Masalah dengan menjadi mahasiswi seni semester akhir adalah kamu selalu kelihatan berantakan di waktu yang paling tidak tepat.
Aku baru saja keluar dari studio dengan cat akrilik di siku kanan, rambut diikat asal dengan pensil yang entah kapan masuk ke sana, dan tas yang tali slempangnya sudah mulai lepas jahitan—ketika aku melihat seseorang berdiri di depan gedung jurusan.
Kemeja abu-abu. Bersih. Rapi dengan cara yang terasa seperti usaha tapi tidak terlihat seperti usaha. Tangan di saku celana. Tidak melihat ke ponsel—hanya berdiri dan menunggu dengan sabar yang terasa aneh di kampus yang selalu penuh dengan orang yang buru-buru.
Felya yang berjalan di sebelahku langsung berbisik. "Eh, itu dosen baru jurusan DKV ya? Yang katanya dari industri?"
"Nggak tau," bisikku balik.
"Gantengnya nggak biasa untuk dosen." Felya mengeluarkan ponsel. "Mau foto."
"Jangan foto orang sembarangan."
Tapi sebelum Felya sempat berbuat apapun, pria itu mengangkat pandangan—dan matanya mendarat tepat padaku.
Lalu ia melangkah ke arahku.
Aku berhenti. Felya di sebelahku berhenti. Beberapa mahasiswa yang lewat juga ikut melambat karena entah kenapa ada sesuatu dalam cara pria itu berjalan yang membuat orang memperhatikan.
"Resti?" tanyanya.
Suara rendah. Datar. Tapi bukan datar yang dingin—datar yang terukur.
"...iya?"
"Galih." Ia mengulurkan tangan. "Kamu pasti sudah tahu."
Aku menggenggam tangannya dan otakku bekerja keras:
*Galih.*
*Galih Aryo Wibowo.*
*Yang namanya disebut Ibu seminggu lalu dengan nada yang sama seperti beliau menyebut nama dokter keluarga kami—penting, sudah diputuskan, tidak perlu didebat.*
Oh.
*Oh tidak.*
"Aku yang jemput kamu hari ini," katanya. "Ibumu bilang kamu tidak bawa motor."
Di sebelahku, Felya menarik napas pelan. Panjang. Dengan cara orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat menarik dan tidak tahu harus diapakan.
Aku tahu besok pagi seluruh angkatan sudah dapat kabar.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar