Jarum jam dinding di ruang administrasi PT Dakota Logistik sudah melewati angka sembilan malam. Angka digital di sudut kanan bawah monitor komputer Nisa menunjukkan pukul 21.15 WIB. Hawa dingin dari pendingin ruangan pusat yang sudah dimatikan sejak pukul tujuh malam tadi kini digantikan oleh udara gerah yang mulai merayap dari sudut-sudut plafon. Hanya ada satu bilik kubikel yang lampunya masih menyala terang di lantai dua gedung tua itu. Bilik nomor empat, tempat Annisa Fitriani mengadu nasibnya setiap hari.
Nisa melepas kacamata berbingkai hitamnya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa linu. Matanya terasa panas, memerah karena terlalu lama menatap baris-baris angka di layar Microsoft Excel. Di depannya, sebuah kalkulator dagang berukuran besar masih menampilkan angka Rp2.450.000—jumlah total upah tambahan yang berhasil ia kumpulkan bulan ini dari pekerjaan sampingannya sebagai pembukuan lepas sebuah toko grosir pakaian di Tanah Abang.
Bagi sebagian orang di kantornya, uang dua juta rupiah mungkin hanya setara dengan sekali makan malam mewah di restoran pemandangan kota atau sepasang sepatu bermerek di mal. Namun bagi Nisa, setiap lembar rupiah yang masuk ke dalam dompetnya adalah tumpukan keringat, waktu tidur yang terpangkas, dan rasa lapar yang sengaja ditahan.
Nisa mengembuskan napas panjang. Dipandanginya stoples plastik berisi sisa biskuit regal yang sudah melempem di dekat papan tik. Sejak jam makan siang pukul dua belas tadi, perutnya baru diisi oleh sepotong roti seribuan dan segelas air putih hangat dari dispenser kantor. Kerongkongannya terasa kering, sementara lambungnya mulai mengeluarkan sensasi perih yang familier. Namun, rasa perih itu segera ia halau dengan sebuah senyuman tipis saat tatapannya beralih pada sebuah foto kecil yang terselip di bawah tatakan monitor.
Foto sebuah rumah mungil dengan halaman yang belum rumputnya belum tumbuh sempurna. Rumah tipe 36 di ujung gang Perumahan Griya Asri, kawasan Cilebut. Di depan pagar rumah itu, Nisa dan Arman berdiri berdampingan sambil memegang sebuah papan kayu kecil bertuliskan: Alhamdulillah, Sold Out.
Foto itu diambil tepat dua tahun lalu, saat akad kredit KPR mereka disetujui oleh bank pemerintah. Nisa ingat betul bagaimana gemetar jemarinya saat menandatangani tumpukan berkas setebal kamus itu. Ia ingat bagaimana air matanya menetes di atas meja notaris, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang membuncah. Rumah itu adalah bukti nyata dari segala pengorbanan yang ia lakukan sejak hari pertama menyandang status sebagai istri Arman Maulana.
Tiga tahun lalu, saat Arman mengajaknya menikah, pria itu hanya bermodalkan keberanian dan sebuah cincin emas seberat dua gram yang dibeli dari hasil meminjam uang temannya. Arman hanya seorang staf operasional biasa di sebuah perusahaan distribusi semen dengan gaji yang pas-pasan. Orang-orang di sekitar Nisa sempat mencibir pilihannya. Ibunya Arman, Bu Ratna, bahkan terang-terangan mengatakan di depan keluarga besar saat acara lamaran bahwa Nisa beruntung bisa mendapatkan anaknya yang berwajah tampan dan berpendidikan sarjana, sementara Nisa hanyalah lulusan diploma tiga dari kampus swasta pinggiran.
Namun, Nisa tidak peduli dengan cibiran itu. Bagi Nisa, pernikahan adalah tentang berjuang bersama dari bawah.
Demi mewujudkan mimpi memiliki tempat bernaung yang layak, Nisa rela melupakan apa itu artinya kesenangan masa muda. Ketika teman-teman sebayanya sibuk berburu tiket konser atau mengunggah foto liburan di Bali, Nisa justru sudah berdiri di peron Stasiun Bojonggede sejak pukul lima pagi. Ia harus berebut tempat, berdesakan, bahkan sering kali terhimpit di antara ratusan penumpang KRL lainnya demi mengejar kereta pertama menuju Jakarta.
Setiap bulan, dari gaji pokoknya yang tak seberapa ditambah hasil lembur malam yang melelahkan, Nisa menyisihkan hampir delapan puluh persennya untuk dimasukkan ke dalam rekening khusus yang ia namakan "Mimpi Kita". Arman hanya menyumbang seadanya—biasanya berkisar antara lima ratus ribu hingga satu juta rupiah—dengan alasan sisa gajinya harus digunakan untuk ongkos motor, uang rokok, dan membantu biaya kuliah adik perempuannya, Dinda. Nisa tidak pernah mempermasalahkannya. Ia maklum. Sebagai anak laki-laki tertua, Arman tentu memiliki tanggung jawab moral pada keluarganya. Nisa selalu menanamkan pikiran positif dalam hatinya bahwa suatu saat nanti, kerja keras mereka akan membuahkan hasil yang manis.
Dan hasil itu adalah rumah di Griya Asri. Rumah yang uang mukanya murni berasal dari hasil Nisa menjual seluruh perhiasan emas peninggalan almarhumah ibunya, ditambah tabungan "Mimpi Kita" yang dikumpulkannya selama dua tahun berturut-turut tanpa putus.
Nisa meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja kerja. Layar gawai itu sudah retak di bagian sudut bawah, memperlihatkan garis-garis tipis seperti sarang laba-laba. Ia membuka aplikasi pesan singkat, menatap ruang obrolannya dengan Arman. Pesan terakhir yang ia kirimkan pukul tujuh malam tadi masih menyisakan tanda centang dua berwarna abu-abu.
“Mas, aku lembur lagi malam ini. Mungkin pulang naik kereta jam 10. Kamu sudah makan?”
Belum ada balasan. Nisa memaklumi. Mungkin Arman sedang sibuk membantu persiapan acara lamaran Dinda yang akan digelar akhir pekan ini. Akhir-akhir ini, seluruh perhatian keluarga besar Arman memang sedang tercurah sepenuhnya pada Dinda. Adik iparnya itu beruntung mendapatkan calon suami seorang anak pengusaha pabrik tahu di kampung sebelah, dan Bu Ratna ingin memastikan bahwa acara lamaran hingga pernikahan putrinya nanti harus terlihat semegah mungkin agar tidak memalukan di depan besan kaya.
Nisa baru saja hendak mematikan layar ponselnya ketika benda pipih itu tiba-tiba bergetar kuat di telapak tangannya. Sebuah panggilan masuk.
Layar ponsel menampilkan deretan angka asing dengan kode area Jakarta di depannya. 021-5099xxxx.
Nisa mengerutkan kening. Pukul sembilan lewat lima belas malam. Siapa yang menelepon dari nomor kantor di jam seperti ini? Apakah ada klien logistik yang barangnya tertahan di gudang pelabuhan? Ataukah ini panggilan dari pemilik toko grosir Tanah Abang yang ingin menanyakan laporan keuangan bulanan?
Nisa menarik tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga kanannya.
"Halo, selamat malam," ucap Nisa dengan nada suara yang berusaha ia buat seprofesional mungkin, meski rasa lelah yang amat sangat terdengar jelas dari serak suaranya.
"Selamat malam. Betul ini dengan Ibu Annisa Fitriani?" Suara di seberang sana adalah suara seorang pria. Nadanya bariton, terdengar sangat formal, dingin, dan tertata rapi. Tipikal suara petugas layanan pelanggan atau staf operasional perbankan yang sudah terlatih.
"Iya, betul. Saya sendiri. Ini dari siapa, ya? Dan ada keperluan apa malam-malam begini?" Nisa menggeser posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi kerja yang bantalannya sudah mulai mengempis.
"Perkenalkan, Ibu Nisa. Saya Dimas, perwakilan dari Bagian Collection and Recovery Kantor Pusat Bank Bina Sejahtera. Mohon maaf sebelumnya jika kami mengganggu waktu istirahat Ibu di jam malam seperti ini."
Nisa terdiam sejenak. Ia memutar memori di otaknya, mencoba mengingat-ingat apakah ia memiliki keterkaitan dengan nama bank tersebut. Bank Bina Sejahtera. Setahu Nisa, ia hanya memiliki dua rekening bank resmi. Satu bank swasta tempat perusahaannya mengirimkan gaji bulanan, dan satu lagi bank milik pemerintah tempat ia menyetorkan cicilan KPR rumah Griya Asri setiap tanggal sepuluh. Ia tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki atau membuka akun di Bank Bina Sejahtera.
Nisa menarik napas pendek, mengira ini hanyalah panggilan promosi penawaran kartu kredit atau jaminan asuransi kesehatan yang kerap mengganggu waktu luangnya.
"Oh, maaf Pak Dimas. Sepertinya Bapak salah sambung," ujar Nisa sembari bersiap menjauhkan ponsel dari telinganya. "Saya tidak pernah punya rekening atau urusan apa pun di Bank Bina Sejahtera. Kalau ini soal penawaran kartu kredit atau pinjaman online, maaf sekali, saya sedang tidak tertarik dan tidak butuh."
"Mohon maaf, Ibu Nisa. Kami tidak sedang menawarkan produk kartu kredit atau fasilitas pinjaman baru," potong pria bernama Dimas itu dengan cepat. Nadanya tetap tenang, namun ada sejenis ketegasan yang mendadak membuat bulu kuduk Nisa meremang. "Kami menghubungi Ibu selaku pihak penjamin sekaligus istri sah dari Bapak Arman Maulana. Panggilan ini bersifat resmi dan penting terkait dengan keterlambatan pembayaran kewajiban pinjaman multiguna yang sudah melewati batas jatuh tempo selama lima belas hari kerja."
Ketukan jemari Nisa pada meja kayu mendadak berhenti. Udara gerah di dalam ruang kantor itu seolah-olah lenyap seketika, berganti dengan hawa sedingin es yang menusuk kulit ari hingga ke tulang-tulangnya.
"Pinjaman? Pinjaman apa maksudnya, Pak?" Nisa mengulang kalimat itu dengan nada sangsi. "Suami saya tidak pernah mengambil pinjaman apa pun di bank Anda. Kami berdua sangat menjaga riwayat keuangan kami. Cicilan rumah kami saja ada di bank lain dan statusnya selalu lancar tanpa pernah menunggak sehari pun."
"Betul, Ibu Nisa. Sebelumnya fasilitas KPR rumah Ibu memang tercatat di bank lain," sahut Dimas di seberang sana. Suara gesekan kertas atau ketukan papan tik terdengar samar-samar mendampingi penjelasannya. "Namun, berdasarkan data dokumen yang ada pada kami, tepat pada tanggal lima belas bulan lalu, telah dilakukan proses pelunasan dipercepat atas sisa KPR Ibu di bank sebelumnya melalui mekanisme take over kredit. Agunan berupa Sertifikat Hak Milik nomor 4552 atas nama Annisa Fitriani telah dialihkan dan kini resmi berada di bawah penguasaan Bank Bina Sejahtera selaku jaminan atas pinjaman baru yang diajukan oleh Bapak Arman Maulana."
Nisa merasa dadanya seperti dihantam oleh sebongkah batu besar. Oksigen di sekitarnya seakan lenyap dalam sekejap. Ia mencengkeram pinggiran meja kerja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Pak... Pak Dimas, Anda ini bicara apa?" Suara Nisa mulai goyah, tidak lagi terdengar tegas seperti di awal. "Jangan sembarangan bicara, ya! Rumah itu beralamat di Perumahan Griya Asri Blok D Nomor 14. Itu rumah saya! Saya yang mencicilnya setiap bulan dari hasil kerja keras saya! Bagaimana mungkin sertifikatnya bisa pindah ke bank Anda tanpa persetujuan saya? Saya ini pemilik sahnya!"
"Kami memahami kepanikan Ibu Nisa," jawab Dimas, suaranya tetap sedatar air di dalam baskom, seolah sudah sangat terbiasa menghadapi penolakan dan histeria dari para nasabah yang menunggak. "Namun perlu kami tegaskan kembali, proses pengajuan kredit ini telah memenuhi seluruh aspek legalitas perbankan yang berlaku. Bapak Arman Maulana datang langsung ke kantor cabang kami dengan membawa seluruh dokumen asli, termasuk Sertifikat Hak Milik asli, buku nikah, Kartu Keluarga, serta dokumen persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh Ibu sendiri di atas materai."
"Bohong! Itu pasti penipuan!" Nisa berteriak kecil, suaranya melengking di tengah kesunyian ruang kantor yang kosong. Air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk matanya kini mulai merebak, mengaburkan pandangannya ke arah monitor. "Saya tidak pernah menandatangani surat apa pun! Saya tidak pernah memberikan izin kepada suami saya untuk menggadaikan rumah itu! Selama sebulan ini saya tetap membayar cicilan KPR ke rekening bank lama saya seperti biasa!"
"Uang cicilan yang Ibu setorkan ke rekening bank lama Ibu otomatis tertolak atau masuk ke rekening penampungan karena status KPR di sana sudah ditutup dan dilunasi, Ibu Nisa. Anda bisa mengecek mutasi rekening Anda sendiri untuk memastikannya," jelas Dimas dengan sabar namun menusuk. "Dana pinjaman multiguna yang baru ini telah dicairkan secara penuh ke rekening atas nama Bapak Arman Maulana tepat tiga hari setelah seluruh berkas dinyatakan lengkap."
Perut Nisa mendadak melilit hebat. Rasa mual yang teramat sangat naik dari hulu hatinya, menyumbat tenggorokannya hingga ia harus menutup mulut dengan telapak tangan kirinya yang terasa dingin seperti mayat. Seluruh persendian di tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya baru saja dihisap habis oleh kekuatan gaib.
"Berapa..." Nisa berbisik parau, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang pucat. "Berapa banyak uang yang diambil oleh suami saya?"
Hening sejenak di seberang telepon. Hanya terdengar suara helaan napas berat dari pria bernama Dimas tersebut sebelum ia menjawab, "Total plafon kredit yang dicairkan kepada Bapak Arman Maulana adalah sebesar tujuh ratus juta rupiah, Ibu Nisa. Dengan tenor pengembalian selama enam puluh bulan. Dan untuk bulan ini, tagihan bunga berjalan beserta denda keterlambatan yang harus segera diselesaikan adalah sebesar dua belas juta lima ratus ribu rupiah. Jika dalam waktu dua hari kerja ke depan belum ada iktikad baik untuk penyelesaian, pihak kami terpaksa akan menerbitkan Surat Peringatan Pertama dan menugaskan tim penagih lapangan untuk mendatangi alamat agunan."
Tujuh ratus juta rupiah.
Angka itu menghantam kesadaran Nisa laksana petir di siang bolong. Kepalanya berdentang keras, menciptakan dengungan panjang yang membuat semua benda di sekitarnya seolah bergerak berputar. Tujuh ratus juta rupiah adalah jumlah uang yang teramat besar bagi seorang perempuan yang harus menghitung setiap keping uang logam demi bisa bertahan hidup di ibu kota. Dengan uang sebanyak itu, seseorang bisa membeli dua buah rumah baru di perumahan yang ia tinggali sekarang.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Arman tega melakukan ini semua di belakangnya? Dari mana Arman mendapatkan sertifikat asli rumah itu?
Nisa memejamkan mata erat-erat, mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan dalam beberapa minggu terakhir. Dua minggu lalu, Arman sempat meminta kunci lemari kecil di kamar mereka dengan alasan ingin mencari berkas ijazah SMA-nya yang diperlukan untuk keperluan pemutakhiran data karyawan di kantornya. Lemari itu adalah tempat di mana Nisa menyimpan seluruh dokumen penting, termasuk salinan akta jual beli dan surat keterangan KPR dari bank lama. Nisa yang saat itu sedang terburu-buru berangkat kerja tanpa curiga sedikit pun langsung memberikan kunci tersebut.
“Ya Tuhan... Mas Arman...” batin Nisa menjerit, meratapi kepolosannya yang berujung pada bencana besar ini.
"Ibu Nisa? Apakah Ibu masih terhubung dengan kami?" Suara Dimas memecah keheningan yang mencekam itu.
Nisa menghapus air matanya dengan gerakan kasar menggunakan punggung tangan. Ia harus melihatnya sendiri. Ia tidak boleh langsung mempercayai ucapan orang asing di telepon, meskipun logika kecil di dalam kepalanya sudah menjerit bahwa ini semua adalah kenyataan yang pahit.
"Pak Dimas..." Suara Nisa gemetar, tercekat di tenggorokan. "Saya... saya benar-benar tidak tahu soal ini. Tolong... tolong kirimkan bukti-buktinya kepada saya. Saya butuh melihat dokumen yang Anda maksud. Kirimkan ke email saya sekarang juga."
"Baik, Ibu Nisa. Sesuai dengan hak transparansi nasabah, kami bisa mengirimkan salinan digital dari dokumen Perjanjian Kredit beserta lembar rincian pencairan dana ke alamat email utama yang terdaftar dalam sistem data kami. Apakah alamat email Ibu adalah annisafitri.adm@gmail.com?"
Nisa menelan ludah, kerongkongannya terasa seperti dilapisi pasir kering. "Iya... iya, betul. Itu email saya. Tolong kirimkan sekarang juga, Pak. Saya mohon."
"Sudah saya instruksikan ke sistem, Ibu. Dokumen dalam bentuk format PDF akan masuk ke kotak masuk email Anda dalam waktu kurang dari lima menit dari sekarang. Kami sangat menyarankan agar Ibu segera berdiskusi dengan Bapak Arman Maulana untuk menyelesaikan kewajiban ini sebelum berdampak pada status kolektibilitas kredit Anda berdua di Bank Indonesia. Selamat malam, Ibu Nisa."
Sambungan telepon terputus. Suara tut... tut... tut... yang monoton terdengar dari speaker ponsel, terasa seperti suara mesin penghitung mundur bom waktu yang siap meledakkan seluruh sisa hidup Nisa.
Nisa menurunkan ponselnya dari telinga dengan tangan yang gemetar hebat. Gawai itu nyaris terlepas dari genggaman jemarinya yang mendadak kehilangan daya cengkeram. Ia meletakkan benda itu di atas meja, lalu menumpukan kedua sikunya di atas permukaan kayu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya kini pecah memenuhi ruang kantor yang sunyi. Bahunya terguncang hebat.
Tiga tahun pengorbanan. Tiga tahun hidup prihatin. Tiga tahun menahan lapar dan lelah. Semuanya terasa menguap begitu saja menjadi abu yang tak berharga.
Nisa teringat bagaimana ia harus menahan malu ketika teman-teman kantornya membicarakan pakaiannya yang itu-itu saja setiap minggu. Ia teringat bagaimana perih kakinya karena harus berjalan kaki sejauh satu kilometer dari stasiun ke kantor demi menghemat ongkos ojek daring sebesar sepuluh ribu rupiah. Segala rasa sakit itu ia tanggung dengan sukarela, demi satu tujuan: memiliki rumah yang aman, rumah tempat ia dan Arman bisa menua bersama dengan tenang tanpa perlu takut diusir oleh pemilik kontrakan.
Namun sekarang, istana kecil yang ia bangun dengan tetesan darah dan air mata itu telah digadaikan oleh suaminya sendiri. Tujuh ratus juta rupiah. Uang sebanyak itu digunakan untuk apa oleh Arman? Mengapa suaminya tidak pernah berdiskusi sedikit pun dengannya? Apakah Arman terlibat judi online? Ataukah Arman memiliki wanita lain di luar sana yang membutuhkan biaya hidup mewah?
Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk di dalam kepala Nisa, saling berbenturan menciptakan rasa sakit yang luar biasa di pelipisnya.
Sebuah getaran pendek kembali terasa dari ponselnya, memutus aliran spekulasi liar di otaknya. Notifikasi email baru muncul di bagian atas layar.
Pesan Baru dari: Bank Bina Sejahtera - Loan Administration
Perihal: Salinan Dokumen Perjanjian Kredit Multiguna No. Ref: PK-77412/BBS/2026
Nisa menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di dasar hatinya. Dengan jemari yang masih basah oleh air mata, ia membuka pesan tersebut. Di dalam badan email yang berisi kalimat formal standar perbankan, terlampir sebuah file digital berukuran cukup besar dengan nama: PK_ARMAN_MAULANA_ANNISA.pdf.
Nisa mengetuk ikon unduh. Lingkaran pemuatan berputar di tengah layar ponselnya. Setiap persentase angka unduhan yang bergerak naik terasa seperti pisau yang mengiris jantung Nisa perlahan-lahan.
10%... 45%... 80%... Selesai.
File itu terbuka secara otomatis.
Halaman pertama dokumen tersebut menampilkan logo resmi Bank Bina Sejahtera dengan cetakan tebal di bagian atas: SURAT PERJANJIAN KREDIT MULTIGUNA.
Mata Nisa langsung tertuju pada kolom identitas para pihak. Di sana tertulis dengan sangat jelas:
Pihak Pertama (Debitur):
Nama: Arman Maulana
Pekerjaan: Staf Operasional PT Semen Sentosa
Alamat: Perumahan Griya Asri Blok D Nomor 14, Cilebut.
Pihak Kedua (Penjamin/Istri):
Nama: Annisa Fitriani
Pekerjaan: Karyawan Swasta (PT Dakota Logistik)
Nisa terus menggeser layar ponselnya ke bawah dengan gerakan cepat, melewati lembaran-lembaran pasal baku mengenai hak dan kewajiban, suku bunga bunga flat, serta sangsi-sangsi hukum jika terjadi gagal bayar. Ia meleompati lembar rincian pencairan dana yang menunjukkan bahwa uang sebesar tujuh ratus juta rupiah itu telah ditransfer secara utuh ke rekening pribadi Arman di Bank Mandiri pada tanggal dua puluh bulan lalu.
Hingga akhirnya, jemari Nisa berhenti bergerak saat layar menampilkan halaman paling akhir dari dokumen tersebut. Halaman pengesahan dan tanda tangan.
Di sana, di atas sebuah materai sepuluh ribu rupiah yang sah, tertera sebuah tanda tangan dengan guratan tinta hitam yang sangat familier bagi Nisa. Tarikan garisnya tegas, melengkung membentuk huruf 'A' besar di bagian awal dan diakhiri dengan garis horizontal tajam di bagian bawah.
Itu adalah tanda tangan Arman. Tanda tangan asli suaminya, tanpa ada keraguan sedikit pun. Nisa sudah melihat tanda tangan itu ratusan kali—di buku nikah mereka, di berkas kartu keluarga, hingga di surat cinta yang dulu sering Arman selipkan di dalam tasnya saat mereka masih berpacaran.
Namun, kejutan sesungguhnya berada tepat di sebelah kolom tanda tangan Arman.
Sebuah kolom kecil dengan tulisan cetak di bawahnya:
Mengetahui dan Menyetujui,
Istri Debitur
[ TANDA TANGAN ]
Annisa Fitriani
Nisa menatap kolom itu dengan mata yang terbelalak lebar. Di atas namanya, terdapat sebuah coretan tanda tangan yang sepintas terlihat mirip dengan guratan tangannya. Namun sebagai seorang yang bekerja di bagian administrasi dan pembukuan selama bertahun-tahun, Nisa tahu persis detail sekecil apa pun dari bentuk tanda tangannya sendiri.
Coretan di dokumen itu terlalu kaku. Lengkungan di huruf 'N' nya terlalu membulat, dan garis penutupnya tidak memiliki tekanan yang kuat seperti karakteristik tanda tangan asli miliknya. Tanda tangan itu palsu. Seseorang telah dengan sengaja meniru dan memalsukan tanda tangannya di atas materai untuk mengelabui pihak bank agar pinjaman ratusan juta itu bisa dicairkan.
Nisa membekap mulutnya sendiri. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi permukaan layar ponselnya hingga deretan huruf di atas dokumen digital itu tampak membias dan kabur.
Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di dadanya, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga hancur berkeping-keping. Pengkhianatan ini terasa begitu sempurna, begitu rapi, dan dilakukan oleh orang yang paling ia percayai di dunia ini.
Suaminya sendiri. Pria yang setiap pagi ia siapkan sarapannya, pria yang pakaian kotornya ia cuci setiap akhir pekan, pria yang selalu ia sebut namanya di dalam setiap sujud doa malamnya. Pria itu telah menjual masa depan mereka, menjual satu-satunya aset berharga yang mereka miliki, dan memalsukan identitas istrinya demi uang tujuh ratus juta rupiah.
Nisa mematikan layar ponselnya dengan kasar. Ia tidak sanggup lagi melihat dokumen terkutuk itu. Di dalam ruang kantor yang remang-remang, ia berdiri dari kursi kerjanya. Tubuhnya bergoyang sedikit, limbung karena rasa pusing yang mendadak menyerang kepalanya. Ia meraih tas jinjing kainnya dari atas meja, memasukkan ponsel dan dompetnya dengan gerakan acak tanpa memedulikan kerapian.
Ia harus pulang sekarang juga. Ia tidak peduli jika malam ini ia harus kehabisan jadwal kereta terakhir atau harus membayar ongkos taksi mahal yang akan menguras sisa uang di dompetnya. Ia harus berdiri di depan Arman Maulana malam ini. Ia butuh menatap langsung mata pria itu dan menuntut jawaban atas kegilaan yang telah menghancurkan seluruh hidupnya ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar