Kunci di pintu depan masih berputar.
Bukan dari dalam.
Dari luar.
Naira tidak bergerak.
Tangannya masih menggenggam ponsel, layar masih menyala dengan pesan yang baru saja ia baca. Kata-kata itu tidak hilang, bahkan ketika ia berkedip berkali-kali.
“Kalau kamu ingin tahu kebenaran tentang Arga…”
Suara pintu terdengar sekali lagi.
Klik.
Dan pintu terbuka sedikit.
Angin malam masuk lebih dulu sebelum siapa pun terlihat.
Naira berdiri.
Pelan.
Tidak terburu-buru.
Seperti seseorang yang sudah tahu bahwa apa pun yang masuk ke rumah ini malam ini, tidak akan bisa dikeluarkan dengan cara yang sama.
Arga muncul.
Seragamnya belum lengkap. Kemeja dinasnya terbuka di bagian atas, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya… lebih dingin dari biasanya.
Matanya langsung menangkap Naira.
Lalu ponsel di tangan Naira.
Dan akhirnya… layar yang masih menyala.
Hening.
Tiga detik.
Lima detik.
Arga melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
“Siapa yang kirim itu?” suara Arga rendah.
Naira tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat ponsel sedikit, cukup agar Arga melihat isi pesan itu tanpa perlu dijelaskan.
Arga menghela napas.
Bukan lega.
Lebih seperti seseorang yang baru saja kehilangan ruang untuk bersembunyi.
“Dari mana kamu dapat alamat hotel itu?” tanya Naira akhirnya.
Arga melepas tasnya.
Gerakannya pelan, tapi tidak ragu.
“Tidak penting.”
Jawaban itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang.
Tapi efeknya jauh lebih dalam.
“Tidak penting?” ulang Naira.
Arga menatapnya sekarang. Lebih langsung.
“Na, ini bukan urusan kamu.”
Kalimat itu membuat sesuatu di wajah Naira berubah.
Bukan marah.
Tapi seperti sesuatu yang selama ini ditahan akhirnya retak sedikit.
“Bukan urusanku?” suaranya pelan, tapi tajam di ujungnya.
Arga tidak menjawab.
Ia berjalan ke meja, mengambil gelas air, minum seperti mencoba menghindari percakapan itu lewat tenggorokan yang sibuk.
Naira mengikuti setiap gerakannya.
“Pesan itu bilang kalau aku ingin tahu kebenaran tentang kamu,” lanjut Naira.
Arga berhenti minum.
“Dan kamu bilang ini bukan urusanku?”
Arga menaruh gelasnya kembali. Lebih keras dari seharusnya.
“Jangan percaya pesan anonim seperti itu.”
Naira tersenyum kecil.
Tapi kali ini bukan senyum yang biasa ia pakai untuk menahan suasana.
Ini lebih dingin.
“Lucu,” katanya pelan.
Arga menatapnya.
“Yang aku percaya bukan pesan itu,” lanjut Naira.
Ia melangkah sedikit ke depan.
“Yang aku tidak percaya… kamu.”
Kalimat itu tidak tinggi.
Tidak meledak.
Tapi justru karena itu, ia terasa lebih dalam.
Arga diam.
Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, ia tidak langsung menjawab.
Telepon Arga bergetar di meja.
Sekali.
Dua kali.
Nama yang sama seperti malam sebelumnya muncul lagi di layar.
Naira melihatnya.
Arga lebih cepat.
Ia mengambil ponsel itu, menggeser layar, lalu langsung mematikannya.
Terlalu cepat.
Terlalu terlatih.
Naira memperhatikan itu semua tanpa berkedip.
“Nama itu lagi,” katanya pelan.
Arga memasukkan ponselnya ke saku.
“Sudah kubilang, itu urusan kerja.”
Naira tertawa kecil.
Hanya sekali.
Pendek.
Tidak ada humor di dalamnya.
“Kerja di hotel?”
Arga tidak menjawab.
Hening itu kembali datang, lebih berat dari sebelumnya.
Beberapa detik kemudian, Arga berjalan melewati Naira menuju kamar.
“Besok aku harus berangkat lagi,” katanya tanpa menoleh.
Naira tidak bergerak.
“Ke Surabaya?” tanyanya.
Arga berhenti di pintu kamar.
Tidak menoleh.
Tapi bahunya sedikit menegang.
“Ya.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuat udara di rumah itu berubah.
Naira menatap punggungnya.
“Sendiri?”
Arga diam lama.
Terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana.
“Ini tugas,” katanya akhirnya.
Lalu ia masuk kamar.
Pintu tertutup.
Klik.
Dan lagi-lagi, rumah itu kehilangan sesuatu.
Naira tidak langsung mengikuti.
Ia berdiri di ruang tamu cukup lama.
Lalu duduk.
Lalu berdiri lagi.
Tangannya akhirnya kembali ke meja kerja kecil.
Map cokelat itu masih di sana.
Tapi kali ini, ia tidak membukanya.
Ia hanya menatapnya.
Seperti seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, tapi belum berani mengakui arah dari semua potongan itu.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor tak dikenal.
Naira ragu sepersekian detik sebelum mengangkat.
“Ya.”
Suara di seberang kali ini lebih jelas.
Perempuan.
Tenang.
“Bu Naira?”
Naira tidak menjawab.
“Kalau Ibu masih ingin tahu kebenarannya, datang ke hotel Grand Aster. Lobby jam 10 malam.”
Naira menatap jam di dinding.
9:18 malam.
“Siapa kamu?” tanya Naira akhirnya.
Hening kecil di seberang.
Lalu suara itu menjawab.
“Orang yang pernah duduk di tempat Ibu sekarang.”
Telepon diputus.
Naira tidak bergerak selama beberapa detik.
Lalu ia berdiri.
Langkahnya menuju kamar tidak cepat.
Tidak juga ragu.
Hanya pasti.
Di depan pintu kamar, ia berhenti.
Arga ada di dalam.
Suara kecil dari dalam kamar terdengar samar—mungkin lemari dibuka, mungkin barang dimasukkan ke tas.
Naira menatap pintu itu lama.
Tangannya terangkat.
Tapi tidak mengetuk.
Ia justru berbalik.
Mengambil jaketnya.
Mengambil tas kecil.
Dan dalam beberapa menit, ia sudah berada di luar rumah.
Udara malam menyentuh wajahnya seperti sesuatu yang dingin tapi jujur.
Ia memesan taksi online.
Nomor kendaraan muncul di layar.
Tapi sebelum mobil itu datang…
suara pintu rumah terbuka dari belakang.
“Naira.”
Suara Arga.
Pertama kali malam ini ia memanggil namanya tanpa dingin.
Naira berhenti.
Tidak menoleh.
Arga berdiri di teras, masih setengah siap, seolah baru menyadari sesuatu terlalu terlambat.
“Ke mana kamu?” tanyanya.
Naira akhirnya menoleh sedikit.
Hanya sedikit.
“Mengetahui hal yang kamu bilang bukan urusanku.”
Arga melangkah turun satu anak tangga.
“Jangan pergi.”
Kalimat itu tidak keras.
Tidak memerintah.
Justru terdengar seperti permintaan.
Naira menatapnya lama.
Lalu ponselnya bergetar lagi.
Pesan baru.
Dari nomor yang sama.
“Dia akan mencoba menghentikanmu. Tapi kalau kamu berhenti sekarang, kamu tidak akan pernah tahu siapa yang sebenarnya ia pulang setiap malam.”
Naira menatap layar itu.
Lalu kembali ke Arga.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak terlihat seperti istri yang menunggu penjelasan.
Tapi seperti seseorang yang sudah memutuskan akan menemukan jawabannya sendiri.
Mobil taksi berhenti di depan rumah.
Lampu kuningnya berkedip pelan.
Arga melangkah lebih dekat.
“Naira,” suaranya lebih rendah. “Itu bukan tempat yang harus kamu datangi.”
Naira membuka pintu mobil.
Sebelum masuk, ia berhenti.
Menatap Arga satu kali lagi.
“Justru itu masalahnya, Arga,” katanya pelan.
“Selama ini aku selalu di tempat yang kamu izinkan.”
Ia masuk mobil.
Pintu tertutup.
Dan saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah…
Arga berdiri diam di teras.
Menatap ke arah mobil itu pergi.
Namun yang tidak ia ketahui—
di dalam mobil itu, Naira tidak hanya membawa dirinya.
Ia membawa sesuatu yang baru saja ia temukan di dalam map cokelat itu tadi sore.
Sebuah kode kecil di sudut halaman terakhir.
Kode yang tertulis rapi dengan tinta berbeda:
“S-17 / Hotel Grand Aster – arsip internal tidak aktif”
Dan saat mobil berbelok keluar jalan utama…
panggilan masuk ke ponsel Arga muncul lagi.
Nama yang sama.
Tapi kali ini, Arga tidak langsung mengangkat.
Ia hanya menatap layar itu.
Lama.
Sementara di sisi lain kota, mobil Naira terus melaju menuju alamat yang mungkin tidak akan pernah bisa membuatnya kembali seperti sebelumnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar