Aku tidak pernah takut seperti ini sebelumnya.

Takut untuk diri sendiri itu satu hal — ada logika di baliknya, ada langkah yang bisa diambil, ada jalan keluar yang bisa dipikirkan. Kamu bisa mengunci pintu, memasang kamera, melapor ke polisi. Kamu bisa melakukan sesuatu.

Tapi takut untuk anakmu adalah hal yang berbeda secara fundamental. Ia menyerang dari tempat yang tidak ada pertahanannya — dari bagian dirimu yang paling lembut, paling tidak terlindungi, paling tidak bisa kamu kendalikan.

Dan hari itu, takut untuk Danin datang dengan cara yang membuat seluruh tubuhku membeku.

---

Danin pulang jam 15:30.

Aku sedang di dapur menyiapkan camilan sore untuknya ketika aku mendengar pintu depan terbuka. Aku menoleh, dan melihat Danin masuk — bukan dari arah sekolahnya yang biasa.

Ia masuk dari gang samping. Gang yang lebih panjang, yang memutar, yang tidak pernah Danin pakai sendirian kecuali kami sedang jalan sore bersama.

"Danin dari mana?"

"Dari sekolah, Bunda." Ia menaruh tasnya di kursi dan langsung berlari ke dapur mencari minum, dengan keceriaan anak-anak yang tidak menyadari ada yang salah.

"Kenapa lewat gang samping? Biasanya kamu lewat depan."

"Dianterin."

Satu kata. Dan satu kata itu langsung membuat perutku seperti ditarik ke bawah dengan kekuatan yang membuat aku harus berpegangan ke meja dapur.

"Dianterin siapa, Nak?"

"Pak Aldo." Danin membuka kulkas, mengambil kotak susu, sama sekali tidak menyadari bahwa nama itu membuat darahku berhenti mengalir. "Kata Pak Aldo, Bunda minta tolong. Pak Aldo bilang Bunda lagi repot jadi beliau yang jemput aku."

---

Aku berdiri di ambang dapur, memegang tepi meja, mencoba menjaga suaraku tetap tenang supaya tidak menakuti Danin.

"Pak Aldo bilang Bunda minta tolong?"

"Iya." Danin sudah duduk di meja dengan susunya, kakinya bergoyang-goyang seperti biasa, tidak memperhatikan ketegangan di suaraku. "Kata Pak Aldo, Bunda telepon dia minta dijemput. Katanya Bunda lagi banyak kerjaan di rumah."

"Kapan Pak Aldo datang ke sekolah?"

"Pas bel pulang. Dia udah nunggu di gerbang." Danin meneguk susunya. "Tapi nggak sampai masuk ke dalam sekolah, kok, Bunda. Cuma nunggu di luar pagar. Terus aku diajak jalan lewat gang samping."

"Kamu naik apa? Jalan kaki?"

"Jalan kaki. Pak Aldo bilang lebih sehat jalan kaki. Sambil ngobrol-ngobrol."

"Ngobrol apa?"

"Nanya-nanya. Aku suka pelajaran apa, temenku siapa aja, di rumah suka main apa." Danin mengangkat bahu, polos. "Pak Aldo baik, kok. Dia beliin aku permen."

---

Setiap kalimat Danin menambah satu lapis ketakutan di dadaku.

Pak Aldo menunggu Danin di gerbang sekolah. Mengaku aku yang meminta. Membawa Danin lewat gang samping yang sepi. Menanyai Danin tentang kebiasaan, teman, aktivitas di rumah. Memberinya permen.

Setiap elemen dari itu adalah hal yang dilakukan seseorang yang ingin mendekati anak kecil dan membangun kepercayaan. Setiap elemen adalah peringatan.

Dan Danin — anakku yang berusia delapan tahun, yang aku ajari untuk berhati-hati pada orang asing — tidak menganggap Pak Aldo sebagai orang asing. Karena Pak Aldo sudah membangun citra sebagai "tetangga baik" di mata Danin. Sudah melambai setiap hari, sudah memberi asinan, sudah jadi wajah yang familiar.

Itu yang paling mengerikan. Bukan bahwa Pak Aldo orang asing yang berbahaya — tapi bahwa ia sudah berhasil membuat dirinya tidak terlihat seperti orang asing.

"Danin," kataku, berlutut supaya sejajar dengan matanya, menjaga suaraku selembut mungkin. "Dengar Bunda, ya. Ini penting."

Danin menatapku, mulai menangkap bahwa ada sesuatu yang serius.

"Lain kali, kalau ada yang bilang Bunda minta tolong — siapapun itu, bahkan Pak Aldo — kamu jangan langsung ikut. Kamu telepon Bunda dulu, pastikan dulu ke Bunda. Bunda akan selalu angkat telepon kamu. Janji ya?"

"Kenapa, Bunda?" Danin mengerutkan dahinya. "Pak Aldo baik."

"Bunda tahu kamu pikir begitu. Tapi Bunda cuma mau pastikan kamu selalu aman. Dan caranya, kamu harus selalu cek ke Bunda dulu. Oke?"

"Oke." Danin mengangguk, meski masih bingung. "Tapi Pak Aldo beneran baik, lho, Bunda. Dia tahu nama temen-temenku. Dia tahu aku suka dinosaurus."

Dingin itu kembali menjalar.

*Dia tahu Danin suka dinosaurus.*

Aku tidak pernah cerita itu ke siapapun di kompleks.

---

Aku langsung menelepon Farel begitu Danin masuk ke kamarnya untuk ganti baju.

"Pak Aldo menjemput Danin dari sekolah hari ini," kataku, berusaha menjaga suara tetap stabil. "Dia bilang aku yang minta tolong. Aku tidak pernah minta, Farel."

Hening sesaat di seberang. Tapi kali ini, hening yang berbeda dari biasanya. Bukan hening orang yang sedang menyiapkan bantahan.

"Kamu nggak minta tolong?" suara Farel.

"Tidak. Aku tidak pernah minta siapapun untuk menjemput Danin tanpa kamu tahu. Apalagi Pak Aldo, yang baru aku kenal sepuluh hari."

"Kamu yakin? Mungkin kamu—"

"Farel." Suaraku naik sedikit, tidak bisa aku tahan. "Aku tidak pernah, dalam keadaan apapun, meminta orang yang baru aku kenal untuk menjemput anakku dari sekolah. Itu tidak mungkin aku lakukan. Kamu tahu itu."

"Oke. Oke, aku percaya." Dan kali ini, ada yang berubah di suara Farel. Ada keseriusan yang sebelumnya tidak ada. "Ini... ini lain. Menjemput Danin dengan alasan palsu, itu lain dari pintu yang tidak terkunci. Aku pulang lebih awal hari ini."

Untuk pertama kalinya sejak Pak Aldo muncul, Farel mengambil ini serius.

Butuh ancaman terhadap Danin untuk membuatnya percaya. Dan meski aku lega ia akhirnya percaya, ada bagian dari diriku yang sedih bahwa butuh anak kami dalam bahaya untuk sampai ke titik ini.

---

Tapi sebelum Farel pulang, Pak Aldo datang lebih dulu.

Ketukan di pintu depan jam 16:45.

Aku melihat dari celah tirai sebelum membuka. Pak Aldo, berdiri di teras dengan gelas plastik berisi es teh di tangan, ekspresi ramah seperti biasa.

Aku membuka pintu tapi tidak sampai lebar. Aku berdiri di ambang, menghalangi jalan masuk dengan tubuhku, satu tangan tetap di gagang pintu.

"Bu Hana," sapanya hangat. "Ini buat Danin. Tadi saya beli dua di warung, kebanyakan. Anak kecil suka es teh kan."

"Terima kasih," kataku, tidak menerima gelas itu.

"Bagaimana tadi? Aman, kan, perjalanannya? Danin anaknya pintar, ngobrolnya asik."

Aku menatap matanya, mencoba menjaga suaraku tetap terkontrol.

"Kenapa Bapak bilang saya yang minta tolong?"

Pertanyaan langsung. Tanpa basa-basi.

Dan Pak Aldo — ini yang membuatnya begitu mengerikan — tidak berkedip. Tidak terlihat terkejut. Tidak ada secuil pun rasa bersalah atau panik. Senyumnya hanya sedikit berubah, menjadi ekspresi seseorang yang baru saja menyadari ada miskomunikasi kecil yang perlu diklarifikasi.

"Lho, bukannya tadi Mbak Vina yang bilang Bu Hana lagi repot dan minta tolong dijemputkan Danin?" Ia memiringkan kepala sedikit, ekspresi heran yang sempurna. "Saya pikir Bu Hana yang nitip pesan lewat Mbak Vina. Saya kira begitu."

Vina. Tetangga nomor 19.

"Kapan Mbak Vina bilang itu ke Bapak?"

"Tadi siang, waktu ketemu di warung Bu Parti." Ia menjawab lancar, tanpa ragu. "Mungkin ada miskomunikasi, ya, Bu. Maaf kalau bikin khawatir. Niat saya baik, mau bantu tetangga yang lagi repot. Lain kali saya pastikan dulu langsung ke Bu Hana."

---

Aku tidak bisa menyangkal versi itu di tempat. Tidak tanpa konfirmasi dari Vina.

Tapi aku tahu satu hal dengan pasti: Vina tidak pernah, sekalipun, dimintai tolong olehku untuk menyampaikan pesan apapun ke siapapun. Dan Vina — yang aku kenal tiga tahun, yang tidak pernah melakukan hal sembarangan — tidak mungkin menyuruh orang yang baru pindah untuk menjemput anak orang lain dari sekolah tanpa konfirmasi langsung.

Versi Pak Aldo punya satu kelebihan yang cerdik: ia memindahkan tanggung jawab ke pihak ketiga. Kalau aku membantah, aku harus berhadapan dengan Vina. Kalau Vina membantah, maka jadi kata Vina melawan kata Pak Aldo. Dan di tengah-tengahnya, aku terlihat seperti orang yang membuat keributan karena salah paham.

"Saya tidak pernah titip pesan ke Mbak Vina," kataku akhirnya. "Dan saya tidak ingin Bapak menjemput Danin lagi. Untuk alasan apapun."

"Tentu, tentu, Bu Hana. Saya mengerti." Pak Aldo mengangguk dengan sopan, masih memegang gelas es teh yang tidak aku terima. "Maaf sekali lagi kalau bikin tidak nyaman. Saya taruh es tehnya di sini saja, ya, buat Danin."

Ia meletakkan gelas itu di tepi teras, tersenyum sekali lagi, dan berjalan pulang ke nomor 17.

Aku tidak mengambil es teh itu.

Aku menutup pintu, menguncinya, dan membuang es teh itu ke tempat sampah tanpa menyentuh isinya — masih dengan rasa janggal yang sama yang membuatku menolak asinan beberapa hari lalu.

---

Farel pulang jam lima. Tapi Pak Aldo sudah menemuinya di parkiran sebelum Farel masuk.

Aku tahu dari ekspresi Farel ketika ia masuk — sudah ada versi Pak Aldo yang tertanam di kepalanya.

"Pak Aldo cerita di parkiran," kata Farel. "Soal miskomunikasi dengan Bu Vina. Katanya dia kira kamu yang minta lewat Vina."

"Aku tidak pernah minta apapun lewat Vina."

"Aku tahu. Aku percaya kamu." Tapi cara Farel mengatakannya — ada keraguan tipis di tepinya, keraguan yang ditanam oleh penjelasan Pak Aldo yang terdengar masuk akal. "Tapi mungkin Vina yang salah paham? Mungkin ada miskomunikasi di antara kalian?"

Dan di situlah aku menyadari betapa pintarnya Pak Aldo.

Ia tidak hanya berbohong. Ia berbohong dengan cara yang menciptakan keraguan di banyak arah sekaligus — keraguan tentang Vina, keraguan tentang ingatanku, keraguan tentang apakah ini benar-benar masalah atau hanya rangkaian kesalahpahaman.

Dan setiap keraguan itu, sekecil apapun, mengikis kepercayaan Farel pada versiku.

"Aku akan tanya Vina besok," kataku, menahan frustrasi. "Tapi Farel — yang penting sekarang, Danin tidak boleh dijemput siapapun selain kita. Titik."

"Setuju." Farel mengangguk. "Itu aku setuju seratus persen."

Setidaknya dalam hal itu, kami sepakat.

Tapi malam itu, aku tidur dengan satu pemahaman baru yang menyesakkan: Pak Aldo tidak perlu menyentuh Danin untuk menyakitiku. Ia hanya perlu menunjukkan bahwa ia bisa. Bahwa ia bisa mendekati anakku, kapan saja, dan aku tidak akan tahu sampai semuanya sudah terjadi.

---