Dia berdiri di depan pintu rumahku dengan jas abu-abu dan senyum yang tidak berubah satu milimeter pun dari terakhir kali aku lihat.

Tiga tahun lalu.

Tiga tahun, empat bulan, delapan hari — aku tidak menghitung, tapi angka itu sudah ada di suatu tempat di dalam kepala dan keluar sendiri tanpa aku minta ketika wajah itu muncul di balik pintu yang baru kubuka karena mengira itu kurir pesanan bawang merah.

"Sari."

Satu kata. Nama yang terlalu akrab diucapkan oleh mulut yang tidak punya hak untuk mengucapkannya lagi.

Aku menatap Dimas Prasetyo selama tiga detik — tiga detik yang terasa seperti aku sedang menghitung apakah ini nyata atau aku sedang terlalu lelah dari menyiapkan katering untuk acara ulang tahun besok sampai mulai berhalusinasi.

Bukan halusinasi.

Dia nyata. Lebih gemuk sedikit dari yang aku ingat, rambutnya sudah mulai ada yang memutih di pelipis kiri, dan dia mengenakan jam tangan yang harganya mungkin bisa membayar tagihan listrikku setahun ke depan.

Aku menutup pintu.

Bukan membanting — aku bukan tipe yang membanting pintu di depan wajah orang meski mungkin ini adalah satu kesempatan yang paling layak untuk melakukannya. Aku menutup pintu dengan tenang, menguncinya dari dalam, dan berdiri di balik pintu dengan punggung menempel ke kayu yang dingin.

Dari luar, suaranya muncul: "Sari, tolong. Aku perlu bicara."

Aku menatap langit-langit dapur yang masih bau bawang goreng.

"Bapak siapa?" Suara Nisa muncul dari ruang tengah — anakku, delapan tahun, yang rupanya mendengar ada tamu dari kamarnya.

"Bukan siapa-siapa," jawabku.

"Tapi tadi ada yang ketuk pintu."

"Sudah pergi."

Dari luar, Dimas belum pergi. Aku bisa dengar langkahnya di teras — dia tidak langsung pergi, dia berdiri di sana. Menunggu.

Aku menarik napas panjang.

Dan pergi kembali ke dapur untuk melanjutkan mengiris bawang yang masih setengah jalan, karena besok ada katering yang harus selesai dan tidak ada ruang di jadwal hari ini untuk sesuatu yang seharusnya sudah selesai tiga tahun lalu.

Namaku Sari Wulandari. Tiga puluh empat tahun. Janda.

Kata terakhir itu masih terasa aneh di telinga meski sudah tiga tahun diucapkan — bukan aneh menyakitkan, lebih ke aneh seperti nama orang lain yang terlanjur menempel ke namamu dan sudah tidak bisa dilepas.

Aku tidak menikah dengan Dimas karena terpaksa. Aku menikah karena waktu itu aku pikir kami punya sesuatu yang nyata. Enam tahun bersama — dua tahun pacaran, empat tahun menikah — dengan satu anak yang lahir di tahun ketiga pernikahan.

Nisa Aulia Sari. Delapan tahun. Satu-satunya hal yang keluar dari pernikahan itu yang tidak perlu aku sesali.

Dimas pergi pada suatu Senin pagi ketika aku sedang mengantar Nisa ke sekolah. Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan. Hanya koper yang hilang dari lemari, rekening bersama yang terkuras sampai saldo minimum, dan nomor telepon yang tidak aktif.

Aku lapor polisi. Katanya tidak ada yang bisa dilakukan untuk orang dewasa yang memilih pergi secara sukarela.

Aku hubungi keluarganya. Mereka bilang tidak tahu — mungkin benar, mungkin tidak.

Aku tunggu seminggu, dua minggu, sebulan.

Lalu aku berhenti menunggu dan mulai hidup.

Katering Sari Wulandari berdiri dari modal yang nyaris nol: satu set peralatan masak dari ibu, satu lemari es bekas dari tetangga, dan keberanian yang lebih besar dari yang biasanya aku punya.

Tiga tahun kemudian, aku punya tiga karyawan tetap, satu motor pengiriman, dan pelanggan tetap yang cukup untuk membayar kontrakan, biaya sekolah Nisa, dan menyisakan sedikit untuk tabungan.

Tidak kaya. Tapi cukup. Dan cukup, setelah semua yang terjadi, adalah sesuatu yang aku tidak anggap remeh.

Malam itu, setelah Nisa tidur dan dapur bersih dan pesanan besok sudah dipersiapkan setengahnya, ada ketukan di pintu lagi.

Jam sembilan malam.

Aku tidak membuka.

"Sari, aku tahu kamu di dalam." Suara Dimas dari balik pintu. "Aku tidak kemana-mana sampai kita bicara."

Aku duduk di sofa dengan remote TV di tangan yang tidak dinyalakan.

"Kalau kamu tidak buka, aku duduk di depan pintu ini sampai besok pagi."

Aku tidak meragukan itu. Dimas selalu punya kesabaran yang tidak wajar untuk hal-hal yang ia inginkan.

Aku berdiri. Membuka pintu — bukan lebar, hanya cukup untuk melihatnya.

"Lima menit," kataku. "Dan berdiri di situ, tidak masuk."

Dia mengangguk.

"Kenapa kamu kembali?" tanyaku langsung.

"Karena aku menyesal."

"Lima menit hampir habis."

"Sari—"

"Kamu menyesal sejak kapan? Sejak pergi dengan uang kami, atau sejak anakmu bertumbuh tiga tahun tanpa mengenal wajah bapaknya?"

Dia tidak langsung menjawab. Dan dalam jeda itu, di bawah cahaya lampu teras yang kurang terang, aku melihat sesuatu di matanya yang tidak ada tiga tahun lalu.

Bukan penyesalan — itu bisa dibuat-buat.

Ketakutan.

Dimas takut pada sesuatu.

"Aku akan cerita semua," katanya. "Tapi tolong beri aku kesempatan."

"Tidak malam ini." Aku menutup pintu. Menguncinya. "Tidak pernah."

Tapi ketika aku berdiri lagi di balik pintu, pikiran itu tidak mau pergi: ketakutan itu nyata. Dan Dimas yang datang kembali bukan hanya membawa penyesalan.

Dia membawa sesuatu yang lain.

Dan aku belum tahu apa.

Aku tidak pernah membayangkan momen ini — atau lebih tepatnya, aku sudah berhenti membayangkannya lama sekali. Tahun pertama mungkin masih ada bayangan-bayangan yang datang sendiri: Dimas pulang, menjelaskan semuanya, minta maaf dengan cara yang masuk akal. Tahun kedua bayangan itu sudah jarang muncul. Tahun ketiga, aku sudah tidak punya ruang di kepala untuk membayangkan sesuatu yang sudah aku putuskan tidak relevan lagi.

Dan sekarang ia berdiri di depan pintu yang sudah aku tutup, dan ternyata semua yang sudah aku pikir sudah selesai belum benar-benar selesai.

Aku duduk di sofa dapur. Menaruh muka di kedua tangan sebentar.

Satu napas dalam. Dua.

Besok ada pesanan yang harus diantar. Nisa harus diantar ke sekolah jam tujuh. Ada faktur yang belum aku tandatangani. Ada hal nyata yang menunggu untuk dikerjakan — dan itu yang akan aku fokuskan malam ini.

Dimas boleh berdiri di luar sepanjang malam kalau ia mau.

Aku punya pekerjaan.