Aku menemukannya ketika membenahi kerah jas ayah untuk yang terakhir kali.
Kertas kecil. Terlipat empat. Tersembunyi di balik kain saku dalam yang tidak akan ditemukan siapapun kecuali seseorang yang benar-benar merapikan dari dekat — dan hanya aku yang melakukan itu, karena kakak-kakakku berdiri terlalu jauh dari peti. Mereka berbisik satu sama lain dengan wajah yang tidak sepenuhnya terlihat seperti berduka. Lebih seperti dua orang yang sedang menghitung sesuatu.
Aku menyelipkan kertas itu ke dalam telapak tanganku. Reflek. Tanpa berpikir.
Di luar tenda pemakaman, hujan Januari turun dengan cara yang terasa seperti tuduhan kepada semua orang yang hadir.
Bapak meninggal tiga hari yang lalu. Resminya: serangan jantung mendadak. Usia enam puluh tujuh tahun. Direktur Utama PT Wijaya Mandiri yang sudah ia bangun dari nol selama empat puluh tahun. Orang yang setiap pagi membaca koran sambil minum kopi hitam tanpa gula, yang tidak pernah sekalipun absen dari kantor karena sakit selama aku hidup, yang bahkan ketika influenza berat tetap menelepon sekretarisnya dari tempat tidur untuk memastikan rapat berjalan.
Tidak ada yang mencurigai apapun. Tidak ada yang perlu dicurigai — begitu kata semua orang yang memberikan ucapan bela sungkawa dengan wajah yang sudah disiapkan untuk acara-acara seperti ini.
Tapi Bapak tidak pernah punya masalah jantung seumur hidupnya. Check-up terakhirnya tiga bulan lalu menunjukkan semua angka dalam batas normal. Dokternya bilang kondisinya lebih baik dari rata-rata orang seusianya.
Serangan jantung mendadak tidak datang begitu saja pada orang seperti itu.
Aku, Dara Wijaya, baru pulang dari Jakarta dua hari lalu setelah tiga tahun kuliah hukum sambil magang di firma hukum ibu kota. Aku yang terakhir tahu. Aku yang paling jauh. Aku yang paling muda di antara tiga bersaudara Wijaya — dan karena itu, menurut logika keluarga ini, selalu yang paling tidak perlu diajak bicara tentang hal-hal penting. Keputusan bisnis, keputusan keluarga, bahkan keputusan tentang siapa yang perlu tahu apa ketika Bapak sudah tidak ada.
Mereka memberitahuku via pesan singkat. Mas Aditya yang mengirim. Tiga baris teks, tidak ada tanda seru, tidak ada kata "mohon". Hanya fakta yang disebarkan seperti pengumuman rapat.
Aku membuka kertas itu di dalam mobil, ketika semua orang masih berjabat tangan di makam dan hujan mulai deras.
Tulisan tangan Bapak — aku kenal itu seperti aku kenal suaranya ketika marah, atau ketika sedang bercerita tentang masa mudanya yang selalu lebih dramatis dari yang perlu. Huruf kapital, agak miring ke kanan, tinta hitam yang sudah sedikit pudar seperti ia menulisnya beberapa waktu lalu dan baru kering sekarang.
*DARA — JANGAN PERCAYA DOKUMEN YANG DITANDATANGANI SETELAH APRIL. CEK NOTARIS SUTOPO. DIA TAHU SEMUANYA. HATI-HATI.*
Tiga kalimat. Tanpa nama. Tanpa tanggal. Tanpa penjelasan yang membuat ini lebih mudah dimengerti.
Tanganku gemetar cukup lama sebelum aku memaksanya berhenti.
Bapak menyimpan ini di saku jasnya. Jas yang dikenakannya di acara rapat terakhirnya — dua minggu sebelum ia ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjanya pukul delapan malam oleh Pak Darmo yang curiga karena lampu kantor masih menyala terlalu lama. Dibawa ke RS dengan ambulans yang terlambat dua belas menit karena jalanan macet. Dan tidak pernah sadar kembali.
Dua minggu sebelum meninggal, Bapak sudah menyimpan pesan ini di sana.
Untuk siapa? Untuk aku secara spesifik? Atau untuk siapapun yang cukup teliti untuk menemukannya dan cukup tahu apa yang harus dilakukan dengan informasi itu?
Pintu mobil dibuka dari luar. Mas Aditya — kakak sulungku, tiga puluh lima tahun, wajah yang selalu terlihat sempurna dan terkontrol bahkan di hari seperti ini, bahkan di hari ketika seharusnya tidak ada yang perlu dikontrol — masuk ke kursi penumpang depan.
Ia tidak melihat ke arahku. Matanya ke depan, ke jalanan yang sudah mulai basah.
"Dara, kita mau langsung ke rumah Bapak. Ada yang perlu dibicarakan soal wasiat."
"Oke, Mas."
Suaraku keluar lebih stabil dari yang kurasa. Dua tahun magang di firma hukum mengajariku satu hal yang tidak ada di syllabus: cara bicara dengan tenang ketika sebenarnya otak sedang berlari kencang ke sepuluh arah berbeda sekaligus.
Di cermin spion, aku melihat istrinya — Mbak Sinta — sudah berdiri di dekat mobil lain dengan ponsel di tangan dan payung di tangan yang lain, berbicara dengan seseorang. Ekspresinya terlalu tenang untuk seorang perempuan yang baru kehilangan mertuanya. Terlalu terorganisir. Seperti seseorang yang sedang mengeksekusi agenda, bukan menjalani duka.
Kertas itu ada di telapak tangan kananku yang tertutup.
Sesuatu di dadaku bergerak — bukan kesedihan kali ini. Lebih dingin dari itu. Lebih terarah.
Bapak memberiku petunjuk pertama.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Rumah keluarga Wijaya di Jalan Mangga Besar adalah rumah yang tumbuh bersamaku — dinding-dinding yang menyimpan ulang tahun yang dirayakan, pertengkaran kecil yang dilupakan, momen-momen yang membentuk kami menjadi keluarga ini. Atau yang kami sebut keluarga, dengan segala definisi yang tidak pernah sepenuhnya sesuai untuk kami.
Di ruang tamu besar yang terasa lebih besar dari biasanya dengan orang-orang yang terlalu sedikit untuk mengisinya, kami berkumpul berlima: aku, Mas Aditya, Mbak Sinta istrinya, Mas Benny kakak nomor dua, dan Ibu.
Mas Benny duduk di pojok dengan gelas kopi yang tidak diminum — mata ke bawah, cara orang yang sedang menghindari kontak. Usianya tiga puluh dua tahun, tiga tahun lebih tua dariku, dan selalu berada di posisi tengah yang paling tidak nyaman: terlalu dekat dengan Mas Aditya untuk bisa benar-benar netral, terlalu jauh dari aku untuk bisa sepenuhnya aku percaya. Tapi hari ini ada sesuatu berbeda di caranya duduk — lebih tegang, bahu yang sedikit membungkuk, seperti seseorang yang membawa beban yang tidak diperlihatkan.
Ibu duduk di sofa utama. Punggung tegak, tangan di pangkuan, wajah yang tenang dengan cara yang membuatku tidak bisa memutuskan apakah ini ketegaran seorang ibu yang sudah berdamai dengan kehilangan, atau sesuatu yang lain sama sekali.
"Notaris Pak Suharso akan datang besok pagi," kata Mas Aditya. "Pembacaan wasiat sesuai prosedur. Kalian semua harap hadir."
"Wasiat yang mana?" tanyaku.
Semua kepala berpaling ke arahku.
Mas Aditya mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Bapak punya beberapa dokumen hukum yang berkaitan dengan aset perusahaan dan keluarga." Aku bicara dengan cara yang kupelajari selama tiga tahun — tenang, presisi, tidak memberi ruang untuk diinterupsi sebelum selesai. "Sebagai ahli waris, saya ingin memastikan wasiat yang akan dibacakan besok adalah versi yang terakhir dan sah secara hukum. Bukan dokumen yang bisa dipermasalahkan kemudian."
Keheningan yang berbeda dari keheningan duka biasa.
Mas Aditya menatapku dengan cara yang bisa kubaca setelah dua puluh sembilan tahun menjadi adiknya — ada sesuatu yang bergerak di balik ketenangan wajahnya. Bukan kemarahan. Lebih seperti kalkulasi yang dilakukan dengan cepat di balik matanya.
"Tentu saja itu wasiat yang sah," katanya akhirnya. Suaranya kembali terkontrol.
"Bagus." Aku tersenyum dengan cara yang kupelajari untuk terlihat santai tanpa terasa menyerang. "Kalau begitu besok kita lihat bersama."
Malam itu, berbaring di kamarku yang sudah tiga tahun tidak kutinggali dan masih berbau cat lama dan buku-buku yang tidak lagi aku baca, aku membaca ulang kertas kecil itu berkali-kali di bawah cahaya lampu meja yang tidak cukup terang.
*Notaris Sutopo. Dia tahu semuanya.*
Bukan Pak Suharso. Bapak menyebut nama yang berbeda.
Besok pagi, sebelum notaris keluarga itu datang, aku perlu menemukan siapa Sutopo ini.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar