Rumah Pak Sutopo di kawasan Candi adalah rumah yang sudah tua dengan cara yang berbeda dari rumah yang tua karena tidak dirawat — ini tua karena pemiliknya memilih mempertahankan apa yang sudah ada daripada menggantinya dengan yang baru hanya karena itu baru. Tanaman di teras dirawat dengan teliti. Tirai putih yang bersih. Pagar yang catnya baru — baru tahun ini, terlihat dari cara tepinya masih terlalu tajam untuk cat yang sudah lama.

Pak Sutopo sendiri adalah lelaki tujuh puluhan yang cara duduknya di kursi kayu sudah mengesankan jauh sebelum ia membuka mulut. Bukan karena postur atau ekspresi yang dibuat-buat — tapi karena cara orang yang sudah sangat lama hidup di dalam kehati-hatian dan akhirnya menemukan ketenangan di dalamnya.

Rambutnya putih semua. Matanya tidak.

"Duduk." Ia menunjuk kursi di seberangnya tanpa basa-basi. Kursi yang sudah disiapkan — tidak perlu digeser, sudah ada di posisi yang tepat.

Aku duduk.

Ia meletakkan amplop besar di meja di antara kami tanpa langsung menyerahkannya. Amplop coklat yang sudah sedikit lusuh di sudut-sudutnya, seperti sudah dipegang dan diletakkan berkali-kali oleh orang yang menunggu sambil tidak bisa sepenuhnya tidak memegangnya.

"Harjono datang ke sini empat bulan lalu," katanya. Langsung, tanpa pengantar. "Diam-diam. Tidak ada yang tahu, termasuk keluarganya. Ia datang karena mengatakan ada sesuatu yang perlu ia pastikan aman kalau terjadi sesuatu pada dirinya."

Ia berhenti sebentar. Memandangku dengan cara yang bukan menilai — lebih seperti mengkonfirmasi bahwa aku mengerti bobot dari kalimat berikutnya.

"Waktu itu aku pikir ia terlalu paranoid. Orang tua yang sedang merasakan mortalitasnya dan ingin memastikan semuanya teratur. Sekarang aku tahu ia tidak paranoid. Ia realistis."

"Apa isi amplop itu, Pak Sutopo?"

"Wasiat asli." Ia mendorong amplop itu ke arahku dengan cara yang sudah ia rencanakan sebelum aku datang — gestur yang sudah dilakukan dalam kepalanya berkali-kali. "Wasiat yang dibuat Harjono enam bulan lalu. Sebelum April. Ditandatangani di hadapanku sebagai notaris yang menyaksikan, dengan dua saksi lain yang identitasnya ada di dalam amplop."

Aku membuka amplop dengan hati-hati. Mengeluarkan dokumen yang lebih tebal dari yang aku bayangkan.

Ketika mulai membaca, dunia di luar ruangan ini seperti tidak ada.

Dokumen wasiat ini memiliki format yang sama dengan yang dibacakan tadi pagi — kertas yang sama, struktur yang sama, bahasa hukum yang sama. Tapi isinya berbeda dalam hal-hal yang sangat spesifik dan sangat penting.

PT Wijaya Mandiri tidak diserahkan penuh ke Mas Aditya. Ia dibagi dalam struktur kepemilikan yang jelas: empat puluh persen untuk Aditya Wijaya sebagai Direktur Utama, tiga puluh persen untuk Benny Wijaya sebagai Direktur Keuangan, dan tiga puluh persen untuk aku — Dara Wijaya — yang ditunjuk sebagai Komisaris Pengawas dengan hak veto atas keputusan-keputusan strategis yang melibatkan aset di atas nilai tertentu.

Aset properti dibagi lebih merata. Dan ada satu klausul yang tidak ada sama sekali di wasiat yang dibacakan tadi pagi — klausul yang terasa seperti Bapak memasukkannya dengan sadar, dengan pemikiran yang sudah jauh ke depan:

*Apabila ditemukan indikasi penyimpangan dalam pengelolaan aset perusahaan sejak tahun fiskal terakhir sebelum berlakunya wasiat ini, Dara Wijaya selaku Komisaris Pengawas berhak meminta audit independen atas seluruh laporan keuangan PT Wijaya Mandiri tanpa perlu persetujuan dari pemegang saham lain.*

Bapak tidak hanya memberiku posisi.

Ia memberiku kunci. Dan ia memberiku kunci yang tidak bisa diblokir bahkan oleh mayoritas.

"Mengapa Bapak datang ke Pak Sutopo?" tanyaku setelah beberapa saat. "Bukan ke notaris keluarga?"

Pak Sutopo tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesap sedikit, lalu meletakkan dengan hati-hati.

"Karena notaris keluarga kalian sudah tidak bisa dipercaya." Ia bicara datar, tidak menuduh, hanya menyatakan fakta. "Harjono tidak bilang secara eksplisit. Tapi dari cara ia meminta ini dilakukan secara diam-diam, dari cara ia memastikan tidak ada jejak pertemuannya ke sini dalam catatan apapun — aku mengerti. Seseorang yang ia percaya sudah tidak lagi bisa dipercaya."

"Dan apakah Bapak mencurigai kematiannya sendiri?"

Pertanyaan yang langsung. Tapi pertanyaan yang perlu dijawab langsung.

Pak Sutopo diam cukup lama. Cukup lama untuk aku tahu ia mempertimbangkan seberapa banyak yang seharusnya ia katakan.

"Ia bilang satu kalimat kepada saya," katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan. "Satu kalimat yang aku tidak bisa lupakan sejak ia mengucapkannya. 'Kalau aku mati mendadak, tolong pastikan Dara tahu bahwa itu bukan kebetulan.'"

Udara di ruangan itu terasa berubah suhunya.

"Ia bilang begitu persis?"

"Persis begitu." Pak Sutopo menatapku langsung. "Dan sekarang ia sudah meninggal. Mendadak. Dan kamu ada di sini karena menemukan petunjuk yang ia tinggalkan."

Aku mengangguk pelan.

"Kamu perlu hati-hati, anak muda." Nada suaranya berubah dari narasumber menjadi sesuatu yang lebih seperti peringatan dari orang yang sudah cukup lama hidup untuk mengenal seperti apa bahaya terlihat dari dekat. "Kamu memegang sesuatu yang berbahaya sekarang. Dan orang-orang yang menyembunyikannya tahu bahwa satu-satunya yang bisa membongkar mereka adalah seseorang yang punya pengetahuan hukum dan kepercayaan dari Harjono."

"Apakah dokumen aslinya ada di sini?"

"Aku simpan satu salinan notaris." Ia mengangguk ke arah lemari tua di sudut. "Yang di tanganmu sudah sah sebagai salinan resmi untuk keperluan awal. Tapi kalau perlu proses pengadilan penuh, kita bisa keluarkan yang asli dengan prosedur yang tepat."

Aku melipat dokumen itu dengan hati-hati. Memasukkan ke dalam tas. Berdiri.

"Terima kasih, Pak Sutopo."

Ia menjabat tanganku — tangan tua yang kuat dengan cara yang tidak biasa kamu temukan pada orang yang tidak pernah sepenuhnya berhenti bekerja.

"Harjono bilang kamu anak yang paling mirip dengannya." Di matanya ada sesuatu yang aku butuhkan malam itu lebih dari yang aku mau akui: kepercayaan dari seseorang yang sudah melihat cukup banyak untuk mengerti nilainya. "Buktikan itu."

Di perjalanan pulang, aku duduk di dalam taksi dengan tas di pangkuanku dan pikiran yang sudah berlari jauh ke depan, merencanakan langkah-langkah dalam urutan yang perlu terjadi sebelum Mas Aditya dan siapapun yang bersamanya menyadari seberapa jauh aku sudah melangkah.

Wasiat palsu. Tanda tangan yang dipalsukan. Bapak yang tidak punya riwayat jantung tiba-tiba meninggal mendadak dua minggu setelah menyimpan pesan darurat di saku jasnya.

Ini bukan kecelakaan.

Dan aku baru saja memulai proses membuktikannya.

---