Kabar itu datang lewat pesan singkat dari nomor yang tidak aku kenal.

Pukul sebelas malam, saat aku sedang mengoreksi hafalan santri kelas tiga yang besok ujian. Bunyi notifikasi biasanya tidak aku hiraukan di jam seperti ini — ada aturan tidak tertulis di pesantren ini bahwa malam adalah waktunya fokus, bukan ponsel. Tapi entah kenapa, malam itu aku meraihnya.

*Zahra, ini Pak Hendra, sekretaris bapakmu. Kami mengabarkan bahwa Bapak Arif Kusuma telah berpulang hari ini pukul 14.30. Semoga beliau diterima di sisi-Nya. Mohon segera dihubungi untuk urusan selanjutnya.*

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu meletakkan ponsel di atas buku hafalan yang terbuka di hadapanku, menatap dinding kamar yang sudah sangat aku kenal — dinding putih dengan satu kaligrafi kecil yang aku pasang sendiri di tahun pertama, *Wa man yattawakkal 'alallahi fahuwa hasbuh* — dan tidak bergerak selama beberapa menit.

Ayahku meninggal.

Ayah yang dua belas tahun yang lalu mengantarku ke pesantren ini dengan janji bahwa ini hanya sementara, bahwa ia akan sering menengok, bahwa aku tidak sendirian. Ayah yang menepati sebagian dari janji itu — sering menengok di tahun pertama dan kedua, kemudian berkurang, kemudian setahun sekali, kemudian aku lupa kapan terakhir kali ia datang.

Ayah yang terakhir kali meneleponku tiga bulan yang lalu, berbicara tentang cuaca dan kesehatanku dengan cara seseorang yang ingin mengatakan sesuatu yang lain tapi tidak menemukan katanya.

Dan sekarang, kabar bahwa ia pergi — datang bukan dari suara yang kukenal, bukan dari nomor yang tersimpan di kontakku, bukan dengan cara yang membuat seseorang merasa bahwa kepergian itu dirasakan oleh orang yang menyampaikannya.

Hanya pesan singkat. Dari nomor asing.

Seperti dua belas tahun kehadirannya dalam hidupku — ada tapi di pinggir, tidak pernah benar-benar di tengah.

Aku tidak menangis malam itu. Bukan karena tidak sedih — aku tahu ada sesuatu yang menyesak di dada yang akan menemukan caranya keluar suatu waktu. Tapi ada hal lain yang lebih mendesak dari tangis: pemahaman bahwa malam ini sesuatu berubah, dan aku belum tahu seberapa besar.

Aku mengetik balasan singkat kepada Pak Hendra — *Innalillahi. Mohon informasi waktu pemakaman* — dan menunggu.

Balasan datang dalam sepuluh menit: pemakaman besok pagi. Alamat rumah yang sudah tidak kukunjungi sejak dua belas tahun lalu. Dan satu kalimat terakhir yang membuatku membaca ulang tiga kali: *Mohon kehadiran Mbak Zahra sangat diperlukan untuk urusan warisan.*

Urusan warisan.

Bukan *kami merindukanmu*. Bukan *kami ingin kamu ada bersama kami dalam duka ini*. Bukan bahkan *bapakmu sering menyebut namamu*.

Urusan warisan.

Aku meletakkan ponsel dan kembali menatap dinding.

Dua belas tahun aku tidak diperlukan untuk urusan apa pun di rumah itu. Diperlukan sesudah ayah meninggal, untuk urusan warisan.

Satu bagian dari diriku ingin tidak pergi. Ingin mengirim pesan bahwa aku tidak bisa, bahwa pesantren membutuhkanku, bahwa ada ujian yang harus diawasi. Semua itu benar — tapi bukan alasan sebenarnya.

Alasan sebenarnya adalah bahwa rumah itu menyimpan hal-hal yang tidak mudah untuk dikunjungi. Bahwa setiap sudutnya berisi versi diriku yang lebih muda — yang tidak mengerti kenapa ia harus pergi, yang menangis diam-diam di mobil saat diantarkan ke sini, yang bertahun-tahun menunggu seseorang untuk kembali menjemput.

Seseorang yang tidak pernah datang.

Aku berdiri, berjalan ke kamar kecil yang sudah dua belas tahun menjadi tempat aku berdiri saat perlu menenangkan diri — bukan kamar mewah, hanya ruang sempit dengan sajadah kecil yang sudah cukup lusuh untuk menandai berapa banyak malam yang sudah aku lewatkan di sana.

Aku shalat. Panjang. Bukan karena ritual — tapi karena ada sesuatu yang harus kutempatkan dulu di tempat yang benar sebelum aku bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan.

Setelah selesai, jawabannya sudah ada.

Tentu saja aku akan pergi. Bukan untuk warisan. Bukan karena Pak Hendra memintaku. Tapi karena ayahku meninggal, dan terlepas dari dua belas tahun jarak yang membentang di antara kami, ia adalah ayahku. Dan ada satu hal yang selalu diajarkan Ustazah Rohma sejak tahun pertama aku di sini: *bahwa kamu punya hak untuk marah kepada seseorang dan masih mendoakan mereka.*

Aku punya hak untuk marah.

Dan aku juga punya kewajiban untuk datang.

Tapi ada satu hal yang sudah kutahu sejak membaca pesan Pak Hendra: aku tidak akan pergi dengan cara yang sama seperti pergi dua belas tahun yang lalu — dengan mata yang tidak tahu ke mana harus melihat dan kaki yang tidak tahu harus berdiri di mana.

Kali ini, aku akan pergi dengan mata yang terbuka.

Dan tangan yang siap untuk apa pun yang menunggu di sana.

Aku mengirim satu pesan lagi — kali ini ke Ustazah Rohma: *Ustazah, ada yang perlu saya ceritakan. Besok pagi sebelum subuh, kalau Ustazah tidak keberatan.*

Balasan datang dalam waktu yang mengejutkan untuk pukul sebelas malam: *Ibu di sini. Ketuk pintunya.*

Aku tersenyum kecil. Ustazah Rohma selalu tahu.

Aku menutup buku hafalan santri, mematikan lampu meja, dan berjalan ke pintu kamarnya.

Dengan langkah yang sudah lebih berat dari satu jam yang lalu — tapi juga, entah kenapa, sedikit lebih siap.

Ustazah Rohma membukakan pintu sebelum aku selesai mengetuk — sepertinya belum tidur.

"Masuk," katanya. Menatapku dengan cara yang tidak bertanya tapi sudah mengerti.

Aku duduk di kursi kayu yang sama sejak empat belas tahun lalu, saat pertama kali aku menangis di hadapannya karena rindu rumah yang sudah mengusirku.

"Bapakmu?" tanya Ustazah Rohma.

"Iya, Ustazah. Mau pergi besok."

Ia tidak bergegas dengan kata-kata penghiburan. "Kamu pergi dengan apa di dalam hatimu?"

"Sedih. Sedikit marah. Dan ingin tahu." Aku menatapnya. "Ingin tahu apakah dua belas tahun itu ada artinya untuk Bapak. Atau hanya untuk Yeni."

"Kalau jawabannya menyakitkan?"

"Maka aku akan berdiri di sana dan menerimanya. Bukankah itu yang Ustazah ajarkan — kebenaran seberapapun beratnya selalu lebih baik dari kepalsuan yang nyaman."

Ustazah Rohma menatapku beberapa saat. Lalu berdiri, mengambil sesuatu dari lemari. Buku catatan lama yang sudah kulupa pernah kutitipkan kepadanya — dari tahun pertama di pesantren, berisi semua yang ingin kukatakan tapi tidak tahu kepada siapa.

"Sudah waktunya kamu bawa ini kembali," katanya.

Aku menerimanya, menekan ke dada.

"Pulang dengan selamat, Zahra. Dan pulang dengan kepala yang tegak."

Di kamarku, aku mengemas dengan cepat. Tidak banyak yang perlu dibawa — dua belas tahun mengajariku bahwa yang paling penting tidak pernah muat di koper.

Besok, aku kembali ke rumah yang sudah dua belas tahun bukan rumahku. Dengan tangan yang siap. Dan hati yang tidak akan mudah ditekuk oleh siapa pun yang menunggu di sana.