Aku menemukan dua sikat gigi baru di kamar mandi tamu pagi itu. Warna merah muda dan biru muda, masih dalam kemasan yang sudah dibuka. Berdiri rapi di gelas keramik yang seharusnya kosong.

Padahal tidak ada tamu. Tidak ada yang menginap. Tidak ada yang menumpang.

Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi itu selama hampir satu menit, hanya menatap dua sikat gigi yang tidak masuk akal itu. Otakku—otak akuntan yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai—langsung bekerja. Menghitung. Mencocokkan. Mencari penjelasan yang logis.

Tidak ada penjelasan yang logis.

"Mama?"

Suara Kayla membuatku tersentak. Putri kecilku yang baru berusia lima tahun berdiri di belakangku dengan boneka kelinci di tangannya, masih dalam piyama bermotif bintang.

"Iya, sayang."

"Mama lagi ngapain liatin sikat gigi?"

Aku menelan ludah. Memaksa diri tersenyum.

"Mama lagi mikir mau ganti sikat gigi baru."

"Yang merah muda buat Kayla?"

"Bukan, sayang. Itu... punya orang lain."

Kayla mengernyit. "Siapa?"

Aku tidak menjawab. Aku menutup pintu kamar mandi itu pelan-pelan dan menggendong Kayla, membawanya ke dapur. Membuatkan susu cokelat yang biasa ia minum. Tanganku bergerak otomatis. Otakku tidak.

Reza pulang malam itu hampir pukul sepuluh. Aroma kopi yang biasa ia pesan di kafe dekat kantor masih menempel di kemejanya. Ia melepas dasi dengan gerakan lelah dan mencium puncak kepalaku—gerakan rutin yang sudah ia lakukan selama tujuh tahun pernikahan kami.

"Capek?" tanyaku, suaraku terdengar normal di telingaku sendiri.

"Banget. Hari ini meeting empat kali berturut-turut." Ia duduk di sofa, melonggarkan kerah kemejanya. "Kayla udah tidur?"

"Sudah. Tadi dia nungguin Papa sampai jam sembilan."

"Maaf, ya."

Aku duduk di sebelahnya. Mengambil napas panjang. Lalu memutuskan untuk tidak basa-basi.

"Reza, di kamar mandi tamu ada dua sikat gigi baru."

Reza diam selama dua detik. Hanya dua detik. Tapi dua detik itu cukup bagiku untuk tahu bahwa ia sudah menyiapkan jawaban sebelum aku bertanya.

"Oh, itu." Ia tersenyum. Senyum yang seharusnya membuatku tenang, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. "Aku belum sempat cerita. Sayang, Nadira butuh tempat tinggal sementara."

"Nadira?"

"Iya. Kamu inget kan, sahabat kamu waktu kuliah? Dia lagi ada masalah sama kontrakannya. Renovasi besar-besaran, harus pindah dua bulan. Aku tawarin nginep di sini dulu. Nggak apa-apa, kan?"

Aku menatapnya. Reza tersenyum dengan tenang, seolah ini hanya percakapan biasa tentang tamu biasa.

Tapi ada yang salah.

Nadira memang sahabatku sejak kuliah. Memang kami masih kontak. Memang aku pernah bercerita tentangnya pada Reza beberapa kali. Tapi—

"Kenapa kamu yang nawarin? Kenapa bukan dia yang minta sama aku?"

"Dia segan. Kamu tahu Nadira, kan, orangnya sungkanan."

Aku tahu Nadira. Dan Nadira bukan orang yang sungkanan.

"Kapan dia datang?"

"Besok pagi. Aku udah bilang dia bawa barang seperlunya aja. Nggak akan ngerepotin kamu."

Aku mengangguk. Pelan. Hampir tidak terlihat.

"Oke."

Reza tersenyum lebih lebar dan menarikku ke pelukannya. Aku membiarkan diriku menempel di dadanya, mendengar detak jantungnya yang stabil dan tenang. Detak jantung suami yang seharusnya membuatku merasa aman.

Tapi malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring di sebelah Reza yang sudah terlelap, menatap langit-langit kamar. Otak akuntan dalam kepalaku tidak mau berhenti menghitung.

Dua sikat gigi. Bukan satu.

Nadira tidak mungkin sungkan. Nadira selalu mengontakku langsung untuk hal-hal kecil sekalipun. Tapi untuk hal sebesar ini—meminta tinggal di rumahku—ia memilih bicara dengan Reza?

Dan Reza tahu di mana letak kamar mandi tamu. Reza tidak pernah memakai kamar mandi tamu.

Lalu siapa yang membeli sikat gigi itu? Kapan sikat gigi itu dibeli? Mengapa dua?

Aku menutup mata dan memaksa diri tidur.

Aku tidak berhasil sampai pukul tiga pagi.

Dan ketika akhirnya tidur, aku bermimpi melihat dua sikat gigi itu berdiri di gelas keramik. Tapi yang satu—yang biru muda—berubah jadi sikat gigi Reza. Familiar. Sudah lama. Sudah berbulan-bulan ia ada di sana, hanya aku saja yang tidak sadar.

---