Bus kota antarkabupaten, delapan jam perjalanan, dan aku tiba di terminal yang lebih ramai dari yang aku ingat.
Pesantren berdiri di kota kecil yang tenang — dua belas tahun di sana menjadikan keramaian terminal ini terasa seperti gangguan yang tidak aku persiapkan. Tapi aku melewatinya. Menemukan taksi, menyebut alamat yang masih aku hafal meski sudah dua belas tahun tidak diucapkan.
Di dalam taksi, aku tidak membuka ponsel. Hanya menatap jendela.
Kota ini berubah — lebih besar, lebih banyak gedung, beberapa jalan yang tidak aku kenali karena belum ada saat aku terakhir melewatinya. Tapi ada sudut-sudut tertentu yang sama persis. Pohon besar di pertigaan dekat pasar. Masjid tua dengan menara yang catnya sudah lebih pudar dari yang aku ingat. Tukang es kelapa yang tempatnya berpindah dua meter tapi masih ada.
Dua belas tahun, dan beberapa hal masih di sana.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah yang lebih besar dari yang aku ingat — atau mungkin tidak lebih besar, hanya terasa berbeda dari sudut pandang orang dewasa. Pagar besi yang sudah diganti dengan yang lebih baru. Taman yang tidak ada dulu. Mobil di garasi yang bukan mobil yang aku kenal.
Seorang perempuan keluar begitu taksi berhenti — seperti sedang menunggu di balik pintu.
Yeni.
Lima puluh dua tahun tapi terlihat lebih muda dari itu. Rambut yang tertata rapi. Baju yang tidak terlalu formal tapi tidak terlalu santai — dipilih dengan kalkulasi, aku perkirakan. Senyum yang langsung terpasang saat matanya menemukan aku.
"Zahra." Suaranya hangat dengan cara yang terlalu sengaja. "Alhamdulillah kamu sudah sampai. Sini, sini masuk."
Aku membayar taksi, mengambil tas kecilku, dan berjalan masuk tanpa terburu-buru.
Di dalam, aroma yang tidak sepenuhnya asing — ada sesuatu yang sama dari dua belas tahun lalu yang tidak bisa diganti furnitur baru atau cat tembok yang berbeda. Aroma rumah. Yang pernah menjadi rumahku juga.
"Bimo dan Sella sudah ada di sini," kata Yeni sambil menutup pintu. "Pemakaman tadi pagi sudah selesai. Maaf kamu terlambat, busnya memang lama."
"Tidak apa-apa." Aku menatap ruang tamu yang sudah berbeda dari yang aku ingat. Sofa baru. Lukisan yang tidak ada dulu. Foto keluarga di dinding — dan aku bisa melihat dari jarak ini bahwa tidak ada satu pun foto yang ada diriku di dalamnya.
"Kamar tamu sudah disiapkan," kata Yeni. "Istirahat dulu, nanti malam kita makan bersama."
"Terima kasih." Aku tidak menolak. Tidak ada gunanya. "Tapi sebelum istirahat, aku ingin ke—" Aku berhenti sebentar. Memilih kata. "Ke kamar Bapak. Kalau boleh."
Sesuatu melintas di wajah Yeni — hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk aku tangkap. "Tentu saja boleh. Ini juga rumahmu."
Kalimat yang tidak sungguh-sungguh tapi tidak bisa aku bantah.
Kamar Bapak ada di ujung lorong yang sama dari yang aku ingat — tata letak rumah tidak berubah sepenuhnya. Aku berdiri di depan pintu yang setengah terbuka, menatap ke dalam.
Kasur yang sudah diganti. Lemari yang berbeda. Tapi ada satu hal yang sama — sudut kecil di dekat jendela yang dulu selalu ada buku-buku Bapak. Masih ada buku di sana. Bukan buku yang sama, tapi masih buku. Bapak yang aku ingat tidak pernah bisa hidup tanpa buku.
Aku masuk, berdiri di tengah kamar.
Tidak ada yang bisa aku lakukan di sini selain berdiri. Tidak ada yang bisa aku rasakan selain sesuatu yang besar dan tidak bernama yang sudah aku tahan sejak semalam.
Aku mengambil napas satu kali, panjang, dan melepaskannya pelan.
*Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.*
Bapak pergi.
Dengan semua yang belum sempat dikatakan. Dengan dua belas tahun yang tidak bisa dikembalikan. Dengan kesempatan-kesempatan yang sama-sama kami lewatkan — entah karena ia tidak mau atau tidak bisa, aku tidak selalu tahu bedanya dari jarak yang ada di antara kami.
Aku memutar badan, hendak keluar.
Dan di balik pintu yang terbuka, berdiri seorang lelaki muda dengan wajah yang tidak ramah.
Bimo. Anak pertama Yeni.
"Oh, kamu sudah di sini," katanya, dengan nada yang tidak menyembunyikan bahwa kehadiranku bukan hal yang ia sambut. "Dikira nggak bakal datang."
"Assalamualaikum," kataku, dengan nada yang datar.
Bimo tidak membalas salam. "Cepat selesaikan urusannya ya. Kita semua nunggu."
"Aku baru sampai dua jam yang lalu setelah delapan jam perjalanan," kataku, masih dengan nada yang sama. "Aku akan menyelesaikan urusan dalam waktu yang tepat. Bukan dalam waktu yang kamu mau."
Bimo menatapku — menatap dengan cara seseorang yang tidak terbiasa ada orang yang tidak langsung mundur di hadapannya. Lalu ia pergi tanpa berkata apa-apa.
Aku kembali menatap kamar Bapak sekali lagi.
Tidak ada yang bisa ditemukan di sini sekarang. Tapi aku sudah di sini. Sudah masuk ke rumah yang dua belas tahun tidak aku jejaki.
Satu langkah sudah diambil.
Langkah selanjutnya menunggu besok — saat notaris akan datang dengan dokumen-dokumen yang menjadi alasan sesungguhnya mereka memanggilku.
Aku keluar dari kamar, menutup pintu pelan, dan berjalan ke kamar tamu yang sudah disiapkan.
Dengan kepala yang sudah aku jaga tetap tegak sejak keluar dari pesantren tadi pagi.
Dan tidak akan membiarkannya turun sebelum aku menemukan apa yang sebenarnya menungguku di rumah ini.
Makan malam berjalan dengan cara yang tidak ada yang sungguh-sungguh menginginkannya.
Yeni bicara tentang hal-hal yang aman. Bimo hampir tidak membuka mulut. Sella sesekali melirikku — bukan dengan tidak suka seperti kakaknya, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip rasa ingin tahu yang canggung.
"Besok pagi ada Pak Faza," kata Yeni. "Notaris — pengacara yang Bapak tunjuk. Pengurusan warisan ini seharusnya tidak lama, Zahra. Kalau semua berjalan lancar."
*Kalau semua berjalan lancar.* Kalimat yang mengandung maksud tanpa perlu diucapkan eksplisit.
"Aku ada untuk proses yang benar," kataku.
Setelah makan, saat Yeni ke dapur dan Bimo ke kamarnya, Sella tertinggal. Menatapku dengan sesuatu di matanya — campuran antara ingin berkata sesuatu dan tidak yakin apakah seharusnya.
"Kak Zahra," katanya pelan.
Sebelum ia bisa melanjutkan, suara Yeni: "Sella, tolong bantu Mama."
Sella menatapku sekali lagi. "Selamat malam, Kak." Lalu pergi.
Aku berdiri di ruang makan yang sepi, memegang dua piring kotor, dan memikirkan tatapan Sella yang menyimpan sesuatu.
Ada yang ingin ia katakan. Aku tidak tahu apa. Tapi aku akan mencari tahu.
Di kamar tamu malam itu, aku membuka buku catatan lama dari Ustazah Rohma. Tulisan tangan anak tiga belas tahun: *kenapa Bapak membiarkan ini? Apakah Bapak akan datang mengambilku kembali?*
Dua belas tahun kemudian, aku masih belum tahu jawabannya.
Tapi besok mungkin adalah hari sebagian dari jawaban itu mulai terungkap.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar