Matahari bersinar terik menyengat ubun-ubun, namun Nisa merasakan hawa dingin yang luar biasa merayap di sekujur tubuhnya.

Ia berdiri mematung di depan sebuah rumah satu lantai yang halamannya dipenuhi oleh tenda terpal berwarna biru. Sebuah rumah bergaya lawas dengan cat hijau pupus di kawasan perkampungan padat penduduk di pinggiran Depok. Itu adalah rumah Bu Ratna, ibu mertuanya. Tempat di mana suaminya dibesarkan. Tempat yang selama tiga tahun terakhir selalu ia kunjungi setiap bulan di akhir pekan dengan membawa buah tangan berupa martabak manis kesukaan mertuanya atau parsel buah-buahan segar.

Namun hari ini, Nisa datang dengan tangan kosong. Jangankan memikirkan buah tangan, untuk sekadar menyisir rambutnya dengan rapi saja ia sudah tidak memiliki tenaga.

Semalaman penuh Nisa tidak memejamkan mata. Setelah pertengkarannya dengan Arman, pria itu memilih pergi dari rumah, membanting pintu dengan keras dan memacu sepeda motornya menembus malam, meninggalkan Nisa sendirian di ruang tamu bersama serpihan hatinya yang hancur berkeping-keping. Nisa menangis hingga suaranya habis. Ia meringkuk di atas karpet, memeluk lututnya sendiri, meratapi nasib rumah tangganya yang berada di ujung tanduk, serta ancaman utang ratusan juta yang kini melilit lehernya.

Pagi harinya, ia menelepon manajer di kantornya. Dengan suara serak dan napas yang berat, Nisa meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Dan ia memang merasa sedang sakit. Tubuhnya demam, kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya terasa mual. Sebuah mual yang aneh, yang ia anggap sebagai efek dari asam lambungnya yang naik akibat stres berat dan perut yang belum terisi makanan sejak kemarin siang.

Nisa mengambil napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Di sinilah ia sekarang. Berdiri di depan rumah mertuanya, menelan harga dirinya bulat-bulat.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Nisa masih menyimpan secercah harapan. Ia berharap bahwa Bu Ratna, sebagai sesama perempuan, sebagai seorang ibu yang pernah membangun rumah tangga dari nol, akan memiliki simpati padanya. Ia berharap Bu Ratna akan marah besar mendengar kelakuan putra sulungnya. Nisa berharap Bu Ratna akan memanggil Arman, menjewer telinganya, dan memerintahkan pria itu untuk segera mengembalikan uang bank dan menebus kembali sertifikat rumah mereka.

Seburuk-buruknya perlakuan Bu Ratna kepadanya selama ini—mulai dari sindiran soal gajinya, hinaan soal latar belakang pendidikannya, hingga cibiran karena ia belum juga memberikan cucu—Nisa tetap percaya bahwa tidak ada ibu yang akan membenarkan tindakan kriminal yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Memalsukan tanda tangan istri dan menggadaikan rumah diam-diam adalah sebuah kejahatan, dan Nisa yakin Bu Ratna akan berdiri di pihak kebenaran.

Dengan langkah gontai, Nisa mendorong pagar besi setinggi pinggang itu.

Suasana di halaman depan rumah Bu Ratna tampak sangat sibuk. Beberapa orang pria dewasa sedang memasang kerangka besi tambahan untuk tenda hajatan. Sementara di teras rumah yang cukup luas, terlihat kesibukan yang jauh lebih meriah.

Empat orang perempuan paruh baya sedang duduk melingkar di atas tikar pandan. Mereka adalah Bude Tari, Tante Asri, dan dua orang kerabat jauh lainnya. Tangan mereka sibuk memasukkan ratusan undangan pernikahan ke dalam plastik bening. Undangan itu bukan sembarang undangan. Sampulnya terbuat dari kertas beludru berwarna merah marun dengan tulisan tinta emas yang timbul, dilengkapi dengan pita satin kecil di bagian tengahnya. Sangat mewah. Sangat mahal. Sebuah undangan yang harganya mungkin setara dengan jatah makan Nisa selama tiga hari untuk satu lembarnya.

Selain undangan, terdapat tumpukan kotak suvenir yang sedang disusun. Kotak-kotak itu berisi set teko dan cangkir keramik berukir yang harganya jelas tidak murah.

Melihat semua kemewahan yang berserakan di teras itu, dada Nisa kembali terasa sesak. Ingatannya langsung tertuju pada deretan angka tujuh ratus juta di dokumen bank. Inilah wujud dari uang itu. Uang hasil menggadaikan rumahnya. Uang hasil mengorbankan masa depannya. Berubah wujud menjadi tumpukan kertas beludru dan keramik pecah belah untuk dibagikan kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah menyumbang satu sen pun saat Nisa kelaparan.

"Loh, itu kan Nisa?"

Suara melengking Bude Tari, kakak perempuan tertua Bu Ratna, memecah kesibukan di teras. Wanita bertubuh subur dengan banyak perhiasan emas di pergelangan tangannya itu menatap Nisa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya sarat akan penilaian.

Semua mata di teras kini tertuju padanya. Nisa mencoba memaksakan sebuah senyuman kecil, mengangguk sopan ke arah para kerabat suaminya itu.

"Assalamualaikum, Bude... Tante..." sapa Nisa dengan suara pelan.

"Waalaikumsalam," jawab mereka hampir serempak, namun dengan nada yang jauh dari kata ramah.

Bude Tari meletakkan setumpuk undangan yang sudah diplastikkan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Tumben kamu ke sini jam segini, Nis? Bukannya biasanya kamu jam segini lagi sibuk mantengin layar komputer di kantor? Kok tangannya kosong? Kirain mampir ke sini mau bawa kue atau martabak buat yang lagi pada capek bantuin persiapan nikahannya Dinda."

Sindiran itu meluncur begitu mulus. Tepat sasaran.

Nisa menelan ludah, menahan rasa perih yang mulai menjalar. Ia melepas sepatu pantofel hitamnya yang sudah mulai mengelupas di bagian ujungnya, lalu melangkah naik ke teras.

"Maaf, Bude. Nisa lagi kurang enak badan, jadi izin nggak masuk kerja hari ini. Nisa juga buru-buru ke sini, jadi nggak sempat mampir beli apa-apa," jawab Nisa, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang. Ia menatap ke arah pintu utama rumah yang terbuka lebar. "Ibu ada di dalam, Bude?"

Tante Asri, yang duduk di sebelah Bude Tari, mencibir pelan. "Ada tuh di dalam, lagi milihin seragam kebaya buat keluarga inti. Kamu ini gimana sih, Nis? Iparnya minggu depan mau nikah, malah izin sakit. Harusnya kamu tuh ambil cuti dari kemarin-kemarin buat bantuin Ibu di sini. Ini malah kita-kita yang tua yang repot ngurusin printilan. Kamu datang cuma mau numpang makan siang, ya?"

Beberapa wanita di sana tertawa kecil, menyetujui ucapan Tante Asri.

Telinga Nisa terasa panas. Hinaan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya setiap kali berkumpul dengan keluarga besar Arman. Biasanya ia akan diam, menunduk, lalu bergegas mencari pekerjaan di dapur seperti mencuci piring kotor atau memotong sayuran agar tidak terus-terusan diserang. Ia selalu memilih mengalah demi menjaga nama baik Arman.

Namun hari ini berbeda. Ia tidak datang ke sini untuk menjadi babu yang patuh. Ia datang untuk menuntut keadilan.

Nisa mengabaikan tawa merendahkan dari para kerabat suaminya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah masuk melewati ruang tamu yang dipenuhi tumpukan kardus katering, menuju ruang keluarga di bagian tengah rumah.

Di sana, Bu Ratna sedang duduk di atas sofa panjang. Wanita berusia enam puluh tahunan itu terlihat sibuk membolak-balik lembaran kain brokat berbagai warna dengan wajah semringah. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. Sesekali ia bergumam sendiri, menilai kualitas kain yang ada di pangkuannya.

"Ibu..." panggil Nisa pelan.

Bu Ratna mendongak. Senyum yang tadinya merekah di wajah keriputnya seketika luntur begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia menurunkan kain brokat itu ke atas meja, lalu membetulkan letak kacamatanya.

"Nisa? Tumben kamu datang ke mari hari biasa begini. Mana nggak ngabarin dulu," ucap Bu Ratna datar. Tidak ada nada khawatir sedikit pun melihat wajah menantunya yang pucat pasi dengan mata yang bengkak dan menghitam. "Arman ke mana? Kok nggak kelihatan?"

"Mas Arman nggak pulang dari semalam, Bu." Nisa melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kayu tepat di seberang ibu mertuanya. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil. "Nisa ke sini mau bicara berdua sama Ibu. Ini soal Arman. Soal rumah kami."

Mendengar kata 'rumah', gerakan tangan Bu Ratna yang sedang merapikan kain mendadak terhenti. Ada kilatan aneh di matanya, sebuah ekspresi yang tidak bisa Nisa artikan dengan pasti. Namun, wanita paruh baya itu dengan cepat menguasai dirinya. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap menantunya dengan dagu sedikit terangkat.

"Bicara saja. Toh di sini nggak ada orang asing," jawab Bu Ratna santai.

"Nisa mohon, Bu. Ini sangat penting. Bisakah kita bicara di kamar saja?" Nisa memohon. Ia tidak ingin aib suaminya terdengar oleh para tante dan bude di luar teras yang pastinya sedang memasang telinga tajam-tajam.

Bu Ratna mendengus kasar. "Ya ampun, Nis. Pake acara rahasia-rahasiaan segala. Kalau mau ngomong, ya ngomong aja di sini. Ibu lagi repot ini, belum misahin kain mana yang buat keluarga dari pihak Bapak, mana yang buat pihak Ibu. Udah, ngomong aja. Ada masalah apa kamu sama Arman sampai dia nggak pulang? Kamu pasti marah-marah lagi karena dia kasih uang bulanannya kurang? Makanya jadi istri itu yang nrimo, jangan banyak nuntut suami."

Tuduhan tak berdasar itu membuat Nisa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Karena Bu Ratna yang memintanya bicara di sini, maka Nisa tidak akan menahan diri lagi.

"Semalam, pihak bank menelepon Nisa, Bu." Nisa memulai ceritanya dengan suara pelan namun bergetar. "Pihak Bank Bina Sejahtera menagih tunggakan utang atas nama Mas Arman."

Bu Ratna tidak menunjukkan reaksi terkejut. Wanita itu hanya diam, mendengarkan, dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah.

"Mas Arman ternyata menggadaikan sertifikat rumah kami ke bank itu, Bu," lanjut Nisa, suaranya mulai naik satu oktaf, terbawa oleh emosi yang kembali membuncah. "Dia melakukan take over kredit tanpa sepengetahuan Nisa. Dia memalsukan tanda tangan Nisa di dokumen pencairan dana. Dan Ibu tahu berapa jumlah uang yang dia pinjam? Tujuh ratus juta rupiah, Bu."

Hening. Ruang keluarga itu mendadak sunyi senyap. Suara tawa dan obrolan dari teras depan pun tiba-tiba menghilang, menandakan bahwa Bude Tari dan yang lainnya di luar sana sedang mendengarkan dengan saksama.

Nisa menatap mata ibu mertuanya, mencari raut keterkejutan, mencari rasa marah, mencari simpati. Namun, detik demi detik berlalu, dan Bu Ratna sama sekali tidak terlihat panik.

Wanita tua itu hanya mengambil gelas teh hangat di atas meja, menyesapnya pelan, lalu meletakkannya kembali. Gerakannya sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar kabar bahwa anak kesayangannya melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen demi utang ratusan juta.

"Ibu sudah tahu," ucap Bu Ratna pelan, namun suaranya menggema di telinga Nisa layaknya ledakan meriam.

Nisa membeku. Matanya melebar sempurna. "Apa? Ibu... Ibu sudah tahu?"

"Iya, Ibu sudah tahu," ulang Bu Ratna, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas. Ia menatap menantunya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Arman sudah cerita ke Ibu beberapa minggu yang lalu soal dia mau mencairkan uang dari rumah itu. Dan Ibu yang menyuruhnya untuk segera mengurusnya."

Dunia di sekitar Nisa seakan runtuh menimpanya. Udara di dalam ruangan itu mendadak tersedot habis. Paru-parunya menolak bekerja.

Ia pikir suaminya berbohong sendirian. Ia pikir Arman menyembunyikan kebusukan ini dari semua orang. Namun ternyata, wanita tua di hadapannya ini... ibu mertuanya sendiri... bukan hanya mengetahui rencana jahat itu, melainkan ikut menjadi dalang di baliknya.

"Ibu yang menyuruh Mas Arman?" bisik Nisa, suaranya parau, nyaris tercekat di tenggorokan. "Ibu menyuruh anak Ibu sendiri untuk memalsukan tanda tangan istrinya dan menggadaikan rumah istrinya?!"

"Jaga nada bicaramu, Nisa!" Bu Ratna menunjuk wajah Nisa dengan jari telunjuknya, matanya melotot marah karena merasa tak terima disalahkan. "Itu bukan cuma rumahmu! Sertifikat itu atas nama berdua, Arman dan kamu! Arman itu suami, dia kepala keluarga. Wajar kalau dia mengambil keputusan untuk menggunakan harta berdua demi kepentingan yang lebih mendesak! Kamu jangan bersikap seolah-olah kamu yang paling dirugikan di sini!"

"Kepentingan mendesak apa, Bu?!" jerit Nisa. Air matanya tak bisa lagi ditahan. Ia tidak peduli jika seluruh kampung mendengar pertengkaran ini. "Kepentingan mendesak untuk membiayai pesta mewah Dinda, iya?! Untuk foya-foya sehari semalam?! Uang tujuh ratus juta itu uang yang sangat besar, Bu! Dan Nisa yang harus menanggung beban cicilannya setiap bulan! Nisa yang selama ini bayar KPR rumah itu dengan uang hasil lembur Nisa!"

"Ya itu sudah kewajibanmu sebagai istri!" bentak Bu Ratna, urat-urat di lehernya mulai menonjol. Ia tidak merasa kalah argumen sedikit pun. "Seorang istri yang baik itu hartanya adalah harta suaminya juga! Kalau kamu sayang sama suamimu, harusnya kamu ikhlas bantu keluarganya! Dinda itu adik iparmu, Nisa! Dia mau menikah dengan anak Haji Rustam. Kita ini keluarga sederhana, kalau pestanya dibikin gembel, di mana kita mau taruh muka?! Arman sebagai anak laki-laki tertua wajar berkorban untuk martabat keluarga!"

Logika yang cacat. Pikiran yang begitu picik dan manipulatif. Nisa memegangi dadanya yang terasa begitu sakit hingga ia nyaris tidak bisa bernapas.

"Berkorban, Ibu bilang?" Nisa tertawa hambar, sebuah tawa keputusasaan yang diiringi derai air mata. "Mas Arman tidak berkorban apa-apa, Bu! Dia mengorbankan Nisa! Dia mengorbankan masa depan kami! Nisa yang kurang tidur, Nisa yang kelaparan di kantor, Nisa yang mengumpulkan uang receh demi bayar cicilan! Dan sekarang, Ibu dan Arman merampasnya begitu saja tanpa izin?!"

Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah teras. Bude Tari dan Tante Asri, yang sejak tadi menguping, akhirnya masuk ke ruang keluarga dan langsung ikut campur membela adik mereka.

"Heh, Nisa! Kamu itu kalau ngomong sama orang tua yang sopan sedikit!" tegur Bude Tari dengan suara melengking sambil bertolak pinggang. "Kamu ini cuma menantu di keluarga ini. Jangan merasa karena gajimu lebih besar, kamu bisa semena-mena sama Ibu mertuamu! Arman itu yang memungut kamu dulu, padahal kamu cuma lulusan D3 biasa, bapak ibumu juga udah nggak ada. Harusnya kamu tahu diri!"

"Betul kata Bude Tari," timpal Tante Asri dengan raut wajah sinis. Ia berdiri di samping Bu Ratna, memberikan dukungan penuh pada sang nyonya rumah. "Kamu ini istri yang perhitungan banget sih, Nis. Uang segitu aja diributin sampai nangis-nangis begini. Suami pakai uang istri itu sedekah, Nis! Jadi amal jariah buat kamu. Lagian, kamu juga kan belum bisa ngasih cucu buat Bu Ratna. Harusnya kamu bersyukur Arman nggak nikah lagi dan masih mau sama kamu walau kamu mandul!"

Kata 'mandul' itu menampar wajah Nisa lebih keras daripada pukulan fisik.

Perempuan mana yang tidak terluka ketika ketidakmampuannya memberikan keturunan dijadikan senjata untuk menjatuhkan harga dirinya di depan umum? Selama tiga tahun Nisa berjuang, menjaga rahimnya, mengikuti program hamil dari dokter, meminum berbagai macam obat herbal yang rasanya tidak karuan, namun Tuhan belum juga memberikannya kepercayaan. Dan kini, kelemahan itu dipakai oleh keluarga suaminya untuk melegalkan perampokan atas jerih payahnya.

Nisa menatap wajah tiga wanita paruh baya di depannya bergantian. Wajah-wajah itu tidak memancarkan sedikit pun rasa iba. Mereka justru terlihat menikmati penderitaan Nisa. Mereka berkumpul layaknya serigala yang sedang mencabik-cabik mangsanya yang tak berdaya.

"Ini bukan soal perhitungan, Bude, Tante..." suara Nisa mulai melemah. Tenaganya terkuras habis. "Ini soal kepercayaan. Mas Arman memalsukan tanda tanganku. Kalau bank sampai tahu dan menuntut, Mas Arman bisa dipenjara."

"Halah, jangan nakut-nakutin pakai ancaman polisi segala!" potong Bu Ratna dengan raut wajah meremehkan. "Orang bank itu cuma peduli sama uang cicilannya tiap bulan. Asal dibayar, mereka nggak akan peduli siapa yang tanda tangan. Kamu kan masih kerja, masih ada gaji. Ya kamu bayar saja cicilannya tiap bulan seperti biasa. Toh kamu mampu."

Mendengar kalimat yang begitu enteng keluar dari mulut ibu mertuanya, Nisa benar-benar merasa kehilangan pijakan akal sehatnya. Bu Ratna dengan terang-terangan menyuruhnya untuk terus menjadi budak pencetak uang demi membayar utang ratusan juta yang tidak pernah ia nikmati sepeser pun.

"Ibu pikir Nisa ini apa?" Nisa berdiri dari kursinya. Kakinya bergetar hebat. "Nisa bukan sapi perah keluarga ini, Bu! Nisa manusia! Nisa istri Mas Arman! Nisa berhak atas hasil kerja keras Nisa sendiri!"

"Kalau kamu nggak mau bantu keluarga ini, silakan keluar dari rumah Arman!" Bu Ratna ikut berdiri, menantang menantunya dengan sorot mata penuh kebencian. "Jangan pernah anggap kami keluargamu lagi! Istri durhaka seperti kamu ini memang tidak pantas mendampingi anakku! Pantesan saja rahimmu kering, hatimu saja isinya cuma harta dan kedengkian!"

Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan Nisa. Ia dipermalukan. Ditelanjangi harga dirinya di depan keluarga besar suaminya. Tidak ada satu pun yang membelanya. Tidak ada satu pun yang melihat bahwa ia adalah korban di sini.

Air mata Nisa mengalir deras tanpa suara. Ia menatap ke sekeliling ruangan, melihat dekorasi pernikahan yang mewah, melihat tumpukan undangan, melihat kebaya-kebaya mahal yang berserakan. Semuanya dibeli dengan uang yang dirampas dari penderitaannya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki menuruni tangga dari lantai dua memecah ketegangan di ruangan itu.

Dinda, adik perempuan Arman, muncul dengan pakaian tidur berbahan sutra yang mengkilap. Wajahnya terlihat segar, dengan masker wajah organik yang baru saja setengah ia bersihkan. Rambutnya diikat rapi. Ia berjalan turun sambil menatap layar ponsel pintarnya yang berlogo apel tergigit keluaran terbaru, sama sekali tidak menyadari atmosfer panas yang sedang terjadi di bawah.

"Ibu! Bude! Liat deh!" seru Dinda dengan nada manja dan ceria. Ia melangkah ringan ke arah ruang keluarga, langsung menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Bu Ratna, mengabaikan kehadiran Nisa yang sedang berdiri mematung dengan wajah penuh air mata.

Dinda menggeser layar ponselnya, menunjukkan beberapa foto ruangan yang luar biasa megah.

"Ini foto Grand Ballroom Hotel Bintang Lima yang di Sudirman, Bu!" celoteh Dinda dengan mata berbinar-binar kegirangan. "Tadi pagi pihak hotel baru aja ngirim foto dekorasinya yang udah di-setting 3D. Bagus banget kan, Bu? Lampu kristalnya itu loh, mewah banget! Pokoknya nanti pas acara, Dinda mau masuk diiringi musik orkestra langsung dari pintu utama ini."

Bu Ratna yang tadinya berwajah sangar kini langsung tersenyum lebar melihat foto di layar ponsel putrinya. "Wah, bagus sekali, Nduk. Megah bener. Pasti keluarga Haji Rustam bakal melongo lihat gedung sekeren ini."

"Iya dong, Bu!" Dinda mengangguk antusias. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu lalu menggeser layar ponselnya ke gambar berikutnya. "Terus tadi Mas Arman juga udah kirim bukti transfer pelunasannya ke pihak gedung dan vendor katering VIP-nya."

Mendengar nama suaminya disebut, Nisa perlahan menoleh. Matanya yang merah dan sembap terpaku pada layar ponsel Dinda.

Di sana, di layar yang terang benderang itu, terpampang jelas sebuah tangkapan layar bukti transfer mobile banking. Bukti transfer dari rekening atas nama Arman Maulana ke rekening sebuah perusahaan event organizer pernikahan.

Nisa membaca nominal yang tertera di layar itu.

Rp. 350.000.000,00

Tiga ratus lima puluh juta rupiah. Setengah dari uang gadai rumahnya telah lenyap dalam satu kali klik transfer.

Dinda yang asyik bercerita akhirnya menyadari kehadiran kakak iparnya. Ia menoleh ke arah Nisa, menatap Nisa dari atas ke bawah dengan sebelah alis terangkat, bingung melihat Nisa menangis tersedu-sedu.

"Loh, Mbak Nisa kok nangis?" tanya Dinda dengan nada polos yang dibuat-buat. Tanpa rasa bersalah, ia memutar ponselnya, menyodorkan bukti transfer bernilai ratusan juta itu tepat ke depan wajah Nisa. "Mbak Nisa terharu ya lihat Mas Arman baik banget sama aku? Mas Arman keren kan, Mbak? Dia rela keluarin uang ratusan juta demi mewujudkan pesta impian adiknya. Mbak Nisa beruntung banget loh punya suami sebaik Mas Arman."

Nisa menatap layar ponsel yang disodorkan ke wajahnya itu. Angka 350 juta itu seakan melompat keluar dan menampar kedua belah pipinya.

Dadanya terasa seperti diremukkan oleh mesin pres raksasa. Perutnya bergejolak hebat, memuntir seolah ada pisau yang mengaduk-aduk ususnya. Rasa mual yang sejak pagi ia tahan kini merangsek naik ke kerongkongannya dengan kekuatan penuh.

Nisa tidak sanggup lagi berdiri. Dunia di sekelilingnya berputar cepat. Wajah tersenyum Dinda, tatapan sinis Bu Ratna, dan tawa merendahkan Bude Tari melebur menjadi satu pusaran gelap yang menyedot seluruh kesadarannya.

Nisa mundur selangkah, membekap mulutnya sendiri yang tiba-tiba memuntahkan cairan bening berbau asam. Sebelum ia sempat berpegangan pada pinggiran kursi, pandangannya menggelap, dan tubuhnya ambruk ke atas lantai yang dingin.