"Jilat sepatu gue dulu, baru gue mau jadi wali nikah lo."

Devan menyeringai di depan teman-temannya, ponsel salah satu dari mereka sudah terarah merekam. Aku menatap sepatu kulit seharga puluhan juta itu, lalu menatap wajah kakak ketigaku yang sedari kecil tidak pernah menganggapku ada.

Enam tahun aku makan nasi basi berlaukkan tulang ayam sisa. Enam tahun aku tidur di lantai gudang tanpa lampu. Rasa sepatu mahal itu jelas jauh lebih baik dari semua yang pernah aku telan.

"Oke," ucapku pelan, lalu berlutut.

"Woy serius nih dia mau beneran!" salah satu teman Devan bersorak, kamera semakin didekatkan ke wajahku.

Aku menahan napas, membungkuk, dan menjilat ujung sepatu itu sekali. Rasa hina yang menjalar di dadaku kalah oleh tekad yang sudah membara sejak semalam: hari ini aku harus menikah, dan aku butuh wali.

"Puas?" tanyaku sambil berdiri, menyeka mulut dengan punggung tangan.

Devan tampak terdiam sesaat, tawa teman-temannya perlahan mereda. Mungkin mereka baru sadar ini bukan lagi lelucon.

"Lo yakin mau nikah sekarang? Umur lo aja baru 21 tahun, buru-buru amat," ucap Devan, nada bicaranya berubah, seolah baru ingat aku ini adiknya.

"Aku udah cari makan sendiri sejak umur 12 tahun, Kak. Ngais tong sampah, kerja serabutan, sekolah bayar sendiri. Jadi kenapa aku nggak boleh nikah sama orang yang bisa jamin hidupku?"

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku menyeret Devan keluar lewat pintu belakang rumah, menuju KUA yang sudah aku survei diam-diam beberapa hari lalu. Sepanjang jalan, teman-temannya masih menertawakanku, tapi aku sudah kebal. Toh selama ini yang tertawa di atas penderitaanku bukan cuma mereka.

Aku sempat mendatangi Papa tiga hari lalu, berlutut di depan pintu kamarnya, memohon setengah jam saja untuk menjadi wali nikahku. "Kamu ini nyusahin terus," katanya sambil menutup pintu tepat di depan wajahku. Aku juga sudah mencoba Bagas dan Farrel—Bagas terlalu sibuk rapat direksi, Farrel bilang dia "nggak mau ikut campur urusan anak kecil yang buru-buru nikah." Hanya Devan yang tersisa, dan aku tahu satu-satunya cara membuatnya datang adalah dengan membuatnya tidak bisa menolak di depan orang banyak.

Rasanya lucu—setelah bertahun-tahun menjadi bayangan tak kasat mata di rumah itu, hari ini justru akulah yang mengatur langkah kakak-kakakku sendiri, meski dengan cara paling menyakitkan yang bisa kupikirkan.

Sesampainya di KUA, langkah Devan berhenti mendadak.

"Ngapain kita ke sini beneran?"

"Ayo masuk," ajakku dingin.

Di dalam, penghulu sudah menungguku, berkas sudah lengkap sejak kemarin. Aku sudah mencoba meminta Papa, Bagas, dan Farrel jadi wali nikahku satu per satu — semuanya menolak atau lempar tanggung jawab. Hanya Devan yang bisa kupaksa hadir hari ini, dengan cara paling menghinakan yang bisa kupikirkan.

"Ini wali nikahnya?" tanya penghulu, menatap Devan yang masih bengong.

"Iya, Pak. Kakak kandung ketiga saya."

"Bukannya kamu masih punya ayah dan dua kakak lagi?"

Aku menyodorkan ponselku yang layarnya sudah retak, memutar tiga video permohonanku pada Papa, Bagas, dan Farrel — semuanya menolak dengan berbagai alasan. Ruangan itu hening. Devan menunduk, rahangnya mengeras.

"Kalau begitu, adikmu sah menjadi tanggung jawabmu sebagai wali. Mana calon mempelai prianya?"

"Sebentar lagi datang, Pak."

Devan mencengkeram lenganku, berbisik tajam. "Lo beneran gila. Papa bisa bunuh lo kalau tahu."

"Papa nggak pernah peduli aku hidup atau mati," balasku tenang. "Malah mungkin lega."

Pintu terbuka. Seorang pria dengan rombongan kecil masuk—dan sisa kalimat yang ingin kukatakan menguap begitu saja karena calon suamiku itu ternyata sangat...

Tampan. Rapi dalam jas gelapnya, wibawanya membuat teman-teman Devan yang tadi berisik mendadak diam. Namanya Raditya Alamsyah, 30 tahun, pemilik Alamsyah Group. Aku mengenalnya lewat perantara sahabatku, Sari, yang tahu dia butuh istri kedua secepatnya.

Alasannya? Aku belum tahu pasti. Tapi 40 juta per bulan yang dijanjikan sudah cukup untuk membuatku mengabaikan pertanyaan itu.

Saksi-saksi datang: Sari, Bu Minah pemilik warung soto tempatku bekerja, dan Pak Karto, satpam rumah keluarga Wijaya yang selama ini diam-diam menjagaku.

"Pernikahan ini atas izin istri sah Pak Radit," ucap penghulu. "Sebelum koma, istrinya berpesan agar suaminya mencari pendamping baru."

Devan mencengkeram tanganku lagi, wajahnya pucat. "Lo mau jadi bini kedua? Harga diri keluarga Wijaya lo taruh di mana?!"

"Aku nggak peduli sama keluarga Wijaya," jawabku datar. "Keluarga itu udah menelantarkan aku bertahun-tahun."

"Kamu sudah janji di depan teman-temanmu," selaku, mengingatkan sumpahnya tadi. Devan mengepalkan tangan, tapi akhirnya duduk kembali, terjepit antara gengsi dan amarah.

"Sebagai wali, Anda menikahkan sendiri atau diwakilkan penghulu?" tanya petugas.

"...Diwakilkan," jawab Devan, suaranya nyaris tak terdengar.

Sebelum ijab kabul diucapkan, aku sempat mencuri pandang ke arah Radit yang duduk tenang di sisi lain ruangan. Wajahnya tampan namun dingin, seolah pernikahan ini hanyalah rapat bisnis biasa baginya. Aku bertanya-tanya, wanita seperti apa istri pertamanya, sampai-sampai pria setampan dan sekaya ini butuh mencari pengganti secepat ini. Tapi aku menepis rasa penasaran itu—bukan urusanku untuk mempertanyakan transaksi yang menguntungkan kedua belah pihak.

Sari menggenggam tanganku erat dari kursi saksi, memberi semangat lewat tatapan matanya. Bu Minah sesekali menyeka air mata dengan ujung kerudungnya, sementara Pak Karto berdiri tegak seperti biasa, wajahnya penuh kebanggaan campur khawatir.

Ijab kabul diucapkan. Ruangan yang tadi riuh oleh candaan kini hening khidmat. Kamera-kamera yang tadi merekam kehinaanku kini menyorotku dengan tatapan berbeda.

"Gimana rasanya diwalikan Kak Devan?" tanya salah satu teman Devan, kamera masih menyala.

Aku tersenyum. "Aku berterima kasih dia mau jadi waliku. Sekarang aku lepas dari keluarga Wijaya. Aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka, termasuk Kak Devan."

Wajah teman-temannya berubah kikuk. Tapi yang paling kentara adalah wajah Devan sendiri—seperti orang yang baru sadar sesuatu yang berharga sedang pergi, padahal seumur hidup dia tidak pernah menganggapnya berharga.

"Maksud lo apa? Lo nggak ada rasa hormat sama sekali?!" bentaknya, lupa kamera masih menyala.

"Aku memang nggak berniat berbakti," jawabku tenang. "Dan aku nggak peduli sama Papa."

Sebab selama 21 tahun ini, Papa hanyalah papa untuk ketiga kakakku dan Dena, adik tiriku. Bukan untukku.

Aku berbalik, menggandeng tangan Sari, meninggalkan KUA tanpa menoleh lagi.