"Bangunlah," suara familiar itu membuatku mengerjapkan mata.

Radit duduk di sisi ranjang rumah sakit, wajahnya lebih lembut dari biasanya. Aku buru-buru menyeka air mata yang ternyata sudah membasahi bantal tanpa aku sadari.

"Dimas cerita kamu ketemu Papamu," ucapnya pelan. "Aku nggak akan ikut campur, tapi kalau ada masalah, kamu harus cerita ke aku."

Tangannya mengusap kepalaku lembut. Untuk sesaat, aku membiarkan diriku berharap bahwa laki-laki ini bisa jadi tempat bersandar, meski aku tahu pernikahan kami cuma alat balas dendamnya pada seseorang yang belum aku ketahui identitasnya.

Sepanjang perjalanan pulang, dia bicara lebih banyak dari biasanya—tentang orang tuanya yang berpisah sejak dia kecil, tentang adiknya, Cinta, yang sebentar lagi kuliah seni di sini.

"Kamu jadi kuliah di ISN kan?" tanyanya tiba-tiba.

"Aku... boleh kuliah?" tanyaku ragu. Rasanya aneh membayangkan diriku, yang seumur hidup dianggap beban, punya hak untuk bermimpi.

"Kenapa nggak boleh? Aku malah senang kalau kamu kuliah."

Bibirku mengembang tanpa bisa kutahan. Aku sudah diterima di Institut Seni Nusantara lewat jalur prestasi, tapi selalu ragu untuk benar-benar berangkat, takut itu cuma mimpi yang akan direbut lagi seperti biasanya.

Sesampainya di rumah, aku langsung meminta Dimas mengantarku ke SMK Tata Busana Harapan Bangsa, sekolahku dulu, untuk melunasi tunggakan SPP dan mengambil ijazah yang sempat tertahan.

Sebelum ke sekolah, aku mampir dulu ke warung soto Bu Minah, sosok yang selama enam tahun terakhir menjadi ibu bagiku lebih dari siapa pun di keluarga Wijaya.

"Bu Minah!" panggilku, bersembunyi di balik pintu seperti kebiasaan lama.

"Astaga, Neng Cempaka, usil banget kamu ini," Bu Minah tertawa, memelukku erat. "Sekarang udah jadi Nyonya besar ya."

"Aku ke sini mau bayar utang," ucapku sambil menyerahkan amplop berisi uang.

"Yang biaya acara kelulusanmu sudah Ibu bayar duluan, anggap saja bonus."

Air mataku hampir jatuh lagi. Bu Minah-lah yang selama ini mengambilkan rapor sekolahku setiap semester karena Papa dan kakak-kakakku selalu "sibuk". Pak Karto, satpam rumah, yang mencarikanku pekerjaan paruh waktu dan memastikan baterai ponsel bekasku tidak pernah habis agar aku bisa belajar di kegelapan gudang.

Sebelum pamit, aku sempat bertanya pada Bu Minah tentang Pak Karto, satpam yang dulu menjadi malaikat penolongku di rumah keluarga Wijaya.

"Pak Karto masih kerja di sana, tapi katanya makin sering diomelin sejak kamu pergi," cerita Bu Minah sambil mengelap meja. "Katanya rumah itu jadi berasa aneh tanpa kamu yang suka mampir ke pos satpam curi-curi ngobrol."

Aku tersenyum kecil mengingat kebiasaan lamaku, duduk di pos satpam sambil mengerjakan PR menggunakan cahaya lampu neon yang menyala sepanjang malam—satu-satunya sumber cahaya terang yang bisa aku akses selain senter ponsel butut pemberian Pak Karto.

"Nanti aku mau ke sana, mau kasih dia sesuatu," ucapku, sudah merencanakan hadiah kecil sebagai balas budi.

Setelah berpamitan, aku melunasi tunggakan sekolahku di kantor tata usaha. Kepala sekolah sampai keluar dari ruangannya untuk menemuiku.

"Syukurlah kamu sudah bisa melunasi semuanya. Sayang sekali kalau bakatmu terhenti hanya karena biaya. Kamu diterima di dua kampus sekaligus tanpa tes, tahu?"

Aku tersenyum, menyimpan rasa haru itu untuk diriku sendiri. Selama ini, tidak satu pun anggota keluarga Wijaya tahu aku meraih belasan piala lomba desain, bahwa aku diterima di kampus seni ternama tanpa jalur tes—karena mereka memang tak pernah cukup peduli untuk bertanya.

Di perjalanan pulang, ponselku bergetar. Nomor tak dikenal.

"Kenapa waktu SMP kamu pindah ke MTs?" suara itu langsung menuduh tanpa basa-basi. Farrel.

"Kak Farrel?"

"Iya, kamu bikin masalah apa sampai dikeluarkan? Nama baik keluarga Wijaya jangan kamu hancurkan."

"Aku dikeluarkan karena nggak mampu bayar SPP," jawabku datar. "Tanya aja ke orang tua Kakak, kenapa nggak pernah dibayar."

Kalimat itu membungkam Farrel sesaat.

"Kalau bilang ke Kakak waktu itu, pasti Kakak bantu."

"Kak lupa? Waktu aku minta tolong, Kakak bilang 'buat apa bantu adik bodoh, mending bantu Dena yang pintar'. Aku udah paham posisiku di keluarga itu, Kak. Aku nggak berharap apa-apa lagi."

Aku mematikan sambungan sebelum dia sempat membalas, lalu memblokir nomornya. Ada kelegaan aneh setelah mengucapkan semua itu—seolah selama ini kata-kata itu terkunci rapat dan baru sekarang bisa keluar.

Radit menyambutku di rumah dengan semangkuk bubur hangat, menyuapiku di depan para pelayan seakan aku benar-benar berharga baginya.

"Kamu boleh belanja sebanyak apapun," ucapnya, "tapi jaga juga kesehatanmu."

Aku mengangguk, menelan suapan demi suapan sambil menahan haru. Dulu, saat sekarat kelaparan karena dikurung tiga hari tanpa makan, aku merangkak sendiri ke tempat sampah demi sesuap nasi. Sekarang, ada orang yang repot-repot menyuapiku.

Aku baru tahu, ternyata diperhatikan itu terasa semenyenangkan ini.

Setelah makan, aku duduk di tepi ranjang sambil membuka buku sketsa lamaku, memandangi rancangan-rancangan yang dulu kubuat sembunyi-sembunyi di kegelapan gudang. Radit duduk di sampingku, memperhatikan setiap halaman dengan sungguh-sungguh, sesekali bertanya tentang makna di balik motif yang aku gambar.

"Ini kenapa banyak gambar bunga melati?" tanyanya, menunjuk salah satu sketsa gaun dengan bordir bunga kecil-kecil.

"Itu nama panggilanku waktu kecil," jawabku pelan. "Sebelum namaku resmi diganti jadi Cempaka di akta. Ibuku suka banget bunga melati, katanya wanginya sederhana tapi nggak pernah bikin orang lupa."

Radit menatapku lama, seolah baru menemukan kepingan kecil dari diriku yang belum pernah dia ketahui sebelumnya. "Nama yang cantik," gumamnya, mengusap sampul buku sketsa itu dengan hati-hati, seolah menghargai betapa berharganya benda sederhana itu bagiku.