Dewa menatapku dari seberang meja makan dengan cara yang sudah aku hafal selama tiga tahun — cara yang tidak sepenuhnya menolak tapi juga tidak sepenuhnya menerima. Cara yang anak dua belas tahun pakai ketika mereka tidak tahu harus menempatkan seseorang di mana dalam kehidupan mereka.
"Nasinya sudah ditambah?" tanyaku.
"Sudah."
"Lauknya mau yang mana lagi?"
"Tidak usah." Dewa menurunkan kepalanya ke piring, cara yang mengatakan percakapan cukup di sini.
Aku tidak memaksakan lebih. Sudah belajar sejak lama bahwa Dewa dan aku punya ritme percakapan yang berbeda dari ritme percakapan yang mungkin aku bayangkan sebelum menikah dengan Arman — percakapan yang kadang panjang dan mengejutkan, kadang singkat seperti ini, dan yang tidak bisa dipaksakan ke salah satu arah tanpa hasilnya menjadi lebih buruk dari hanya membiarkannya berjalan sendiri.
Tiga tahun menjadi ibu tirinya. Tiga tahun belajar cara menjadi orang dewasa yang ada dalam hidupnya tanpa mencoba menggantikan ibunya yang sudah tidak ada.
Tidak selalu berhasil. Tapi selalu mencoba.
---
Arman pulang jam delapan malam dengan cara yang sudah jadi pola sejak proyek properti di luar kota itu mulai — terlambat, lelah, tapi selalu menyempatkan untuk duduk sebentar dengan Dewa sebelum masuk kamar.
Cara yang aku perhatikan dan yang aku hormati — cara ayah yang tahu bahwa kehadiran fisik, bahkan ketika singkat dan di akhir hari yang panjang, punya arti yang berbeda dari ketidakhadiran.
"Dewa sudah belajar?" tanya Arman sambil menaruh tas.
"Sudah." Dewa menjawab dari kamarnya tanpa keluar — mendengar suara Arman dari jarak.
"Matematika minggu ini bagaimana?"
"Belum ada ulangan."
"Besok ada?"
Hening sebentar. Lalu: "Ada."
Arman menatapku dari arah pintu masuk. Cara yang bertanya tanpa kata: *sudah ada yang bantu belajar?*
Aku menggelengkan kepala dengan cara kecil — *belum sempat, tadi Dewa langsung ke kamar setelah makan*.
Arman mengangguk kecil. Masuk ke kamar Dewa.
Dan aku di ruang makan mendengar suara percakapan yang pelan dari kamar itu — Arman yang membantu Dewa menyiapkan untuk ulangan matematika besok, cara yang sudah jadi ritual mereka yang aku tidak masuk ke dalamnya karena itu bukan ruangku.
Itulah yang paling sulit tentang menjadi ibu tiri yang berhasil: tahu mana ruang yang milikku dan mana yang bukan.
---
Malam itu setelah Dewa tidur, Arman dan aku duduk di teras belakang dengan cara yang sudah juga jadi ritual — cara kami mengejar percakapan yang tidak sempat ada seharian.
"Dewa bagaimana hari ini?" tanya Arman.
"Biasa. Tidak banyak ngobrol." Aku menyesap teh. "Tapi makan habis. Dan tidak ada yang terlihat salah."
"Tidak ada yang terlihat salah itu sudah bagus."
"Iya." Aku menatap halaman belakang yang gelap. "Untuk Dewa, tidak ada yang terlihat salah itu sudah bagus."
Arman diam sebentar.
"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri," katanya.
"Atau tidak cukup keras." Aku meletakkan cangkir. "Kadang aku tidak tahu mana yang mana."
"Dewa sayang kamu. Caranya cuma berbeda dari cara anak-anak yang lebih mudah mengekspresikan."
Aku memikirkan itu. Mungkin benar. Mungkin ada sesuatu dalam cara Dewa dan aku berinteraksi yang tidak bisa aku baca dengan cara yang biasanya aku baca interaksi — karena ini bukan interaksi yang biasa, dan tidak ada panduan yang cukup lengkap untuk cara yang benar.
"Arman," kataku setelah beberapa saat, "ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Tentang Dewa." Aku menatapnya. "Ada sesuatu tentang Dewa yang kadang membuatku bertanya-tanya. Bukan tentang perilakunya. Lebih tentang... sesuatu yang tidak bisa aku beri nama tapi yang ada."
Arman menatapku dengan cara yang seharusnya biasa — cara suami yang mendengarkan istrinya bertanya — tapi yang ada sesuatu di baliknya yang tidak sepenuhnya biasa.
"Bertanya-tanya tentang apa?" tanyanya.
"Entah." Aku menggelengkan kepala. "Mungkin aku terlalu banyak berpikir."
"Mungkin." Arman menyesap tehnya.
Tapi cara ia menyesap teh itu — terlalu cepat, terlalu fokus pada gelas, terlalu tidak menatapku — membuat aku menyimpan pertanyaan itu di tempat yang sama dengan tempat aku menyimpan hal-hal yang belum tahu harus diapakan.
---
Ada hal yang tidak pernah diajarkan tentang cara menjadi ibu tiri yang berhasil: bahwa keberhasilan bukan soal seberapa dekat hubungan yang terbentuk, tapi soal seberapa jujur cara kamu ada.
Aku sudah cukup lama salah mengukur ini. Mengira bahwa berhasil berarti Dewa merespons dengan cara yang hangat, bahwa ada yang terasa mengalir dengan mudah, bahwa ada hari ketika aku bangun dan tidak lagi merasa seperti sedang belajar cara di ruang yang aturannya belum sepenuhnya aku pahami.
Tiga tahun kemudian, aku masih merasa seperti itu beberapa hari dalam seminggu.
Dan dari percakapan dengan seseorang yang lebih berpengalaman tentang dinamika keluarga yang kompleks, aku akhirnya mengerti: itu bukan tanda kegagalan. Itu tanda bahwa aku masih hadir, masih memperhatikan, masih mau belajar. Yang gagal adalah yang sudah berhenti memperhatikan.
Malam itu, ketika Arman pulang dan aku cerita tentang cara makan malam tadi, cara Dewa yang menjawab dengan singkat tapi yang ada — cara Arman melihat itu sebagai sesuatu yang positif membantuku melihatnya lebih dari sekadar "malam yang biasa."
Tiga tahun. Dan masih banyak yang perlu dipelajari. Tapi ada juga yang sudah ada yang tidak ada sebelumnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar