Semuanya selalu tentang data.
Sebagai ilmuwan NASA dengan gelar Ph.D., aku, Nathali Wood, terbiasa memandang dunia melalui kacamata probabilitas dan struktur matematis. Bahkan saat aku dianugerahi penghargaan sebagai peraih Nobel termuda, aku tidak melihatnya sebagai takdir atau keajaiban. Bagiku, tidak ada yang namanya kebetulan; yang ada hanyalah variabel tersembunyi yang rumusnya belum berhasil kita pecahkan.
Setidaknya, itulah keyakinan absolutku sampai aku duduk di kursi 4B dalam penerbangan rute Washington menuju Copenhagen. Penerbangan transit ini seharusnya menjadi langkah awal sebelum aku tiba di Oslo untuk menghadiri sebuah konferensi tahunan.
Sebelum pesawat lepas landas, aku sempat mengetik satu pesan singkat di ponselku untuk adikku, Oscar. Aku hanya mengiriminya teks singkat, bahkan tidak meneleponnya sama sekali—sebuah penyesalan kecil yang kemudian akan menghantuiku. Aku kembali tenggelam dalam layar laptopku, menatap deretan angka dan visualisasi draf penelitian terbesarku. Aku menamainya ghost pattern—sebuah anomali dalam data kosmologis, pola yang tidak seharusnya eksis di dalam sistem struktur realitas yang selama ini kita anggap acak.
"Penerbangan yang panjang untuk seseorang yang membawa rahasia besar di dalam laptopnya," suara pria di kursi sebelah kiriku memecah kesunyian.
Aku menoleh. Pria di kursi 4A itu memiliki rambut gelap yang sedikit berantakan, dan kemeja rapinya justru membuat ia tampak seperti seseorang yang tidak peduli dengan penampilan di tempat publik. Ia tidak melihat ke arah layar laptopku, tapi tatapannya terasa tajam, seolah ia bisa membaca baris kode yang sedang kian mendekati penyelesaian.
"Maaf?" tanyaku dingin.
"Will," katanya, mengabaikan pertanyaanku. Ia mengulurkan tangan dengan santai, senyum di sudut bibirnya tampak seperti seseorang yang sedang memegang kunci jawaban dari teka-teki yang paling sulit di dunia. "Dan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nat. Pola itu tidak akan membiarkan dirinya dipecahkan jika waktu yang tepat belum tiba."
Aku tertegun, jantungku berdetak sedikit lebih kencang. "Bagaimana Anda tahu nama panggilan saya?"
Will hanya tertawa kecil. "Aku tahu banyak hal tentangmu, Nat. Tentang penelitianmu, tentang obsesimu pada sprekker—celah dalam realitas yang kau sebut ghost pattern—dan tentang ketakutanmu bahwa duniamu akan berubah secara permanen setelah konferensi di Oslo nanti."
"Anda siapa?" suaraku merendah, waspada.
Will menoleh ke luar jendela, menatap awan yang mulai berarak saat pesawat membelah angkasa. "Seseorang yang menjaga keseimbangan. Kita berada di kursi yang sama di pesawat yang sama karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah apa yang akan datang. Kau sudah sangat dekat dengan solusinya, Nat. Tapi ingat, setiap jawaban yang kau temukan akan menuntut harga yang setara."
Aku hendak membalas dengan kata-kata tajam, namun tiba-tiba pesawat berguncang hebat. Guncangan ini terasa mekanis, tidak alami, seolah ada kekuatan besar yang sengaja merobek stabilitas mesin. Masker oksigen berjatuhan dari langit-langit.
Aku mencoba meraih laptopku, namun Will justru meraih pergelangan tanganku dengan tangan yang terasa dingin, namun sangat kokoh.
"Dengar," bisiknya, suaranya kini terdengar tenang di tengah jeritan penumpang dan alarm peringatan. "Kau tidak akan mati, Nat. Kau hanya akan... berpindah. Carilah keluargaku di sana. Mereka akan mengenalimu meski kau berada dalam tubuh yang asing."
"Apa maksudmu?" teriakku, saat sayap pesawat mulai hancur berkeping-keping.
Will menatapku tepat di mata, senyumnya kini tampak sendu, sebuah beban berat yang seolah sudah ia pikul selama puluhan tahun.
"Sampai," bisiknya pelan, seolah itu adalah kata sandi untuk sebuah pintu yang akan segera terbuka.
Lalu, terdengar suara BRAK yang luar biasa keras dan memekakkan telinga.
Segala sesuatu yang logis hancur. Di detik terakhir, aku melihat Will memejamkan mata, tidak berusaha menyelamatkan diri, melainkan tampak seperti seseorang yang sedang merapalkan doa—atau mungkin, sebuah koordinat.
Dan setelah itu, segalanya tertelan oleh kegelapan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar