Aku turun ke dapur dengan kaki yang terasa seperti milik orang lain.

Ren sudah duduk di meja makan, koran terlipat di sebelahnya, dua cangkir kopi mengepul. Ia mengangkat wajah dan tersenyum, dan untuk sesaat aku hampir percaya bahwa semuanya normal. Bahwa aku hanya bermimpi buruk yang menempel terlalu lama.

Lalu aku melihat cangkirnya.

Cangkir biru dengan gambar burung. Cangkir yang aku beli dua tahun lalu di pasar loak, satu-satunya, karena pasangannya sudah pecah. Cangkir yang selalu aku pakai. Selalu.

Dan pagi ini, cangkir itu ada di tangan Ren.

"Itu cangkirku," kataku.

Ren menatap cangkir di tangannya, lalu menatapku. "Cangkir ini? Ini cangkir aku dari dulu, Sara."

"Bukan. Aku yang beli. Di pasar loak Tanah Baru. Kamu malah bilang jelek waktu aku bawa pulang."

Ren tertawa, tapi tawanya tidak sampai ke matanya. "Kamu ngelindur dari tadi pagi. Mana mungkin aku bilang jelek. Aku suka cangkir ini." Ia menyesap kopinya, seolah untuk membuktikan. "Duduk, kopinya keburu dingin."

Aku duduk. Tapi aku tidak menyentuh kopiku.

Aku memandang sekeliling dapur. Mencari sesuatu yang bisa aku pegang sebagai bukti bahwa ini dapurku, rumahku, hidupku. Dan dapur itu memang dapurku — sebagian besar. Kulkas di tempatnya. Kompor dua tungku. Rak bumbu yang aku susun sendiri.

Tapi ada hal-hal kecil yang salah.

Magnet kulkas. Aku punya koleksi magnet dari setiap kota yang pernah kami kunjungi. Borobudur, Bali, Bromo. Pagi ini, di antara magnet-magnet itu, ada satu yang tidak aku kenal. Magnet bergambar menara di kota yang tidak pernah aku datangi. Tulisannya: Bukittinggi.

Aku belum pernah ke Bukittinggi.

Kalender di dinding. Aku selalu pakai kalender bergambar ilustrasi bunga — hadiah dari penerbit tempat aku bekerja. Pagi ini kalender di dinding bergambar pemandangan gunung. Merek yang berbeda. Penerbit yang berbeda.

Vas di atas meja. Aku tidak punya vas. Aku tidak pernah suka bunga potong karena cepat layu dan membuatku sedih. Tapi di atas meja makan ada vas kaca bening dengan tiga tangkai mawar putih yang masih segar.

Aku menelan ludah. "Ren, sejak kapan kita punya vas?"

Ren mengikuti arah pandangku. "Vas itu? Kamu yang beli, Sara. Minggu lalu. Kamu bilang rumah perlu bunga." Ia mengernyit lagi, kernyit yang mulai aku kenali — kernyit yang muncul setiap kali aku mengatakan sesuatu yang menurutnya aneh. "Kamu yakin kamu baik-baik saja? Mau aku antar ke dokter?"

"Aku tidak pernah suka bunga potong."

"Sejak kapan?" Ren benar-benar bingung sekarang. "Kamu selalu suka mawar putih. Itu bunga favorit kamu."

Bukan. Bunga favoritku tidak ada, karena aku tidak suka bunga. Tapi bagaimana aku menjelaskan itu pada seseorang yang menatapku seolah akulah yang kehilangan akal?

Aku berdiri dari meja. "Aku mau ke kamar mandi."

Aku berjalan cepat, melewati ruang tengah, naik tangga. Di setiap langkah, mataku menangkap detail-detail kecil yang salah. Lukisan di tangga — dulu lukisan abstrak biru, sekarang lukisan pemandangan sawah. Karpet di lorong — dulu polos krem, sekarang bermotif. Kecil-kecil. Semuanya kecil. Tapi semuanya salah.

Seolah seseorang mengambil hidupku dan menggantinya, sedikit demi sedikit, dengan hidup orang lain yang sangat mirip.

Aku masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Bersandar pada daun pintu, menutup mata, mencoba bernapas.

Tenang, Mira. Tenang.

Aku membuka mata.

Dan menatap cermin di atas wastafel.

Wajahku ada di sana. Wajahku yang asli — dengan tahi lalat di bawah mata kiri, hidung yang tidak terlalu mancung, bibir yang biasa. Wajahku. Bukan wajah perempuan di foto pernikahan.

Aku menghela napas lega. Setidaknya wajahku masih wajahku.

Aku membuka keran, membasuh muka dengan air dingin. Air mengalir di sela-sela jariku, nyata, dingin, menenangkan. Aku menengadah, menatap pantulanku lagi sambil air menetes dari daguku.

Dan di sudut cermin, di belakang pantulanku, pintu kamar mandi terpantul.

Pintu yang aku kunci.

Pintu yang, di dalam cermin, perlahan-lahan terbuka.

Aku berputar.

Pintu di belakangku tertutup rapat. Terkunci. Persis seperti yang aku tinggalkan.

Aku berbalik lagi ke cermin. Di dalam pantulan, pintu sudah tertutup kembali. Seolah tidak pernah terbuka.

Tanganku gemetar memegang tepi wastafel.

Aku tidak bermimpi. Aku tidak gila. Sesuatu sedang terjadi di rumah ini — di cermin-cermin rumah ini — dan aku satu-satunya yang melihatnya.

Dari balik pintu, suara Ren terdengar lembut. "Sara? Kamu nangis di dalam? Buka pintunya, sayang."

Aku menatap pantulanku. Pantulanku menatap balik, mata kami sama-sama lebar karena takut.

Tapi bibir pantulanku, sekali lagi, mulai melengkung ke atas.

Aku membasuh muka sekali lagi, lalu menatap pantulanku baik-baik. Wajahku. Tahi lalat. Aku menyentuhnya untuk memastikan. Masih di sana. Selama tahi lalat ini masih ada, aku masih Mira. Aku mengulang kalimat itu di kepalaku seperti mantra.

Tapi aku tidak bisa berlama-lama di kamar mandi. Ren akan curiga. Dan entah kenapa, aku merasa membuat Ren curiga adalah hal yang berbahaya — meski aku belum tahu kenapa.

Aku membuka kunci pintu dan keluar. Ren berdiri di lorong, bersandar pada dinding, menungguku. Wajahnya khawatir, tapi ada sesuatu yang lain di sana juga. Sesuatu yang aku tidak bisa baca.

"Kamu lama banget," katanya. "Aku ketuk-ketuk nggak dijawab."

"Maaf. Aku... cuci muka."

Ren mengangguk pelan. Lalu ia mengulurkan tangan, menyentuh pipiku. "Mukamu basah." Ibu jarinya mengusap di bawah mataku. "Dan matamu merah. Kamu nangis?"

"Nggak. Air cuci muka."

Ia menatapku lama. Terlalu lama. Dan dalam tatapan itu aku merasa seolah ia sedang mencari sesuatu di wajahku. Mencari Sara, mungkin. Mencari versi istri yang ia kenal, dan tidak menemukannya sepenuhnya.

"Sara," katanya pelan, "kamu tahu kamu bisa cerita apa aja ke aku, kan?"

Sara lagi. Tapi kali ini aku tidak mengoreksinya. Aku terlalu takut akan kebingungan di matanya kalau aku melakukannya.

"Aku tahu," kataku.

Ren tersenyum, lega, dan mencium keningku. "Aku berangkat dulu, ya. Pulang sore. Jangan kerja terlalu keras."

Aku mengangguk. Aku mengantarnya sampai pintu, melihatnya menghidupkan motor, melambai, lalu pergi.

Dan saat motornya menghilang di tikungan, aku menyadari sesuatu yang membuat perutku mual.

Motor Ren. Warna hitam.

Motor Ren selalu merah. Sejak dulu, selalu merah.

Aku berdiri di teras, menatap tikungan kosong tempat motor hitam itu menghilang, dan merasakan dunia bergeser satu derajat lagi dari tempat seharusnya.

Aku berdiri di teras lebih lama dari yang seharusnya, menatap jalanan kosong, mencoba mengingat warna motor Ren dengan pasti. Merah. Aku yakin merah. Kami membelinya bersama empat tahun lalu, dan aku ingat berdebat soal warna — Ren mau hitam, aku mau merah, dan aku menang karena aku bilang merah lebih mudah terlihat di malam hari, lebih aman. Ren mengalah sambil tertawa, bilang aku selalu menang kalau bawa-bawa alasan keselamatan.

Itu kenangan yang jelas. Detail yang konkret. Merah.

Tapi motor yang baru saja pergi berwarna hitam.

Apakah cermin sudah mengubah motor juga? Atau apakah ingatanku yang salah? Bagaimana aku tahu mana yang benar — dunia di luar, atau ingatan di kepalaku?

Itulah yang paling menakutkan. Bukan cerminnya. Bukan suara-suara. Tapi momen ketika aku mulai tidak bisa membedakan apakah dunia yang berubah, atau aku yang kehilangan kewarasan. Karena kedua hal itu terasa persis sama dari dalam.

Aku masuk kembali ke rumah dan mengunci pintu. Berdiri di ruang tamu yang sebagian milikku dan sebagian milik orang lain. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku mengakui sesuatu pada diriku sendiri:

Aku takut. Bukan takut biasa. Takut yang dalam, takut yang dingin, takut kehilangan satu-satunya hal yang tidak pernah aku ragukan seumur hidupku — bahwa aku adalah aku.

Dan kali ini, aku yakin, ia tersenyum bukan padaku.

Ia tersenyum pada sesuatu di belakangku.