Yang pertama aku lakukan setelah Ren berangkat kerja adalah mengambil buku catatan kosong dari laci meja gambarku.

Aku ilustrator. Aku terbiasa mencatat, menggambar, mendokumentasikan. Otakku bekerja dengan cara mengurai sesuatu menjadi bagian-bagian kecil yang bisa diamati. Dan kalau realitasku sedang dipreteli sepotong demi sepotong, maka aku akan mencatat setiap potongnya. Aku akan punya bukti.

Aku duduk di meja, membuka halaman pertama, dan menulis tanggal. Selasa.

Lalu aku menulis daftar.

*Yang berubah pagi ini:*
*1. Ren memanggilku Sara. Dua kali. Tiga kali. Tidak sadar itu salah.*
*2. Wajah di foto pernikahan — bukan wajahku.*
*3. Cangkir burung biru — sekarang punya Ren.*
*4. Magnet Bukittinggi. Aku tidak pernah ke sana.*
*5. Kalender gunung, bukan bunga.*
*6. Vas mawar putih. Aku benci bunga potong.*
*7. Lukisan tangga, karpet lorong — semua berbeda.*
*8. Cermin: pantulan tersenyum sendiri. Pintu terbuka di cermin padahal terkunci.*

Aku berhenti menulis dan membaca ulang daftarku. Hitam di atas putih, semuanya terlihat seperti catatan orang gila. Tapi aku tahu apa yang aku lihat. Dan menuliskannya membuatku merasa sedikit lebih kokoh — seolah dengan mengikat kenyataan ke kertas, aku bisa mencegahnya terus tergelincir.

Lalu aku menulis bagian yang lebih penting.

*Yang TIDAK berubah — JANGKAR:*

Aku berhenti, memikirkan apa saja yang masih bisa aku percaya.

*1. Wajahku di cermin kamar mandi. Tahi lalat di bawah mata kiri. Masih ada.*

Aku menyentuh tahi lalat itu. Masih ada. Aku menuliskannya dengan huruf besar, menggarisbawahinya dua kali.

*2. Bekas luka di pergelangan tangan kiri.*

Aku menyingkap lengan baju. Bekas luka itu ada di sana — garis tipis memutih sepanjang dua sentimeter, melintang di pergelangan tangan. Bekas dari pecahan kaca, dari sebuah malam yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Bekas luka yang membuktikan bahwa aku punya masa lalu. Bahwa aku Mira, dengan sejarahku sendiri.

Aku menatap bekas luka itu lama. Aneh — aku tidak pernah benar-benar mengingat bagaimana aku mendapatkannya. Aku tahu itu dari pecahan kaca. Aku tahu itu malam hari. Tapi detailnya kabur, seperti foto yang terlalu lama disimpan sampai gambarnya memudar.

Aku menggeleng. Bukan saatnya memikirkan itu. Aku menuliskannya sebagai jangkar kedua.

*3. Kalung ibu.*

Aku menyentuh leherku. Kalung perak dengan liontin kecil berbentuk daun — pemberian ibuku sebelum beliau meninggal. Aku tidak pernah melepasnya. Selama dua belas tahun sejak beliau pergi, kalung ini selalu di leherku, siang dan malam. Ini benda paling pribadi yang aku punya. Tidak ada versi mana pun dari realitas yang bisa mengubah ini.

Aku menggenggam liontin itu. Dingin. Nyata. Milikku.

*4. Lagu.*

Ada satu lagu yang selalu ibu nyanyikan untukku waktu kecil. Lagu pengantar tidur dengan melodi sederhana dan lirik tentang bulan. Aku menyenandungkannya pelan, dan melodi itu keluar dengan sempurna dari ingatanku. Lagu itu milikku. Tidak ada yang bisa mengambilnya.

Aku menutup buku catatan dan menatap kedua daftar itu.

Di satu sisi: hal-hal yang berubah, terus bertambah.

Di sisi lain: jangkar-jangkarku. Hal-hal yang membuktikan siapa aku.

Selama jangkar-jangkar ini masih ada, aku masih Mira. Selama aku masih bisa menyentuh tahi lalat ini, bekas luka ini, kalung ini, menyanyikan lagu ini — aku tidak akan tersesat.

Aku berdiri dan berjalan ke cermin besar di kamar. Aku perlu mengujinya. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku berdiri di depan cermin tua itu. Menatap pantulanku.

Pantulanku menatap balik. Kali ini ia bergerak bersamaku, sinkron. Aku mengangkat tangan kanan, ia mengangkat tangan kiri. Aku memiringkan kepala, ia memiringkan kepala. Normal. Seperti cermin biasa.

Aku menatap lebih lama. Detik demi detik.

Lima detik. Sepuluh detik.

Lalu aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku.

Liontin di leher pantulanku.

Bukan daun.

Liontin di cermin berbentuk bulan sabit.

Aku menunduk, menatap liontinku sendiri. Daun. Masih daun.

Aku menengadah ke cermin. Bulan sabit.

Dan sementara aku menatap, tidak percaya, liontin daun di leherku terasa makin dingin — lalu, perlahan, di pantulan, bulan sabit itu mulai berubah bentuk. Tepinya melengkung. Memanjang. Berubah menjadi daun.

Cermin sedang menyamakan diri denganku.

Atau — pikiran itu datang seperti tusukan es —

atau aku yang sedang berubah menjadi pantulan.

Aku mundur, menutup cermin dengan selimut yang aku tarik dari ranjang, tangan gemetar, napas memburu.

Buku catatanku terbuka di meja. Dan aku bersumpah, saat aku berbalik untuk meraihnya, daftar jangkarku —

Aku membuka kembali buku catatanku dan menambahkan satu kolom baru. Kolom yang akan menjadi yang paling penting dari semua.

*Eksperimen — Aturan Cermin:*
*- Pantulan bisa bergerak sendiri (terbukti: senyum, pintu terbuka).*
*- Liontin di pantulan berubah dari bulan sabit jadi daun saat ditatap lama.*
*- Hipotesis: menatap lama = cermin menyamakan realitas ke versi cermin?*
*- Hipotesis 2: ATAU akulah yang ditarik jadi pantulan?*

Aku menatap kata-kata itu. Hipotesis kedua membuat tengkukku dingin, tapi aku memaksa diri menuliskannya. Kalau aku akan melawan benda ini, aku harus berani memikirkan kemungkinan terburuk.

Aku perlu data lebih banyak. Aku perlu menguji dengan hati-hati — tapi tanpa menatap terlalu lama, karena tampaknya itu justru yang berbahaya.

Aku mengambil ponsel dan memikirkan untuk merekam cermin. Tapi sesuatu menghentikanku. Insting. Seolah merekam akan memberi cermin perhatian yang ia inginkan. Aku menyimpan ide itu untuk nanti.

Sebagai gantinya, aku melakukan tes sederhana. Aku menempelkan secarik kertas kecil bertuliskan "MIRA" di sudut cermin, di permukaan kaca, dengan selotip. Lalu aku menutup cermin lagi dengan selimut. Kalau realitas berubah, kalau aku mulai menjadi Sara, mungkin kertas ini akan tetap ada sebagai jangkar buatan. Atau mungkin akan berubah jadi "SARA". Atau hilang. Apa pun yang terjadi padanya akan memberitahuku sesuatu.

Aku mencatat waktu. Pukul sembilan pagi. Kertas bertuliskan MIRA ditempel di cermin.

Lalu aku duduk di meja kerja, mencoba bekerja, mencoba menggambar ilustrasi untuk buku anak yang tenggat waktunya minggu depan. Tapi tanganku tidak bisa diam. Setiap garis yang aku tarik melenceng. Setiap kali aku menatap kertas gambar, aku melihat wajah — wajah perempuan dari foto pernikahan, wajah Sara, menatapku dari kertas kosong.

Aku menyerah menggambar. Aku menatap jam. Baru sepuluh menit berlalu sejak aku menempel kertas itu.

Sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh jam.

Dan dari balik selimut yang menutupi cermin, aku mendengar suara. Pelan. Seperti kertas yang bergesekan. Seperti selotip yang perlahan-lahan dilepas dari dalam.

baris keempat, lagu ibu —

tintanya terlihat lebih pudar dari yang baru saja aku tulis.