Pagi setelah Dimas muncul, aku bangun jam empat dan langsung ke dapur.
Bukan karena tidak bisa tidur — meski memang tidak bisa tidur. Tapi karena besok ada katering ulang tahun untuk lima puluh orang dan ada dua puluh porsi nasi box yang belum selesai, dan keadaan emosional apapun yang ada di dalam dadaku tidak bisa menunda deadline itu.
Itulah yang tiga tahun ini menyelamatkanku: pekerjaan.
Bukan pekerjaan sebagai pelarian — sebagai alasan untuk terus bergerak di hari-hari ketika satu-satunya yang ingin kulakukan adalah berhenti.
Katering Sari Wulandari tidak punya nama yang mewah.
Tidak ada logo yang dirancang oleh desainer profesional. Tidak ada feed Instagram yang estetik dengan foto-foto plating yang sempurna. Hanya satu akun dengan foto-foto yang kadang agak miring karena difoto terburu-buru sebelum pengiriman, dan deskripsi yang singkat: *Katering rumahan untuk acara keluarga dan kantor. Higienis, tepat waktu, rasa terjamin.*
Tagline terakhir itu ditambahkan oleh Gilang.
Pak Gilang Mahendra. Tiga puluh enam tahun. Pemilik PT Mahendra Distribusi — perusahaan distribusi logistik kecil-menengah yang jadi pelanggan kateringku sejak setahun lalu ketika ia memesan makan siang untuk dua puluh orang karyawannya.
"Rasa terjamin itu bagus tapi perlu ada klaimnya," katanya waktu itu setelah aku minta pendapat tentang deskripsi akunnya. "Misalnya: pakai bahan segar setiap hari, atau masak di hari yang sama dengan pengiriman."
"Semua itu sudah aku lakukan."
"Kalau begitu tulis. Orang tidak akan tahu kalau tidak kamu kasih tahu."
Aku merevisi deskripsinya. Pesanan naik tiga puluh persen bulan berikutnya.
Korelasi yang tidak bisa aku buktikan secara ilmiah, tapi cukup membuat aku mendengarkan Gilang lebih serius dari yang awalnya aku rencanakan.
Rani, dua puluh tiga tahun, karyawan pertamaku, muncul jam enam pagi seperti biasa.
"Bu Sari, tadi di depan gang ada orang tidur di motor."
Aku berhenti mengaduk sambal.
"Orang atau motor?"
"Orangnya tidur di atas motornya. Motor Honda, platnya B." Rani mengambil celemek. "Mau saya usir, Bu?"
Dimas.
"Biarkan," kataku. "Urus pesanan dulu."
Rani menurut — dia sudah cukup lama bekerja denganku untuk tahu bahwa kalau aku bilang biarkan dengan nada itu, tidak perlu ditanya lebih lanjut.
Jam tujuh pagi Nisa turun dari kamar dengan seragam merah putih dan rambut yang setengah dikepang.
"Bun, rambut Nisa."
Aku menaruh pisau dan membantu mengepang rambutnya di kursi makan.
"Bun," kata Nisa setelah beberapa detik diam, "kemarin malam ada tamu?"
"Bukan tamu penting."
"Suaranya laki-laki."
"Bukan yang perlu Nisa khawatirkan."
Nisa diam sebentar. Aku bisa merasakan ada lebih banyak yang ingin ia tanyakan — Nisa selalu penuh pertanyaan, tapi ia juga sudah belajar membaca kapan ibunya siap menjawab dan kapan tidak.
"Oke," katanya akhirnya.
Aku selesaikan kepangannya. Dicium keningnya.
"Minta Bu Rani antarkan ke sekolah. Bunda harus masak."
"Iya, Bun."
Gilang menelepon jam delapan pagi.
"Sari, pesanan bulan depan — bisa tambah kapasitas? Ada event kantor untuk seratus orang."
"Bisa." Aku sudah tahu jawabannya sebelum dia selesai tanya — seratus orang masih dalam batas yang bisa kami handle dengan karyawan yang ada. "Mau menu apa?"
"Prasmanan. Tiga menu utama, dua lauk tambahan, minuman."
"Kirim detail ke WA. Aku kalkulasi harganya besok."
"Oke." Suaranya sedikit berubah. "Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan yang tidak aku duga.
"Kenapa?"
"Suaramu berbeda dari biasanya."
Aku berhenti mengaduk sebentar. Gilang tidak pernah komentar tentang suaraku sebelumnya. Kami selalu bicara bisnis — bersih, efisien, tanpa embel-embel yang tidak perlu.
"Kurang tidur," kataku. "Besok detail menunya."
"Oke. Hati-hati."
Telepon ditutup.
Aku menatap wajan di depanku.
*Hati-hati.* Kata yang tidak biasa dari Gilang yang biasanya menutup telepon dengan langsung.
Jam sembilan, ketika pesanan pertama sudah terkemas dan Rani sedang mempersiapkan pengiriman, aku melihat dari jendela dapur: Dimas masih ada di motor di ujung gang.
Sudah tidak tidur — dia duduk tegak, pegang ponsel, tapi sekali-sekali melirik ke arah rumahku.
Menunggu.
Aku menarik tirai.
Ada satu hal yang Dimas belum tahu tentang wanita yang ia tinggalkan tiga tahun lalu: perempuan yang awalnya tidak bisa tidur berhari-hari karena ditinggalkan, yang belajar cara membaca laporan keuangan sendiri karena tidak ada yang bisa ia percaya untuk itu, yang membangun bisnis dari nol sambil juga membesarkan anak sendiri — perempuan itu sudah tidak bisa dipaksa melakukan apapun oleh siapapun.
Termasuk oleh senyum dan kata maaf dan ketakutan di mata yang ia tidak jelaskan.
Dimas boleh menunggu.
Aku punya pesanan yang harus dikirim.
Nisa belum pernah bertanya langsung tentang ayahnya.
Ini bukan karena aku menyembunyikan. Tapi karena aku selalu menunggu pertanyaan itu datang dari arahnya — bukan mendahului dengan penjelasan yang mungkin lebih membingungkan dari yang ia butuhkan.
Selama tiga tahun, ia tidak bertanya. Atau lebih tepatnya, ia bertanya dengan cara yang bisa aku jawab tanpa harus membuka lebih dari yang aku siap buka.
"Bun, kenapa foto di lemari itu tidak ada gambar bapak?"
"Karena foto-foto itu tentang kita, Nis. Kamu dan Bunda."
"Oh."
Selesai. Nisa menerima jawaban itu dan melanjutkan hidupnya.
Tapi malam setelah Dimas muncul untuk kedua kalinya — hari Kamis, ketika aku pulang dari pengiriman dan menemukan Nisa sudah mandi dan mengerjakan PR di meja belajarnya — putri kecilku yang delapan tahun itu akhirnya bertanya dengan cara yang berbeda.
"Bun," katanya tanpa mengangkat mata dari buku, "kemarin malam itu bapak Nisa, ya?"
Aku berdiri di pintu kamarnya.
"Dari mana Nisa tahu?"
"Mbak Rani bilang ke Mas Rendi bahwa ada laki-laki yang nunggu lama di luar." Nisa membolak-balik halamannya. "Laki-laki yang mau nunggu lama di luar itu biasanya bapak atau mantan pacar. Bunda tidak punya mantan pacar selain bapak Nisa."
Logika delapan tahun yang lebih tajam dari yang perlu.
Aku masuk ke kamarnya. Duduk di tepi tempat tidur.
"Iya," kataku akhirnya. "Itu bapak Nisa."
Nisa menutup bukunya. Menatapku dengan ekspresi yang belum bisa aku baca sepenuhnya — campuran antara ingin tahu dan sesuatu yang lebih kompleks dari itu.
"Dia mau apa?"
"Belum tahu. Bunda belum mau bicara dengannya."
"Kenapa belum mau?"
"Karena ada hal-hal yang perlu dipikirkan dulu sebelum bicara."
Nisa mempertimbangkan ini. Anakku yang satu ini sudah belajar dari usia sangat kecil untuk menerima jawaban yang tidak lengkap tanpa harus memaksakan kelengkapannya sekarang.
"Nisa mau ketemu dia?" tanyaku.
Nisa diam cukup lama.
"Belum tahu," katanya akhirnya. "Boleh Nisa pikir dulu?"
Hatiku hangat dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan.
"Boleh. Nisa tidak perlu terburu-buru."
Malam itu aku menelepon Mama.
Mama Sari — Ibu Sumiati, enam puluh satu tahun, penjual jajanan pasar di pasar dekat rumahnya di Bogor yang sudah dua belas tahun janda dan sudah tiga belas tahun tahu bahwa putrinya bisa diandalkan untuk tidak memerlukan terlalu banyak bantuan.
"Dimas kembali?" Suara Mama datar — Mama bukan tipe yang bereaksi berlebihan. "Kamu mau apa?"
"Belum tahu, Ma."
"Nisa tahu?"
"Baru saja bilang."
"Reaksinya?"
"Minta waktu untuk pikir." Aku menyandarkan punggung ke sofa. "Delapan tahun, Ma. Anakku bilang minta waktu untuk pikir tentang apakah mau ketemu bapaknya."
Mama diam sebentar.
"Itu karena kamu mengajarinya baik," kata Mama akhirnya. "Tidak semua orang bisa mengambil keputusan dengan tenang di usia berapa pun. Nisa kamu ajari itu."
Aku tidak langsung menjawab.
"Menurutmu aku harus dengar apa yang Dimas mau bilang?" tanyaku.
"Aku tidak bisa jawab itu." Mama bicara dengan cara yang sudah aku kenal — bukan karena tidak mau bantu, tapi karena ia tahu bahwa jawaban untuk pertanyaan ini harus dari aku sendiri. "Yang bisa aku bilang: kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa jalan sendiri. Apapun yang kamu putuskan setelah dengar dia, itu tidak akan mengubah itu."
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar