Bubur ayam khas rumah sakit yang hambar itu terasa seperti pasir di dalam mulut Nisa. Setiap sendok yang masuk ke kerongkongannya memicu rasa mual yang hebat, seolah-olah tubuhnya menolak segala hal yang berasal dari tempat itu. Namun, Nisa tetap memaksa dirinya untuk mengunyah dan menelan. Ia tidak lagi makan untuk dirinya sendiri. Di dalam perutnya yang masih rata, ada sebuah kehidupan kecil yang rapuh, sebuah benih yang harus ia beri nutrisi terbaik agar bisa tumbuh dengan kuat.
"Satu sendok lagi, demi kamu," bisik Nisa pelan, mengusap perutnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya masih terikat selang infus yang mengalirkan cairan penambah stamina.
Setelah menghabiskan setengah porsi bubur—sebuah pencapaian besar mengingat kondisinya yang sempat drop kemarin—Nisa meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Layar benda digital itu menyala, menampilkan sebuah pesan balasan dari Farhan yang masuk beberapa jam lalu saat ia masih tertidur lelap.
“Nis, astaga, kamu dirawat di mana? Tifus? Kenapa bisa sampai drop begitu? Tolong kirimkan lokasi kliniknya. Kalau tidak merepotkan, sore ini setelah jam kantor selesai, aku mau mampir menjengukmu. Soal tawaran pekerjaan itu, jangan dipikirkan dulu. Kesehatanmu jauh lebih penting sekarang. Tapi kalau kamu memang butuh pengalihan atau ingin tahu detailnya, posisinya sangat santai, bisa remote dari rumah untuk tiga bulan pertama dengan gaji pokok dua belas juta ditambah bonus performa. Kabari aku ya, Nis.”
Dua belas juta rupiah per bulan, dan bisa dikerjakan dari rumah. Angka itu hampir dua kali lipat dari gajinya saat ini sebagai staf administrasi logistik di perusahaan lamanya. Yang lebih penting, sistem kerja jarak jauh (remote) akan memberinya ruang bermanuver yang sangat luas. Ia bisa mengurus proses hukum, mempersiapkan perceraian, dan menjaga kehamilannya tanpa harus terikat jam kantor yang ketat di bawah tatapan curiga rekan-rekan kerjanya.
Nisa menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik balasan dengan jemari yang kini terasa lebih mantap.
“Aku di Kamar 302 VIP, Klinik Medika Depok, Han. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Aku sudah merasa jauh lebih baik hari ini. Datanglah sore nanti, ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, bukan cuma soal pekerjaan, tapi juga soal bantuan hukum.”
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Nisa segera beralih ke daftar panggilannya. Ia mencari nomor telepon yang semalam sempat menghubunginya—nomor dari Pak Dimas, Account Officer dari Bank Bina Sejahtera yang bertugas mengurusi aplikasi kredit suaminya.
Nisa menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang, namun ini bukan lagi debaran ketakutan seperti kemarin. Ini adalah debaran adrenalin dari seorang pemburu yang sedang memasang perangkap untuk mangsanya.
Setelah tiga kali nada dering, panggilan itu diangkat.
"Halo, selamat pagi dengan Dimas di sini. Ada yang bisa saya bantu?" suara pria di seberang telepon terdengar sangat formal dan profesional.
"Selamat pagi, Pak Dimas. Saya Nisa, istri dari Pak Arman Maulana," ucap Nisa dengan nada suara yang dibuat selembut dan setenang mungkin, menyembunyikan badai kemarahan yang bergolak di dadanya. "Saya yang kemarin malam sempat Bapak hubungi terkait tunggakan atau konfirmasi pencairan dana take over kredit rumah kami."
"Oh, Ibu Nisa! Iya, betul, Bu," suara Pak Dimas langsung berubah menjadi sedikit lebih sungkan namun penuh antusiasme. "Mohon maaf jika telepon saya kemarin malam mengganggu istirahat Ibu. Mengenai berkas pencairan dana senilai tujuh ratus juta rupiah atas agunan sertifikat rumah di Griya Asri, apakah ada masalah, Bu? Karena kemarin Pak Arman bilang semua dokumen sudah ditandatangani bersama di depan notaris rekanan kami."
Nisa mencengkeram sprei ranjangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Notaris rekanan, batin Nisa sinis. Arman pasti telah menyuap atau menggunakan jasa notaris palsu untuk meloloskan berkas dengan tanda tangan tiruan itu.
"Ah, tidak ada masalah besar, Pak Dimas. Hanya saja, kemarin saat berkas-berkas itu ditandatangani, saya sedang terburu-buru karena harus mengejar jadwal rapat di kantor. Saya tidak sempat membaca rincian klausul kontraknya secara mendetail," Nisa berbohong dengan sangat lancar, menyusun skenario yang masuk akal agar pihak bank tidak curiga. "Bisa tolong kirimkan salinan digital (softcopy) dari seluruh berkas yang sudah ditandatangani itu ke alamat email pribadi saya? Termasuk surat pernyataan persetujuan istri dan bukti mutasi rekening pencairannya. Saya ingin mempelajarinya lagi agar kami bisa menjadwalkan pembayaran cicilan dengan tepat waktu."
"Tentu saja bisa, Bu Nisa. Itu adalah hak Ibu sebagai debitur pendamping dan pemilik sah dari aset yang diagunkan. Boleh saya tahu alamat email pribadinya, Bu? Biar langsung saya kirimkan sekarang melalui sistem internal bank."
Nisa mendiktekan alamat email rahasianya—bukan email yang biasa ia gunakan bersama Arman untuk urusan tagihan rumah tangga. "Sudah saya catat, Bu Nisa. Mohon ditunggu sekitar sepuluh menit ya, saya akan kirimkan seluruh dokumennya dalam format PDF yang sudah terenkripsi."
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Dimas. Selamat pagi."
"Sama-sama, Bu Nisa. Selamat pagi, semoga sehat selalu."
Panggilan terputus. Nisa meletakkan ponselnya di atas dada, menatap lurus ke langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan yang tajam. Langkah pertama telah selesai. Sekarang, dia tinggal menunggu bukti fisik yang akan menjadi senjata paling mematikan untuk menjebloskan Arman ke dalam penjara jika pria itu menolak bekerja sama.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, sebuah notifikasi email masuk. Nisa dengan cepat membuka lampiran dokumen PDF yang dikirimkan oleh Pak Dimas. Matanya menyusuri lembar demi lembar dokumen digital tersebut hingga tiba pada halaman terakhir: Surat Persetujuan Jaminan Hak Bersama (Istri).
Di sana, di atas meterai sepuluh ribu yang tertempel rapi, tertera nama "Nisa Anindita" dengan sebuah goresan tanda tangan yang sekilas memang sangat mirip dengan miliknya. Namun, Nisa tahu persis detail tanda tangannya sendiri. Lengkungan di huruf 'N' pada dokumen itu terlalu kaku, dan tarikan garis akhirnya terlalu pendek. Itu adalah hasil tiruan yang dibuat dengan penuh kehati-hatian oleh tangan Arman, pria yang telah bersamanya selama tiga tahun dan sangat menghafal bagaimana bentuk tulisan tangannya.
Nisa kemudian menggeser layar ke berkas berikutnya: Bukti Pencairan Dana dan Mutasi Rekening.
Tujuh ratus juta rupiah dicairkan pada hari Selasa minggu lalu. Pada hari yang sama, lima puluh juta langsung ditarik tunai oleh Arman. Keesokan harinya, tiga ratus lima puluh juta ditransfer ke rekening Event Organizer mewah untuk pernikahan Dinda, persis seperti yang ia lihat di ponsel adik iparnya kemarin. Dan yang membuat darah Nisa semakin mendidih adalah mutasi tiga hari berikutnya: ada transfer sebesar seratus juta rupiah ke rekening atas nama "Ratna Juwita"—ibu mertuanya—dengan keterangan: “Dana Renovasi Rumah Ibu”.
Nisa tertawa hambar, air matanya menetes membasahi layar ponsel.
"Hebat sekali kamu, Mas. Sangat berbakti," bisik Nisa dengan suara yang bergetar menahan amarah. "Kamu merampas rumah yang aku cicil dengan keringat dan darahku sendiri, lalu membagikannya seperti kue ulang tahun kepada ibu dan adikmu. Sementara aku? Aku bahkan harus memikirkan harga sepotong martabak setiap akhir bulan agar tabungan kita tidak berkurang."
Seluruh bukti sudah berada di tangannya. Arman tidak bisa mengelak lagi. Aliran dana itu sangat jelas, dan tanda tangan palsu itu adalah bukti pidana yang sah. Nisa segera menyimpan dokumen-dokumen itu ke dalam folder tersembunyi di akun Google Drive pribadinya, lalu mengirimkan salinannya ke nomor WhatsApp miliknya sendiri sebagai cadangan.
Sore harinya, sekitar pukul empat, pintu kamar 302 diketuk dengan sopan.
Sesosok pria bertubuh jangkung dengan setelan kemeja kerja berwarna biru dongker melangkah masuk. Wajahnya bersih, dengan kacamata berbingkai tipis yang memberikannya kesan cerdas dan berwibawa. Itu Farhan. Ia membawa sebuah keranjang besar berisi buah-buahan segar dan sebuah buket bunga krisan putih yang indah.
"Assalamualaikum, Nis," sapa Farhan dengan senyum hangat yang langsung membuat suasana kamar yang dingin itu terasa sedikit lebih hidup.
"Waalaikumsalam, Han. Masuk, silakan duduk," jawab Nisa, mencoba membetulkan posisi duduknya di atas ranjang dengan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal.
Farhan meletakkan keranjang buah dan bunga di atas meja, lalu menarik kursi ke dekat ranjang Nisa. Matanya menatap Nisa dengan binar kekhawatiran yang tulus. "Kamu pucat sekali, Nis. Berat badanmu juga sepertinya turun banyak sejak terakhir kali kita tidak sengaja bertemu di seminar logistik tahun lalu. Apa pekerjaan di kantormu seberat itu?"
Nisa tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Pekerjaan kantor tidak pernah membunuhku, Han. Yang membuatku seperti ini adalah hal lain."
Farhan mengernyitkan dahi, menangkap ada nada kepedihan yang mendalam dari ucapan mantan teman kuliahnya itu. Sebagai seorang konsultan bisnis yang terbiasa membaca situasi dan karakter orang, Farhan tahu bahwa Nisa sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja secara mental.
"Nis, di pesanmu tadi, kamu bilang butuh bantuan hukum. Ada apa sebenarnya? Kalau ini masalah pribadi dan kamu belum siap cerita, tidak apa-apa. Tapi kalau ini darurat, aku punya beberapa rekan pengacara dari firma hukum top di Jakarta yang biasa menangani kasus hukum perusahaan dan keluarga," ucap Farhan menawarkan bantuan dengan sangat hati-hati, tidak ingin terkesan ikut campur terlalu dalam.
Nisa menatap Farhan lekat-lekat. Di dunia ini, setelah kedua orang tuanya meninggal, ia hampir tidak memiliki siapa pun yang bisa ia percayai. Namun, Farhan selalu menjadi orang yang lurus dan jujur sejak masa kuliah. Pria ini tidak pernah berubah.
"Suamiku memalsukan tanda tanganku, Han," ucap Nisa langsung pada intinya, tanpa tedeng aling-aling. "Dia menggadaikan sertifikat rumah kami yang KPR-nya selama ini aku yang bayar. Dia mencairkan dana tujuh ratus juta rupiah tanpa sepengetahuanku, dan setengahnya sudah habis dipakai untuk membiayai pesta pernikahan adiknya di hotel bintang lima."
Farhan tertegun. Matanya melebar di balik kacamata tipisnya. "Astaga... Tujuh ratus juta? Dan dia memalsukan tanda tanganmu di dokumen bank?"
"Iya. Ini buktinya," Nisa menyodorkan ponselnya, memperlihatkan dokumen PDF yang tadi dikirimkan oleh Pak Dimas kepada Farhan.
Farhan menerima ponsel itu, membacanya dengan saksama selama beberapa menit. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius, garis rahangnya mengeras. Sebagai pria yang paham hukum bisnis, ia tahu betapa fatalnya tindakan yang dilakukan oleh suami Nisa.
"Ini sudah masuk ranah pidana murni, Nis. Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat. Ancamannya bisa sampai enam tahun penjara," ujar Farhan dengan nada tegas setelah mengembalikan ponsel Nisa. "Apalagi dana itu mengalir ke pihak ketiga—ibu dan adiknya—tanpa ada hubungan bisnis yang sah. Ini bisa ditarik ke arah pencucian uang atau penggelapan dalam keluarga. Pengacaraku bisa dengan mudah meratakan mereka di pengadilan jika kamu mau membawa kasus ini ke jalur hukum."
Nisa menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah senyuman misterius muncul di sudut bibirnya. "Tidak, Han. Belum saatnya. Jika aku melaporkannya sekarang, Arman akan langsung ditahan, pihak bank akan menyita rumah itu untuk dilelang demi menutupi utang, dan aku akan kehilangan segalanya termasuk tempat tinggal. Aku tidak mau keluar dari masalah ini sebagai seorang korban yang meratapi nasib."
Farhan menatap Nisa dengan rasa kagum yang samar. "Lalu, apa rencanamu, Nis?"
"Aku akan memakai topeng kepatuhan, Han. Aku akan berpura-pura menjadi istri yang bodoh, yang memaafkannya dan bersedia membantu mencicil utang itu," jawab Nisa, suaranya terdengar sedingin es. "Aku ingin dia merasa aman. Aku ingin keluarganya mengira bahwa mereka telah berhasil menginjak-injakku. Sementara itu, aku akan mengambil pekerjaan yang kamu tawarkan. Aku akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya di rekening rahasia, memindahkan semua aset berharga yang tersisa dari rumah itu, dan di saat pernikahan adiknya selesai... di saat mereka berada di puncak kebahagiaan paling tinggi... aku akan menjatuhkan mereka ke dalam jurang yang paling dalam."
Farhan terdiam sebentar, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut wanita di hadapannya. Ia bisa merasakan tekad yang luar biasa besar dari dalam diri Nisa. Luka yang dialami wanita ini telah mengubahnya dari seorang gadis yang lembut menjadi seorang perancang strategi yang dingin.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu, aku akan mendukungmu penuh, Nis," ucap Farhan akhirnya. "Soal pekerjaan di tempatku, kamu bisa mulai kapan saja kamu siap. Kontrak kerjanya akan kukirimkan lewat email malam ini. Gaji pertamamu bisa kuatur untuk dibayarkan di muka sebagai dana daruratmu. Dan soal pengacara, aku akan mengenalkanmu pada seorang rekan bernama Baskara. Dia sangat ahli dalam hukum perceraian dan sengketa aset, dan yang paling penting, dia bisa menjaga rahasia ini dengan sangat rapat."
"Terima kasih, Farhan. Kamu tidak tahu seberapa besar arti bantuanmu ini bagi hidupku sekarang," ucap Nisa dengan tulus, matanya sedikit berkaca-kaca karena akhirnya menemukan satu titik terang di tengah kegelapan.
Tepat saat Farhan hendak membalas ucapan Nisa, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah koridor luar. Pintu kamar VIP terbuka tanpa ketukan, dan Arman melangkah masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun dipaksakan tersenyum.
"Nisa, Sayang, maaf aku baru datang—" ucapan Arman mendadak terhenti begitu melihat ada seorang pria asing berpakaian necis sedang duduk di samping ranjang istrinya. Tatapan Arman langsung berubah menjadi penuh selidik dan tidak senang. "Loh, ada tamu? Siapa ini, Nis?"
Nisa dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Dalam sekejap, tatapan matanya yang dingin dan tajam tadi berubah menjadi sayu, mencerminkan sosok istri yang lemah dan penurut, persis seperti karakter yang biasa Arman lihat selama tiga tahun ini.
"Mas Arman, ini Farhan. Teman kuliahku dulu," ucap Nisa dengan nada suara yang lembut, sedikit serak buatan. "Farhan kebetulan sedang ada urusan di dekat sini dan mendengar dari teman kantor kalau aku sakit, jadi dia mampir sebentar untuk menjenguk."
Farhan berdiri dari kursinya, mengulurkan tangan dengan sopan ke arah Arman. "Farhan. Salam kenal, Pak Arman."
Arman menerima jabat tangan itu dengan enggan dan cengkeraman yang agak kaku, mencoba menunjukkan dominasinya sebagai suami. "Oh, teman kuliah. Ya, salam kenal. Saya Arman, suaminya Nisa. Terima kasih sudah repot-repot menjenguk, tapi istri saya ini butuh banyak istirahat karena tifusnya agak parah."
Sinyal pengusiran itu sangat jelas diucapkan oleh Arman. Farhan yang tahu diri hanya tersenyum maklum, lalu menoleh ke arah Nisa. "Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Nis. Semoga cepat sembuh. Jangan lupa cek emailmu nanti malam soal dokumen yang kita bicarakan tadi."
"Iya, Han. Terima kasih banyak ya," jawab Nisa dengan senyuman manis yang terlihat sangat alami.
Setelah Farhan keluar dari kamar dan menutup pintu, atmosfer di dalam ruangan langsung berubah menjadi tegang. Arman meletakkan tasnya di sofa dengan kasar, lalu berjalan mendekati ranjang Nisa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nis, sejak kapan kamu masih berhubungan dengan teman kuliah laki-lakimu itu? Pake acara jenguk ke kamar VIP segala. Nggak enak kalau dilihat orang atau Ibu kalau mampir ke sini lagi," cecar Arman dengan nada cemburu yang tak beralasan, mencoba mengalihkan rasa bersalahnya sendiri atas kejadian kemarin dengan mencari-cari kesalahan Nisa.
Nisa menunduk, memainkan ujung selimutnya dengan ekspresi wajah yang tampak sedih dan bersalah. "Maaf, Mas. Aku juga tidak tahu kalau Farhan mau datang. Dia cuma mampir sebentar karena merasa tidak enak mendengar aku sampai masuk rumah sakit. Dia juga tadi menawarkan pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan dari rumah untuk membantu keuangan kita."
Mendengar kata 'membantu keuangan kita', mata Arman langsung berbinar. Sifat serakahnya kembali mengambil alih logikanya.
"Pekerjaan sampingan apa? Gajinya besar tidak?" tanya Arman, nadanya langsung melunak, duduk di pinggiran ranjang Nisa dan mencoba meraih tangan istrinya yang bebas dari infus.
Nisa membiarkan tangannya digenggam oleh Arman, meski di dalam hati ia merasa sangat jijik hingga ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. "Hanya pembukuan data secara remote, Mas. Farhan bilang gajinya sekitar lima juta per bulan. Lumayan untuk menambah uang belanja atau... membantu membayar cicilan rumah kita nanti."
Nisa sengaja menyebutkan angka lima juta, bukan dua belas juta yang sebenarnya, agar ia memiliki selisih tujuh juta rupiah setiap bulan yang bisa ia alihkan secara diam-diam ke rekening rahasianya tanpa pernah dicurigai oleh Arman.
Arman tersenyum lebar, mengelus punggung tangan Nisa dengan penuh kasih sayang yang palsu. "Nah, begitu dong, Sayang. Itu baru namanya istri sholehah, istri yang tahu bagaimana cara berbakti dan membantu suami di saat sulit. Maafkan aku soal kejadian semalam dan tadi pagi ya, Nis. Aku membentakmu dan mengizinkan Ibu bicara kasar hanya karena aku sedang pusing memikirkan biaya pernikahan Dinda. Kamu tahu sendiri kan, aku ini anak laki-laki tertua, martabat keluarga besar kita taruhannya di depan calon mertua Dinda yang kaya raya itu."
Nisa menatap wajah Arman, merekam setiap kerutan kemunafikan di wajah pria itu. "Iya, Mas. Aku mengerti. Aku minta maaf karena kemarin sempat emosi dan egois. Aku hanya terkejut mendengar angka tujuh ratus juta itu. Tapi setelah dipikir-pikir di sini sendirian... Ibu benar. Harta istri adalah harta suami juga. Kalau untuk kebahagiaan Dinda dan nama baik keluarga, aku ikhlas, Mas."
Mendengar pengakuan Nisa yang begitu pasrah dan penurut, Arman merasa di atas angin. Ia merasa telah berhasil menaklukkan dan mencuci otak istrinya kembali menggunakan narasi kewajiban dan agama, seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa kata-kata ikhlas yang keluar dari mulut Nisa adalah racun penenang yang sengaja disuntikkan agar ia lengah.
"Terima kasih banyak, Nisa. Kamu memang istri terbaik yang pernah ada," ucap Arman dengan nada sangat lega. Pria itu kemudian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponselnya dengan gerakan yang sedikit ragu-ragu namun penuh harap. "Oh ya, Nis... bicara soal membantu keluarga... ada satu hal kecil lagi yang mau aku bicarakan."
Nisa menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura bingung. "Ada apa lagi, Mas?"
Arman berdehem, mencoba mengatur kata-katanya agar tidak memicu kemarahan Nisa kembali. "Begini... tadi siang pas aku nemenin Dinda fitting baju pengantin di butik ternama di daerah Jakarta Selatan, calon mertuanya tiba-tiba menelepon. Mereka bilang, mereka mau mengundang beberapa kolega penting dari kalangan pejabat daerah. Dinda jadi panik, Nis. Dia merasa dekorasi bunga di pelaminan yang sudah kita pesan kemarin kurang mewah dan kurang segar kalau untuk menyambut tamu-tamu VIP seperti itu. Dia mau di-upgrade pakai bunga impor semua."
Nisa menahan napasnya sebentar, menunggu kelanjutan kalimat suaminya yang sudah bisa ia tebak arahnya.
"Vendor dekorasinya minta tambahan biaya sekitar dua puluh lima juta rupiah lagi untuk urusan bunga itu, Nis," lanjut Arman dengan wajah yang dibuat memelas, menatap Nisa dengan pandangan memohon. "Uang dari pencairan bank kemarin... sisa tiga ratus lima puluh jutanya kan sudah aku masukkan ke deposito jangka pendek atas nama Ibu untuk dana cadangan setelah pernikahan nanti, jadi tidak bisa diganggu gugat sekarang. Tabungan pribadi kamu yang di rekening biasa... masih ada sisa sekitar tiga puluh juta kan, Nis? Bisa tidak kalau aku pinjam dua puluh lima jutanya dulu untuk melunasi biaya bunga Dinda? Nanti kalau aku sudah dapat bonus akhir tahun dari proyek kantor, pasti langsung aku ganti semuanya, janji."
Dua puluh lima juta rupiah. Dari uang tabungan pribadinya yang tersisa di rekening yang biasa ia gunakan untuk keperluan mendesak.
Arman benar-benar tidak menyisakan ruang bagi Nisa untuk bernapas. Pria itu ingin menguras setiap sen yang dimiliki Nisa hingga ia benar-benar tidak punya apa-apa lagi untuk melarikan diri.
Nisa terdiam selama beberapa detik, sengaja membuat Arman merasa cemas. Di dalam rahimnya, Nisa merasakan sebuah getaran halus, seolah-olah bayinya sedang berbisik untuk memintanya tetap tenang.
"Dua puluh lima juta ya, Mas?" tanya Nisa dengan nada beralasan, memperlihatkan gurat wajah yang tampak berpikir keras. "Uang di rekening itu sebenarnya untuk jaga-jaga kalau biaya rumah sakitku ini mahal atau kalau ada keperluan mendesak lainnya..."
"Biaya rumah sakit kan bisa pakai BPJS nanti pas pulang, Nis, tadi aku sudah tanya ke bagian administrasi di bawah," potong Arman dengan cepat, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang gratis dari istrinya. "Ayo dong, Nis, tolong bantu Dinda untuk terakhir kalinya saja. Minggu depan kan acaranya sudah selesai. Setelah itu, hidup kita akan kembali normal lagi, aku janji."
Nisa menatap mata Arman, melihat kegilaan akan gengsi yang sudah mendarah daging di dalam diri suaminya dan keluarganya. Ia tahu, jika ia menolak sekarang, Arman akan kembali curiga, suasananya akan memanas, dan rencana pelariannya bisa berantakan sebelum dimulai. Dua puluh jambu atau dua puluh lima juta rupiah adalah harga yang murah untuk membeli rasa aman dan kepercayaan mutlak dari Arman selama satu minggu ke depan.
"Baiklah, Mas," jawab Nisa akhirnya dengan helaan napas panjang yang dibuat-buat pasrah. "Besok pagi setelah aku diizinkan pulang oleh dokter, aku akan transfer uangnya ke rekening vendor dekorasi itu. Tapi tolong, Mas... pastikan ini yang terakhir. Jangan ada biaya tambahan lagi karena tabunganku sudah benar-benar habis."
Arman langsung bersorak kegirangan di dalam hati. Ia menarik Nisa ke dalam pelukannya, mendekap istrinya erat-erat. "Terima kasih, Nisa! Terima kasih banyak! Kamu memang malaikat penolong di keluarga kami. Aku berjanji akan menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu setelah semua urusan ini selesai."
Di dalam pelukan Arman, mata Nisa terbuka lebar, menatap dingin ke arah dinding kamar yang kosong. Tangannya yang berada di belakang punggung Arman tidak membalas pelukan itu. Jemarinya justru mengepal kuat hingga kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
Nikmatilah pelukan ini, Mas, batin Nisa, menahan rasa mual yang kembali merangsek naik ke kerongkongannya. Nikmatilah sisa-sisa uang yang kamu peras dariku. Karena setiap rupiah yang keluar dari rekeningku hari ini, akan berubah menjadi batu bata yang membangun dinding penjara untukmu dan keluargamu di masa depan.
Malam itu, setelah Arman tertidur lelap di atas sofa kamar VIP akibat kelelahan mengurusi persiapan pernikahan adiknya, Nisa tetap terjaga. Ia membuka laptopnya yang tadi sore sempat dibawakan oleh salah seorang rekan kerjanya yang mengantar tas pakaian dari rumah.
Di bawah temaram lampu tidur kamar rumah sakit, Nisa membuka email dari Farhan. Ia membaca setiap klausul kontrak kerja barunya dengan sangat teliti. Gajinya memang dua laras juta, dan di bagian bawah dokumen itu, tertera tanda tangan Farhan yang sah sebagai direktur utama perusahaan konsultan bisnis tersebut.
Nisa menandatangani dokumen digital itu dengan namanya yang asli. Kali ini, tanda tangan itu adalah tanda tangan yang sah, yang mewakili langkah awal dari kebebasannya.
Setelah selesai dengan urusan kontrak kerja, Nisa membuka sebuah aplikasi catatan rahasia di ponselnya. Ia mulai menyusun sebuah daftar—sebuah daftar inventarisasi dari semua barang berharga yang ada di dalam rumah mereka di Griya Asri. Mulai dari perhiasan emas mas kawinnya yang ia simpan di dalam laci lemari baju, televisi, kulkas, hingga dokumen-dokumen penting seperti akta kelahiran dan kartu keluarga asli.
Ia harus memindahkan semua barang-barang itu secara bertahap selama Arman dan keluarganya sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Dinda yang akan digelar dalam waktu enam hari lagi. Rumah di Griya Asri mungkin akan disita oleh bank karena utang tujuh ratus juta yang dibuat Arman, tetapi Nisa akan memastikan bahwa saat pihak bank datang untuk memasang papan penyitaan, rumah itu sudah dalam keadaan kosong melompong, tidak menyisakan satu pun barang berharga milik Arman yang bisa diselamatkan.
Nisa kemudian mengelus perutnya kembali, merasakan kehangatan kecil yang menjalar di sana.
"Tunggu sebentar lagi ya, Sayang," bisik Nisa di tengah keheningan malam, menatap punggung Arman yang mendengkur halus di atas sofa. "Ibu akan membawa kita keluar dari tempat terkutuk ini. Kita akan punya rumah baru yang jauh lebih indah, rumah yang dibangun dari hasil kerja keras yang jujur, bukan dari hasil mencuri hak orang lain."
Perang batin di dalam diri Nisa telah usai. Rasa takut, ragu, dan cinta yang pernah ia miliki untuk Arman kini telah menguap tanpa bekas, digantikan oleh sebuah rencana pembalasan yang terstruktur dengan sangat rapi di balik sebuah topeng kepatuhan yang sempurna.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar