Angin malam yang berembus membelah jalan raya Margonda terasa lebih menusuk dari biasanya. Nisa duduk kaku di kursi penumpang ojek daring yang melaju membelah kemacetan sisa jam pulang kerja. Tangannya mencengkeram besi behel motor di belakangnya dengan sangat kuat, mengabaikan rasa dingin yang membuat ujung-ujung jarinya memucat. Matanya menatap lurus ke depan, menembus lautan lampu merah kendaraan di jalanan aspal, namun pandangannya kosong.
Pikirannya masih tertinggal pada rentetan kalimat dari petugas bank dan salinan dokumen digital yang tersimpan di dalam ponselnya.
Jarak tempuh dari kantor ke rumahnya di Cilebut yang biasanya memakan waktu hampir satu jam kini terasa begitu singkat. Motor matik yang ditumpanginya mulai memasuki gerbang utama Perumahan Griya Asri. Pak Satpam di pos jaga yang sedang menyeruput kopi hitam menyempatkan diri mengangguk ke arah Nisa saat motor itu melewati portal, sebuah rutinitas yang selalu membuat Nisa merasa aman karena telah kembali ke wilayahnya.
Namun malam ini, senyum ramah satpam itu tidak mampu mengusir hawa dingin yang bersarang di dada Nisa.
Pengemudi ojek menghentikan kendaraannya tepat di depan pagar besi bercat hitam setinggi dada, di depan rumah Blok D Nomor 14. Nisa turun dengan gerakan kaku. Ia merogoh dompet dari dalam tas jinjingnya, menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, dan mengabaikan kembalian yang coba disodorkan oleh sang pengemudi. Ia hanya mengangguk pelan sebagai isyarat agar pria berjaket hijau itu segera pergi.
Kini, Nisa berdiri sendirian di depan pagar rumahnya.
Lampu taman yang menyorot tanaman aglonema koleksinya menyala temaram, memantulkan cahaya pada dinding luar rumah yang dicat putih bersih. Nisa ingat betul, cat putih itu ia pilih sendiri di toko bangunan, dan ia rela menghabiskan waktu akhir pekannya selama dua hari berturut-turut untuk mengecat dinding itu bersama Arman demi menghemat ongkos tukang. Nisa meraba terali pagar besinya yang dingin. Rumah ini adalah saksi bisu dari jutaan tetes keringatnya. Setiap sudutnya bercerita tentang jatah makannya yang dikurangi, tentang jam tidurnya yang dijarah oleh deretan angka pembukuan.
Nisa menarik napas panjang, berusaha menekan gemuruh di dadanya yang seakan siap meledakkan tulang rusuknya. Ia membuka slot kunci pagar, melangkah masuk melewati pelataran carport yang kosong, lalu memasukkan anak kunci ke dalam lubang pintu kayu di depan teras.
Pintu terbuka tanpa suara derit.
Udara hangat dari dalam rumah menyambutnya, membawa aroma khas masakan bawang putih dan pewangi ruangan aroma lavender yang selalu ia semprotkan setiap pagi. Ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter itu terlihat rapi, persis seperti saat ia meninggalkannya tadi pagi.
Fokus Nisa langsung tertuju pada sosok pria yang sedang duduk bersandar santai di sofa kain berwarna abu-abu. Arman. Suaminya.
Pria berusia tiga puluh tahun itu mengenakan kaus oblong berwarna putih pudar dan celana pendek selutut. Kaki kanannya disilangkan di atas meja kaca berukuran kecil, sementara tangannya sibuk memegang ponsel pintar dalam posisi horizontal. Layar televisi di depannya dibiarkan menyala, menampilkan pertandingan ulang sepak bola liga Eropa dengan volume yang cukup keras. Di atas meja kaca itu, berserakan bungkus kacang kulit, sebuah asbak yang penuh dengan puntung rokok, dan sebuah gelas kopi yang menyisakan ampas di dasarnya.
Arman tampak sangat nyaman. Sangat menikmati malamnya tanpa beban. Sebuah pemandangan yang seketika membuat darah Nisa mendidih hingga ke ubun-ubun.
Menyadari ada pergerakan di ambang pintu, Arman menoleh. Pandangannya beralih dari layar ponsel ke arah istrinya yang masih berdiri kaku di daun pintu dengan tas jinjing yang masih menggantung di bahu.
"Baru pulang, Nis?" sapa Arman santai. Ia menurunkan kaki kanannya dari atas meja kaca, namun matanya kembali melirik ke layar ponselnya sejenak. "Aku tadi pesan mi goreng di depan gang pakai aplikasi ojek online soalnya kamu nggak balas chat. Kamu belum masak, kan? Kalau mau, di dapur masih ada sisa mi gorengnya setengah porsi. Panasin aja sendiri di teflon."
Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada begitu ringan, bagaikan percikan api yang menyambar bensin di dalam kepala Nisa.
Nisa melangkah masuk, namun ia tidak melepas sepatu kerjanya seperti aturan yang selalu ia buat sendiri untuk menjaga kebersihan rumah. Ia membiarkan sol sepatunya yang kotor oleh debu jalanan menginjak karpet bulu yang susah payah ia cuci minggu lalu. Ia menutup pintu kayu di belakangnya dengan dorongan keras hingga membentur kusen, menciptakan suara gedoran yang membuat Arman sedikit tersentak.
"Loh, sepatunya kok nggak dilepas?" tegur Arman, keningnya berkerut heran. Pria itu meletakkan ponselnya di atas sofa, mulai merasakan atmosfer yang tidak beres dari cara istrinya menatap. "Kamu kenapa, Nis? Muka kamu pucat banget. Ada masalah di kantor? Atau berantem sama bos kamu yang cerewet itu?"
Nisa berjalan mendekat. Langkahnya pelan namun sarat akan ketegangan. Ia berhenti tepat di seberang meja kaca, menatap wajah suaminya lekat-lekat. Ia mencari jejak kebohongan di mata Arman. Ia mencari rasa bersalah di raut wajah pria yang selalu tersenyum manis saat merayunya itu. Namun yang ia temukan hanyalah ekspresi kebingungan yang sangat meyakinkan.
"Mas," panggil Nisa. Suaranya serak, bergetar di ujung nada, seolah ada bongkahan es tajam yang menyangkut di tenggorokannya. "Tadi ada telepon masuk."
Arman menaikkan sebelah alisnya, merespons dengan santai. "Telepon dari siapa? Dari orang rumah? Atau dari toko grosir yang minta pembukuannya dicepatin?" Ia mengambil bungkus kacang kulit di depannya, mengupas satu, dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Dari Bank Bina Sejahtera," jawab Nisa pelan, mengeja setiap suku kata nama bank itu dengan tekanan yang sangat jelas.
Gerakan rahang Arman yang sedang mengunyah kacang seketika terhenti. Tangannya yang baru saja hendak mengambil kacang kedua terhenti di udara. Hanya selama satu detik, namun jeda waktu yang sangat singkat itu sudah lebih dari cukup bagi Nisa untuk menangkap perubahan drastis di wajah suaminya. Warna kulit wajah Arman tampak memucat sepersekian detik, dan jakun pria itu bergerak naik turun menelan ludah dengan susah payah.
"Bank Bina Sejahtera?" Arman mengulangi nama itu dengan nada yang dipaksakan senormal mungkin. Ia membuang kulit kacang ke dalam asbak, lalu mengusap telapak tangannya ke celana pendeknya. "Bank apa itu? Pinjaman online? Hati-hati, Nis, sekarang banyak penipuan lho. Bilangnya dari bank, tahu-tahunya nyedot saldo rekening. Blokir aja nomornya."
Nisa tidak memalingkan pandangannya sedetik pun. "Orang itu bernama Dimas. Dari bagian penagihan pusat. Dia bilang cicilan pinjaman atas nama kamu sudah jatuh tempo lima belas hari. Pinjaman dengan agunan sertifikat rumah ini."
Arman tertawa. Sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, melipat kedua tangannya di dada, mencoba membangun benteng pertahanan dari serangan istrinya.
"Ya ampun, Nis. Kamu ini orang sekolahan, kerja jadi admin pembukuan, masa gampang banget ketipu omongan orang di telepon?" ucap Arman dengan nada meremehkan. "Mana mungkin rumah ini digadaikan. Sertifikat aslinya kan masih ditahan di bank tempat kita nyicil KPR. Logikanya aja nggak masuk, Nis. Kamu pasti kecapekan lembur makanya gampang panik. Udah, mending kamu mandi, bersihin badan, terus makan sana."
Nisa mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menancap kuat pada telapak tangannya sendiri. Kebohongan yang keluar dari mulut Arman terasa seperti ribuan jarum yang ditusukkan serentak ke ulu hatinya. Bagaimana bisa pria ini berdusta dengan begitu mulus di depan matanya sendiri?
Dengan gerakan cepat yang dipenuhi amarah, Nisa membuka ritsleting tas jinjingnya. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak, membuka file PDF yang baru saja diunduhnya setengah jam lalu, dan melemparkan gawai itu ke atas meja kaca hingga menabrak asbak. Beberapa puntung rokok tumpah mengotori meja.
"Coba kamu baca itu, Mas," desis Nisa, suaranya kini lebih berat, mengancam. "Baca halaman pertama, lihat nama siapa yang tertera di sana. Dan baca halaman terakhir, lihat tanda tangan siapa yang ada di atas materai itu."
Arman menatap ponsel yang tergeletak di antara ceceran abu rokok itu seolah benda itu adalah sebuah bom aktif. Ia ragu-ragu untuk mengambilnya. Namun di bawah tatapan tajam Nisa yang menyala penuh kemarahan, Arman akhirnya mencondongkan tubuhnya, mengambil ponsel itu, dan mengarahkan matanya ke layar.
Suasana ruang tamu itu berubah menjadi hening yang mencekam. Hanya terdengar suara komentator pertandingan sepak bola dari televisi yang terus mengoceh, sangat kontras dengan kebekuan yang melanda sepasang suami istri itu.
Nisa memperhatikan setiap perubahan otot di wajah Arman. Ia melihat bagaimana mata suaminya membelalak saat menatap rincian angka di dokumen itu. Ia melihat bagaimana tangan besar Arman mulai sedikit gemetar, dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi pria itu.
Pertahanan Arman runtuh seketika. Tawa hambarnya menghilang, digantikan oleh kepanikan yang tidak bisa lagi disembunyikan.
"Ini... ini dari mana kamu dapat dokumen ini, Nis?" Suara Arman bergetar pelan. Ia tidak lagi berani menatap mata istrinya, pandangannya terus terkunci pada layar ponsel yang menyala.
"Orang dari bank itu yang mengirimkannya langsung ke emailku," jawab Nisa tajam. "Kamu pikir mereka bodoh? Mereka tahu aku istrimu, dan mereka tahu ada yang tidak beres dengan pinjaman yang menunggak itu. Sekarang jawab pertanyaanku, Mas. Apa benar kamu yang mengambil pinjaman itu?"
Arman menelan ludah. Ia mematikan layar ponsel Nisa, meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan sangat pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
"Nis... duduk dulu. Kita bicarakan ini baik-baik," bujuk Arman, nadanya kini merendah, mencoba mengambil kendali situasi dengan bersikap tenang.
"Aku bilang jawab pertanyaanku, Mas!" bentak Nisa. Kesabarannya telah habis. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Suaranya pecah, menggema di seluruh penjuru ruang tamu yang sempit itu. "Apa benar kamu menggadaikan sertifikat rumah kita diam-diam?!"
Arman memejamkan mata sesaat. Mengetahui bahwa dirinya sudah tersudut dan tidak ada lagi celah untuk menyangkal, pria itu akhirnya mengangguk pelan.
"Iya," jawabnya lirih. "Aku yang ambil pinjaman itu. Aku yang gadai rumah ini."
Pengakuan itu meluncur begitu saja. Sederhana, singkat, namun efeknya bagi Nisa sama seperti sebuah peluru yang ditembakkan tepat menembus jantungnya.
Tubuh Nisa terhuyung ke belakang. Ia harus berpegangan pada sandaran kursi kayu di dekatnya agar tidak jatuh terjerembap. Lututnya seketika lemas. Meski ia sudah melihat dokumennya, meski ia sudah mendengar penjelasan petugas bank, mendengar pengakuan itu langsung dari mulut suaminya memberikan rasa sakit yang seratus kali lipat lebih mematikan.
"Tujuh ratus juta," bisik Nisa, air matanya mulai menggenang, mengaburkan pandangannya. "Tujuh ratus juta rupiah, Mas. Angka yang bahkan belum pernah aku lihat secara langsung seumur hidupku. Kamu berutang tujuh ratus juta ke bank, dengan jaminan rumah yang... yang aku cicil dengan darahku sendiri?!"
Arman berdiri dari sofanya, mencoba mendekati Nisa dengan tangan terulur. "Nis, tolong dengar penjelasanku dulu. Aku bisa jelasin semuanya."
"Jangan sentuh aku!" Nisa mundur selangkah, menepis tangan suaminya dengan kasar. Tatapan matanya memancarkan campuran antara kebencian, kekecewaan, dan luka yang sangat dalam. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kamu memalsukan tanda tanganku! Kamu sadar itu tindak pidana, Mas?! Kalau bank menuntut, kamu bisa dipenjara! Dan aku... aku yang akan menanggung utang ratusan juta itu karena aku istrimu!"
"Nggak akan ada yang dipenjara, Nis!" Arman meninggikan suaranya, mulai terpancing oleh kepanikan dan rasa terpojok. "Aku pasti akan bayar cicilannya! Ini cuma masalah keterlambatan sementara. Perusahaanku sedang ada penyesuaian bonus bulanan, makanya bulan ini aku telat bayar. Bulan depan pasti aku lunasi tunggakannya. Kamu nggak usah lebay!"
Lebay. Kata itu meluncur begitu mudahnya dari mulut Arman. Menganggap istrinya berlebihan dalam menanggapi masalah yang mempertaruhkan seluruh masa depan mereka.
Nisa tertawa hambar di sela-sela tangisnya. Tawa yang terdengar sangat perih. "Kamu bilang aku lebay? Kamu menggadaikan rumah di belakang punggungku, memalsukan identitasku, dan kamu bilang aku lebay?" Nisa menyeka air matanya dengan kasar, menatap tajam ke dalam manik mata suaminya. "Sekarang katakan padaku, Mas. Ke mana perginya uang tujuh ratus juta itu? Untuk apa kamu butuh uang sebanyak itu? Kamu main judi? Kamu punya utang di luar sana? Atau kamu punya perempuan lain yang minta dibelikan barang-barang mewah?!"
"Jaga mulutmu, Nis!" Arman membentak marah. Harga dirinya sebagai kepala rumah tangga merasa tersinggung oleh tuduhan-tuduhan istrinya. "Aku ini bukan laki-laki brengsek yang suka main perempuan atau judi! Uang itu bukan buat hal-hal maksiat!"
"Lalu buat apa?!" Nisa membalas teriakan suaminya tidak kalah keras. "Buat apa, Mas?! Jawab!"
Arman terdiam. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia membuang muka ke arah televisi yang masih menyala, seolah mencari perlindungan dari tatapan menghakimi istrinya. Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa menyiksa.
"Uang itu..." Arman akhirnya membuka suara, nadanya lebih rendah, namun setiap kata yang diucapkannya sangat jelas. "Uang itu aku pakai untuk bantu Ibu dan Dinda. Untuk biaya pernikahan Dinda bulan depan."
Nisa membeku. Seluruh urat saraf di tubuhnya seakan berhenti berfungsi. Ia mengira pendengarannya bermasalah akibat terlalu banyak menangis.
"Untuk... pernikahan Dinda?" Nisa mengulangi kata-kata itu dengan suara bergetar, seolah kata-kata itu adalah bahasa asing yang tidak ia pahami artinya.
Arman mengangguk pelan, mulai menemukan kembali keberaniannya. Ia kembali menatap wajah istrinya. "Iya. Dinda kan mau menikah bulan depan sama keluarga Pak Haji Rustam. Calon besan kita itu bukan orang sembarangan, Nis. Mereka keluarga terpandang di kampungnya, punya pabrik tahu, juragan tanah. Ibu nggak mau kita kelihatan miskin dan gembel di mata mereka. Dinda itu anak perempuan satu-satunya, bungsu kesayangan Ibu. Masa dia nikah cuma di KUA atau bikin acara kecil-kecilan di depan rumah? Kita butuh biaya besar untuk sewa gedung pernikahan yang layak, katering yang bagus, dan suvenir yang pantas. Itu semua demi menjaga nama baik keluarga kita, Nis."
Nisa menatap suaminya dengan mulut setengah terbuka. Pandangannya kosong, menembus wajah pria yang kini terasa sangat asing baginya. Alasan yang baru saja diucapkan Arman terdengar begitu tidak masuk akal, begitu konyol, hingga rasanya Nisa ingin membenturkan kepalanya ke dinding untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi buruk.
Tujuh ratus juta rupiah. Rumahnya, keringatnya, darahnya, digadaikan demi membiayai pesta pernikahan mewah adik iparnya hanya agar keluarga suaminya bisa pamer dan terlihat kaya di depan orang lain.
"Kamu gila, Mas," bisik Nisa, air matanya tumpah menderas membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. "Kamu benar-benar sudah gila."
"Nis, ini demi martabat keluarga—"
"Martabat keluarga apa?!" potong Nisa menjerit, mengeluarkan seluruh rasa sakit yang mengganjal di dadanya. Tangan kanannya menunjuk ke arah wajah Arman dengan jari yang gemetar hebat. "Kamu memikirkan martabat keluargamu, tapi kamu menghancurkan hidupku, Mas! Kamu tahu berapa gajiku sebulan? Kamu tahu berapa banyak jatah makan siang yang aku korbankan demi mengumpulkan uang seratus juta untuk DP rumah ini?! Aku kelaparan di kantor, Mas! Aku makan lauk sisa kemarin yang aku panasi berkali-kali biar sisa gajiku bisa menutupi tagihan KPR dan kebutuhan dapur, sementara gajimu habis buat rokok dan ongkosmu sendiri!"
Nisa memukul dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa, berusaha mengeluarkan seluruh beban yang menimpanya.
"Aku pulang jam sepuluh malam setiap hari bukan karena aku suka berada di kantor! Aku ambil kerjaan sampingan jadi admin toko grosir sampai mataku merah, punggungku sakit, cuma demi nambah dua juta sebulan! Supaya kita punya rumah, Mas! Supaya kita nggak diusir orang! Supaya kita nggak selalu direndahkan oleh Ibumu yang selalu bilang aku menantu yang numpang hidup!"
Napas Nisa tersengal-sengal. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat dingin. Ruang tamu yang menjadi kebanggaannya itu kini terasa seperti ruang eksekusi mati.
"Tiga tahun aku puasa beli baju baru," Nisa melanjutkan, suaranya kini melirih penuh keputusasaan. "Tiga tahun aku merawat rumah ini seolah ini adalah anakku sendiri. Dan kamu... dengan gampangnya kamu berikan sertifikatnya ke bank, memalsukan namaku, demi membiayai pesta pora adikmu?! Pesta sehari semalam yang harganya tujuh ratus juta?! Di mana hati nuranimu, Mas?!"
Mendengar segala rentetan penderitaan istrinya, wajah Arman bukannya menunjukkan penyesalan. Pria itu justru mengeraskan rahangnya. Rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh ego laki-laki yang merasa diserang dan tidak mau kalah berdebat.
"Cukup, Nis! Berhenti bersikap seolah-olah kamu yang paling menderita di sini!" Arman membalas dengan bentakan keras, matanya melotot tajam. "Kamu selalu saja mengungkit-ungkit masalah gaji dan uang yang kamu keluarkan! Iya, aku tahu gajimu lebih besar dariku! Iya, aku tahu kamu yang bayar cicilan rumahnya! Tapi kamu jangan lupa, cicilan rumah itu bukan cuma tanggung jawabmu. Atas nama di sertifikat itu ada namaku juga! Di mata hukum, rumah itu adalah harta gono-gini, harta bersama! Jadi aku punya hak penuh untuk menggunakannya jika ada keperluan mendesak!"
Nisa terbelalak. Logika suaminya benar-benar sudah cacat. "Keperluan mendesak kamu bilang? Bikin pesta mewah ratusan juta buat adikmu yang pengangguran itu kamu sebut keperluan mendesak?!"
"Dinda itu adikku!" raung Arman, wajahnya memerah karena emosi. Ia melangkah maju, menjulang di hadapan Nisa dengan sikap mengintimidasi. "Dia darah dagingku! Ibu sudah tua, dan sejak Bapak meninggal, akulah yang memegang tanggung jawab atas keluarga itu. Aku kepala keluarga, Nis! Sebagai anak laki-laki tertua, sudah kewajibanku untuk memastikan adikku bahagia dan membanggakan Ibu di hari pernikahannya. Kalau bukan aku yang bantu, siapa lagi?!"
"Tapi bantuannya tidak dengan menghancurkan rumah tanggamu sendiri, Mas!" Nisa membalas tak gentar, meski tubuhnya bergetar ketakutan melihat amarah suaminya. "Kalau kamu mau bantu Dinda, pakai uangmu sendiri! Pakai tabunganmu sendiri! Jangan rampas apa yang sudah aku bangun dengan darah dan air mataku! Kamu penipu, Mas! Kamu mencuri dariku!"
"Aku tidak mencuri!" Arman membentak, tangannya menunjuk ke arah pintu rumah, mengisyaratkan kekuasaannya atas bangunan itu. "Ini rumahku juga! Sebagai suami, aku yang mengambil keputusan! Aku menggunakannya untuk menolong keluargaku, bukan untuk foya-foya di luar sana! Kenapa kamu begitu pelit dan perhitungan pada keluarga suamimu sendiri?!"
Nisa terdiam. Kalimat terakhir Arman terasa seperti tamparan fisik yang sangat keras tepat di pipinya. Kata 'pelit' dan 'perhitungan' berdengung di telinganya. Perempuan yang selama tiga tahun ini menguras habis tenaga dan hartanya untuk menopang kehidupan rumah tangga mereka kini dituduh pelit oleh pria yang menghancurkannya.
Kelelahan yang amat sangat tiba-tiba menyergap seluruh persendian Nisa. Kakinya seakan tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Bahunya melorot turun. Pandangannya terhadap pria di hadapannya berubah seratus delapan puluh derajat. Arman Maulana bukan lagi sosok suami yang selama ini ia puja dan ia hormati. Di mata Nisa saat ini, Arman hanyalah seorang parasit berwujud manusia yang berlindung di balik kedok kewajiban anak laki-laki terhadap keluarganya.
Ia sudah kehilangan pria itu. Mungkin, ia memang tidak pernah memilikinya sejak awal. Bagi Arman, Nisa hanyalah mesin pencetak uang. Sebuah alat untuk menaikkan derajat keluarganya.
"Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini semua," bisik Nisa, suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar. Matanya menatap kosong ke arah lantai karpet yang kotor. "Kamu membohongiku... Kamu memalsukan tanda tanganku... Kamu menggadaikan masadepan kita... Dan kamu bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun."
Arman mendengus kasar, membetulkan letak kerah kausnya yang sedikit berantakan. Ia menegakkan punggungnya, menatap istrinya dengan sorot mata dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tidak ada penyesalan di wajah itu. Hanya ada pembelaan egois yang membatu.
Pria itu melangkah mundur, kembali ke arah sofanya. Sebelum ia duduk, ia menoleh ke arah Nisa, menatap istrinya yang kini terlihat hancur dan tak berdaya. Dengan nada bicara yang datar, tegas, dan sama sekali tanpa empati, Arman mengucapkan satu kalimat yang menjadi awal kehancuran rumah tangga mereka.
Kalimat yang akan selalu Nisa ingat sampai mati.
"Dengar baik-baik, Nis," ucap Arman tajam, tidak menyisakan ruang untuk kompromi. "Kamu bisa cari uang lagi. Kamu bisa cari kerjaan sampingan lagi untuk bayar cicilannya. Tapi Dinda cuma menikah sekali seumur hidupnya. Dan sebagai kakak, aku nggak perlu izin untuk bantu keluargaku sendiri."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar