Aku menghubungi Dimas dua hari kemudian.
Bukan karena sudah memaafkannya. Bukan karena ingin memberi kesempatan kedua. Tapi karena apa yang ia katakan tentang orang-orang yang ingin memakai bisnisku sebagai kedok pencucian uang adalah informasi yang aku perlu tahu lebih lengkapnya — bukan demi Dimas, demi bisnisku sendiri.
Kami bertemu di kafe di luar kompleks perumahan — tempat netral, cukup ramai untuk aku merasa aman, cukup sepi untuk bisa bicara.
Dimas datang lebih awal. Sudah pesan dua kopi sebelum aku tiba.
"Siapa mereka?" langsung aku tanya setelah duduk.
Dimas melihat sekelilingnya sebentar sebelum menjawab.
"Namanya Pak Bram. Pengusaha, tampak sah di luar. Tapi sebagian bisnis di belakangnya tidak sah." Ia bicara pelan. "Tiga tahun lalu aku dipinjamkan uang — bukan meminjam secara resmi, lebih ke dijebak masuk ke posisi berhutang. Waktu aku tidak bisa bayar tepat waktu, dia yang tentukan syaratnya."
"Dan syaratnya adalah kabur dari keluarga sendiri?"
"Syaratnya adalah meninggalkan kamu dan Nisa supaya tidak ada yang bisa dijadikan sandera." Dimas menatap kopinya. "Kalau aku tetap tinggal bersama kalian, mereka punya lebih banyak cara untuk menekan aku."
"Tiga tahun kamu bayar dengan cara apa?"
"Kerja untuk salah satu bisnis mereka. Bukan yang ilegal langsung — tapi dekat cukup untuk membuatku tidak nyaman dua tahun pertama."
"Dan sekarang?"
"Sekarang mereka minta satu hal terakhir sebelum benar-benar lepas." Matanya menatapku. "Nama perusahaanku — yang lama, yang masih ada di arsip tapi sudah tidak aktif — mau mereka pakai untuk satu transaksi. Dan katanya mereka mau aku datang ke kamu dulu, bangun kepercayaan lagi."
Aku mengerti sekarang.
"Mereka mau pakai kamu untuk mendekati aku."
"Iya."
"Dan kamu datang ke aku untuk memberitahu ini atau untuk melakukannya?"
Dimas menatapku langsung. "Untuk memberitahu. Aku tidak mau mereka sentuh bisnis kamu atau kamu atau Nisa."
Aku menatapnya. Menilai. Apakah ini kebenarannya, atau ini lapisan lain dari cerita yang lebih kompleks?
"Ada bukti bahwa Pak Bram ini ada?"
"Ada. Foto, beberapa catatan transaksi yang aku simpan sebagai pegangan selama tiga tahun." Ia mengeluarkan amplop dari tasnya. "Ini salinannya. Aslinya aku simpan di tempat yang berbeda."
Aku mengambil amplop itu tapi tidak langsung membukanya.
"Aku perlu waktu untuk proses ini," kataku.
"Aku mengerti."
"Dan aku perlu tahu satu hal lagi." Aku menatapnya langsung. "Apakah Nisa — keberadaannya, sekolahnya, rutinitas hariannya — apakah Pak Bram ini tahu?"
Wajah Dimas berubah. Bukan berubah menyembunyikan — berubah dengan cara orang yang tidak suka dengan pertanyaan yang jawabannya ia tidak yakin.
"Aku tidak tahu pasti," katanya akhirnya. "Mereka tidak sebut nama Nisa. Tapi mereka tahu kamu punya anak perempuan."
Aku berdiri.
Pertemuan itu selesai.
Tiga hari aku tidak menghubungi siapapun tentang ini.
Bukan diam yang pasif — aku membaca isi amplop Dimas dua kali, menganalisis setiap lembar yang ada di dalamnya dengan cara yang sama dengan aku menganalisis laporan keuangan bulan: sistematis, tanpa panik, mencari apa yang nyata dan apa yang tidak bisa diverifikasi.
Yang nyata: ada perusahaan bernama Brama Sentosa Group yang memiliki beberapa anak perusahaan dengan bisnis yang tampak sah tapi jejak transaksinya tidak linear.
Yang tidak bisa aku verifikasi sendiri: apakah Dimas benar-benar sudah "bebas" dari mereka atau ini bagian dari strategi yang lebih panjang.
Gilang menelepon hari keempat untuk konfirmasi detail catering event.
Di akhir telepon, seperti biasa, ia bertanya: "Ada update?"
"Update apa?"
"Urusan keluarga yang kamu sebut hari Jumat."
Aku jeda sebentar. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."
"Aku tidak khawatir." Suaranya tenang. "Tapi aku menawarkan diri kalau ada yang bisa dibantu."
"Kenapa?"
Jeda kecil di seberang.
"Karena kita sudah bekerja sama cukup lama untuk aku tahu bahwa kamu tidak pernah bilang ada masalah kecuali memang ada." Gilang bicara dengan cara yang terdengar dipikirkan, bukan spontan. "Dan karena aku menghormati cara kamu mengelola hal-hal yang sulit. Kalau ada yang bisa dibantu secara praktis, aku menawarkan diri."
Praktis.
Kata itu yang membuat aku mendengarkan lebih serius.
"Aku belum tahu apakah perlu bantuan," kataku.
"Oke. Kalau sudah tahu, bilang."
Malam itu Nisa bertanya lagi tentang Dimas.
Bukan dengan nama — Nisa belum menyebut namanya secara langsung. Tapi dengan cara yang tidak bisa disalah-artikan.
"Bun, bapak itu ada di mana sekarang?"
Aku sedang mengepang rambut Nisa untuk tidur — ritual malam yang sudah kami lakukan sejak Nisa masih empat tahun.
"Di kota ini," kataku.
"Dia mau tinggal lagi di sini?"
"Belum tahu."
"Nisa bisa pilih tidak mau ketemu dia?"
Aku menyelesaikan kepangan terakhir sebelum menjawab.
"Bisa. Nisa tidak perlu ketemu dia kalau tidak mau."
"Tapi kalau Nisa mau ketemu, itu juga boleh?"
"Juga boleh."
Nisa memikirkan ini sebentar — dengan cara Nisa yang selalu tampak serius bahkan untuk hal-hal yang kecil.
"Belum mau sekarang," katanya akhirnya. "Nanti kalau sudah mau, Nisa bilang ke Bunda."
"Oke."
Aku mengecup keningnya. Mematikan lampu kamar.
Di koridor, aku berdiri sebentar di luar pintu kamar Nisa.
Delapan tahun. Tumbuh dalam kondisi yang tidak pernah aku pilihkan untuknya. Dan sekarang sudah bisa memutuskan kapan ia siap dan kapan tidak untuk sesuatu yang bahkan orang dewasa pun susah memutuskannya.
Entah aku bangga atau sedih.
Mungkin keduanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar