Ini yang aku pelajari tentang rasa takut: ia tidak selalu datang seperti petir.
Kadang ia datang seperti air yang meresap pelan ke dalam kain — tidak terasa di awal, tidak ada momen dramatis, sampai tiba-tiba kamu menyadari bahwa kamu sudah basah kuyup dari dalam dan tidak tahu persis kapan itu terjadi.
Hari kesepuluh Pak Aldo di nomor 17, aku pulang dari supermarket jam dua siang.
Farel di kantor. Danin di sekolah sampai jam tiga. Rumah kosong, seperti biasa di jam-jam ini.
Aku membawa empat kantong belanjaan — penuh, berat, sampai jari-jariku merah ditekan tali plastik. Kunci pintu belakang sudah aku siapkan di tangan karena pintu belakang lebih dekat ke area parkir tempat aku biasa menaruh motor.
Aku memasukkan kunci ke lubang kunci.
Dan pintu terbuka sendiri.
Tidak terkunci.
---
Aku berdiri di ambang pintu belakang selama mungkin sepuluh detik, kantong belanja masih menggantung di kedua tangan.
Mencoba mengingat. Apakah tadi pagi aku mengunci pintu belakang atau tidak?
Aku selalu mengunci. Sejak Danin lahir, mengunci pintu adalah refleks yang tidak pernah aku lewatkan — pintu depan, pintu belakang, pintu garasi. Aku punya semacam ritual sebelum keluar rumah: cek kompor, cek keran, cek semua pintu. Farel bahkan pernah bercanda bahwa aku mengecek kunci pintu kamar mandi dari luar sebelum pergi, saking obsesifnya aku soal mengunci.
Tapi mungkin tadi pagi aku lupa. Mungkin karena terburu-buru. Mungkin karena pikiranku sedang penuh dengan hal lain — dengan Pak Aldo, dengan catatan-catatan yang aku buat, dengan rasa janggal yang tidak hilang.
Mungkin.
Aku masuk. Meletakkan belanjaan di meja dapur. Dan memeriksa ruangan satu per satu — seperti yang selalu dilakukan orang ketika tiba-tiba sadar rumahnya tidak terkunci. Dapur, ruang makan, ruang tamu, kamar bawah, kamar mandi.
Semua terlihat biasa. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang terbuka yang seharusnya tertutup, tidak ada laci yang teracak.
Aku naik ke lantai atas. Kamar Danin, kamar tamu, kamar kami.
Semuanya biasa.
Aku turun lagi, sedikit lega, dan mulai menyimpan belanjaan ke tempatnya masing-masing.
---
Baru ketika aku hendak meletakkan gelas minum yang baru aku beli di meja makan, aku berhenti.
Foto keluarga di meja makan — foto kami bertiga waktu liburan ke Bali dua tahun lalu, foto yang selalu aku taruh di sisi kiri meja dekat pintu ruang makan — ada di sisi kanan.
Bukan jauh. Mungkin tiga sentimeter. Mungkin empat.
Tapi aku tahu persis di mana aku menaruh foto itu, karena aku yang menaruhnya dan aku yang selalu mengembalikannya ke tempat yang sama setiap kali Danin tidak sengaja menggesernya saat bermain atau saat membersihkan meja.
Foto itu selalu di kiri. Selalu menghadap ke arah kursi tempat aku biasa duduk, supaya aku bisa melihat wajah kami bertiga saat makan.
Sekarang foto itu di kanan. Menghadap ke arah yang berbeda. Menghadap ke pintu.
---
Aku mengambil foto itu dengan tangan yang mulai terasa dingin.
Memeriksa bagian belakangnya — tidak ada apa-apa, tidak ada catatan, tidak ada tanda. Hanya foto biasa dalam bingkai biasa.
Aku meletakkannya kembali di posisi yang benar. Di kiri. Menghadap ke kursiku.
Kemudian aku duduk di kursi makan dan mencoba bernapas dengan normal.
Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang rusak. Tidak ada tanda masuk paksa. Tidak ada jejak.
Hanya satu pintu yang tidak terkunci dan satu foto yang berpindah tiga sentimeter.
Dua hal kecil. Dua hal yang, kalau aku ceritakan ke orang lain, akan terdengar seperti tidak ada apa-apa. *Mungkin kamu lupa mengunci. Mungkin kamu sendiri yang menggeser fotonya dan lupa.* Aku sudah bisa mendengar respons Farel di kepalaku.
Tapi dua hal kecil itu, digabungkan, mengatakan sesuatu yang membuat perutku terasa seperti ditarik ke bawah: seseorang telah masuk ke rumahku. Masuk, melihat-lihat, menyentuh foto keluargaku, dan keluar — tanpa mengambil apapun, tanpa merusak apapun, tanpa meninggalkan jejak selain satu foto yang sengaja digeser supaya aku tahu.
Karena kalau tujuannya mencuri, mereka akan mengambil sesuatu. Kalau tujuannya merusak, mereka akan merusak. Tapi tujuannya bukan itu.
Tujuannya adalah memberitahuku: *Aku bisa masuk. Kapan saja. Dan kamu tidak akan tahu sampai aku ingin kamu tahu.*
---
Aku menelepon Farel.
"Pintu belakang nggak terkunci waktu aku pulang."
"Mungkin kamu lupa tadi pagi." Suara Farel di seberang, di tengah keramaian kantor.
"Aku tidak pernah lupa, Farel. Kamu tahu aku tidak pernah lupa mengunci."
"Satu kali bisa terjadi, Hana. Semua orang pernah lupa."
"Ada foto yang dipindah di meja makan."
Hening sebentar di seberang. "Foto yang mana?"
"Foto kita di Bali. Dipindah dari kiri ke kanan."
"Itu mungkin kamu sendiri yang geser dan lupa. Atau Danin kemarin waktu main."
"Danin kemarin tidak ke ruang makan setelah makan siang. Dan aku tidak menggeser foto itu, Farel. Aku tidak pernah memindahnya dari kiri."
Farel menghela napas. Aku bisa mendengarnya bahkan di tengah kebisingan kantornya. "Hana, aku pulang jam enam. Kita ngobrol nanti, ya. Aku lagi di tengah meeting."
Sambungan diputus.
Aku menatap layar ponsel yang sudah gelap, memantulkan wajahku sendiri yang terlihat lelah dan takut.
Kemudian aku mengambil kertas dan pena dari laci meja makan, dan mulai mencatat — bukan di notes ponsel kali ini, tapi di kertas, karena entah kenapa aku merasa perlu bukti fisik. Sesuatu yang nyata, yang bisa dipegang, yang tidak bisa dihapus.
*Tanggal. Waktu: 14:00. Pintu belakang tidak terkunci. Foto keluarga di meja makan dipindah dari kiri ke kanan. Tidak ada yang hilang. Tidak ada kerusakan.*
Catatan pertama dalam buku yang belum punya judul. Buku yang, tanpa aku sadari saat itu, akan menjadi sangat penting di hari-hari mendatang.
---
Malam itu, aku tidak cerita ke Farel soal kesimpulanku.
Aku cerita soal pintu dan foto — fakta-faktanya. Tapi aku tidak mengatakan apa yang aku yakini: bahwa seseorang masuk dengan sengaja untuk memberitahuku ia bisa masuk.
Bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku tahu, tanpa bukti yang lebih konkret, kesimpulan itu akan membuatku terdengar paranoid. Dan terdengar paranoid akan membuat Farel semakin khawatir padaku, bukan pada situasinya. Aku sudah melihat tanda-tandanya — cara ia menatapku saat aku menolak makan asinan, cara ia berkata "kita ngobrol nanti" dengan nada yang menyiratkan ia mulai lelah dengan kecurigaanku.
Jadi malam itu, setelah Farel dan Danin tidur, aku melakukan satu hal: aku memeriksa semua jendela dan pintu. Dua kali. Memastikan semua terkunci.
Kemudian aku duduk di ruang tamu dengan lampu kecil menyala, dan memandang ke arah jendela depan yang menghadap ke jalan setapak dan ke nomor 17 di seberang.
Nomor 17 gelap. Tidak ada cahaya dari dalam.
Tapi aku melihat siluet di balik tirai kamar depannya — sosok yang berdiri, tidak bergerak, menghadap ke luar.
Menghadap ke arah rumahku.
Aku mematikan lampu ruang tamu, supaya ia tidak bisa melihatku menontonnya.
Siluet itu tidak bergerak selama sepuluh menit penuh aku duduk dalam gelap, mengawasi.
Kemudian tirai bergerak, siluet menghilang, dan lampu dalam nomor 17 menyala lalu mati — seolah memberitahuku bahwa pertunjukan untuk malam ini sudah selesai.
Aku tidak tidur dengan nyenyak malam itu.
Dan aku tidak akan tidur dengan nyenyak untuk waktu yang sangat lama setelahnya.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar