Lobby Hotel Grand Aster tidak pernah terasa seperti tempat untuk mencari kebenaran.
Lampunya terlalu hangat. Musiknya terlalu pelan. Dan orang-orang di dalamnya terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri untuk peduli siapa yang datang dengan hati yang retak.
Naira duduk di sofa tunggu dekat sudut lobby.
Tasnya ia letakkan di samping. Tangannya tidak gemetar. Tapi juga tidak benar-benar tenang.
Jam di dinding hotel menunjukkan 21:58.
Dua menit sebelum waktu yang disebut pesan itu.
Di depannya, resepsionis berbicara pelan dengan tamu lain. Tawa kecil terdengar dari bar kecil di sisi kanan lobby. Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Seolah tidak ada yang akan berubah malam ini.
Naira menatap lantai marmer di bawah kakinya.
Refleksnya sederhana: mengatur napas.
Masuk.
Keluar.
Masuk.
Keluar.
Namun setiap kali ia menarik napas, ada sesuatu yang terasa lebih berat di dadanya.
Sebuah suara kecil di kepalanya terus bertanya:
“Kalau kamu melihatnya, kamu siap?”
Tapi Naira tidak menjawab suara itu.
Karena ia sendiri tidak yakin.
21:59.
Seseorang masuk ke lobby.
Seorang perempuan.
Rambutnya terurai rapi. Gaun sederhana, tapi jelas bukan pakaian orang yang datang untuk sekadar check-in. Langkahnya pelan, tapi pasti.
Ia tidak melihat Naira.
Tapi Naira melihatnya.
Perempuan itu berhenti di dekat resepsionis. Mengambil kartu identitas. Berbicara pelan.
Dan ketika ia menoleh sedikit…
Naira menangkap wajahnya sepenuhnya.
Tidak asing.
Tapi juga tidak pernah benar-benar dikenalnya.
Perempuan itu seperti seseorang yang pernah berada di pinggir kehidupan orang lain terlalu lama, sampai akhirnya menjadi bagian dari cerita tanpa nama.
Naira mengamati.
Bukan dengan emosi meledak.
Tapi dengan cara seseorang yang mencoba menyusun potongan puzzle tanpa tahu gambar akhirnya.
Perempuan itu selesai berbicara di resepsionis. Lalu berjalan menuju lift.
Sendirian.
Tidak ada Arga.
Tidak ada tanda-tanda Arga.
Tapi pesan itu bilang…
“dia akan mencoba menghentikanmu.”
Naira berdiri.
Langkahnya pelan.
Ia mengikuti dari jarak yang tidak mencurigakan.
Lift terbuka.
Perempuan itu masuk.
Naira masuk beberapa detik kemudian, berdiri di sudut berbeda.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara logam pintu yang menutup.
Klik.
Angka di panel naik.
3… 4… 5…
Perempuan itu tidak menoleh.
Naira juga tidak.
Tapi di ruang kecil itu, jarak terasa seperti sesuatu yang hidup.
Dan semakin lift naik…
semakin Naira merasa bahwa ia tidak sedang mengejar seseorang.
Ia sedang menuju sesuatu yang sudah lama menunggunya.
Lantai 7.
Pintu terbuka.
Perempuan itu keluar duluan.
Naira mengikuti.
Koridor hotel terlalu panjang dan terlalu sepi. Karpet merah tua menyerap suara langkah mereka. Lampu dinding di sepanjang lorong membuat bayangan mereka memanjang dan patah-patah.
Perempuan itu berhenti di depan satu pintu.
Ia mengetuk.
Tiga kali.
Pelan.
Tapi teratur.
Naira berhenti di ujung lorong, pura-pura memeriksa ponselnya.
Padahal matanya tidak lepas dari pintu itu.
Beberapa detik kemudian.
Klik.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang pria di dalam ruangan berbicara pelan. Suaranya tidak jelas dari jarak ini.
Perempuan itu masuk.
Pintu menutup kembali.
Tapi tidak sepenuhnya.
Ada celah kecil.
Seperti seseorang yang sengaja tidak menutup masa lalu dengan rapat.
Naira melangkah pelan.
Setiap langkahnya seperti menantang gravitasi.
Semakin dekat.
Semakin jelas suara dari dalam kamar.
Bukan suara marah.
Bukan suara dramatis.
Tapi suara percakapan biasa.
Yang justru lebih berbahaya.
Naira berhenti di depan pintu.
Tangannya tidak langsung menyentuh gagang.
Ia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia mendorong pintu itu sedikit.
Di dalam kamar hotel 709, suasana tidak seperti yang ia bayangkan.
Tidak ada kekacauan.
Tidak ada adegan yang meledak.
Hanya dua orang duduk di sofa kecil dekat jendela.
Perempuan yang tadi ia lihat.
Dan satu orang lagi.
Naira tidak langsung melihat wajah pria itu.
Karena yang pertama kali ia lihat adalah—
jas dinas yang tergantung di kursi.
Seragam yang sangat ia kenal.
Arga.
Tapi Arga tidak langsung berdiri.
Ia hanya duduk, siku di lutut, wajahnya sedikit tertunduk.
Seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak bisa ia hindari lagi.
Perempuan itu berbicara lebih dulu.
“Dia sudah sampai.”
Arga tidak menjawab.
Tapi kepalanya sedikit terangkat.
Dan saat itu…
matanya bertemu dengan Naira.
Hening.
Bukan hening biasa.
Tapi hening yang seperti menghentikan semua suara di dunia.
Arga berdiri perlahan.
“Naira…”
Suaranya tidak keras.
Tidak panik.
Tapi… berat.
Seperti kata itu sendiri sudah terlalu lama ditahan.
Naira tidak masuk lebih jauh.
Ia hanya berdiri di ambang pintu.
Matanya tidak pada Arga sepenuhnya.
Tapi juga tidak bisa lepas.
“Ini tugas juga?” suaranya pelan.
Arga membuka mulut.
Menutup lagi.
Perempuan di sofa itu berdiri.
“Dia tidak tahu kamu akan datang,” katanya.
Naira menatap perempuan itu.
“Kamu siapa?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Ia menatap Arga dulu.
Seolah jawaban itu bukan miliknya.
Arga akhirnya berkata pelan:
“Dia dari unit lama.”
Naira mengulang dalam hati.
Unit lama.
Seperti sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
Tapi belum pernah benar-benar ditutup.
Perempuan itu melangkah sedikit ke depan.
“Nama saya Risa.”
Nama itu jatuh begitu saja.
Tanpa drama.
Tapi Naira merasakannya seperti sesuatu yang sudah lama tinggal di rumahnya tanpa izin.
Risa menatap Naira.
“Dan aku bukan orang ketiga.”
Hening.
Arga menutup mata sebentar.
Seperti seseorang yang lelah bukan karena berjalan jauh…
tapi karena terus-menerus menghindari satu titik yang akhirnya ia sampai juga.
Naira tertawa kecil.
Kali ini lebih dingin.
“Lucu,” katanya.
“Semua orang yang ketahuan selalu bilang begitu.”
Risa tidak tersinggung.
Ia hanya menghela napas.
“Kalau kamu ingin marah, marah ke dia,” katanya sambil menunjuk Arga.
“Bukan ke aku.”
Naira menatap Arga sekarang.
Lama.
Arga tidak menghindar.
Tapi juga tidak maju.
Seperti seseorang yang berdiri di antara dua dunia yang sama-sama tidak bisa ia tinggalkan.
“Jelaskan,” kata Naira akhirnya.
Satu kata.
Tegas.
Arga melangkah setengah.
Berhenti.
Lalu melangkah lagi.
“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Kalimat klasik.
Terlalu sering dipakai.
Terlalu kosong.
Naira mengangkat alis sedikit.
“Kalau bukan seperti yang aku pikirkan,” katanya pelan.
“Kenapa aku selalu sampai di tempat yang sama?”
Arga tidak menjawab.
Risa justru yang berbicara.
“Karena dia tidak pernah benar-benar pulang.”
Kalimat itu tidak ditujukan untuk menyakiti.
Tapi justru karena itu, ia terasa lebih dalam.
Arga menatap Risa tajam.
“Cukup,” katanya pelan.
Risa diam.
Tapi tidak mundur.
Naira melangkah masuk satu langkah.
Kini ia benar-benar berada di dalam kamar.
“Jadi apa ini?” tanyanya.
“Dinas?”
“Rahasia negara?”
“Atau kalian berdua memang tidak pernah selesai?”
Arga menatapnya lama.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Ini tentang operasi.”
Naira langsung menjawab:
“Operasi di hotel?”
Arga diam.
Dan diam itu… sudah cukup menjawab semuanya.
Risa mengambil sebuah amplop dari meja.
Menaruhnya di antara mereka.
“Ini yang kamu datang untuk lihat,” katanya ke Naira.
Naira tidak menyentuhnya.
Arga langsung berkata, “Jangan.”
Tapi sudah terlambat.
Risa sudah mendorong amplop itu sedikit ke arah Naira.
“Di dalamnya ada nama yang selama ini kamu cari.”
Naira menatap amplop itu.
Tangannya akhirnya bergerak.
Pelan.
Tapi sebelum ia menyentuhnya…
lampu kamar tiba-tiba berkedip sekali.
Lalu mati.
Gelap.
Dan dalam gelap itu—
suara pintu kamar hotel dari arah belakang Naira…
tertutup perlahan.
Klik.
Dan suara lain terdengar di dekat telinganya.
Suara yang bukan milik Arga.
“Bagus.”
“Sekarang kamu sudah masuk juga.”
Naira membeku.
Arga langsung bersuara dari dalam gelap:
“Siapa di sana?!”
Tapi tidak ada jawaban.
Hanya suara langkah pelan.
Semakin dekat.
Dan di detik Naira mencoba menoleh—
seseorang di belakangnya berbisik sangat pelan:
“Selamat datang di bagian paling awal dari kebohongan suamimu.”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar