Klinik militer letaknya di sudut timur kompleks markas — bangunan dua lantai dengan cat putih yang mulai kekuningan di sudut-sudutnya, tapi peralatannya, aku senang menemukan, tidak sekuning catnya.

Sersan Dewi — perempuan bertubuh kecil dengan langkah yang selalu terlalu cepat untuk ukuranku — mengajakku keliling dengan tempo seorang pemandu wisata yang sudah hapal rutenya sambil tidur.

"Lantai satu: UGD, ruang periksa umum, apotek kecil. Lantai dua: ruang rawat inap, laboratorium sederhana, ruang dokter. Staf ada enam orang tetap — dua dokter termasuk kamu sekarang, tiga perawat, satu administrasi." Ia berhenti di depan sebuah pintu. "Ini ruanganmu."

Ruangan yang dimaksud berukuran cukup untuk meja, dua kursi, dan lemari berkas. Tidak ada hiasan. Tidak ada tanaman. Tidak ada hal yang membuat ruangan itu terasa seperti milik siapapun secara khusus.

Aku menyukainya.

"Dokter Riza — rekan doktermu — sedang cuti hari ini. Kamu akan menemuinya besok." Sersan Dewi melihat jam tangannya. "Apel sore jam lima. Semua staf wajib hadir kecuali yang sedang menangani pasien aktif. Komandan akan memeriksa kehadiran secara langsung setiap Rabu."

"Komandan Arya?"

Sersan Dewi melirikku dengan ekspresi yang sulit aku definisikan. "Siapa lagi."

"Ia tadi yang menegurku soal seragam."

"Iya." Ada jeda kecil. "Pak Komandan cukup... ketat soal protokol."

Aku ingin bertanya lebih jauh — *cukup ketat* terasa seperti eufemisme untuk sesuatu yang lebih spesifik — tapi Sersan Dewi sudah melangkah lagi.

"Ruang ganti di ujung lorong. Kamar tidur staf di gedung sebelah kalau kamu memutuskan menginap di sini — tidak wajib tapi banyak yang melakukannya kalau shift sedang padat."

Aku mengikutinya ke luar, mencatat tata letak ruangan, pintu-pintu, jendela. Kebiasaan lama dari masa koas — kenali medan sebelum mulai bekerja.

---

Apel sore jam lima.

Aku berdiri di barisan kanan bersama staf klinik lainnya di halaman kecil di depan gedung utama. Matahari sudah mulai turun tapi panasnya belum sepenuhnya pergi.

Komandan Arya Wibisono muncul dari gedung utama dengan langkah yang tidak tergesa tapi membuat semua orang di sekitarku sedikit lebih tegak.

Ia lebih tinggi dari yang aku perkirakan dari pertemuan singkat tadi. Tiga puluhan awal, mungkin. Wajah yang tidak bisa dengan mudah disebut keras atau lunak — wajah yang dibentuk oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa aku identifikasi dari jarak ini.

Ia memeriksa barisan dengan pandangan yang bergerak sistematis dari kiri ke kanan. Ketika sampai padaku, berhenti sedetik lebih lama.

"Dokter Kirana." Suaranya cukup keras untuk didengar semua orang. "Atribut sudah diperbaiki."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

"Sudah, Pak Komandan."

Ia tidak berkomentar lebih lanjut. Melanjutkan inspeksinya. Bicara tentang jadwal minggu depan, tentang latihan besar yang akan melibatkan lebih banyak personel, tentang standar kebersihan fasilitas yang perlu ditingkatkan.

Aku mendengarkan dan mencatat.

Setelah apel selesai, ketika semua orang mulai berpencar, Sersan Dewi mendekati dengan suara pelan. "Itu termasuk respons yang baik dari Pak Komandan."

Aku menatapnya. "Itu?"

"Biasanya kalau ada orang baru yang salah sesuatu, beliau tidak langsung konfirmasi perbaikannya di depan semua orang. Kamu beruntung."

Aku menatap ke arah Komandan Arya yang sudah masuk kembali ke gedung utama, punggungnya hilang di balik pintu.

Beruntung. Menarik pilihan kata itu.

"Kenapa dokter sebelumku keluar?" tanyaku ke Sersan Dewi.

Ia sedikit ragu. "Dokter Raka? Ia minta pindah setelah... ada ketidakcocokan dengan Pak Komandan soal prosedur penanganan."

"Ketidakcocokan seperti apa?"

Sersan Dewi melirik ke kanan dan kiri — gerakan seseorang yang mempertimbangkan seberapa banyak yang ingin ia katakan. "Pak Komandan punya pandangan yang cukup spesifik tentang bagaimana dokter seharusnya bekerja di lingkungan militer. Tidak semua orang cocok dengan pandangan itu."

Aku mempertimbangkan informasi ini.

Dokter sebelumku pergi karena tidak cocok. Arya Wibisono dengan standar yang ketat dan protokol yang tidak bisa ditawar.

Dan aku yang baru pertama hari ini sudah salah seragam.

Menarik sekali.

"Terima kasih, Sersan Dewi," kataku, lalu berjalan kembali ke klinik untuk memeriksa persediaan obat — pekerjaan pertama yang selalu aku lakukan di lingkungan baru.

Ada yang perlu aku pelajari di sini. Dan aku tidak berencana keluar sebelum mempelajarinya semua.

---