Aku bangun hari Selasa, dan suamiku menyapaku dengan nama yang bukan namaku.
"Pagi, Sara."
Aku membeku di bawah selimut. Mataku masih setengah terpejam, tapi telingaku menangkap kata itu dengan jelas. Sara. Bukan Mira.
Aku mengira aku salah dengar. Ren memang sering bicara pelan di pagi hari, suaranya parau sebelum kopi pertama. Aku berbalik menghadapnya. Ia sudah duduk di tepi ranjang, mengancingkan kemejanya, punggungnya menghadapku.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Aku bilang selamat pagi." Ia menoleh, tersenyum. Senyum yang sama yang sudah aku kenal sebelas tahun. "Tidur kamu nyenyak, Sara? Semalam kamu ngigau lagi."
Sara.
Dua kali. Tidak mungkin salah dengar dua kali.
Aku duduk tegak. Jantungku mulai berdetak dengan cara yang aneh — bukan kencang, tapi tidak teratur, seperti kehilangan satu ketukan di antara dua ketukan.
"Ren, kenapa kamu panggil aku Sara?"
Ia mengernyit. Bukan kernyit orang yang bercanda lalu ketahuan. Kernyit orang yang benar-benar bingung dengan pertanyaanku.
"Itu kan nama kamu." Ia mendekat, meletakkan punggung tangannya di dahiku, mengukur suhu seperti yang biasa ia lakukan kalau aku terlihat pucat. "Kamu nggak enak badan? Mukamu aneh."
"Namaku Mira." Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku mau. "Mira. Bukan Sara."
Ren menarik tangannya. Ia menatapku lama, dan untuk sepersekian detik aku melihat sesuatu berkelebat di matanya — keraguan, mungkin, atau kebingungan yang lebih dalam dari sekadar candaan pagi. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang dibuat untuk menenangkan.
"Mira." Ia mengulang nama itu seperti mencicipi rasa yang asing. "Kamu mimpi jadi orang lain, ya? Sudah, mandi sana. Aku bikin kopi."
Ia berdiri dan keluar kamar. Aku mendengar langkahnya menuruni tangga, ringan, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.
Aku duduk di ranjang, sendirian, dengan satu kata berputar di kepalaku.
Sara.
Aku meyakinkan diriku bahwa ini lelucon. Ren memang kadang iseng. Mungkin ia membaca sesuatu, mungkin ada teman bernama Sara yang ia ceritakan dan aku lupa. Mungkin aku yang masih setengah bermimpi.
Aku menyibak selimut dan turun dari ranjang. Kakiku menyentuh lantai kayu yang dingin. Semuanya terasa normal. Kamar ini, kamarku. Lemari di sudut. Meja kerja dengan tablet gambarku. Jendela dengan tirai krem yang sudah agak pudar.
Lalu mataku jatuh ke dinding di seberang ranjang.
Foto pernikahan kami.
Bingkai kayu yang sama. Posisi yang sama. Aku dan Ren di pelaminan, ia berjas abu-abu, aku bergaun putih dengan rangkaian melati di rambut. Foto yang sudah tujuh tahun menggantung di sana, yang sudah ribuan kali aku lihat sampai aku tidak benar-benar melihatnya lagi.
Tapi pagi ini aku melihatnya.
Dan wajah perempuan di gaun putih itu — hampir wajahku. Hampir.
Mata yang sama. Bentuk wajah yang sama. Tapi ada yang berbeda. Hidungnya sedikit lebih mancung. Bibirnya sedikit lebih tipis. Tahi lalat kecil di bawah mata kiriku — tidak ada di wajah itu.
Aku mendekat. Jantungku berdetak makin tidak teratur. Aku menatap perempuan dalam foto itu, perempuan yang memakai gaun pernikahanku, berdiri di sebelah suamiku, tersenyum dengan senyum yang bukan senyumku.
Perempuan itu cantik. Lebih cantik dariku, dengan cara yang sulit aku jelaskan.
Dan ia bukan aku.
Tanganku terangkat ke wajahku sendiri, menyentuh tahi lalat di bawah mata kiri. Masih ada. Aku berlari kecil ke cermin besar di samping lemari — cermin tinggi yang sudah ada di kamar ini sejak kami pindah, cermin tua dengan bingkai kayu berukir yang katanya warisan pemilik rumah sebelumnya.
Aku berdiri di depannya. Menatap pantulanku.
Dan pantulanku tersenyum.
Aku tidak tersenyum.
Aku merasakan wajahku — bibirku rata, rahangku tegang, tidak ada senyum sama sekali. Tapi di dalam cermin, perempuan yang seharusnya aku itu melengkungkan bibirnya ke atas. Pelan. Seperti seseorang yang tahu sesuatu yang aku belum tahu.
Selama satu detik penuh, kami berbeda. Aku dengan wajah datar, pantulanku dengan senyum tipis.
Lalu, seolah menyadari aku memperhatikan, pantulan itu menyamakan diri. Senyumnya luruh. Wajahnya menjadi wajahku lagi — datar, pucat, ketakutan.
Aku mundur selangkah. Napasku tertahan di dada.
Dari bawah, suara Ren memanggil. "Sara! Kopinya sudah jadi!"
Aku menatap cermin. Pantulanku menatap balik. Kali ini kami bergerak bersamaan, sinkron, seperti seharusnya.
Tapi aku tahu apa yang baru saja aku lihat.
Dan aku tahu — dengan kepastian dingin yang merayap dari tengkuk ke seluruh tubuhku — bahwa hari ini bukan hari Selasa yang biasa.
Ada yang salah. Sangat salah. Dan entah bagaimana, aku merasa ini baru permulaan.
"Sara!"
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Karena namaku bukan Sara.
Aku berdiri lama di depan cermin, tidak berani bergerak. Pantulanku sekarang diam, sinkron, sopan. Tapi aku sudah melihat. Aku tahu apa yang baru saja terjadi, dan tidak ada penjelasan masuk akal yang bisa menutupinya.
Aku mencoba berpikir jernih. Mungkin aku kurang tidur. Mungkin ini efek samping obat — tapi aku tidak minum obat apa pun. Mungkin mataku lelah, otakku mengisi celah, menciptakan gerakan yang tidak ada. Otak memang sering begitu. Melihat wajah di awan, melihat pola di keacakan.
Tapi otak tidak membuat suami memanggilmu dengan nama yang salah. Otak tidak mengubah wajah di foto pernikahan.
Aku memejamkan mata. Menghitung sampai sepuluh. Saat aku membuka mata, aku akan melihat foto pernikahan yang benar. Wajahku yang benar. Hidup yang benar.
Satu. Dua. Tiga.
Aku membuka mata di hitungan ketiga, tidak sabar, dan menatap foto di dinding sekali lagi.
Perempuan itu masih di sana. Masih memakai gaunku. Masih tersenyum dengan senyum yang bukan senyumku. Tahi lalat di bawah mata kiriku masih tidak ada di wajahnya.
Foto itu tidak berubah kembali.
Aku menyentuh kaca bingkai dengan ujung jari, seolah dengan menyentuhnya aku bisa merasakan kebohongannya. Tapi yang aku rasakan hanya kaca dingin dan datar. Foto yang biasa. Foto yang sudah tujuh tahun di sana — kecuali bukan, karena foto yang sudah tujuh tahun di sana menampilkan wajahku, dan ini bukan wajahku.
Aku teringat sesuatu. Aku punya kopi foto pernikahan ini di laptop. File digital, tersimpan di folder yang aku beri nama tanggal pernikahan kami. Aku berlari ke meja kerja, menyalakan laptop dengan tangan gemetar, menunggu layar menyala.
Folder pernikahan. Aku klik. Foto-foto memuat satu per satu.
Dan di setiap foto, perempuan yang berdiri di sebelah Ren adalah perempuan dari foto dinding. Bukan aku.
File digital pun sudah berubah. Seolah tidak ada tempat untuk bersembunyi. Seolah apa pun yang menyimpan rekaman tentang siapa aku sebenarnya sedang ditulis ulang, satu per satu, sampai tidak ada bukti tersisa bahwa Mira pernah ada.
Atau — aku menelan ludah, menatap perempuan di dalam cermin yang menatapku balik dengan mata penuh ketakutan yang sama —
atau apakah dulu memang Sara, dan aku yang lupa?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar