Ren pulang jam enam sore, seperti biasa.
Aku sudah menunggu di ruang tamu, buku catatanku tersembunyi di bawah bantal sofa. Sepanjang hari aku sudah memutuskan: aku akan mengamati Ren. Aku akan mencari tahu apakah suamiku masih suamiku, atau apakah ia juga sudah berubah menjadi versi lain dari dirinya.
Ia masuk, melepas sepatu, menggantung tas kerjanya di gantungan dekat pintu. Gerakan yang sama yang sudah ribuan kali aku saksikan. Lalu ia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Hai, Mira."
Aku terdiam.
Mira.
Ia memanggilku Mira.
"Kamu... panggil aku apa tadi?"
"Mira." Ren mengernyit, melonggarkan dasinya. "Kenapa? Kamu mau dipanggil sayang? Tumben manja." Ia tertawa dan mendekat, mencium keningku.
Aku tidak bisa bergerak. Pagi ini ia memanggilku Sara. Berkeras namaku Sara. Bingung waktu aku bilang namaku Mira. Dan sekarang, sepuluh jam kemudian, ia memanggilku Mira seolah tidak pernah ada yang berbeda.
"Ren," kataku hati-hati, "tadi pagi kamu panggil aku Sara."
"Sara?" Ia melepas dasinya sepenuhnya, melemparnya ke sandaran sofa. "Siapa Sara? Kamu mimpi, ya? Aku nggak kenal Sara mana-mana."
"Kamu yakin?"
"Mira, aku baru bangun tadi pagi, langsung mandi, sarapan sebentar, terus berangkat. Kapan aku panggil kamu Sara?" Ia duduk di sebelahku, melepas kaus kakinya dengan santai. "Kamu kerja keras banget sih akhir-akhir ini sampai mimpinya aneh-aneh."
Aku menatap wajahnya. Mencari tanda kebohongan, tanda lelucon, tanda apa pun. Tapi yang aku lihat hanya kebingungan tulus seorang suami terhadap istrinya yang bicara melantur.
Ia tidak ingat.
Ren yang pagi ini dan Ren yang sekarang — dua orang yang berbeda, di tubuh yang sama, dengan ingatan yang berbeda. Atau Ren yang sama, di dua versi realitas yang berbeda, dan aku entah bagaimana ada di keduanya.
Aku memutuskan untuk menguji.
"Ren, cangkir burung biru itu punya siapa?"
"Cangkir burung biru?" Ia berpikir sebentar. "Punya kamu. Kamu beli di pasar loak, dua tahun lalu. Aku sempat bilang jelek, terus kamu ngambek." Ia nyengir. "Kenapa? Mau aku ganti yang baru?"
Aku menahan napas.
Itu jawaban yang benar. Jawaban Mira. Jawaban realitasku.
Pagi ini, Ren bilang cangkir itu miliknya. Sekarang, ia ingat aku yang membelinya. Ren yang sekarang ada di realitasku. Ren yang pagi ini ada di realitas Sara.
"Vas mawar di meja makan," aku melanjutkan, suaraku bergetar. "Siapa yang beli?"
Ren mengernyit. "Vas apa? Kita nggak punya vas, Mira. Kamu kan nggak suka bunga potong, katamu bikin sedih."
Aku berdiri, berjalan cepat ke dapur, dan menatap meja makan.
Tidak ada vas.
Meja makan kosong, bersih, seperti biasanya. Tidak ada mawar putih. Tidak ada vas kaca. Seolah benda itu tidak pernah ada.
Aku berbalik ke kulkas. Magnet-magnetku ada di sana — Borobudur, Bali, Bromo. Tidak ada Bukittinggi.
Kalender di dinding bergambar ilustrasi bunga. Hadiah dari penerbit. Kalenderku.
Semuanya kembali. Semuanya normal. Realitasku kembali, seolah yang pagi ini hanya mimpi.
Tapi aku tahu itu bukan mimpi. Aku punya catatannya. Aku menuliskannya pagi tadi, dengan tanganku sendiri, sebelum semuanya berubah lagi.
Aku berlari ke ruang tamu, mengangkat bantal sofa, mengambil buku catatanku. Membuka halaman Selasa.
Daftarku masih ada. Tulisanku masih ada.
*1. Ren memanggilku Sara...*
*6. Vas mawar putih...*
Tapi —
aku menatap halaman itu, dan dingin merayap kembali —
beberapa baris terlihat lebih pudar. Seperti tinta yang memudar dalam hitungan jam, bukan tahun. Baris tentang vas. Baris tentang magnet Bukittinggi. Memudar, seolah realitas yang menuliskannya sedang ditarik kembali, dan catatanku ikut tertarik bersamanya.
"Mira?" Ren muncul di ambang pintu, wajahnya khawatir sungguhan sekarang. "Kamu kenapa? Dari tadi mukamu pucat. Itu buku apa?"
Aku menutup buku catatanku cepat. "Bukan apa-apa. Cuma catatan kerja."
Ren mendekat, duduk di sebelahku, melingkarkan lengannya di bahuku. Hangat. Nyata. Suamiku.
"Kamu cerita ke aku, ya, kalau ada apa-apa," katanya pelan. "Aku khawatir. Akhir-akhir ini kamu sering bengong, sering kaget sendiri. Sejak..." Ia berhenti.
"Sejak apa?"
Ren menatapku, dan untuk sesaat ada sesuatu yang lewat di matanya. Kesedihan. Kehati-hatian. Seperti ada hal yang tidak ingin ia ucapkan.
"Sejak kamu kurang tidur," katanya akhirnya. Tapi aku tahu itu bukan kalimat yang tadi hampir ia ucapkan.
Sejak apa, Ren? Apa yang tidak kamu katakan?
Malam itu, sambil Ren tidur di sebelahku dengan napas teratur, aku berbaring menatap langit-langit. Lalu aku menoleh ke arah cermin besar yang masih tertutup selimut.
Malam itu aku memutuskan untuk mengamati Ren lebih dalam. Kalau ia berubah-ubah antara dua versi — Ren yang memanggilku Sara dan Ren yang memanggilku Mira — maka aku perlu tahu polanya. Apa yang memicu pergantian. Kapan ia jadi "Ren-ku" dan kapan jadi "Ren-nya Sara".
Kami makan malam bersama. Ren bercerita tentang harinya di kampus — mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas, rapat yang membosankan, kemacetan di jalan pulang. Cerita-cerita biasa. Cerita seorang suami kepada istrinya. Dan sepanjang itu, ia memanggilku Mira. Konsisten. Ren-ku.
Aku mulai berani sedikit. "Ren, kamu ingat waktu kita pertama ketemu?"
"Di pameran arsitektur," jawabnya tanpa ragu. "Kamu nyasar ke booth aku karena nyari toilet, terus malah ngobrol dua jam tentang ilustrasi."
Benar. Itu kejadiannya. Persis seperti yang aku ingat.
"Dan first date kita?"
"Makan bakso di pinggir jalan karena aku bokek." Ia tertawa. "Kamu protes katanya nggak romantis, tapi terus kamu malah suka baksonya."
Benar lagi. Semua benar. Ren yang ini, Ren malam ini, mengingat semuanya persis seperti aku.
Aku merasa lega yang hampir menyakitkan. Setidaknya malam ini, suamiku adalah suamiku.
Tapi lalu aku bertanya satu hal lagi. Satu hal yang seharusnya tidak berbahaya.
"Ren, kita pernah ke Bukittinggi nggak?"
Ren berhenti mengunyah. Mengernyit. Dan dalam sepersekian detik, sesuatu di wajahnya bergeser — seperti saluran televisi yang berganti, seperti lampu yang berkedip.
"Bukittinggi?" Ia menelan. "Iya, dong. Bulan madu kita di sana, Sara. Kamu lupa?"
Sara.
Hanya dengan satu pertanyaan tentang Bukittinggi, Ren-ku menghilang, dan Ren-nya Sara muncul. Seolah menyebut Bukittinggi — tempat yang ada di realitas Sara tapi tidak di realitasku — menariknya ke versi yang lain.
Aku meletakkan sendok pelan-pelan, takut tanganku gemetar terlalu kentara.
Topik. Kata-kata tertentu. Benda-benda tertentu. Itu yang memindahkan Ren dari satu versi ke versi lain. Setiap kali aku menyentuh sesuatu yang ada di dunia Sara, dunia Sara menarik lebih kuat.
Yang berarti — aku menyadari dengan dingin — setiap kali aku menyelidiki, setiap kali aku mengorek, aku justru mempercepat penggantianku sendiri.
Selimut itu, aku perhatikan, sedikit bergeser.
Seolah, di balik kain, ada sesuatu yang baru saja bergerak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar