Resepsi esok harinya — sesi keluarga yang memang sudah direncanakan sebelumnya — berjalan dengan aku di dalamnya seperti mesin yang sudah diprogram untuk tersenyum.
Bukan lebay. Bukan berlebihan. Hanya Kirana Salsabila yang melakukan apa yang perlu dilakukan.
Ibu mertuaku — mantan ibu mertuaku, aku harus mulai membiasakan diri dengan konstruksi kalimat baru ini — membawa cucunya yang baru belajar jalan dan menunjukkannya kepadaku dengan bangga. Aku menimang anak itu. Aku bilang lucu. Anak itu memang lucu.
"Sebentar lagi kalian punya juga, ya," kata beliau dengan senyum yang tulus.
"Doakan saja, Bu." Senyumku tidak pernah bergeser.
Farhan ada di ruangan yang sama. Kami tidak berbicara lebih dari yang perlu. Ketika foto keluarga, kami berdiri berdampingan dengan jarak yang pas — cukup dekat untuk tampak sebagai pasangan, cukup jauh untuk aku tidak perlu menyentuh bahunya.
Farhan mencoba berbicara padaku dua kali. Dua kali aku mengalihkan dengan sangat halus — ada tamu yang perlu disambut, ada sepupuku yang memanggil, ada kebutuhan ke kamar kecil yang tiba-tiba mendesak.
Ia tidak memaksa. Entah karena segan atau karena ia sendiri belum tahu harus bilang apa.
Aku tidak peduli mana yang benar.
---
Malam kedua di kamar pengantin.
Kali ini Farhan mengetuk pintu sebelum masuk. Aku membukanya karena tidak ada alasan tidak membukanya — ini secara teknis masih kamar kami berdua dan aku tidak bisa menghindari percakapan ini selamanya.
Ia masuk. Duduk di kursi yang sama dengan kemarin. Aku duduk di tepi ranjang.
"Kiran, aku minta maaf."
"Aku tahu." Dan aku memang tahu. Permintaan maaf Farhan tidak perlu dipertanyakan kesungguhannya — ia sungguh menyesal, itu bisa aku baca dari caranya duduk, dari cara tangannya tidak tahu harus dipegang ke mana. Farhan yang menyesal adalah Farhan yang otentik. Masalahnya bukan pada penyesalannya.
"Aku tidak tahu kenapa—"
"Farhan." Aku memotong pelan. "Aku tidak butuh penjelasannya malam ini. Mungkin tidak pernah butuh. Yang aku butuh tahu hanya satu hal."
Ia menatapku.
"Kamu masih punya perasaan ke Devika?"
Jeda yang terlalu panjang sudah menjawab sebelum mulutnya bergerak.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya.
Tidak tahu. Dua kata yang lebih jujur dari semua permintaan maaf yang bisa ia ucapkan.
Aku mengangguk. "Baik."
"Kiran—"
"Aku akan berbicara dengan pengacara minggu depan." Suaraku keluar sama ratanya. "Kita baru sehari menikah secara hukum, ini bisa diselesaikan dengan cepat kalau keduanya kooperatif. Aku berencana kooperatif. Kamu?"
Farhan menatapku dengan ekspresi orang yang tidak percaya apa yang ia dengar. "Kamu serius?"
"Sangat."
"Kiran, kita bisa—"
"Bisa apa?" Untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, ada ketegasan yang naik sedikit di nada suaraku. Bukan marah. Tegas. "Bisa coba lagi sementara kamu tidak tahu apakah kamu masih punya perasaan ke perempuan itu? Bisa pura-pura kemarin tidak terjadi?" Aku menggeleng. "Aku bukan tipe orang yang membangun sesuatu di atas fondasi yang sudah retak, Farhan. Itu bukan untukku dan bukan untukmu juga."
"Tapi—"
"Tidur di sofa malam ini." Aku berbaring, membelakanginya, dan menarik selimut. "Besok kita bicara dengan keluarga masing-masing. Semingggu lagi kita ketemu pengacara. Itu rencanaku."
Hening di belakangku bertahan lama.
Akhirnya terdengar langkah kaki, suara pintu kamar mandi dibuka, dan beberapa menit kemudian suara sofa yang menampung beban seseorang.
Aku menatap dinding.
Di luar, kota masih hidup. Di dalam, pernikahan dua hari itu sudah selesai sebelum benar-benar dimulai.
Aku menutup mata dan mulai menyusun langkah-langkah selanjutnya.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar