Devan tidak percaya sebelum melihatnya sendiri. Dia memarkir motornya di depan gerbang SMK Tata Busana Harapan Bangsa, bangunan dua lantai sederhana yang jauh dari kesan sekolah anak konglomerat.

Keluarga Wijaya memiliki perusahaan bernilai miliaran. Semua anaknya mendapat uang jajan minimal seratus juta per bulan. Lalu bagaimana bisa Cempaka bersekolah di tempat seperti ini?

"Permisi, saya kakaknya Cempaka Wijaya," ucapnya pada seorang guru di ruang kantor.

"Oh, adik Anda sangat berprestasi," jawab guru itu, mengantarnya melewati lemari berisi deretan piala. "Ini semua piala Cempaka. Ada yang seharusnya dia bawa pulang, tapi dia menolak—katanya rumahnya terlalu sempit."

Devan menatap barisan piala dan piagam bertuliskan nama adiknya. Selama ini keluarganya mengira Cempaka anak bermasalah, sementara Dena—yang hanya masuk sepuluh besar kelas—dielu-elukan sebagai anak berbakat.

Dia menghitung dalam hati, ada lebih dari dua puluh piala di lemari itu—juara desain busana tingkat kota, juara menjahit tingkat provinsi, bahkan satu piala nasional yang berdebu di pojok paling belakang, seolah sengaja disembunyikan dari pandangan. Guru itu menjelaskan bahwa Cempaka selalu menolak diliput media sekolah, selalu menghindar setiap kali namanya disebut di depan umum.

"Kenapa dia selalu nolak diliput?" tanya Devan penasaran.

"Katanya dia takut. Katanya kalau keluarganya tahu dia menonjol, dia bakal dihukum lebih berat," jawab guru itu pelan, membuat dada Devan kembali sesak mendengarnya.

"Dia diterima di dua kampus seni ternama tanpa tes," lanjut guru itu. "Tapi kami paham kalau dia ragu melanjutkan, biaya hidupnya berat."

Tangan Devan mengepal. Keluarganya tidak miskin. Mereka sangat mampu membiayai Cempaka sampai jenjang tertinggi—tapi tak seorang pun pernah repot bertanya.

"Berapa tunggakan SPP-nya? Saya mau lunasi."

Sayangnya, petugas tata usaha memberitahu bahwa tunggakan itu sudah dilunasi pagi tadi oleh Cempaka sendiri. Devan hanya bisa terdiam, merasa terlambat untuk sekadar menebus kesalahan sekecil ini.

"Kalau boleh tahu, siapa yang selama ini mengambilkan rapor Cempaka? Setahu saya Cempaka nggak pernah diantar keluarganya."

"Bibi warung soto itu, Bu Minah. Setiap semester dia yang datang."

Nama itu asing bagi Devan. Bertahun-tahun, tidak satu pun dari mereka tahu ada orang asing yang lebih peduli pada adik kandung mereka sendiri daripada mereka sendiri.

Sepulang dari sekolah, Devan mampir ke warung soto yang ditunjukkan alamatnya oleh satpam sekolah. Bu Minah sedang menghitung uang di balik meja kasir saat Devan masuk.

"Bu Minah?"

Wanita paruh baya itu mendongak, matanya menyipit curiga. "Ada yang bisa dibantu, Mas?"

"Saya kakaknya Cempaka. Boleh saya tanya sesuatu?"

Raut wajah Bu Minah berubah dingin. "Kakak yang mana? Yang mukulin dia, yang nuduh dia maling, atau yang biarin dia tidur di gudang?"

Kata-kata itu menohok telak. Devan tak mampu menjawab.

"Selama enam tahun, anak itu kerja di sini setiap pulang sekolah cuma buat makan sesuap nasi. Ibu yang antar dia ke rumah sakit waktu maagnya kambuh parah. Ibu yang obatin luka cambuknya. Dan sekarang, setelah dia nikah sama orang kaya, baru kalian datang cari-cari dia?"

Devan menunduk. Semua tuduhan itu benar, dan tidak ada satu pun yang bisa dia bantah.

"Saya nggak tahu, Bu. Saya baru tahu semuanya kemarin."

Bu Minah menghela napas panjang, ekspresinya sedikit melunak melihat penyesalan tulus di wajah Devan.

"Kalau memang tulus mau berubah, jangan cuma bawa uang. Cempaka udah cukup lama dianggap sumber duit sama kalian—waktu jadi beban keluarga, waktu jadi alat balas dendam suaminya. Dia butuh orang yang tulus, bukan yang cuma menyesal karena viral."

Kalimat itu membekas dalam. Devan pamit dengan hati yang lebih berat dari sebelumnya. Sepanjang perjalanan pulang, dia memutar ulang semua memori masa kecil—saat dia sengaja meninggalkan Cempaka di gang jalan raya sebagai candaan, saat dia memfitnahnya mencuri hingga dimarahi Papa.

Sesampainya di rumah, dia menemukan Farrel duduk termenung di ruang tengah, wajahnya juga penuh beban.

"Kenapa lo di sini nggak tidur?" tanya Devan.

"Gue baru telepon Cempaka," jawab Farrel lirih. "Dia blokir nomor gue."

"Wajar," balas Devan tanpa ampun. "Lo pernah nawarin bantu dia sama sekali nggak?"

Farrel terdiam, tak mampu menjawab. Kedua bersaudara itu duduk dalam sunyi yang canggung, menyadari betapa jauh jarak yang telah mereka ciptakan sendiri dengan adik bungsu mereka.

"Lo tau nggak," ucap Farrel pelan, memecah keheningan, "waktu itu gue pernah liat Cempaka nangis sendirian di taman belakang. Gue lewat aja, gue pikir dia cuma ngambek biasa. Gue bahkan nggak berhenti buat nanya kenapa."

Devan mengangguk pahit. "Gue juga sama. Gue selalu mikir dia itu 'anak bermasalah' versi keluarga kita, padahal kita sendiri yang bikin dia jadi kayak gitu."

Mereka berdua terdiam lagi, masing-masing menenggelamkan diri dalam penyesalan yang baru saja mekar setelah bertahun-tahun tertidur oleh ketidakpedulian.

"Kita harus benerin ini," ucap Devan akhirnya. "Bukan buat bawa dia pulang paksa. Tapi buat minta maaf, beneran minta maaf."

Farrel mengangguk pelan, meski keduanya tahu, permintaan maaf saja tak akan cukup menebus enam tahun kesunyian yang telah mereka biarkan terjadi.