Aku tidak tidur semalaman.
Menjelang subuh, dengan Ren masih lelap, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sejak kemarin aku takutkan. Aku akan membuka cermin itu. Aku akan mengamatinya dengan kepala dingin, seperti ilmuwan mengamati spesimen. Aku perlu mengerti aturannya. Karena kalau ada satu hal yang aku pelajari dari dua hari terakhir, hal yang berbahaya itu selalu lebih sedikit menakutkan kalau kita memahami cara kerjanya.
Aku bangun pelan, menyalakan lampu meja yang redup supaya tidak membangunkan Ren, dan berjalan ke cermin. Aku menarik selimut yang menutupinya.
Pantulanku muncul. Perempuan dengan rambut acak-acakan, mata sembap karena kurang tidur, kalung daun di leher. Aku.
Aku berdiri diam, mengamati. Pantulan itu berdiri diam, mengamati balik. Sinkron.
Aku mengangkat tangan kanan pelan-pelan.
Pantulan mengangkat tangan kiri. Bersamaan. Persis.
Aku menurunkannya. Pantulan menurunkannya.
Aku mencoba sesuatu yang lebih cepat. Aku mengangkat tangan tiba-tiba, tanpa aba-aba.
Dan pantulan itu —
mengangkat tangannya sepersekian detik sebelum aku.
Aku membeku.
Aku ulangi. Aku berdiri diam, menenangkan diri, lalu menyentakkan tanganku ke atas secepat mungkin.
Pantulan bergerak lebih dulu. Hanya sekejap. Tapi jelas. Tangannya sudah di atas saat tanganku baru mulai naik.
Cermin itu tidak meniru gerakanku.
Cermin itu mengetahui gerakanku sebelum aku melakukannya.
Aku mundur selangkah, jantungku berdebar. Pantulan mundur selangkah — dan kali ini, juga sepersekian detik lebih dulu.
"Apa kamu?" bisikku, sangat pelan, takut membangunkan Ren.
Pantulan menggerakkan bibirnya. Membentuk kata-kata. Tapi tidak ada suara — tentu saja, ia hanya pantulan. Aku menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibirnya.
Bibir pantulan itu membentuk: *Aku kamu.*
Lalu: *Yang berikutnya.*
Aku tidak mengerti. Aku kamu yang berikutnya?
Aku mendekat lagi, sampai napasku hampir mengembun di permukaan kaca. Aku menatap mata pantulanku — mata yang sama dengan mataku, tapi ada sesuatu di belakangnya, sesuatu yang lebih tua, lebih tahu, lebih lelah.
"Apa maksudmu yang berikutnya?"
Bibir pantulan bergerak lagi. Pelan, supaya aku bisa membaca. *Kamu menatap terlalu lama. Setiap kali kamu menatap, aku semakin dekat. Dan kamu semakin jauh.*
Aku merasakan ngeri yang dingin menjalar dari ujung jari ke seluruh tubuh.
Menatap. Itu kuncinya. Itu aturannya.
Aku teringat kemarin — liontin yang berubah dari bulan sabit menjadi daun saat aku menatap terlalu lama. Cermin itu menyamakan diri denganku. Tapi tidak. Aku salah. Bukan cermin yang menyamakan diri denganku.
Akulah yang perlahan disamakan dengan cermin.
Setiap kali aku menatap, batas antara aku dan pantulan menipis. Pelan-pelan, versi di dalam cermin — versi Sara, versi dengan liontin bulan sabit, versi yang lebih cantik di foto pernikahan — versi itu menggantikan aku. Dan aku, Mira yang asli, perlahan ditarik ke dalam, menjadi yang dipantulkan, bukan yang memantul.
Aku menutup mata. Memaksa diri untuk memutus tatapan.
Saat aku membuka mata lagi, aku sengaja tidak menatap mata pantulanku. Aku menatap dindingnya, lantainya, apa saja kecuali mata itu.
"Aku tidak akan menatapmu lagi," kataku pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat reaksi di pantulan yang bukan tiruanku.
Pantulan itu — yang seharusnya menundukkan kepala seperti aku, yang seharusnya menghindari tatapan seperti aku — pantulan itu malah mengangkat wajahnya. Menatapku langsung. Dan tersenyum.
Senyum yang sabar. Senyum seseorang yang punya semua waktu di dunia.
Bibirnya membentuk satu kalimat terakhir sebelum aku menyambar selimut dan menutupinya lagi:
*Kamu sudah menatap terlalu lama, Mira. Tiga hari. Aku sudah hampir keluar.*
Aku menjatuhkan diri ke lantai, punggung bersandar pada dinding di bawah cermin yang tertutup, dada naik turun.
Tiga hari. Hari ini hari ketiga.
Dan kalau pantulan itu benar — kalau setiap tatapan membawanya makin dekat ke luar dan membawaku makin dekat ke dalam —
maka berapa kali lagi aku boleh menatap cermin sebelum aku tidak bisa keluar lagi?
Dari ranjang, Ren bergerak dalam tidurnya. Mengigau pelan. Dan kata yang ia ucapkan, dalam tidurnya, dalam suara yang nyaris tak terdengar, membuat seluruh tubuhku membeku:
"Sara... jangan masuk ke sana..."
Aku menoleh ke arahnya. Ia masih tidur, wajahnya damai.
Aku duduk di lantai dalam gelap, memeluk lutut, mencoba menyusun semuanya menjadi sesuatu yang masuk akal.
Aturan pertama dari Bu Yul belum aku dengar saat itu — ini masih dini hari sebelum ia datang — tapi aku sudah mulai menyusunnya sendiri dari pengamatan. Menatap mempercepat penggantian. Menyentuh dunia yang lain menariknya lebih dekat. Cermin menginginkan sesuatu — menginginkan keluar, menginginkan aku masuk.
Pertanyaannya: kenapa? Kenapa aku? Kenapa sekarang?
Bu Yul nanti akan bilang setiap hidup punya persimpangan. Saat-saat di mana kita memilih satu jalan dan meninggalkan yang lain. Cermin menunjukkan jalan yang tidak diambil.
Tapi kalau itu benar — kalau Sara adalah versi diriku yang membuat pilihan berbeda di suatu persimpangan — maka persimpangan itu apa? Kapan? Pilihan apa yang begitu besar sampai melahirkan versi diriku yang sepenuhnya berbeda, dengan wajah yang berbeda, nama yang berbeda, bulan madu di kota yang tidak pernah aku kunjungi?
Aku menggali ingatanku. Mencari momen besar. Persimpangan besar.
Dan anehnya, ada satu titik dalam hidupku yang selalu kabur. Satu periode yang kalau aku coba ingat, terasa seperti meraba dinding di ruangan gelap. Sekitar tujuh tahun lalu. Aku tahu aku menikah dengan Ren delapan tahun lalu. Aku tahu hidupku berjalan normal sejak itu. Tapi ada celah — beberapa bulan, mungkin lebih — yang tidak bisa aku ingat dengan jelas.
Bekas luka di pergelangan tanganku terasa berdenyut, seolah merespons pikiranku.
Aku menyingkap lengan dan menatapnya dalam cahaya redup lampu meja. Garis tipis memutih. Dari pecahan kaca. Dari sebuah malam yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun — tapi sekarang aku sadar, aku tidak menceritakannya bukan karena aku merahasiakannya.
Aku tidak menceritakannya karena aku tidak ingat malam itu.
Aku punya bekas lukanya. Tapi aku tidak punya kenangannya.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang jauh lebih menakutkan daripada apa pun tentang cermin:
Apa yang terjadi tujuh tahun lalu, yang begitu buruk sampai aku menghapusnya sendiri dari ingatanku?
Aku menarik lengan bajuku menutupi bekas luka, seolah dengan menutupinya aku bisa menutup pertanyaan yang baru saja terbuka. Tapi pertanyaan itu sudah keluar, dan tidak mau masuk kembali.
Tujuh tahun lalu. Celah dalam ingatanku. Bekas luka tanpa kenangan. Dan sekarang cermin yang menunjukkan versi diriku yang membuat pilihan berbeda di suatu persimpangan yang tidak bisa aku ingat.
Semua ini terhubung. Aku merasakannya, meski belum bisa merangkainya. Cermin bukan datang secara acak. Cermin datang karena ada sesuatu di masa laluku — sesuatu yang aku kubur begitu dalam sampai aku lupa pernah menguburnya — dan cermin tahu di mana harta karun itu disembunyikan.
Aku berdiri, kaki kaku karena terlalu lama duduk di lantai. Langit di luar jendela mulai berubah dari hitam menjadi biru tua. Subuh hampir tiba. Sebentar lagi Ren akan bangun. Sebentar lagi hari keempat dimulai, dan entah versi Ren yang mana yang akan membuka mata di sebelahku.
Aku menatap cermin yang tertutup selimut sekali lagi. Dan meski aku tahu aku seharusnya menjauh, aku tidak bisa menahan satu pertanyaan yang aku ucapkan dengan suara pelan ke arah kaca yang tersembunyi:
"Apa yang aku lupakan?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan dini hari, dan detak jantungku sendiri.
Tapi di balik selimut, sangat pelan, aku mendengar sesuatu yang terdengar seperti tangisan. Bukan tangisan dewasa.
Tangisan anak kecil.
Tapi ia tahu. Bahkan dalam tidurnya, sebagian dari Ren tahu tentang cermin ini. Tahu tentang Sara. Tahu tentang bahaya masuk ke sana.
Pertanyaannya — bagian Ren yang mana yang tahu? Ren-ku? Atau Ren milik Sara?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar