Faza membuka penjelasan dengan cara yang sudah pasti bukan kali pertama ia melakukannya — tenang, sistematis, tidak memberikan ruang untuk interpretasi yang berbeda-beda.
"Bapak Arif Kusuma meninggalkan surat wasiat yang dibuat secara resmi dan terdaftar pada notaris empat tahun yang lalu, dengan satu pembaruan dua tahun yang lalu." Faza meletakkan dokumen di meja. "Sebelum saya bacakan isinya, ada satu syarat yang perlu saya jelaskan terlebih dahulu karena ini memengaruhi seluruh proses."
Yeni yang sudah duduk dengan postur yang paling rapi dari semua orang di ruangan mengangguk. "Silakan."
"Seluruh aset dalam surat wasiat hanya dapat dibagi dan dicairkan setelah semua ahli waris yang disebutkan menandatangani dokumen persetujuan. Ini bukan persyaratan umum — ini instruksi spesifik dari Pak Arif yang ia masukkan dalam wasiat." Faza berhenti sebentar. "Artinya, tanpa tanda tangan dari salah satu pihak, tidak ada aset yang bisa diproses."
Hening sebentar di ruangan.
Kemudian Bimo bersuara, dengan cara yang tidak menyembunyikan bahwa ia sudah menduga ini dan sudah menyiapkan reaksinya. "Jadi kalau salah satu nggak tanda tangan, semua ketahan?"
"Benar."
"Itu kan tidak adil untuk yang lain."
"Itu instruksi Bapak Arif," kata Faza, dengan nada yang tidak bisa diperdebatkan. "Saya tidak membuat aturannya."
Bimo menatap aku. Cara yang sangat jelas mengandung pesan: *kamu tahu posisimu*.
Aku tidak merespons tatapan itu. Menatap Faza. "Lanjutkan, Pak Faza."
Faza membuka map, mengeluarkan satu dokumen. "Isi surat wasiat." Ia membacakannya dengan suara yang cukup keras untuk semua orang mendengar.
Rumah tempat kami duduk sekarang — kepada Yeni sebagai tempat tinggal selama ia hidup, setelahnya dikembalikan ke ahli waris yang sah. Dua kendaraan — kepada Bimo dan Sella masing-masing satu. Dana pendidikan tersisa — kepada Sella yang belum selesai kuliah. Simpanan rekening pribadi dibagi tiga: tiga puluh persen Yeni, dua puluh persen Bimo, dua puluh persen Sella.
Faza berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Dan tiga puluh persen sisanya kepada Zahra Kusuma."
Bimo langsung: "Berapa?"
"Tiga puluh persen dari simpanan rekening pribadi."
"Itu sama besar dengan ibu saya."
"Benar."
Bimo menatap Yeni. Yeni yang wajahnya sudah aku amati sejak nama aset terakhir disebut — wajah yang berhasil menjaga ekspresi netral dengan effort yang tidak kecil — hanya mengangguk sedikit ke Bimo. Isyarat yang artinya: *tenang.*
"Dan yang terbesar," lanjut Faza, "adalah kepemilikan saham di PT Kusuma Properti — perusahaan yang Pak Arif dirikan dan kembangkan. Total kepemilikan saham akan dibagi: empat puluh persen kepada Zahra Kusuma, tiga puluh persen kepada Yeni Kusuma, dan tiga puluh persen sisanya dibagi rata antara Bimo dan Sella Pratama."
Ruangan hening.
Bukan hening biasa. Hening yang isinya penuh — penuh dengan reaksi yang semua orang di dalamnya sedang berjuang untuk tidak memperlihatkan.
Empat puluh persen PT Kusuma Properti kepada Zahra Kusuma.
Kepada anak kandung yang sudah dua belas tahun tidak ada dalam gambaran kehidupan keluarga ini.
Yeni yang berhasil menjaga senyumnya di awal kini duduk dengan ekspresi yang aku tidak bisa sepenuhnya baca — campuran antara sesuatu yang ingin ia sembunyikan dan sesuatu yang sudah terlanjur terlihat.
Bimo tidak sesopan ibunya. "Ini tidak masuk akal. Dia tidak ada selama dua belas tahun, terus tiba-tiba dapat empat puluh persen?"
"Ini wasiat yang sah, Mas Bimo," kata Faza. "Ini keputusan Pak Arif."
"Pasti ada yang mempengaruhi Bapak waktu bikin ini."
"Wasiat ini dibuat empat tahun lalu dan diperbarui dua tahun lalu oleh Pak Arif dalam kondisi yang sepenuhnya kompeten. Tidak ada indikasi paksaan atau pengaruh pihak ketiga yang tidak sah." Faza menatap Bimo langsung. "Kalau ada keberatan terhadap isi wasiat, itu bisa diajukan melalui jalur hukum. Tapi proses hari ini adalah membacakan dan menjelaskan isi wasiat sesuai instruksi."
Bimo berdiri — gerakan yang tidak ada yang memintanya, hanya tanda bahwa ia butuh tempat untuk energi yang tidak tahu ke mana pergi. "Saya perlu ngomong sama ibu dulu."
"Tentu," kata Faza. "Kita bisa ambil jeda."
Yeni berdiri, mengikuti Bimo. Sella yang di sudut ruangan bergerak lebih lambat — melirikku sebentar sebelum mengikuti ibunya.
Dalam tatapan singkat itu, ada sesuatu yang sudah lebih aku kenali sekarang dari semalam. Bukan tidak suka, bukan ancaman.
Sesuatu yang lebih mirip: *aku sudah tahu ini akan terjadi.*
Ruangan tinggal aku dan Faza.
Faza menatapku. "Anda baik-baik saja?"
"Baik-baik saja." Aku meletakkan amplop Bapak di pangkuanku. "Satu pertanyaan."
"Ya?"
"Apakah Pak Faza tahu isi surat yang Bapak titipkan untuk saya?"
"Tidak." Faza menggeleng. "Pak Arif sangat jelas: itu untuk Mbak Zahra saja."
Aku mengangguk. Memikirkan.
"Pak Faza," kataku akhirnya. "Dalam wasiat itu, disebutkan kepemilikan saham di PT Kusuma Properti. Seberapa banyak yang Pak Faza tahu tentang kondisi perusahaan itu sekarang?"
Faza menatapku — cara matanya bergerak, sedikit lebih tajam dari sebelumnya, mengatakan bahwa pertanyaan itu tidak ia antisipasi tapi juga tidak mengejutkannya sepenuhnya.
"Kenapa Mbak tanya itu?"
Aku menatapnya. "Karena ada hal dalam surat Bapak yang membuat saya perlu tahu kondisi aktual perusahaan sebelum saya menandatangani apa pun."
Hening sebentar.
Faza menutup mapnya. "Saya pikir kita perlu bicara lebih panjang setelah ini selesai."
"Saya pikir begitu juga," kataku.
Dari ruangan sebelah, suara Bimo yang semakin keras. Yeni yang berusaha menenangkan dengan cara yang tidak berhasil menenangkan.
Aku duduk diam, mendengarkan, dan menyimpan.
Ada banyak yang perlu ditemukan di rumah ini.
Dan baru hari kedua.
Jeda berlangsung dua puluh menit.
Aku tidak pergi ke mana pun — tetap di kursi yang sama, mengolah satu demi satu hal yang baru didengar.
Empat puluh persen PT Kusuma Properti. Bapak tidak memberi uang tunai, tidak memberi rumah. Ia memberi saham di perusahaan yang ia bangun sendiri — yang selama dua belas tahun dikelola orang lain atas namanya. Itu pilihan yang disengaja. Dan isi surat yang sudah aku lipat rapi itu memberiku konteks kenapa.
Faza duduk kembali di seberangku, suaranya lebih pelan. "Ada dalam surat Pak Arif yang relevan untuk proses hukum ini?"
"Mengapa Pak Faza tanya itu?"
"Karena dua minggu sebelum meninggal, Pak Arif mengirim pesan kepada saya." Ia menarik napas. "Ia bilang kalau Mbak Zahra datang dan mulai mengajukan pertanyaan soal kondisi perusahaan, saya harus membantu semaksimal mungkin."
Aku diam sebentar. "Bapak mempersiapkan ini."
"Sepertinya iya."
Langkah kaki dari koridor. Yeni, Bimo, Sella kembali — dengan suasana yang berbeda. Bimo lebih tenang tapi dengan ketenangan yang dipaksakan.
"Kami menerima isi wasiat," kata Yeni. "Kami hanya ingin proses berjalan secepatnya."
"Tentu." Faza mengangguk. "Semua pihak perlu menandatangani dokumen persetujuan dalam empat belas hari kerja. Tidak ada aset yang bisa diproses sebelum semua tanda tangan terkumpul."
Bimo melirikku: *empat belas hari lebih dari cukup untuk kamu selesaikan ini dan pergi.*
"Dokumennya bisa saya pelajari dulu?" tanyaku ke Faza.
"Tentu saja. Ini hak setiap ahli waris." Ia menyerahkan satu set kepadaku.
"Empat belas hari," kataku pelan. "Cukup untuk membaca semuanya dengan teliti."
Tidak ada yang menjawab. Dari cara Yeni menatapku — senyum di bibir tapi tidak sampai ke mata — aku tahu jam sudah mulai berjalan.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakan satu menitnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar