Rumah Radit jauh lebih megah dari rumah keluarga Wijaya—lampu gantung kristal, lukisan klasik, dan barisan pelayan yang membungkuk hormat saat aku turun dari taksi dengan tas jinjing berisi tiga potong baju, satu-satunya harta yang kubawa.
"Selamat datang, Nyonya Muda," sambut mereka serempak.
Belum pernah aku diperlakukan seistimewa ini. Radit turun dari tangga, langsung merangkulku mesra di depan para pelayan.
"Istriku sayang, kenapa lama?"
Sikapnya begitu berbeda dari di KUA tadi—dingin dan formal. Aku tergagap menjawab, masih canggung dengan sandiwara yang baru saja kami mulai.
"Panggil aku Sayang, bukan Pak," bisiknya sambil merapikan rambutku. "Ini demi kebaikan kita berdua."
Aku mengangguk paham. Ini transaksi, bukan cinta. Aku hanya perlu berperan sebagai istri manja yang bahagia, dan sebulan sekali menerima kiriman 40 juta ke rekeningku.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah itu sebelum dimandikan, memperhatikan setiap detail yang begitu asing bagiku—karpet tebal yang meredam suara langkah, jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk leluasa, jauh berbeda dari gudang gelap yang selama ini menjadi duniaku. Aku bahkan sempat berhenti sejenak di depan sebuah cermin besar, tidak yakin sosok berpakaian rapi yang memantul di sana benar-benar diriku.
Malam itu aku dimandikan, dipijat, didandani dengan gaun selutut yang manis, seolah aku boneka baru di rumah ini. Salah satu pelayan yang memijatku bercerita panjang lebar.
"Nyonya Vania dan Pak Radit itu dulu sangat harmonis, sampai sekarang Nyonya hamil malah koma."
"Hamil?" tanyaku, sedikit terkejut.
"Iya, tapi anehnya Pak Radit malah menikah lagi. Katanya permintaan Nyonya sebelum koma."
Aku hanya mengangguk, menyimpan rasa penasaran itu dalam-dalam. Bukan urusanku untuk ikut campur pada kehidupan pribadi suami sandiwaraku.
Malam pertama kami dilalui dengan canggung—dia tidur di sofa, aku di ranjang, tanpa sentuhan sedikit pun. Pagi harinya, saat aku memberanikan diri bertanya kenapa dia mengabaikanku semalam, dia hanya mencomot bibirku pelan sambil berbisik.
"Kamu masih terlalu muda untuk itu. Simpan rahasia ini dari para pelayan, demi kebaikanmu sendiri."
Aku mengangguk, menahan rasa malu yang menjalar sampai telinga.
"Tipe wanita seperti apa yang Mas suka?" tanyaku penasaran.
"Yang manja, manis, dan keras kepala kalau menginginkan sesuatu."
Aku tidak sepenuhnya paham maksudnya, tapi aku mengangguk saja. Dia satu-satunya orang yang mau menerimaku ketika Papa dan kakak-kakakku memilih mengabaikan.
Dia menyerahkan sebuah kartu debit. "Buka rekening hari ini juga, nanti gajimu masuk ke sana. Kartu ini untuk belanja—belanjalah sebanyak-banyaknya, tanpa lihat harga. Aku suka istri yang boros."
Perintah paling aneh yang pernah kudengar, tapi aku menurut. Hari itu aku pergi ke bank, lalu berbelanja tas dan baju sampai sopirku, Dimas, kewalahan bolak-balik mengangkut kantong belanjaan ke mobil.
Di tengah kebahagiaan yang masih terasa asing itu, aku berhenti mendadak. Di seberang jalan, Papa sedang berjalan bersama Dena, tertawa lepas seperti sepasang ayah-anak yang utuh. Aku memakai kacamata hitam, berjalan cepat, berharap tidak dikenali.
"Cempaka?" Suara Dena memanggilku.
Aku menoleh perlahan, menurunkan kacamata.
"Ya?"
"Dasar anak nakal, tiap hari kerjaannya belanja terus," sindir Dena, lalu Papa mendekat dengan wajah marah.
"Kamu belanja pake uang siapa lagi, hah? Sudah kubilang jangan mencuri lagi!"
"Aku nggak pakai uang Papa," balasku dingin. "Ini uang suamiku."
Papa mencengkeram lenganku begitu keras hingga belanjaanku jatuh berserakan di trotoar. Rasa sakit yang familiar itu langsung membangkitkan seluruh ingatan buruk—cambukan, kurungan, kelaparan yang bertahun-tahun aku telan sendirian.
Kepalaku berkunang-kunang. Dunia memutih sesaat sebelum aku merasa tubuhku roboh, ditangkap oleh lengan Dimas yang berteriak marah pada Papa karena berani menyakiti majikannya.
Aku sadar di ruang UGD, infus terpasang di tangan, Papa dan Dimas duduk di sisi ranjang.
"Maag kronis anak Anda sudah parah, sedikit saja stres bisa membahayakan nyawanya," ucap suster pada Papa. "Dia juga kurang gizi. Tolong beri makan yang layak."
Aku menunggu, berharap—meski kecil—Papa akan menyesal. Tapi yang keluar dari mulutnya justru:
"Kenapa harus diet segala? Bikin repot orang tua saja."
Aku tidak menjawab. Sudah terlalu lelah untuk membela diri pada orang yang bahkan tidak pernah mau mendengarkan.
"Pak Radit segera ke sini, Nyonya tidak sendirian lagi," ucap Dimas menenangkanku setelah Papa pergi.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar berpihak padaku.
Dimas duduk di kursi tunggu tak jauh dariku, sesekali melirik memastikan aku baik-baik saja. Dia bukan sekadar sopir bagi Radit, melainkan orang kepercayaan yang sudah bekerja bersamanya sejak Radit masih kuliah. Dari caranya menjaga jarak namun tetap waspada, aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar dipercaya oleh Radit untuk melindungiku, bukan sekadar menjalankan tugas formal semata.
"Nyonya nggak perlu takut sama keluarga Wijaya lagi," ucap Dimas pelan, memecah keheningan. "Selama Nyonya di bawah perlindungan Pak Radit, nggak akan ada yang berani macam-macam."
Aku mengangguk, meski dalam hati masih menyimpan ketakutan yang sulit dijelaskan. Trauma bertahun-tahun tidak bisa hilang hanya karena satu kalimat penenang, tapi setidaknya kata-kata itu memberi sedikit kehangatan di tengah rasa sakit yang masih menjalar di lenganku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar