Proses cerainya rapi. Itu yang orang-orang tidak tahu.
Perceraian populer di novel dan sinetron selalu berantakan — tangis di pengadilan, keluarga yang terbagi dua, drama yang berlapis-lapis. Kenyataannya, ketika dua orang dewasa memutuskan untuk mengakhiri sesuatu yang sudah selesai bahkan sebelum dimulai, prosesnya bisa berlangsung dengan sangat teratur.
Aku dan Farhan bertemu pengacara sembilan hari setelah pernikahan. Keluarga kedua pihak tidak senang — tentu saja tidak senang, tidak ada keluarga yang senang mendengar anaknya bercerai kurang dari dua minggu menikah — tapi aku menjelaskan situasinya dengan cara yang tidak memberi ruang untuk bantah.
*Ini keputusan kami berdua. Tidak ada yang perlu disalahkan. Tolong hormati.*
Farhan kooperatif. Itu yang paling membantu.
Tiga minggu kemudian, secara hukum aku kembali menjadi Kirana Salsabila yang tidak terikat pada siapapun.
---
Masalahnya adalah apa yang datang setelah itu.
Aku kembali ke apartemenku yang selama ini sudah setengah dikosongkan untuk pindah ke rumah baru — rumah yang tidak jadi kami tempati — dan duduk di lantai ruang tamu yang setengah kosong dengan satu pertanyaan: sekarang apa?
Karir. Tentu saja karir.
Aku dokter spesialis yang baru saja menyelesaikan program dua tahun dengan hasil terbaik di angkatanku. Rumah sakit tempat aku magang sudah menawari posisi tetap. Aku tinggal menandatangani kontrak dan melanjutkan hidup yang sudah aku rencanakan.
Tapi ada masalah dengan rencana itu: Devika bekerja sebagai kepala HRD di perusahaan farmasi yang menjadi mitra utama rumah sakit tempat aku akan bekerja. Artinya, secara profesional, nama Devika akan selalu ada dalam dokumen yang sama dengan namaku.
Aku tidak bisa menghindarinya. Tidak di sana.
Maka aku mencari tempat lain.
Bukan karena takut menghadapi Devika — aku tidak takut pada siapapun. Tapi ada filosofi sederhana yang aku pegang: jangan buang energi untuk perang yang tidak perlu. Pindah medan lebih efisien.
Tawaran itu datang dari Dr. Hendro, dosen pembimbing skripsi spesialisku yang sekarang menjabat di kementerian. Ia menghubungiku dua hari setelah proses cerai selesai — entah tahu dari mana tentang situasiku, atau memang kebetulan waktunya tepat.
"Ada posisi menarik kalau kamu berminat, Kiran." Suaranya di telepon terdengar seperti orang yang sedang menawarkan sesuatu yang sudah ia pikir lama. "Dokter di klinik militer. Fasilitas lengkap, gaji lebih dari kompetitif, dan lingkungan yang berbeda dari rumah sakit biasa."
Aku terdiam sejenak. "Militer?"
"Kamu akan dipekerjakan sebagai dokter sipil di bawah naungan klinik kesehatan markas. Bukan tentara, kamu tidak perlu latihan fisik atau apapun yang seperti itu. Tapi lingkungan kerjanya yang berbeda."
Aku berpikir selama tiga detik.
Lingkungan berbeda. Jauh dari rumah sakit lama. Jauh dari nama-nama yang terlalu aku kenal.
Dan — meskipun aku tidak akan mengakuinya kepada Dr. Hendro atau siapapun — ada sesuatu di dadaku yang ingin membuktikan sesuatu. Kepada siapa? Aku tidak yakin. Kepada dunia, mungkin. Kepada dua orang yang mungkin sudah tidak memikirkanku lagi sejak aku keluar dari hidup mereka.
"Aku tertarik," kataku.
---
Tiga minggu kemudian aku berdiri di depan gerbang markas militer dengan koper berisi pakaian untuk sebulan dan map berisi semua dokumen yang diperlukan, dan menyadari bahwa aku mungkin tidak sepenuhnya memikirkan keputusan ini sampai ke detailnya.
Markas militer berbeda dari bayangan kebanyakan orang — tidak seseramnya, tapi juga tidak sesederhana yang aku perkirakan. Ada bangunan-bangunan yang tampak fungsional dengan efisiensi yang tidak peduli pada estetika. Ada prajurit yang bergerak dengan tujuan yang jelas. Ada hierarki yang terasa di udara bahkan sebelum ada yang membuka mulut.
Dan ada seorang pria di balik meja resepsionis yang memandangku dari atas ke bawah dengan cara yang bukan meremehkan tapi menilai — dan menemukan sesuatu yang kurang.
"Dokter Kirana Salsabila?" Suaranya datar.
"Ya."
"Seragam kamu salah." Ia menunjuk ke arahku. "Atribut dinas harus di sisi kiri, bukan kanan. Dan warna lencana itu untuk tingkat dua, kamu masih tingkat satu. Ini harus diganti sebelum kamu masuk lebih jauh ke area dalam."
Aku menatapnya. Pria dengan pangkat yang aku belum hafal artinya, dengan wajah yang tidak menawarkan basa-basi apapun.
"Tidak ada yang memberitahuku soal aturan atribut sebelumnya," kataku dengan tenang.
"Seharusnya sudah ada dalam paket informasi yang dikirimkan." Ia mendorong sebuah amplop ke arahku. "Ini kopi yang seharusnya sudah kamu baca. Untuk hari ini, Sersan Dewi akan mendampingimu ke klinik. Besok kamu sudah harus tahu aturannya."
Pria itu berbalik sebelum aku sempat menjawab.
Aku melihat ke papan nama di mejanya.
*Komandan Arya Wibisono.*
Baiklah.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar