanya. Mas Aditya memberikan izin dengan cara orang yang memberikan izin untuk sesuatu yang tidak ia khawatirkan — terlalu siap untuk mengkhawatirkan hal kecil ketika sudah merasa hal besar ada di genggamannya.

Gedung Wijaya di kawasan komersial kota ini adalah gedung yang sudah tidak asing bagiku sejak kecil — aku sering dibawa Bapak ke sini pada hari Sabtu ketika tidak ada orang lain dan ia perlu mengecek sesuatu sendirian. Ia akan membiarkan aku duduk di kursi besar di ruang kerjanya sambil membaca buku atau menggambar, sesekali bertanya apakah aku lapar atau bosan, tapi tidak pernah memintaku pergi.

Sekretaris Bapak, Bu Rina, menyambutku di lantai tiga dengan mata yang sudah sembab sejak tiga hari lalu dan cara menyambut yang tidak bisa menyembunyikan bahwa ini adalah hari yang berat.

"Barang pribadi Pak Harjono sudah kami kumpulkan di sini, Mbak Dara." Ia menunjuk kotak kardus di sudut ruang kerja yang pintunya terbuka.

"Terima kasih, Bu Rina." Aku duduk di kursi tamu yang sudah hafal posisinya. "Bu Rina sudah berapa tahun bersama Bapak?"

"Empat belas tahun, Mbak."

"Jadi paling tahu kebiasaan dan cara kerja Bapak."

"Mungkin lebih dari keluarga untuk urusan pekerjaan." Ia tersenyum kecil — senyum yang mengandung kesedihan yang tulus.

"Bu Rina, apakah dalam beberapa bulan terakhir Bapak terlihat berbeda?" Aku bicara pelan, seperti ini percakapan ringan. "Lebih khawatir, atau ada hal-hal yang tidak biasa?"

Bu Rina melirik ke pintu yang setengah terbuka. Lalu ke arahku. Kalkulasi kecil yang terjadi di balik matanya — apakah aku bisa dipercaya untuk mendengar ini.

"Sejak Maret, Mbak," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. "Pak Harjono mulai minta fotokopi dokumen-dokumen lama sendiri. Tidak minta saya. Langsung ke mesin fotokopi sendiri, yang biasanya bahkan tidak pernah ia sentuh karena selalu ada saya."

"Dokumen apa?"

"Laporan keuangan kuartal. Dan—" Bu Rina ragu sebentar, mempertimbangkan, "—saya melihat satu kali, tidak sengaja, bahwa laporan yang ia fotokopi adalah laporan yang sudah diarsip dari tiga tahun lalu. Laporan yang kamu tidak akan butuhkan kalau tidak sedang membandingkan sesuatu."

Membandingkan. Mencari perbedaan antara yang lama dan yang sekarang.

"Ada hal lain?"

"Di bulan April, Pak Harjono minta saya tidak masuk setelah jam dua belas. Untuk satu hari itu saja. Katanya ada tamu yang perlu ditemui secara pribadi." Bu Rina menunduk sedikit. "Saya tidak tanya siapa tamunya. Tapi saya melihat seorang bapak tua keluar dari ruangan ini sekitar jam tiga. Berjalan dengan cepat, kepala agak menunduk."

Pak Sutopo. Itu pertemuan yang Pak Sutopo ceritakan tadi.

"Satu hal lagi, Bu Rina — apakah Bapak pernah menyinggung tentang ada ketidaksesuaian dalam laporan keuangan? Atau tentang audit?"

Bu Rina mengangguk pelan — gerakan yang terlihat seperti keputusan yang sudah lama ditahan.

"Bulan Mei, Mbak. Pak Harjono minta laporan dari bagian keuangan secara langsung ke saya. Laporan yang biasanya prosesnya ke Mas Aditya lebih dulu sebelum sampai ke Pak Harjono." Suaranya semakin pelan. "Hari berikutnya, Mas Aditya datang ke ruangan ini. Mereka bicara dengan suara yang rendah — saya tidak mendengar isinya. Tapi setelah Mas Aditya keluar, Pak Harjono terlihat berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Lebih diam. Cara diam yang berbeda — bukan diam karena sedang berpikir seperti biasanya. Diam yang terlihat seperti seseorang yang baru saja mengkonfirmasi sesuatu yang tidak ingin dikonfirmasi." Bu Rina menatapku langsung. "Dan mulai sejak itu, Pak Harjono mengunci ruangan ini setiap kali meninggalkan kantor. Bahkan waktu istirahat makan siang yang cuma dua puluh menit pun dikunci. Padahal sebelumnya tidak pernah."

Aku berdiri. Mengambil kotak kardus.

"Bu Rina — terima kasih. Ini sangat membantu."

"Mbak Dara—" ia berdiri juga, dan di wajahnya ada sesuatu yang seperti ingin menambahkan sesuatu tapi tidak yakin apakah seharusnya dikatakan.

"Bilang saja, Bu Rina."

"Hati-hati ya, Mbak." Sederhana. Tapi dikatakan dengan cara yang membuat aku tahu ia tidak mengatakannya karena basa-basi.

Ketika aku turun ke lobi, membawa kotak kardus yang berat di kedua tangan, aku berpapasan dengan Mas Aditya yang baru masuk dari parkiran dengan wajah orang yang tidak mengharapkan melihatku di sini.

"Dara? Ngapain di sini?"

"Ambil barang Bapak." Aku menunjukkan kotak kardus. "Sudah bilang ke Bu Rina sebelumnya."

"Kenapa tidak bilang ke aku dulu?"

"Tidak kepikiran." Senyum yang sudah aku latih. "Lain kali aku ingatkan."

Di parkiran, di dalam mobil yang pintu dan jendelanya tertutup, aku membongkar kotak kardus dari atas. Foto keluarga. Beberapa buku. Pena-pena koleksi Bapak yang tidak pernah ia pakai tapi tidak pernah mau dibuang.

Dan di dasar kotak, di bawah semua itu — sesuatu yang aku yakin Bu Rina taruh secara sengaja tanpa mengatakan apa-apa, mempercayaiku untuk menemukan sendiri:

Flashdisk hitam kecil. Label tulisan tangan: *BACKUP Q3-Q4 — HARJONO.*

Bapak meninggalkan jejak kedua.

Dan Bu Rina sudah menjaganya sampai saat yang tepat.