Pagi datang tanpa kelembutan.

Bukan seperti pagi yang membawa cahaya, tapi seperti pagi yang memaksa semua orang untuk berpura-pura bahwa malam tadi tidak pernah terjadi apa-apa.

Naira sudah bangun sebelum alarm berbunyi.

Matanya tidak bengkak, tidak juga merah. Tapi ada sesuatu yang berbeda di caranya duduk di tepi ranjang—seolah ia tidak benar-benar tidur semalam, hanya berpindah dari satu kesadaran ke kesadaran lain tanpa benar-benar beristirahat.

Di sebelahnya, ranjang itu kosong.

Rapi.

Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja membuka rahasia paling tidak rapi dalam hidupnya.

Dari dapur, suara air mengalir pelan. Naira berjalan tanpa suara, rambutnya diikat asal, tangannya menyentuh gagang pintu dapur sebelum ia masuk.

Arga sudah di sana.

Seragamnya belum lengkap. Hanya kemeja dalam berwarna hitam dan celana dinas yang belum dikancingkan sempurna. Ia sedang menuang kopi ke dalam gelas, gerakannya stabil, seolah tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya.

Tidak ada tatapan canggung.

Tidak ada sisa malam yang berat.

Seolah semua itu hanya terjadi di sisi lain dunia.

“Pagi,” suara Arga datar.

Naira berdiri di ambang pintu dapur. “Pagi.”

Hening kecil.

Arga menyeruput kopi. Matanya tidak menatap Naira terlalu lama, hanya sekilas lalu kembali ke gelasnya.

“Berangkat jam berapa?” tanya Naira.

“Sebentar lagi.”

“Masih dinas luar kota?”

Arga berhenti sebentar. “Ada tugas.”

Jawaban itu tidak berkembang.

Tidak ada detail. Tidak ada arah.

Naira mengangguk pelan, lalu membuka kulkas. Tangannya mengambil telur, tapi tidak langsung memecahkannya.

“Semalam…” Naira berhenti di tengah kalimat.

Arga langsung menoleh.

Hanya sedikit. Tapi cukup cepat.

Naira melanjutkan, tanpa menatapnya. “Ponsel kamu bunyi terus.”

Arga meletakkan gelas kopi lebih pelan dari biasanya. “Oh.”

Satu kata.

Tidak ada lanjutan.

Naira memecahkan telur di wajan. Suara retak itu terdengar keras di dapur yang kecil.

“Siapa yang kirim pesan?” tanyanya, kali ini lebih datar.

Arga tidak langsung menjawab.

Ia menarik napas kecil. “Teman.”

“Teman dari markas?”

“Ya.”

Naira mengaduk telur pelan. “Teman yang kirim pesan hotel juga?”

Gerakan Arga berhenti sepersekian detik.

Hanya itu.

Tapi cukup.

Cukup untuk membuat dapur itu terasa lebih sempit.

“Na,” suara Arga turun sedikit. “Kamu ngapain buka HP aku?”

Naira menoleh.

Akhirnya menatapnya langsung.

“HP kamu bunyi di kamar yang kita pakai bersama,” jawabnya pelan. “Aku kira itu penting.”

Arga menatapnya lama.

Bukan marah. Tapi seperti menimbang sesuatu.

Seperti seseorang yang memilih kata-kata sebelum mengucapkannya.

“Kadang ada hal di pekerjaan yang tidak bisa dijelaskan,” katanya akhirnya.

Naira tersenyum tipis.

Bukan senyum hangat.

Lebih seperti refleks yang sudah kehilangan makna.

“Seperti hotel juga bagian dari pekerjaan?”

Arga tidak menjawab.

Dan diam itu justru lebih keras dari jawaban apa pun.


Di meja makan, sarapan tidak benar-benar disentuh.

Arga hanya minum kopi. Naira duduk di seberangnya, tapi tidak makan juga.

Jam di dinding bergerak.

Detik demi detik.

Seperti biasa.

Tapi tidak ada yang biasa di antara mereka lagi.

Arga berdiri lebih dulu. “Aku harus berangkat.”

Naira mengangguk kecil.

Arga meraih tasnya, lalu berhenti sebentar di dekat pintu.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Tapi akhirnya tidak.

Ia hanya memakai sepatu, lalu membuka pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti lagi.

“Na.”

Naira menatapnya.

Arga tidak menoleh sepenuhnya.

“Jangan terlalu mikir yang aneh-aneh.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Lalu pintu tertutup.


Rumah kembali diam.

Tapi kali ini Naira tidak duduk.

Ia berdiri di ruang tamu cukup lama, menatap pintu yang baru saja ditutup.

Lalu perlahan, ia berjalan ke meja kerja kecil di sudut ruangan.

Bingkai foto itu masih di sana.

Ia menyentuhnya lagi.

Tapi kali ini tidak lama.

Tangannya justru bergerak ke laci di bawah meja.

Laci yang jarang ia buka.

Di dalamnya hanya ada beberapa dokumen rumah tangga, surat-surat lama, dan satu kotak kecil.

Naira tidak pernah benar-benar memperhatikan kotak itu sebelumnya.

Ia menariknya keluar.

Debu tipis di permukaannya menempel di jari.

Kotak itu tidak terkunci.

Hanya tertutup rapat.

Naira membuka pelan.

Di dalamnya bukan barang berharga.

Hanya beberapa foto lama.

Dan satu map cokelat kecil.

Namanya tertera di depan map itu.

Tapi bukan hanya namanya.

Ada satu tulisan kecil di sudut kanan atas:

“Data Keluarga Personel – Rahasia”

Naira mengerutkan kening.

Tangannya membuka map itu.

Halaman pertama berisi data administrasi yang ia tidak sepenuhnya pahami. Tapi halaman kedua membuat jarinya berhenti.

Ada nama Arga di sana.

Lengkap.

Jabatan.

Satuan.

Riwayat penugasan.

Dan di bagian bawah—

ada satu kolom yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Status perkawinan tambahan: belum diverifikasi penuh

Naira membaca ulang kalimat itu pelan.

Sekali.

Dua kali.

Seolah huruf-huruf itu bisa berubah jika ia cukup lama menatapnya.

Belum diverifikasi penuh?

Tangannya sedikit gemetar saat membalik halaman berikutnya.

Dan di sana…

ada satu catatan kecil.

Hanya satu baris.

Tanpa penjelasan panjang.

“Keterlibatan emosional eksternal dalam masa penugasan luar negeri (kode internal: S-17)”

Naira menutup map itu perlahan.

Seperti seseorang yang baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibuka.

Napanya pelan.

Tapi stabil.

Lalu ia berdiri.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, matanya tidak lagi kosong.

Ada sesuatu yang mulai berubah di sana.


Sore datang lebih cepat dari biasanya.

Naira tidak keluar rumah seharian.

Ia hanya duduk di ruang tamu, di tempat yang sama Arga duduk semalam.

Ponselnya di meja.

Diam.

Sampai akhirnya bergetar.

Nama Arga muncul di layar.

Naira menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.

“Ya.”

Suara di seberang terdengar cepat. Bukan Arga.

“Bu Naira? Ini dari bagian administrasi satuan. Mohon maaf mengganggu.”

Naira duduk lebih tegak.

“Iya?”

“Suami Ibu hari ini seharusnya tidak ada jadwal keluar kota. Tapi tadi pagi beliau mengajukan izin mendadak.”

Hening.

Naira tidak langsung menjawab.

Tangannya mengencang di tepi sofa.

“Keluar kota?” ulangnya pelan.

“Iya, Bu. Untuk tugas pendampingan internal. Tapi… ada perubahan data lokasi.”

Naira menatap lantai.

“Lokasi ke mana?”

Ada jeda kecil di seberang.

“Surabaya, Bu. Tapi… nama hotel yang tercatat bukan fasilitas dinas.”

Jeda itu cukup panjang untuk membuat udara di ruangan itu terasa turun suhunya.

Naira menutup mata sebentar.

Lalu membuka lagi.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Ia mematikan telepon sebelum suara di seberang sempat melanjutkan.


Malam datang tanpa suara Arga.

Tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Hanya rumah yang kembali menjadi terlalu besar untuk satu orang saja.

Naira duduk di ruang tamu.

Lampu tidak terlalu terang.

Di meja, map cokelat itu masih terbuka setengah.

Ia tidak menyentuhnya lagi.

Tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas darinya.

Jam berdetak.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu suara notifikasi datang dari ponselnya.

Bukan dari Arga.

Tapi dari nomor tak dikenal.

Hanya satu pesan.

Naira membacanya.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, tangannya benar-benar berhenti bergerak.

Pesan itu singkat.

Terlalu singkat untuk membawa ketenangan.

“Kalau kamu ingin tahu kebenaran tentang Arga, jangan tunggu dia pulang malam ini.”

Di bawahnya, satu alamat hotel tertera.

Dan di detik yang sama, suara kunci di pintu depan rumah—

berputar dari luar.