Devan berdiri mematung di depan KUA, menyaksikan punggung adiknya menghilang di tikungan jalan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—bukan gengsi, bukan malu di depan kamera, tapi rasa bersalah yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Malam itu, meja makan keluarga Wijaya penuh seperti biasa. Enam kursi, enam piring—untuk Papa, Wulan, Dena, Bagas, Farrel, dan Devan. Tidak ada kursi ketujuh.
"Piring buat Cempaka mana?" tanya Devan tiba-tiba pada pelayan.
"Non Cempaka tidak pernah makan di meja ini, Den."
Kalimat itu menghantam Devan lebih keras dari yang dia duga. Dia bergegas ke dapur, ke lantai atas, mencari kamar adiknya—dan baru sadar dia bahkan tidak tahu di mana kamar Cempaka berada sejak enam tahun terakhir.
"Kamar Non Cempaka? Sejak Non Dena pindah ke sini, Non Cempaka tinggal di gudang belakang," jawab salah satu pelayan lirih.
Gudang itu gelap total, tanpa jendela, tanpa lampu. Devan menyalakan senter ponselnya dan menemukan sehelai kasur tipis yang sudah menguning, meja kecil berisi buku pelajaran, dan sebuah kardus berisi tiga potong baju.
Di atas meja itu, coretan pensil di kayu yang mulai lapuk membuat dadanya sesak:
'Baju Melati—' Devan mengerutkan kening, itu bukan nama Cempaka. Lalu dia ingat, dulu sebelum resmi diganti di akta, nama panggilan kecil Cempaka di antara para pengasuh memang Melati, karena Mama kandungnya suka bunga itu.
'Melati lapar, Bu. Kenapa Ibu lahirin Melati terus pergi? Mending Ibu yang hidup, Melati yang mati aja.'
Coretan lain, dengan tinta yang lebih pudar: 'Melati bukan anak nakal, Bu. Melati cuma ambil nasi di dapur soalnya laper banget. Tapi Papa sama kakak-kakak malah mukul Melati bilang Melati maling.'
Devan menutup mulutnya sendiri, mengingat kejadian itu—saat semua orang menuduh Cempaka mencuri, saat Papa mengeluarkan cambuk rotannya, saat dia sendiri ikut mencibir tanpa pernah bertanya alasan sebenarnya.
Dia ingat sekarang: Cempaka mengambil makanan karena sudah tiga hari tidak diberi makan, dikurung di gudang ini sebagai hukuman karena membantah Wulan.
Devan mengorek lebih dalam kardus itu, menemukan sebuah buku gambar lusuh berisi sketsa-sketsa pakaian yang dibuat dengan pensil warna yang sudah nyaris habis. Di setiap halaman, ada catatan kecil di pojok—"buat Kak Devan kalau menang balapan", "buat Kak Bagas kalau jadi direktur", "buat Papa kalau ulang tahun". Ternyata selama bertahun-tahun, di tengah kelaparan dan kesendirian, adiknya masih menyisihkan waktu untuk memikirkan hadiah bagi orang-orang yang bahkan tak pernah mengingat keberadaannya.
Tangan Devan gemetar membolak-balik halaman itu. Dia ingat, dulu setiap kali dia menang balapan kecil-kecilan di kompleks, selalu ada sesuatu yang terselip di jok motornya—syal rajutan sederhana, gantungan kunci dari kain flanel. Waktu itu dia mengira itu pemberian salah satu penggemarnya, dan langsung membuangnya ke tempat sampah tanpa pernah bertanya siapa pengirimnya.
"Ternyata itu dari kamu, Mel," gumamnya pahit, mendekap buku gambar itu ke dada.
"Kakak salah, Mel," gumam Devan, memeluk kardus kecil itu. "Mulai sekarang Kakak akan cari kamu."
Dia membawa barang-barang itu ke kamarnya sendiri—kamar mewah dengan ranjang empuk, kulkas mini, dan gitar tergeletak di sudut—lalu terduduk lemas membandingkannya dengan tempat tidur Cempaka yang bahkan tidak seluas kasur lipat.
Keesokan paginya dia menelepon Bagas dan Farrel, menanyakan nomor telepon Cempaka. Tidak ada satu pun yang punya.
"Bikin masalah apa lagi dia?" tanya Farrel dari seberang telepon.
"Dia bukan bikin masalah," jawab Devan tajam, "Dia korban kita."
Farrel terdiam. Bagas hanya berkata Cempaka "pasti pulang sendiri" dan menutup telepon, kembali sibuk dengan laporan kuartalan perusahaan.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa malam itu, di rumah baru yang jauh lebih mewah, Cempaka justru sedang diperlakukan seperti ratu untuk pertama kalinya seumur hidup—oleh seorang pria asing bernama Radit, yang tidak sedikit pun mengenalnya sebelum hari pernikahan itu.
Devan bahkan sempat mendatangi kamar Dena, bertanya apakah adik tirinya itu tahu sesuatu tentang Cempaka. Dena hanya menggeleng dengan wajah datar, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan ke persiapan lomba fashion show yang akan dia ikuti minggu depan.
"Kakak kok tiba-tiba peduli banget sih sama Cempaka? Biasanya juga nggak pernah nyariin dia," celetuk Dena, nada suaranya terdengar sedikit sinis meski wajahnya tetap tersenyum manis seperti biasa.
Devan tidak menjawab, hanya menatap Dena lama sebelum pergi. Ada sesuatu dalam nada bicara Dena yang terasa janggal, tapi dia terlalu lelah dan bersalah untuk memikirkannya malam itu.
Devan mengunci kamar barunya—yang telah dia bereskan untuk Cempaka kelak—dan menatap langit-langit. Di luar sana, entah bagaimana kondisi adiknya sekarang. Apakah dia dianiaya suami barunya? Apakah dia menyesal?
Dia tidak tahu bahwa pertanyaannya salah arah. Yang seharusnya dia tanyakan adalah: kenapa selama 21 tahun, tidak satu pun dari mereka pernah bertanya bagaimana kabar Cempaka?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar