Aku mengenal Kiara pertama kali di warung nasi Bu Sum yang sempit, berisik, dan selalu penuh debu pasir dari proyek konstruksi di seberang jalan.
Waktu itu aku baru turun dari scaffolding lantai delapan — tulang punggung proyek gedung komersial Waru yang sudah masuk bulan kelima pengerjaan. Bajuku basah keringat dari pundak sampai pinggang. Helm kuning masih aku gantung di lengan. Tangan kiriku ada bekas cat tembok yang belum sempat aku bersihkan karena mandor lapangan minta langsung cek kondisi dinding di lantai tiga sebelum makan siang. Ada keretakan kecil di sudut yang perlu aku lihat sendiri sebelum bisa memutuskan perlu adukan ulang atau cukup sealant.
Pengerjaan retak sudut itu yang membuat aku hampir terlambat makan siang.
Aku duduk di bangku paling ujung — bangku plastik merah yang kakinya satu lebih pendek dari yang lain sehingga kalau tidak hati-hati bisa oleng ke kanan. Sudah tiga minggu aku makan siang di sini setiap hari sejak proyek ini aku awasi langsung. Bu Sum hafal pesananku: nasi campur, ayam goreng, tempe bacem, dan es teh manis yang gulanya dikurangi separuh karena kata dokter kolesterol aku sudah mulai perlu diperhatikan meski umur baru tiga puluh satu.
"Mas Galang, biasa ya?" teriak Bu Sum dari balik kompor besar yang asapnya membuat seluruh warung selalu berbau harum dan agak berminyak sekaligus.
"Biasa, Bu. Eh, tambah perkedel satu."
"Siap! Duduk dulu, masih digoreng!"
Aku meletakkan helm di bawah bangku, mengeluarkan ponsel dari saku celana cargo yang penuh debu putih dari dinding proyek, dan membuka grup WhatsApp tim. Ada empat belas pesan yang masuk sejak tadi — laporan dari mandor lantai tiga, foto progres pengecoran fondasi bagian barat, pertanyaan dari tim MEP soal routing kabel, dan satu pesan dari Ardi yang bunyinya: *Bos, klien dari Jakarta minta meeting besok pagi. Kamu harus pakai jas ya jangan kaos proyek lagi kayak meeting kemarin.*
Aku mengetik balasan: *Oke. Tapi setelah meeting langsung balik lapangan. Jangan jadwalkan apapun sampai sore.*
Ardi membalas dalam dua detik dengan emoji wajah frustasi berlapis tiga.
Aku tersenyum. Menyimpan ponsel.
Dan baru saat itulah aku sadar ada orang baru di warung ini — bukan wajah yang biasa aku lihat di antara pekerja proyek, mandor, dan sopir material yang jadi pelanggan tetap Bu Sum.
Perempuan itu duduk di bangku seberangku, dua meja yang dipisahkan oleh vas plastik berisi bunga plastik yang sudah luntur warnanya. Ia memakai kemeja putih dengan rok biru dongker, rambut dikucir rapi dengan satu helai yang lepas di sisi kanan dan tampaknya tidak ia sadari, dan membawa tas kanvas hijau army yang sudah sering dipakai karena jahitan di sudut kanan bawahnya mulai terurai.
Yang membuatku memperhatikan bukan penampilan fisiknya. Tapi cara ia makan.
Ia makan dengan serius — kepala sedikit menunduk, sendok diangkat dengan cara yang menunjukkan ini bukan orang yang makan sambil main ponsel atau sambil lirik-lirik sekeliling. Fokus penuh. Seperti makan itu sendiri adalah hal yang perlu dihargai sepenuhnya. Dan sesekali ia berhenti, mengangguk pelan, hampir tidak terlihat, seolah sedang memberi nilai untuk masakan Bu Sum.
Tidak ada earphone. Tidak ada buku. Tidak ada notifikasi yang ia cek. Hanya makan.
Aneh. Tapi bukan dalam cara yang mengganggu.
Bu Sum meletakkan nasi campur di depanku dengan perkedel yang masih sedikit mendesis dari penggorengan. Aku mulai makan.
Tiga menit berlalu dalam diam yang nyaman.
"Mas, itu bajunya kena cat."
Aku mendongak.
Perempuan itu menatap bahuku — lebih tepatnya, lengan bajuku yang memang ada goresan cat tembok putih di dekat pergelangan yang sudah setengah kering.
"Oh." Aku lihat sendiri. "Iya. Dari tadi siang."
"Cat tembok atau cat besi?"
Pertanyaan yang tidak aku duga dari orang yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan dunia konstruksi.
"Cat tembok. Waterbase."
"Berarti masih bisa dikeluarkan." Ia kembali ke makanannya. "Cepat-cepat pakai sabun cuci piring sebelum kering sempurna. Kalau sudah kering, pakai bensin sedikit dulu baru sabun. Tapi jangan terlalu lama kena bensin kalau kainnya sintetis."
Aku menatapnya. "Kamu tahu soal cat bangunan?"
"Kakek saya tukang bangunan." Ia mengangkat pundak dengan santai, tidak melihat ke aku. "Waktu kecil sering bantuin bersih-bersih alat. Kuas, roll, spatula. Akhirnya hafal juga."
"Kakeknya sudah pensiun?"
"Sudah meninggal. Tiga tahun lalu." Ia berkata itu tanpa nada sedih yang berlebihan, seperti menyampaikan fakta yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. "Tapi saya masih ingat semua yang beliau ajarkan."
Perkenalan yang tidak lazim — dimulai dari cat di lengan bajuku dan berakhir di kenangan tentang kakek yang sudah meninggal. Tapi entah kenapa lebih menarik dari basa-basi soal cuaca atau kemacetan.
"Galang," aku mengulurkan tangan.
Ia menatap tanganku sebentar — mungkin mempertimbangkan betapa kotornya tangan itu setelah setengah hari di lapangan, atau mungkin hanya memastikan tidak ada cat basah di sana — lalu mengambilnya juga. Tangannya kecil tapi jabat tangannya tidak lemah.
"Kiara."
Dua detik kontak. Kemudian sama-sama kembali ke makanan masing-masing.
"Kerja di proyek seberang?" tanyanya tanpa mengangkat muka.
"Iya."
"Sudah berapa lama?"
"Proyeknya sekitar lima bulan lagi selesai. Aku sudah dari awal. Sekitar tujuh bulan."
Kiara mengangguk. Menyendok kuah sayur. "Proyek besar itu kayaknya. Saya lihat dari sini setiap hari, makin hari makin tinggi."
"Gedung komersial dua belas lantai. Kantor, ritel, satu lantai untuk co-working space."
"Kamu di bagian apa?"
Ada jeda kecil sebelum aku menjawab. Bukan karena berbohong — lebih karena aku sudah terbiasa tidak menjelaskan terlalu panjang soal posisiku. Di lapangan, aku adalah bagian dari proyek. Itu cukup.
"Pengawasan lapangan. Mastiin semuanya sesuai spesifikasi."
"Oh, pengawas. Berarti kamu yang marahi orang kalau ada yang salah?"
Aku tertawa pendek. "Bukan marahi. Lebih ke mengarahkan."
"Kelihatannya seperti orang yang sering marahi orang."
"Kenapa?"
Ia akhirnya melihat ke aku — sekilas, penilaian cepat dari atas ke bawah. "Cara kamu duduk. Tegak tapi santai. Dan kamu tadi pesan sambil matamu tetap di ponsel, tapi Bu Sum langsung hafal pesananmu. Artinya kamu pelanggan yang rutin tapi tidak suka diajak ngobrol. Orang yang efisien." Ia kembali ke makanannya. "Biasanya yang efisien suka marah kalau ada yang tidak sesuai harapannya."
Aku diam sebentar. "Itu analisis yang akurat untuk percakapan yang baru dua menit."
"Saya guru SD. Membaca orang itu bagian dari pekerjaan."
"Kamu guru SD?"
"Kenapa? Kaget?"
"Tidak." Aku mengambil perkedel. "Hanya... kamu terlihat masih sangat muda untuk sudah jadi guru."
Kiara mendongak. Satu alis naik dengan cara yang langsung membuat aku tahu aku memilih kata yang salah. "Itu komplemen atau hinaan?"
"Komplemen—"
"Karena 'masih sangat muda untuk sudah jadi guru' itu kesannya saya belum cukup pengalaman. Seharusnya kalau mau komplemen, bilangnya 'wah, kamu muda tapi sudah jadi guru, pasti kerja kerasnya luar biasa'. Bukan yang terlalu muda untuk."
Aku menatapnya. Kemudian tertawa — tawa yang keluar sendiri tanpa direncanakan, agak panjang, cukup untuk membuat Bu Sum melirik dari balik kompor.
"Oke, aku salah pilih kata," aku mengakui. "Maksudku memang itu. Kamu terlihat muda tapi sudah guru. Dan cara kamu tadi langsung bisa analisis orang, itu membuktikan kamu sudah berpengalaman."
Kiara mempertimbangkan ini beberapa detik. "Itu lebih baik." Ia menyendok makanannya. "Kamu bisa belajar ternyata."
"Terima kasih sudah mengajari."
Ia menoleh dan ada senyum tipis di sudut bibirnya — bukan senyum manis yang dibuat-buat, lebih ke senyum orang yang menemukan sesuatu yang menggelikan tapi tidak mau ketahuan ketawa.
Kami makan sampai selesai dengan percakapan yang kadang mengalir, kadang berhenti, tapi tidak pernah canggung. Ia tanya soal proyek, aku tanya soal murid-muridnya. Ia cerita tentang anak kelas tiga yang kemarin mogok gambar karena "pensilnya terlalu keras dan hasilnya tidak cantik". Aku cerita tentang besi tulangan yang dikirim supplier kemarin tiga milimeter di bawah spesifikasi dan aku harus minta penggantian sebelum tim pengecoran mulai bekerja.
Dua dunia yang sangat berbeda. Tapi percakapannya tidak terasa berjarak.
Kiara selesai duluan. Ia berdiri, mengambil tas kanvas hijau army-nya, dan melambaikan tangan ke Bu Sum.
"Bu Sum, makasih ya. Enak seperti biasa!"
"Makasih Mbak Kiara, besok mampir lagi ya!"
Jadi ia bukan pelanggan baru. Mereka sudah kenal. Aku yang tidak pernah memperhatikan sebelumnya.
Di pintu warung, Kiara berhenti dan menoleh ke arahku. "Cat di lengan bajunya, ingat ya. Sabun cuci piring. Cepat."
"Noted."
"Dan lain kali, kalau mau bilang komplemen ke orang yang baru kamu kenal, pikir dua kali dulu."
"Akan aku ingat."
Ia mengangguk. Keluar dari warung.
Aku menatap pintu yang sudah tidak ada orangnya itu beberapa detik.
Bu Sum datang mengambil piring kotor Kiara dengan senyum yang terlalu lebar untuk sekadar beres-beres. "Mbak Kiara itu guru SD di dekat sini, Mas. Baik orangnya. Sudah setahun makan siang di sini."
"Oh."
"Mas Galang belum pernah merhatiin? Biasanya Mbak Kiara datang jam sebelas setengah. Mas Galang biasanya jam dua belas."
"Hari ini aku lebih cepat karena ada yang perlu dicek sebelum pengecoran."
"Wah, kebetulan dong." Bu Sum tersenyum dengan cara yang sudah jelas maknanya. "Nanti-nanti mungkin bisa kebetulan lagi ya, Mas."
Aku tidak menjawab. Menyendok es teh.
Tapi tanganku — tanpa benar-benar aku sadari — mengambil ponsel dan menyimpan nama *Kiara* di catatan kecil di aplikasi memo.
Belum ada nomor. Tapi namanya sudah tersimpan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar