Kabar itu datang dari nomor yang tidak aku kenal — tapi nama yang langsung aku kenali.

*Halo, ini Tini. Adik ipar Dimas. Ibu Ratna jatuh sakit. Dirawat di RS Permata. Mungkin Mbak Sari perlu tahu.*

Ibu Ratna. Ibu Dimas. Mertua yang dulu — mertua yang selama empat tahun pernikahan kami tidak pernah benar-benar hangat kepadaku, yang menerima aku sebagai menantu dengan cara orang yang menerima sesuatu yang tidak terlalu ia pilih tapi tidak bisa ia tolak.

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Kenapa aku perlu tahu?

Hubungan kami sudah tidak ada — secara hukum pun masih dalam proses karena divorce paper yang tidak pernah sampai karena Dimas yang tidak pernah ada untuk menanda tanganinya. Aku bukan lagi bagian dari keluarga itu.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku abaikan: Nisa.

Nisa adalah cucu Ibu Ratna. Dan apapun yang terjadi antara aku dan Dimas, itu tidak menghapus hubungan darah itu.

Aku menelepon Tini.

"Mbak Sari." Suara Tini terdengar lega dan sedikit terkejut. "Terima kasih sudah balas."

"Ibu Ratna kenapa?"

"Stroke. Ringan, kata dokternya. Tapi harus bedrest beberapa minggu." Tini berbicara cepat dengan cara orang yang sudah menunggu lama untuk bisa cerita. "Mas Dimas sudah ke sini. Tapi Ibu yang minta Tini hubungi Mbak Sari."

"Ibu Ratna yang minta?"

"Iya." Jeda sebentar. "Ibu minta maaf, Mbak. Bukan sekarang langsung ke Mbak Sari, tapi Ibu bilang kalau Mbak Sari mau datang, beliau mau bicara."

Aku datang ke rumah sakit hari Sabtu.

Tanpa Nisa — terlalu dini untuk itu. Tanpa rencana apa yang akan aku katakan.

Ibu Ratna berbaring di kasur rumah sakit dengan infus di tangan kiri dan wajah yang lebih kecil dari yang aku ingat. Tiga tahun dan penyakit membuat orang menyusut — aku sudah tahu itu dari Mama, tapi tetap saja setiap kali melihatnya ada sesuatu yang berat.

Dimas ada di kursi samping kasur. Ia berdiri ketika melihat aku masuk.

"Sari—"

"Aku ke sini untuk Ibu Ratna, bukan untuk kamu." Aku melangkah ke sisi kasur. "Bu Ratna."

Ibu Ratna membuka mata. Dan matanya — mata yang selama empat tahun pernikahan tidak pernah aku lihat sepenuhnya berair — kali ini berbeda.

"Sari." Suaranya lemah tapi jelas. "Kamu mau datang."

"Tentu saja."

"Nisa?"

"Di rumah. Masih terlalu dini untuk bawa dia ke sini."

Ibu Ratna mengangguk pelan. Dimas masih berdiri di pojok, tidak bergerak.

"Aku minta maaf," kata Ibu Ratna.

Aku tidak langsung merespons — tidak karena tidak terkejut, tapi karena tidak tahu harus merespons dengan cara apa.

"Dulu aku tidak adil padamu," lanjutnya. Kata-katanya pelan tapi teratur. "Waktu Dimas pergi dan semua orang bertanya-tanya, aku yang paling keras menghakimi. Berpikir kamu yang buat dia pergi." Ia menarik napas. "Salah."

"Bu Ratna tidak perlu—"

"Perlu." Tangannya yang ada infusnya bergerak sedikit. "Aku perlu. Sebelum terlambat."

Aku memegang tangannya — tangan yang lebih dingin dari yang aku bayangkan, lebih tipis.

"Sudah selesai," kataku. "Tidak perlu lagi dibahas."

Di luar kamar, Dimas menghampiriku.

"Terima kasih sudah datang."

"Aku ke sini karena Ibu Ratna minta." Aku menatapnya. "Bukan karena aku sudah memaafkan kamu."

"Aku tahu."

"Dan tentang Pak Bram itu — aku perlu kamu kasih informasi lebih. Bukan malam ini. Tapi segera."

Dimas mengangguk. "Kapanpun kamu siap."

Aku berjalan ke arah lift.

"Dimas."

Ia menoleh.

"Kalau Nisa suatu hari mau ketemu Ibu Ratna — aku tidak akan halangi. Tapi itu keputusan Nisa, bukan keputusan siapapun yang lain."

Ia menatapku sebentar. Lalu mengangguk.

Satu hal yang bisa aku berikan tanpa harus memberikan yang lain.

Nisa yang memutuskan.

Bukan aku yang mendorong, bukan Dimas yang meminta. Suatu malam dua minggu setelah kunjunganku ke rumah sakit, Nisa muncul di dapur ketika aku sedang hitung pengeluaran bulan ini dan berkata: "Bun, Nisa mau ketemu bapak."

Aku menutup buku catatanku.

"Kamu yakin?"

"Belum yakin seratus persen." Nisa duduk di kursi sebelahku dengan cara yang membuat aku sadar sekali lagi bahwa anakku ini sudah lebih dewasa dari usianya. "Tapi kalau Nisa tidak pernah coba, Nisa tidak akan tahu."

Pertemuan itu aku atur di kafe yang sama dengan aku dan Dimas bertemu sebelumnya.

Tempat netral. Ramai tapi cukup tenang.

Aku duduk di satu meja, Nisa di sebelahku. Dimas muncul tiga menit lebih awal dari waktu yang kami sepakati — aku melihat itu sebagai upaya, bahkan jika kecil.

Ekspresi Dimas ketika melihat Nisa adalah sesuatu yang aku tidak bisa deskripsikan dengan tepat. Ada di antara senang dan sakit pada saat bersamaan — cara orang yang menyadari betapa banyak waktu yang hilang ketika akhirnya melihat langsung apa yang hilang itu.

"Nisa." Suaranya lebih pelan dari biasanya.

Nisa menatapnya dengan ekspresi yang datar — bukan tidak punya perasaan, tapi perasaan yang belum ia putuskan bagaimana cara menyampaikannya.

"Halo," kata Nisa.

"Halo." Dimas duduk di seberang kami. "Kamu sudah besar."

"Delapan tahun." Nisa mengambil stroberi dari piringnya. "Bapak pergi waktu Nisa umur lima tahun."

Dimas menatap meja.

"Iya," katanya. "Maaf."

"Kenapa pergi?"

Pertanyaan paling jujur dari mulut paling jujur di ruang itu.

Aku tidak mengintervensi. Ini percakapan Nisa dan Dimas — aku ada di sini sebagai jangkar, bukan sebagai juru bicara.

Dimas menjawab dengan versi yang disederhanakan — tidak bohong, tapi tidak semua detailnya. Bahwa dia punya masalah yang besar dan tidak tahu cara menghadapinya dengan benar. Bahwa memilih pergi adalah keputusan yang salah. Bahwa ia menyesal tidak bisa ada untuk Nisa selama ini.

Nisa mendengarkan dengan cara yang membuat aku sedikit terkejut: serius, tidak menginterupsi, mengangguk di beberapa bagian.

Ketika Dimas selesai, Nisa diam sebentar.

"Bapak akan pergi lagi?" tanyanya.

"Tidak berencana."

"Janji?"

Dimas menatap Nisa. Lalu menatapku sebentar — entah mencari izin atau sekedar memeriksa — lalu kembali ke Nisa.

"Janji," katanya.

Nisa mengangguk.

"Oke." Ia mengambil satu lagi stroberi. "Nisa minta satu hal."

"Apa?"

"Kalau bapak mau pergi lagi — bilang dulu ke Nisa. Jangan diam-diam."

Kalimat itu — dari anak delapan tahun yang tidak pernah aku ajari untuk mengucapkan itu — membuat dadaku sesak dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan.

"Aku janji," kata Dimas. Dan kali ini suaranya sedikit bergetar.

Di perjalanan pulang, Nisa duduk di jok belakang motor tanpa bicara lama.

Baru ketika kami hampir sampai, ia bicara.

"Bun, bapak itu orangnya menyesal sungguhan, ya?"

"Kelihatannya."

"Tapi itu tidak langsung berarti kita harus percaya penuh?"

Aku memperlambat motor di depan gerbang.

"Benar," kataku.

Nisa mengangguk. Turun dari motor.

"Nisa mau lanjut ketemu dia." Ia berjalan ke pintu. "Tapi pelan-pelan saja."

Aku mengunci motor dan mengikutinya masuk.

Pelan-pelan.

Ternyata delapan tahun pun sudah cukup untuk belajar itu.