Aku akhirnya membuka pintu pada hari Jumat pagi.

Bukan karena aku sudah siap. Tapi karena Dimas sudah ada di depan pintu jam tujuh pagi dengan dua bungkus nasi uduk yang tidak aku pesan dan ekspresi orang yang sudah melatih dirinya untuk terlihat tidak memohon meski sebenarnya memohon.

"Kamu belum sarapan kan?" katanya.

Aku menatap nasi uduk itu.

"Beli dari mana?"

"Warung ujung jalan. Tante yang jual bilang ini yang biasa kamu pesan."

Jadi dia sudah tanya ke orang-orang. Sudah survei. Dimas selalu teliti dalam hal-hal seperti ini — salah satu hal yang dulu aku kagumi dan sekarang membuatku waspada.

Aku membuka pintu lebih lebar. "Sepuluh menit."

Kami duduk di meja makan. Nisa sudah di sekolah. Rani belum datang. Hanya kami berdua dengan dua bungkus nasi uduk dan keheningan yang terlalu penuh untuk disebut nyaman.

"Cerita," kataku.

Dimas menarik napas.

"Tiga tahun lalu aku dalam masalah." Ia menatap mejanya. "Hutang bisnis. Bukan kecil — sangat besar. Orang yang aku berhutang... tidak main-main."

"Berapa besar?"

"Tiga ratus juta."

Aku tidak berkedip.

"Dari mana hutang itu?"

"Investasi yang salah. Ada yang meyakinkan aku untuk masuk ke satu proyek — hasilnya tidak ada. Uang hilang. Dan yang punya uang minta kembali dengan cara yang tidak bisa aku tolak."

"Jadi kamu kabur."

"Aku kabur." Ia akhirnya menatapku langsung. "Bukan dari kamu dan Nisa — aku tidak pernah tidak cinta kamu. Tapi aku kabur karena aku takut. Takut kalau aku di sini, mereka akan datang ke rumah. Ke kamu. Ke Nisa."

Aku menaruh sendok.

"Kamu takut mereka menyakiti kami?"

"Ya."

"Jadi kamu pergi tanpa bilang apa-apa, menguras rekening kami, dan membiarkan kami tidak tahu apakah kamu hidup atau mati — untuk melindungi kami?"

Kalimat itu terdengar absurd bahkan ketika aku yang mengucapkannya.

"Aku tahu itu tidak masuk akal."

"Tidak masuk akal?" Aku menahan suaraku tetap datar. "Dimas, tiga tahun lalu aku melapor ke polisi karena tidak tahu apakah suamiku diculik atau mati atau melarikan diri. Nisa bertanya setiap minggu selama enam bulan pertama ke mana bapaknya pergi dan aku tidak punya jawaban. Aku bangun bisnis dari nol karena rekening habis dan aku tidak bisa ambil dari keluarga lebih dari yang sudah mereka kasih."

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu." Suaraku tidak naik, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa aku sembunyikan sepenuhnya. "Kamu tidak ada di sini untuk tahu."

Dimas tidak menjawab.

Setelah diam yang cukup panjang, aku bertanya satu hal yang sudah ada di kepala sejak kemarin.

"Kamu kembali sekarang karena apa? Hutangnya sudah selesai?"

"Selesai dua tahun lalu." Ia menatapku. "Aku butuh waktu satu tahun lagi untuk berani kembali."

"Satu tahun untuk memberanikan diri kembali. Dua tahun setelah hutangnya selesai. Jadi sebenarnya ada dua tahun di mana kamu bisa kembali tapi tidak."

"Aku tidak tahu bagaimana menghadapi kamu."

"Artinya bukan takut. Artinya malu."

Ia tidak menyangkal itu.

"Ada yang lain?" tanyaku. "Selain penyesalan dan keberanian yang baru tumbuh setelah tiga tahun?"

Dimas menatap meja lagi. Dan dalam jeda itu — jeda yang seperti jeda kemarin malam — aku melihat lagi ketakutan itu di matanya.

"Ada," katanya akhirnya.

"Apa?"

"Orang yang dulu aku berhutang... mereka muncul lagi. Bukan menagih uang." Suaranya lebih pelan. "Mereka tahu kamu punya bisnis sekarang. Dan mereka minta aku membantu mereka masuk."

Suasana di ruang makan itu berubah.

"Masuk ke apa?"

"Bisnis kateringmu. Sebagai... front. Untuk cuci uang."

Aku berdiri.

Bukan berdiri dramatis — berdiri karena tiba-tiba perlu ada jarak antara aku dan kalimat itu.

"Jadi kamu kembali bukan karena menyesal," kataku. "Kamu kembali karena mereka suruh kamu."

"Bukan—"

"Kamu kembali karena mereka mau manfaatkan namamu yang masih suamiku di atas kertas untuk masuk ke bisnisnya istrimu." Aku menatapnya. "Dan kamu datang ke sini untuk apa? Minta maaf atau minta izin?"

Dimas menatapku.

"Aku datang untuk memperingatkan kamu," katanya. "Dan untuk minta maaf. Keduanya."

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu aku mengambil bungkus nasi udukku yang belum dibuka.

"Keluar dari rumahku," kataku. "Dan jangan kembali sampai aku yang hubungi kamu."

Gilang datang ke dapur kateringku jam dua siang untuk hal yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat telepon.

Aku tahu ini karena ia sendiri yang bilang di awal: "Sebenarnya bisa WA, tapi aku kebetulan lewat sini."

Kebetulan yang aku tidak langsung percaya karena kantor Gilang ada di arah yang berlawanan dari kata "kebetulan lewat sini."

Tapi aku tidak menyebutkan itu.

"Detail event bulan depan." Ia meletakkan dokumen di meja dapur. "Seratus dua puluh orang. Tambah dari yang aku bilang kemarin."

"Masih bisa." Aku membaca dokumen sambil terus menyiapkan bumbu sore ini. "Menu prasmanan tetap?"

"Tetap. Dan ada permintaan tambahan — satu meja khusus untuk tamu VIP yang dietnya berbeda. Tiga tamu dengan pantangan gluten."

"Bisa diatur." Aku mencatat. "Harganya berubah sedikit untuk yang khusus."

"Wajar." Gilang mengamati dapur dengan cara yang sudah aku kenali — bukan mengamati seperti inspektur, tapi seperti orang yang genuinely tertarik dengan bagaimana sesuatu bekerja. "Kamu pegang semuanya sendiri?"

"Ada Rani dan dua karyawan paruh waktu."

"Untuk seratus dua puluh orang cukup?"

"Aku akan rekrut satu orang tambahan untuk event itu."

Gilang mengangguk. Tidak berkomentar lebih lanjut soal kapasitas — dia tahu aku sudah menghitungnya sendiri sebelum memberikan konfirmasi.

Itulah yang dari awal membuatku nyaman berurusan dengan Gilang: dia tidak perlu memastikan dua kali hal yang sudah aku nyatakan bisa dilakukan.

"Ada masalah?" tanyanya.

Aku menatapnya dari sudut mata. "Kenapa?"

"Tadi pagi kamu bilang kurang tidur. Sekarang kamu sudah iris satu bawang tapi masih di satu bawang yang sama sejak aku masuk sepuluh menit lalu."

Aku menatap talenan. Bawang itu memang baru setengah.

"Urusan keluarga," kataku.

"Oh." Ia tidak bertanya lebih. Langsung. "Kalau ada yang perlu dibantu, bilang."

"Tidak ada yang perlu."

"Oke."

Gilang berdiri untuk pergi. Di pintu dapur ia berhenti.

"Sari," katanya, "kalau ada yang mengganggu operasional bulan depan — apapun alasannya — kasih tahu aku dari awal. Lebih baik aku tahu lebih awal dari pada kaget di hari H."

Cara dia menyampaikan itu — bukan menekan, hanya menyatakan fakta praktis — membuat sesuatu di dalam dadaku sedikit longgar.

"Tidak akan ada gangguan," kataku.

Dia menatapku sebentar. Mengangguk. Pergi.

---