Devika menjawab teleponku di dering ketiga.

Itu sudah cukup membuktikan bahwa ia tahu untuk apa aku menelepon.

"Kiran." Suaranya tidak ada rasa bersalah di dalamnya. Itu yang pertama kali aku perhatikan. "Kamu baik-baik saja?"

"Temui aku." Aku tidak basa-basi. "Sekarang. Kafe yang biasa."

Jeda sebentar. "Sekarang? Kamu baru—"

"Devika." Satu kata saja. Tapi cukup.

Ia datang dua puluh menit kemudian. Masih dengan gaun merah dari resepsi. Masih dengan senyum yang sama — hanya saja kali ini ada sesuatu di bawah senyum itu yang berbeda. Sesuatu yang, setelah lebih dari sepuluh tahun mengenal wajahnya, aku baru sadari bisa aku baca.

Bukan bersalah. Bukan menyesal.

Persiapan.

Ia duduk di seberangku. Memesan kopi tanpa bertanya apakah aku mau pesan sesuatu. Itu saja sudah cukup untuk memberitahuku bahwa malam ini berbeda dari semua malam sebelumnya di kafe yang sama.

"Foto itu dari kapan?" tanyaku langsung.

Ia menatap mejanya sebentar. Lalu menatapku. "Enam bulan yang lalu."

Enam bulan.

Aku menikah hari ini. Enam bulan lalu kami memilih venue resepsi bersama-sama. Enam bulan lalu Devika duduk di sebelahku di showroom bunga dan membantu memilih dekorasi terbaik.

"Kamu tahu aku mempersiapkan pernikahan itu." Suaraku masih sama ratanya. Aku bangga dengan itu. "Kamu bahkan membantu."

"Iya." Ia tidak menyangkal.

"Lalu kenapa?"

Pertanyaan yang paling bodoh dan paling manusiawi yang bisa ditanyakan dalam situasi seperti ini. Tapi aku tetap bertanya. Karena aku butuh mendengar jawabannya langsung dari mulutnya.

Devika memutar cangkir kopinya pelan. "Karena Farhan lebih mudah jatuh cinta dari yang kamu kira."

Kalimat itu keluar seperti pernyataan fakta. Bukan pembelaan. Bukan penjelasan yang meminta maaf.

"Dan kamu tahu itu dan memutuskan untuk—"

"Kiran." Matanya bertemu mataku. "Kamu hampir tidak pernah ada. Tiga tahun terakhir kamu habiskan untuk program spesialis. Farhan kesepian. Manusia kesepian membuat keputusan yang berbeda."

"Jadi ini salahku."

Ia mengangkat bahu sedikit — gerakan yang, di wajah sahabat terbaikku selama lebih dari satu dekade, terasa seperti penghinaan terbesar yang pernah aku terima.

"Aku tidak bilang salahmu. Aku bilang ini terjadi."

Aku duduk diam selama beberapa detik. Memandangi wajah perempuan yang tahu persis letak tahi lalat di bahu kiriku, yang pertama kali kuceritakan tentang Farhan, yang hadir di setiap ulang tahunku sejak kami dua belas tahun, yang memegangku saat aku menangis ketika almarhum Nenek pergi tiga tahun lalu.

Wajah itu sekarang ada di depanku dan tidak ada satu pun ekspresi yang aku kenali di sana.

"Kamu mencintainya?" tanyaku.

Devika berpikir sejenak. Bukan untuk mencari jawaban — ia sudah tahu jawabannya. Tapi untuk memutuskan mau jujur seberapa jauh.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Tapi ini tidak akan berhenti, Kiran."

Itu kalimat yang ia tidak perlu ucapkan. Tapi ia mengucapkannya. Dan dalam kalimat itu ada sesuatu yang melampaui pengkhianatan biasa — ada semacam deklarasi yang tidak meminta respons, tidak memerlukan reaksiku, tidak menghitung perasaanku sebagai variabel yang relevan.

Aku berdiri.

Mengambil tas.

"Sepuluh tahun, Dev," kataku pelan. Bukan dengan suara retak. Pelan saja, seperti orang yang menyampaikan diagnosis kepada pasien yang memerlukan ketenangan bukan tangisan. "Sepuluh tahun aku kenal kamu. Dan kamu tidak pernah benar-benar ada di sana, ya."

Aku tidak menunggu jawabannya.

Aku berjalan keluar ke malam yang dingin dan langsung beralih ke pertanyaan yang lebih penting:

Langkah apa selanjutnya?

---