Cat itu warnanya biru.
Biru tua, seperti langit malam sebelum hujan. Tumpah dari ember kecil yang entah dari mana asalnya, menyiram gaun pengantin putihku dari bahu kanan sampai pinggang dalam waktu kurang dari satu detik.
Di hadapanku, Bagas—anak sulung Aryo, dua belas tahun, dengan wajah yang tidak menyesal satu persen pun—berdiri tegak sambil menatapku dengan mata yang sudah menyimpulkan segalanya sebelum kejadian ini terjadi.
"Kamu tidak pantas jadi ibu kami."
Tiga puluh tamu undangan di pendopo hening.
Penghulu yang baru membuka buku nikahnya berhenti di tengah halaman.
Aryo—calon suamiku, duda tiga anak yang melamarku tiga bulan lalu dengan cara yang tidak romantis tapi sangat tulus—berdiri di sebelahku dengan wajah yang sudah putih.
Dan aku, Maya Kusuma, guru TK yang sudah dua puluh delapan tahun belajar sabar menghadapi anak-anak yang paling sulit sekalipun, berdiri di hari pernikahanku sendiri dengan gaun yang sudah tidak lagi putih.
Aku menarik napas.
Satu. Pelan. Dalam.
Lalu aku berlutut.
Bukan karena menyerah. Bukan karena sakit hati—meski sakit hati itu ada, di suatu tempat yang belum sempat aku cek karena terlalu banyak hal terjadi dalam tiga detik terakhir.
Aku berlutut karena Bagas masih dua belas tahun. Dan mata anak dua belas tahun yang baru saja melakukan sesuatu yang ekstrem tidak terlihat seperti mata anak yang membenci.
Terlihat seperti mata anak yang ketakutan.
"Bagas," kataku pelan.
Ia sedikit mundur. Tidak mengharapkan ini.
"Aku tahu kamu tidak mau aku di sini." Suaraku tidak bergetar. Bertahun-tahun bicara ke anak-anak yang menangis atau marah mengajariku cara menjaga nada. "Dan kamu tidak harus menerima aku hari ini. Atau besok. Atau kapanpun."
Ia menatapku. Tangannya menggenggam sesuatu—mungkin sisa cat, mungkin bukan.
"Tapi pernikahan ini tetap akan terjadi." Aku menatap matanya langsung. "Bukan untuk mengambil ibumu. Bukan untuk menguasai rumahmu. Hanya karena aku mencintai ayahmu."
Hening di pendopo.
Lalu suara Dinda—adik Bagas yang bungsu, enam tahun—dari sudut ruangan: "Bajunya jadi kayak langit, Kak."
Tawa kecil dari beberapa tamu. Tegang yang terlalu kencang sedikit mereda.
Aku berdiri. Menatap Aryo yang sudah melangkah ke arahku dengan ekspresi campuran antara minta maaf dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Masih mau lanjut?" bisiknya.
Aku melihat ke bawah. Gaun putih dengan bercak biru sebesar telapak tangan di bahuku.
"Tentu saja." Aku mengambil tangannya. "Penghulu-nya sudah nunggu."
Pernikahan itu tetap berlangsung.
Tapi satu hal yang pasti: ini akan menjadi perjalanan paling panjang dalam hidupku. Lebih panjang dari skripsi yang butuh empat semester. Lebih panjang dari masa percobaan kerja pertamaku. Lebih panjang dari apapun yang pernah kuhadapi.
Karena memenangkan hati anak yang sudah memutuskan untuk tidak membukanya—itu bukan pekerjaan satu hari.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar