Notaris Pak Suharso datang tepat jam sembilan pagi dengan briefcase kulit coklat tua dan cara berjalan yang terlihat seperti seseorang yang sudah melakukan ini berkali-kali dan tidak memerlukan basa-basi.
Kami duduk di ruang keluarga yang lebih kecil dari ruang tamu — meja bundar, kursi-kursi yang nyaman, tirai beige yang sudah memudar di bagian tepinya. Ruangan ini yang dulu Bapak pakai untuk pertemuan-pertemuan yang tidak perlu kesan mewah, hanya substansi.
Semua tambah satu: Bu Tini, asisten rumah tangga yang sudah dua puluh tahun bersama keluarga ini dan yang cara menangisnya kemarin di pemakaman lebih tulus dari siapapun yang aku lihat. Pak Darmo, supir pribadi Bapak yang sudah hafal semua rute ke semua rumah sakit di kota ini karena pernah sekali harus membawa Mas Benny yang appendix dadakan dan panik. Mereka duduk sebagai saksi dengan cara orang yang tidak mengerti sepenuhnya fungsi hukum kehadiran mereka tapi hadir karena hormat.
Dokumen wasiat dibacakan. Bahasa hukumnya rapi, tersusun dalam paragraf-paragraf yang terdengar meyakinkan dengan cara yang kamu tidak akan pertanyakan kalau tidak tahu harus mempertanyakan apa.
Isinya, ketika disederhanakan: PT Wijaya Mandiri beserta seluruh aset operasionalnya diserahkan kepada Aditya Wijaya sebagai Direktur Utama pengganti, dengan kuasa penuh untuk mengambil keputusan strategis dan operasional. Aset properti — empat kavling tanah di tiga lokasi berbeda dan tiga unit rumah termasuk satu di kawasan elite Jakarta Selatan — dibagi antara Aditya dan Benny dengan komposisi enam puluh-empat puluh. Aku, Dara, mendapat satu unit apartemen di Jakarta Selatan yang sudah setengah jadi dan dana pendidikan yang tercatat sudah habis digunakan dalam tiga tahun terakhir kuliah dan magang.
Ibu mendapat hak tinggal seumur hidup di rumah keluarga di Jalan Mangga Besar, dan pensiun bulanan dari kas perusahaan dalam jumlah yang terdengar layak tapi tidak istimewa untuk istri pendiri perusahaan yang sudah empat puluh tahun berdiri.
Aku mendengarkan semuanya tanpa bergerak. Wajah netral. Tangan di atas meja, tidak terkepal.
Pak Suharso menutup dokumen. "Ada pertanyaan?"
"Ada." Aku mengangkat tangan. "Kapan dokumen wasiat ini dibuat dan terakhir diperbarui?"
Pak Suharso membuka halaman belakang dokumen dengan cara yang terlalu siap — seperti ia sudah mengharapkan pertanyaan ini dan sudah tahu jawabannya.
"Dibuat tujuh tahun lalu, diperbarui terakhir pada Mei tahun ini."
*Mei.*
Dokumen yang ditandatangani setelah April. Persis seperti yang Bapak tulis di catatannya. Bapak tahu perubahan ini akan ada. Dan Bapak tidak percaya dengan perubahannya.
"Boleh saya lihat halaman tanda tangan?"
Mas Aditya memandangku dari seberang meja. "Dara—"
"Ini prosedur standar verifikasi dokumen hukum, Mas." Aku masih menatap Pak Suharso, bukan kakak sulungku. "Saya sarjana hukum. Ini bukan hal yang tidak wajar."
Pak Suharso — dengan sedikit ragu yang ia tutupi dengan gerakan yang terlalu profesional — menyerahkan dokumen ke tanganku.
Aku memeriksa tanda tangan Bapak di halaman terakhir.
Goresan penanya benar. Kemiringannya benar. Tekanan tintanya benar. Kalau kamu tidak kenal Bapak seperti yang aku kenal, kamu tidak akan menemukan masalah apapun di sana.
Tapi ada sesuatu yang sangat kecil. Sesuatu yang mungkin tidak akan diperhatikan siapapun yang tidak menghabiskan masa kecilnya duduk di ruang kerja Bapak sambil menonton ia menandatangani surat-surat sambil menjelaskan satu per satu apa artinya setiap halaman.
Di akhir nama, selalu ada titik kecil yang Bapak taruh. Bukan titik yang diwajibkan atau yang standar — itu kebiasaan pribadi yang sudah ada sejak ia masih muda, sesuatu yang pernah aku tanyakan waktu kecil dan ia jawab dengan tertawa, "Supaya tandatangannya ada penutupnya, Dara. Seperti kalimat perlu titik."
Tanda tangan di halaman terakhir dokumen wasiat ini tidak punya titik itu.
Aku mengembalikan dokumen dengan tenang. Senyum yang sudah kupelajari untuk terlihat seperti tidak ada yang ditemukan.
"Terima kasih, Pak Suharso."
Pak Suharso pamit dengan cara orang yang pekerjaannya sudah selesai. Mas Aditya dan Mbak Sinta langsung berbicara soal rencana operasional perusahaan seolah-olah pembacaan wasiat baru saja mengkonfirmasi jadwal yang sudah mereka rencanakan. Mas Benny diam di pojoknya, gelas kopinya masih tidak disentuh.
Aku keluar ke taman belakang tanpa berkata apapun kepada siapapun.
Duduk di kursi rotan yang sudah reot di satu kaki tapi Bapak tidak pernah mau diganti karena katanya kursi itu sudah "punya karakter". Di sini, setiap Minggu pagi, ia membaca koran dengan kopi hitamnya. Di sini ia kadang menerimaku ketika aku kecil dan punya pertanyaan yang tidak bisa kutanyakan di tempat lain.
Sekarang kursi itu kosong dan yang ada hanya aku dengan satu kesimpulan yang baru:
Tanda tangan itu palsu.
Wasiat itu dipalsukan.
Dan Bapak tahu ini akan terjadi — sudah tahu, jauh sebelum ia tidak bisa lagi mencegahnya.
Pertanyaannya sekarang hanya satu: siapa Notaris Sutopo, dan apa yang ia simpan yang bisa membalikkan semua ini?
---
Mencari Notaris Sutopo tidak sesederhana mengetik nama di mesin pencari.
Nama itu tidak muncul di daftar notaris aktif kota ini. Tidak ada kantor dengan nama itu di direktori resmi Ikatan Notaris. Tidak ada website, tidak ada artikel, tidak ada jejak digital yang bisa ditemukan dalam satu jam pertama pencarian yang aku lakukan dari kamarku dengan pintu terkunci dan suara televisi dinyalakan sedikit lebih keras dari yang biasanya.
Tapi Bapak tidak akan menuliskan nama yang tidak ada.
Bapak adalah orang yang paling teliti yang pernah aku kenal. Ia yang sebelum menandatangani kontrak apapun membacanya tiga kali dari awal sampai akhir dan mempertanyakan setiap klausul yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Ia yang menyimpan salinan semua dokumen penting di tiga tempat berbeda karena "satu tidak cukup, dua bisa kebetulan hilang, tiga baru aman."
Orang seperti itu tidak akan menuliskan nama fiktif di catatan terakhirnya.
Aku mulai dari cara yang lebih tua: telepon. Satu per satu menghubungi koneksi di dunia hukum yang sudah aku bangun selama tiga tahun magang. Bukan semua — hanya yang sudah aku verifikasi bisa dipercaya untuk pertanyaan yang tidak perlu disebarkan.
Yang pertama: mantan kolega di firma, tidak tahu. Yang kedua: dosen hukum yang pernah rekomendasikan magang, tidak familiar dengan namanya. Yang ketiga: senior di firma yang spesialisasinya notariat, mengenal nama Sutopo tapi tidak punya kontak aktifnya. Yang keempat: tidak mengangkat telepon.
Yang kelima — Pak Hendro, pengacara senior yang pernah jadi pembimbing magangku dan yang cara berpikirnya paling mirip dengan Bapak dari semua orang yang aku kenal di Jakarta — memberikan jawaban yang aku butuhkan.
"Sutopo? Kamu maksud Sutopo Hariman? Tua, sudah pensiun dari praktik resmi sekitar tiga tahun lalu. Tapi masih aktif sebagai konsultan untuk beberapa klien lama. Orangnya teguh — satu-satunya notaris yang aku tahu pernah menolak instruksi klien besar karena tidak sesuai prinsipnya." Suara Pak Hendro berhenti sebentar. "Kenapa tanya tentang dia?"
"Lagi cari informasi untuk keperluan pribadi, Pak. Tidak bisa saya jelaskan lebih jauh untuk sekarang."
Pak Hendro tidak mendesak. Salah satu hal yang aku hormati darinya.
"Terakhir aku dengar dia tinggal di daerah Candi. Untuk kontaknya — coba lewat Ikatan Notaris divisi anggota pensiun. Atau kalau mendesak, bisa aku carikan lewat kolega lama."
"Tolong carikan, Pak Hendro. Ini benar-benar mendesak."
Pak Hendro mengirim nomor itu dua jam kemudian, dengan pesan tambahan: *Hati-hati, Dara. Kalau kamu menghubungi Sutopo, artinya situasinya serius. Dia tidak muncul di permukaan untuk hal-hal yang tidak serius.*
Pesan yang mengkonfirmasi intuisi bahwa aku sedang berjalan ke dalam sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat.
Aku menghubungi nomor itu dari kamarku, pintu dikunci, suara dipelankan, dengan earphone supaya suaranya tidak keluar bahkan kalau seseorang berdiri tepat di luar pintu.
Nada panggil berbunyi empat kali. Lama. Cukup lama untuk aku mulai bersiap bahwa tidak akan diangkat.
Lalu:
"Halo?" Suara lelaki tua. Hati-hati. Cara bicara seseorang yang tidak menjawab telepon dari nomor tidak dikenal tanpa mempertimbangkan siapa yang mungkin ada di ujung sana.
"Selamat siang. Saya Dara Wijaya. Putri bungsu Bapak Harjono Wijaya."
Hening tiga detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
"Saya tahu siapa kamu." Suaranya turun satu oktaf, berubah dari waspada menjadi sesuatu yang lebih berat. "Sudah menunggu kamu menelepon."
Dadaku berdenyut dengan cara yang harus aku kendalikan supaya tidak keluar dari cara napasku.
"Bapak saya meninggalkan pesan—"
"Harjono minta aku simpan sesuatu untukmu." Pak Sutopo bicara cepat dan terukur, cara orang yang sudah memutuskan apa yang perlu dikatakan dan tidak mau buang waktu untuk hal yang tidak perlu. "Tapi bukan lewat telepon. Kita perlu ketemu. Kamu bisa ke Candi?"
"Kapan?"
"Sekarang. Hari ini. Jangan tunggu." Ada sesuatu di nada suaranya — bukan panik yang tidak terkendali, tapi urgensi yang sudah diperhitungkan. Orang yang tahu kenapa ia harus segera tanpa perlu dramatisasi. "Dan jangan cerita ke siapapun di keluargamu dulu. Siapapun."
Aku menatap pintu kamarku yang terkunci.
Dari luar, samar-samar terdengar suara Mas Aditya dan Mbak Sinta di koridor. Percakapan yang langsung berhenti ketika satu dari mereka mungkin menyadari suaranya terlalu keras untuk ruang yang ada kemungkinan ada yang mendengar.
"Aku berangkat satu jam lagi," kataku.
"Baik." Pak Sutopo menutup sambungan tanpa basa-basi penutup apapun.
Aku berbaring sebentar di tempat tidur kamarku yang sudah tiga tahun tidak kupakai — kasurnya masih terasa sama, tapi langit-langitnya yang tidak berubah dari dua belas tahun lalu terasa seperti dari dunia yang berbeda dari yang aku hadapi sekarang.
Bapak merencanakan ini. Ia menyiapkan jalur cadangan. Ia tahu bahwa ada kemungkinan ia tidak bisa menyelesaikan sendiri apa yang sudah ia mulai temukan — dan ia memastikan ada seseorang lain yang bisa melanjutkan dari tempat ia harus berhenti.
Ia memilihku.
Bukan karena aku paling tua. Bukan karena aku paling dekat. Tapi karena Bapak tahu, dari cara aku tumbuh dan cara aku belajar dan cara aku mempertanyakan segala sesuatu bahkan ketika itu tidak membuat hidupku lebih mudah — bahwa aku adalah orang yang paling tidak akan berhenti di permukaan.
Aku berdiri. Mengambil tas yang belum sepenuhnya aku bongkar sejak tiba dari Jakarta dua hari lalu. Memastikan ponselku terisi penuh.
Dan keluar dari kamar dengan wajah seseorang yang pergi membeli sesuatu yang tidak penting.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar