Tiga hari setelah perkenalan pertama, aku mulai membuat catatan.

Bukan catatan yang rapi. Hanya notes di ponsel — waktu, tempat, dan apa yang Pak Aldo lakukan di sana. Aku merasa sedikit konyol saat mulai melakukannya, seperti seseorang yang terlalu menonton film thriller. Tapi insting jurnalisku — yang sudah lama tidur sejak aku berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga — pelan-pelan terbangun.

Dan insting itu mengatakan: catat semuanya. Pola hanya terlihat ketika kamu punya cukup data.

**07:15 — Pak Aldo jalan pagi. Lewat depan rumah, melambai.**
**09:30 — Pak Aldo di minimarket. Sudah selesai belanja waktu aku datang, tapi masih ada di parkiran.**
**14:00 — Pak Aldo ngobrol dengan tukang air di depan nomor 14. Tepat waktu truk air lewat.**
**17:45 — Pak Aldo di teras. Melambaikan tangan saat aku mengambil Danin dari bermain.**

Empat kali dalam satu hari.

Aku tahu itu bisa kebetulan. Kompleks ini kecil. Satu loop putar mengelilingi semua blok tidak sampai sepuluh menit. Wajar kalau orang sering berpapasan, apalagi orang yang baru pindah dan sedang banyak keluar untuk berbagai keperluan.

Tapi ada yang berbeda.

Setiap kali kami bertemu, Pak Aldo selalu terlihat seperti sedang melakukan sesuatu yang *lain* — jalan pagi, belanja, ngobrol, duduk di teras. Tidak pernah terlihat sedang menunggu atau sengaja mencari. Tidak pernah ada kecanggungan seperti orang yang ketahuan mengintai.

Tapi hasilnya selalu sama: kami bertemu.

Setiap. Hari. Beberapa kali sehari.

Dan setiap kali, ia selalu tahu harus berkata apa — selalu punya komentar yang terdengar natural, selalu menyelipkan pertanyaan kecil tentang aku, tentang Danin, tentang rutinitas kami.

---

Hari keempat, aku sengaja mengubah rutinitas.

Ini trik lama dari masa jurnalis: kalau kamu curiga seseorang mengikutimu, ubah polamu dan lihat apakah ia menyesuaikan diri. Orang yang kebetulan berpapasan tidak akan terpengaruh. Orang yang mengikuti akan muncul di tempat baru.

Biasanya aku menjemput Danin jam 16:30 lewat jalan depan. Hari itu aku berangkat jam 16:00, lebih awal setengah jam, dan sengaja lewat blok belakang — jalan memutar yang tidak pernah aku pakai kecuali sedang jalan sore bersama Danin.

Pak Aldo ada di persimpangan blok belakang.

Ia sedang membuang sampah ke tempat sampah komunal, gerakan yang terlihat biasa dan tidak mencurigakan. Ketika melihatku, ia melambaikan tangan dan tersenyum, seolah pertemuan ini hal yang paling wajar di dunia.

"Wah, Bu Hana lewat blok belakang. Biasanya lewat depan, kan?"

Kalimat itu membekukan kakiku selama dua langkah.

*Ia tahu mana jalanku yang biasa.*

Aku tidak pernah cerita ke siapapun tentang jalur jalanku. Itu bukan informasi yang orang bagikan — rute mana yang biasa dipakai untuk menjemput anak. Itu detail yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang mengamati dengan teliti, berulang kali, cukup lama untuk menyimpulkan pola.

"Iya, mau coba jalan baru," kataku ringan, memaksa suaraku terdengar santai.

"Bagus juga, buat variasi." Ia melipat kantong sampah yang sudah kosong dengan rapi. "Kalau Bu Hana mau jalan pagi, blok belakang lebih teduh. Pohonnya lebih banyak. Lebih enak buat olahraga pagi."

Saran yang tidak aku minta. Informasi tentang kebiasaanku — "kalau Bu Hana mau jalan pagi" — yang ia simpulkan sendiri entah dari mana.

Aku melanjutkan jalan dan tidak berbalik.

Tapi tanganku gemetar sedikit saat menjemput Danin, dan aku tidak bisa berhenti memikirkan kalimat itu: *biasanya lewat depan, kan?*

---

Malamnya, aku cerita ke Farel.

Farel baru pulang dari kantor, masih dengan kemeja yang belum diganti, duduk di sofa dengan kopi di tangan dan ekspresi seseorang yang sudah cukup panjang harinya menghadapi klien dan deadline.

Aku cerita dari awal — pelan, runtut, mencoba tidak terdengar histeris. Nama Danin yang disebut tanpa perkenalan di hari pertama. Empat pertemuan dalam sehari. Cara ia tahu jalur rutin aku menjemput Danin.

Farel mendengarkan tanpa memotong. Itu sendiri sudah membuatku sedikit lega — setidaknya ia mendengarkan.

"Kamu yakin kamu belum pernah cerita ke dia soal jalur jalan?" tanya Farel ketika aku selesai.

"Belum pernah. Aku bahkan baru kenal dia empat hari."

"Mungkin dia lihat. Atau ada yang cerita." Farel meneguk kopinya. "Orang-orang sini senang ngobrol, Hana. Bu Parti, Pak Hendra — mereka cerita semua hal ke semua orang. Mungkin salah satu dari mereka bilang 'oh, Bu Hana biasanya lewat depan kalau jemput anaknya.'"

"Siapa yang cerita detail sekecil itu?" Aku menatap suamiku. "Rute mana yang aku pakai untuk jemput Danin — itu bukan hal yang orang bahas, Farel."

"Bedanya tipis, Hana."

"Tidak tipis." Aku menahan diri untuk tidak meninggikan suara. "Dia bilang 'biasanya lewat depan, kan?' Bukan 'oh, saya kira biasanya lewat depan.' Dia menyatakan, bukan menebak. Dia tahu, dan dia ingin aku tahu bahwa dia tahu."

Farel menghela napas kecil. Bukan napas kesal — napas seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu yang ia tidak sepenuhnya setuju tapi juga tidak mau memperkeruh suasana malam.

"Oke. Kita perhatikan beberapa hari lagi. Kalau memang ada pola yang tidak wajar, kita bisa bicara ke RT. Tapi sejauh ini, Hana — semua yang kamu ceritakan masih bisa dijelaskan dengan kebetulan dan kompleks yang kecil."

Tidak "kamu benar" dan tidak "kamu salah." Farel memang selalu begitu — selalu mencari jalan tengah, selalu menghindari konflik, selalu ingin semua orang merasa nyaman.

Tapi aku butuh seseorang yang percaya padaku. Bukan yang ada di tengah, yang menimbang-nimbang, yang menunggu bukti yang lebih kuat.

Aku menelan kekecewaan itu dan tidak berdebat lebih jauh.

---

Hari ketujuh, Pak Aldo datang ke rumah.

Membawa asinan mangga dalam wadah plastik bening. "Tadi bikin banyak, takut mubazir. Daripada terbuang, mending dibagi ke tetangga."

Farel yang membukakan pintu. Aku ada di dapur dan mendengar suara mereka dari sana — suara Farel yang ramah dan akrab, suara orang yang sudah menganggap ini tetangga biasa yang baik hati.

"Wah, makasih, Pak Aldo. Masuk dulu?"

"Ah, nggak usah, Pak Farel. Saya mau balik dulu, masih ada yang perlu dibereskan di rumah." Suara Pak Aldo terdengar sopan dan hangat. "Lain kali saja kalau sudah lebih rapi rumahnya, saya undang Pak Farel dan keluarga main."

Mereka berbicara beberapa kalimat lagi — tentang renovasi nomor 17 yang Pak Aldo bilang mau dilakukan, tentang rekomendasi tukang yang bagus, tentang harga material yang sedang naik. Percakapan tetangga yang biasa, yang akrab, yang sepenuhnya normal.

Pintu menutup.

Farel masuk ke dapur dengan wadah asinan di tangan. "Nih, dari Pak Aldo. Orangnya baik, ya. Ramah. Kompleks kita beruntung dapat tetangga kayak gitu."

Aku tidak menjawab.

Karena dari tempat aku berdiri di dapur, aku bisa melihat keluar jendela samping — dan dari sana, aku melihat Pak Aldo berjalan pulang ke nomor 17.

Ia tidak langsung masuk ke rumahnya.

Ia berhenti di depan pagarnya, menoleh ke arah jendela dapur kami, dan tersenyum.

Senyum yang sama. Yang tidak sampai ke matanya.

Seperti ia tahu persis bahwa aku sedang berdiri di sana, di dapur, melihatnya. Seperti seluruh kunjungan membawa asinan tadi hanya alasan untuk satu momen ini — untuk berdiri di depan rumahnya dan tersenyum ke arah jendelaku, memberitahuku tanpa kata bahwa ia melihatku sebagaimana aku melihatnya.

Aku menjatuhkan tatapan dari jendela dan menatap wadah asinan di tangan Farel.

"Jangan dimakan dulu," kataku pelan.

Farel mengerutkan dahi. "Kenapa?"

Aku tidak punya jawaban yang masuk akal. Tidak ada alasan logis untuk mencurigai asinan mangga. Tapi rasa janggal itu — yang sudah tujuh hari tidak hilang — membuatku tidak bisa membiarkan makanan dari Pak Aldo masuk ke tubuh keluargaku.

"Aku cuma... belum lapar," kataku akhirnya, lemah.

Farel menatapku dengan ekspresi yang sudah mulai aku kenal — ekspresi seseorang yang mulai khawatir, bukan pada Pak Aldo, tapi padaku.

Dan itu, aku akan segera belajar, adalah persis yang Pak Aldo inginkan.

---